Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 124 : Showroom


__ADS_3

"Assalammu'alaikum...," aku baca salam di depan pintu rumah.


"Waa'alaikum salam," sahut Zuri dari dalam.


Saat pintu di buka, Zuri terkejut melihat kehadiranku bersama Bram.


"Hah! Kakak! Kok nggak beri kabar mau pulang? Aku kangen Kakak lho," Zuri antusias menyambutku.


"Papa mau Kakak pulang,"


"Oo.., Papa tidak beritau, mungkin mau bikin surprise. Yuk masuk Kak, Kak Bram," Zuri mempersilahkan masuk dengan membuka pintu lebar-lebar.


"Papa sama Mama kemana?" tanyaku sambil duduk di sofa dekat Bram.


"Lagi kondangan, bentar lagi juga balik Kak," jawab Zuri.


"Oiya, Kak Bram mau minum apa? Biar Zuri yang bikinin," tanya Zuri.


"Teh es saja," jawab Bram singkat.


"Oke,"


Zuri masuk ke arah dapur untuk membuatkan minuman request Bram.


"Zanu, aku tunggu ya orang tuamu,"


"Iya Kak, santai saja. Oiya, bagaimana kita nonton televisi sambil menunggu?" tawarku.


"Nggak usah Zanu, di sini saja. Tidak baik kita menonton berduaan saja, walau ada adikmu Zuri," Bram menolak.


"Oke. Setelah mengantarku, Kakak mau kemana lagi?"


"Mau bertemu Pak Jack di hotel untuk membicarakan tugasnya di Prn. Malamnya aku mau mengajak kamu kencan, boleh ya?" tanya Bram.


"Hmm, boleh. Izin saja sama Papa dan Mama. Kebetulan malam ini malam mingguan kan, ini kali kedua kita kencan di kota ini,"


"Kita mau makan malam di mana? Apa di sini ada cafe yang bagus? Atau tempat makan? Terserah kamu saja Zanu maunya kemana,"


"Nanti aku tanyakan Zuri, kan dia lebih update. Semenjak kuliah, aku tidak memikirkan tempat-tempat nongkrong di sini,"


Tiba-tiba terdengar suara deru mobil masuk ke dalam garasi rumahku. Dan aku yakin itu pasti Papa dan Mama.


Perasaanku langsung deg-degan karena Bram berhadapan langsung dengan orang tuaku walau sebelumnya pernah bertemu.

__ADS_1


"Assalammu'alaikum," ucap salam Papa dan Mama masuk ke dalam rumah.


"Waa'alaikum salam," jawabku dan Bram.


"Om, Tante, saya mengantarkan Zanu pulang," Bram menyalami Papa dan Mama.


"Oh, terima kasih nak Bram," jawab Papa.


"Saya sebentar saja Om, nanti malam saya izin kesini lagi untuk bawa Zanu jalan-jalan keluar, apa boleh Om?" Bram langsung to the point mengungkapkan keinganannya.


"Boleh, asal jelas mau kemananya," jawab Papa.


"Terima kasih Om, Tante, saya pamit," Bram berdiri dan menyalami Papa.


"Iya, hati-hati nak Bram," jawab Papa dan Mama hampir serempak.


Bram keluar dan aku mengantarkannya sampai teras depan, hingga mobil Bram melaju pergi.


********


Papa dan Mama masih duduk di sofa ruang tamu saat aku masuk ke dalam.


"Bagaimana kuliah Zanu Nak? Apa ada kendala selama di kampus atau tempat kost?" tanya Papa.


"Bagaimana tentang Bram?" tanya Papa yang ternyata mulai kepo mengenai Bram.


"Dia selasa ini mau sidang Pa. Dan di hari yang sama, ia langsung berangkat ke Amerika. Ada banyak tugas yang menantinya di sana,"


"Oiya? Bukannya setelah sidang, nanti wisuda? Apa Bram tidak ikut wisuda?"


"Tidak Pa, ada yang harus diselesaikan secepat mungkin. Orang tuanya besok datang dan sekalian menjemput," aku teringat kembali perkataan Bram. Dimana orang tuanya tidak merestui hubunganku dengan Bram.


"Sayang sekali ya, setidaknya tunggu dulu sampai wisuda, setelah itu baru berangkat," ujar Mama.


Aku hanya diam dan sibuk dengan pikiranku sendiri mengenai restu.


"Sudah, kamu lupakan saja itu. Yang penting Bram nanti kembali dan mendatangi kamu nak. Zanu fokus saja kuliah. Oiya, Papa mau mengajak Zanu ke showroom mobil, seperti yang Papa bilang. Sekarang ayo kita ke sana bersama-sama," ajak Papaku. Terlihat raut wajah bahagia Papa bisa membelikan aku sebuah mobil.


"Waahh! Ini beneran kan Pa? Zanu nggak mimpi kan? Apa duit Papa cukup untuk biaya kuliah dan sekolah kita kedepannya? Zanu tidak mau Papa dan Mama terbebani, mengeluarkan banyak uang untuk membeli mobil tersebut," sebagai anak, aku harus tau diri, tidak mau memberatkan Papa dan Mama.


"Itu sudah kita bicarakan nak. Papa dan Mama sudah memperhitungkan semuanya, yang penting tugasmu bersama adikmu belajar sungguh-sungguh. Biar Papa dan Mama bangga punya kalian dan perjuangan kita selama ini tidak sia-sia,"


"Oke Pa, Zanu bersiap-siap dulu, mau ganti baju,"

__ADS_1


Papa mengangguk, aku langsung naik ke lantai atas sambil membawa ransel yang kubawa tadi. Zuri ikut naik dan masuk ke kamar.


"Kak, cepat sekali Kak Bram pulang, baru saja aku siapkan teh esnya. Bagaimana ini?" tanya Zuri dengan cemberut.


"Kamu bikinnya lama sekali. Biar Kakak saja yang minum," aku mengambil baju dalam lemari dan langsung menukarkan baju yang aku kenakan dari kota P.


"Yalah, minumnya ada di atas meja makan. Aku ikut ya lihat mobil baru Kakak,"


"Ya ikut dong, kan Papa mau kita semua ikut ke sana. Kamu siap-siap gih,"


"Aku udah siap Kak, pakai baju ini saja. Kan cuma beli mobil, bukannya ke pesta," jawab Zuri.


"Udah! Udah, kita turun sekarang, Papa sama Mama nanti kelamaan nunggu di bawah," ajakku sambil menarik tangan Zuri menuju ke lantai bawah.


Aku dan Zuri menghampiri Papa dan Mama yang sedari tadi sudah siap untuk berangkat. Kita berempat langsung naik mobil dan berangkat menuju showroom yang sudah Papa tandai.


********


Showroom.


Setelah pilih-pilih dan melihat langsung mobil satu persatu, akhirnya aku menginginkan mobil merk Suzuki Baleno keluaran terbaru. Bodynya yang cocok untuk dikendarai perempuan sepertiku, bisa sporty atau feminim. Tapi sebenarnya lebih ke fenimim sih.


Setelah deal mengenai harganya dan menanda tangani surat-surat kepemilikan, kita langsung pulang. Mobil tersebut akan diantar nanti sore oleh yang punya showroom.


Selama perjalanan pulang, tidak banyak yang kita bahas. Hanya sibuk membicarakan tentang sekolah, kuliah dan mobil baruku.


Aku tidak menyangka secepat ini punya mobil sendiri, rasanya seperti mimpi. Walau tidak semewah yang Bram miliki, tapi aku sungguh bahagia.


Ciiit...!!


Tiba-tiba Papaku mengerem mendadak mobilnya. Aku dan Zuri hampir saja terjungkal ke depan, karena tidak memakai sabuk pengaman. Sedangkan Mama aman.


Dengan perasaan cemas, kita bertanya ke Papa, apa yang terjadi.


"Ada yang menyebrang mendadak Ma, Papa keluar dulu melihat kondisinya," Papa buka pintu mobil dan menghampiri pejalan kaki yang tertabrak oleh Papa.


Kita bertiga yang masih berada di dalam mobil mengamatinya. Terlihat orang yang tertabrak tadi, tiba-tiba bisa berdiri sendiri. Ia seorang perempuan dan langsung bicara dengan Papaku. Sepertinya ia memarahi Papa.


Dengan sabar Papa menjelaskannya. Tidak lama kemudian, terlihat dua orang pemuda menghampiri perempuan tersebut dan membawanya ke pinggir jalan atau lebih tepatnya trotoar.


Saat wajah perempuan tersebut menghadap ke mobilku, betapa kagetnya aku melihat sosok itu. Sosok yang aku tau dan berbahaya.


Mengapa dia ada di kota Prn ini ya? Bukannya ia masih sakit? Apa dia jalan-jalan ke sini atau memiliki keluarga? Atau jangan-jangan...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2