
Atif menutup telepon.
"Ada apa Zanu?" ujar Prita yang datang tergopoh-gopoh.
"Nggak tau Prita. Atif cuma nyuruh aku ke RSUP segera. Aku jadi khawatir dengan Ketua, perasaan aku sudah tidak enak dari tadi," jawabku dengan lirih.
Aku mulai merasakan khawatir, takut dan sedih. Baru kali ini dalam hidupku merasakan hal yang bersamaan.
Apakah Bram meninggal? No!!
Aku cepat-cepat menepis pikiran terburukku. Aku belum siap kehilangan Bram. Aku baru saja merenda perasaanku dan membiarkan Bram memasuki hidupku.
Apakah aku akan kehilangan lagi seperti aku kehilangan Abang dulu?
"Udah Zanu bengongnya, ayok kita segera ke RS. Pasti kamu ditungguin di sana, kasian Ketua," ujar Prita yang langsung menyadarkanku.
"Eh, eh iya Prita. Kita mandi kilat saja ya," jawabku.
Prita mengangguk. Kita berdua langsung bergegas ke kamar masing-masing untuk mandi dan mempersiapkan diri.
Tidak pakai lama, aku dan Prita sudah siap dan langsung keluar melalui pintu samping. Terlihat teman-teman kost masih berenang di sana. Mereka belum tau berita ini.
"Hei, mau kemana kalian berdua? Cepat banget berenangnya?" tanya Kak Siska yang keheranan.
"Kak, Ketua lagi di RS. Zanu dihubungi segera ke sana," jawab Prita.
"Hah! Ketua? Oiya udah, cepat kalian ke sana, kalau butuh sesuatu hubungi kita ya," ujar Kak Kinan.
"Baik Kak, kita pergi dulu ya,"
"Hati-hati, jangan lupa beri kabar," ujar Kak Siska.
Kita berdua mengangguk dan langsung berjalan keluar dari kost.
"Aku yakin pasti mereka kepo sama Ketua kamu Zanu. Mereka pasti langsung cari tau, hehehe..," ujar Prita disela-sela kita sedang menunggu angkot lewat.
Aku tidak membalas ucapan Prita, karena aku fokus dengan pikiranku sendiri. Aku takut akan Bram.
Akhirnya kita menemukan angkot kosong. Kita naik dan angkot melaju menuju RSUP yang kebetulan jalurnya melewati sana.
********
Sekitar dua puluh menit perjalanan, akhirnya angkot berhenti tepat di depan gerbang rumah sakit. Aku dan Prita turun.
Belum juga sampai gerbang, tiba-tiba..
"Non Zanu kan?" ujar seorang pria berbadan tegap, memakai pakaian serba hitam dan ada pin emas tersematkan di dadanya.
Pin yang sama, yang pernah aku lihat dulu. Bertuliskan "OX", dipastikan pria ini salah satu bodyguardnya Bram.
"Eh iya, kok tau saya?" tanyaku sedikit heran dan kaget dengan kehadiran pria itu secara mendadak.
"Mari Non ikuti saya, Bos sudah menunggu," jawab pria tersebut tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku dan Prita mengikuti pria itu dari belakang. Terlihat Prita celingak celinguk melihat keadaan sekitar. Aku tau, pasti Prita sedang melihat keadaan yang bisa membahayakan dirinya.
Tapi ku rasa selagi ada Bram, semua akan aman selama aku dan Prita ada di RS ini.
Kita menuju UGD. Perasaanku makin tidak karuan. Bearti Bram benar-benar sedang menungguku, sampai dia masih di ruangan tersebut?
__ADS_1
Terlihat pria yang kita ikuti berjalan menyamping dan ada pria lain lagi yang menyambut.
"Silahkan Non," ujar pria tersebut yang masih berpakaian sama.
Lha! Banyak bener yang ngarahin kita jalan, emang berapa lapis sih pengawalannya Bram? Lebay nggak sih? Auk ah gelap! Yang penting Bramku aman.
Tanpa bicara, kita mengikuti pria tersebut sampai ke dalam. Ternyata ada pintu lain dari ruangan tersebut. Pria itu membuka pintu dan kita berjalan lagi menuju ruangan lain. Akhirnya kita sampai di suatu ruangan rawat yang luas dan memiliki fasilitas lengkap.
Pria tadi meninggalkan kita berdua dan entah dari mana munculnya tiba-tiba Atif muncul.
Sekilas aku lihat Atif melihat ke arah Prita yang berada di sampingku. Ada rasa rindu di mata Atif, begitu juga dengan Prita. Mereka tersenyum, tapi tidak denganku.
"Mana Kakak? Bagaimana keadaannya?" tanyaku mulai sedikit panik.
"Silahkan Non, Ketua ada di balik gorden itu," jawab Atif sambil menunjukkan jarinya ke samping.
"Oke. Prita, kamu di sini saja sama Atif ya," ujarku.
Prita mengangguk. Aku langsung berjalan menuju gorden yang ditunjukkan Atif. Ku buka sedikit gorden dan kulihat Bram sedang tertidur. Atau mungkin lebih tepatnya mulai tidur.
Kuhampiri Bram yang sedang terkulai lemah. Bram tidak memakai baju, terlihat bahunya terlilit perban. Tanpa ku peduli bentukan dada Bram yang atletis, terlihat kokoh dan berotot.
Ah! Bukan saatnya aku menghayal yang jorok. Stop Zanu, fokus dengan keadaan Bram!
Kuberanikan diri untuk mengenggam tangan Bram. Terasa sedikit gemetar, karena baru kali ini aku berani menyentuh lelaki duluan. Ada getar-getar yang sulit kujabarkan, tapi rasa ini bercampur dengan rasa sedih.
Tapi, lebih banyak ke rasa CINTA sih sebenarnya. Yup! aku sudah bisa merasakan apa itu cinta. Cinta hadir di mana rasa takut kehilangan menyergapku tiba-tiba.
"Kak.., Kak, ini Zanu," ucapku pelan dan lirih, takut menggagetkan Bram.
Aku diam sejenak sambil menunggu reaksi Bram. Dan Bram mulai sedikit bergerak, berlahan membuka matanya.
"Iya Kak, aku di sini," jawabku yang hampir menangis.
Tidak tega rasanya melihat keadaan Bram seperti ini. Bram melihat ke arahku dan tersenyum. Terlihat raut wajah Bram yang bahagia dengan kehadiranku.
"Eh, sudah berani sekarang pegang-pegang tanganku," ujar Bram tiba-tiba dengan senyum.
Aku kaget dan bercampur malu, sangat malu. Aku langsung menarik tanganku dari genggaman. Tapi Bram menahannya dan menggenggam lebih erat lagi. Aku tidak berkutik dan membiarkan saja tanganku terkunci.
Sempat-sempatnya dia menggodaku.
"Zanu, terima kasih sudah mau ke sini. Aku senang bisa lihat kamu lagi," ujar Bram masih dengan suara lirih sambil menatapku.
"Iya, aku khawatir dengan keadaan Kakak. Apa Kakak baik-baik saja? Apa yang terjadi?" tanyaku.
"Aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatir, cukup hadir di sini sudah bikin aku semangat lagi," jawab Bram sambil membelai rambutku.
Aku cuma tertunduk malu. Aku tidak kuat menatap mata Bram.
Tiba-tiba Bram mengangkat daguku. Mau tidak mau aku harus melihat mata Bram.
Aduh! Aku luluh..
"Sayang, kenapa menunduk? Aku takut kehilangan kamu. Saat kejadian, hanya kamu yang aku ingat. Aku takut tidak bisa lihatmu lagi, makanya Atif aku suruh telepon," ujar Bram.
"Kakak kenapa? Bisa tidak Kakak jawab? Biar aku tidak tanya-tanya lagi," tanyaku lagi.
"Sayang, aku tertembak di bahu saat demo sedang berlangsung," jawab Bram sambil membelai rambutku lagi.
__ADS_1
Aku kaget! Bram tertembak? Kok bisa? Bukannya ini cuma demo mahasiswa?
"Kenapa Kakak bisa tertembak?" tanyaku lebih penasaran lagi
"Sepertinya ada yang tidak senang dengan kehadiranku di sana. Sekarang orang suruhanku sedang mencari si penembak tersebut dan di bantu sama Paman," jawab Bram lagi.
"Paman yang mana lagi sih Kak?"
Banyak sekali paman Bram?
"Kapolri. Nanti Paman yang urus pelaku pelecehan tersebut sekalian anggota keluarga mereka yang ikut melindungi. Untungnya Gubernur ikut memperjuangkan suara kita," jawab Bram.
Hah! Kapolri? Bagaimana bisa? Dahlah.., cape aku mikir. Kapolri, Rektor, Gubernur, apa lagi? Orang penting semua.
"Kamu kenapa merenung? Sama siapa kamu ke sini?"
"Sama Prita. Dia lagi sama Atif. Nggak tau apa masih dalam ruangan atau di luar," jawabku.
"Oiya? Mereka ketemu lagi dong. Sama seperti kita, double date, ha..ha..ha.. Aduh," Bram meringis kesakitan.
"Kakak! Kenapa? Apa yang sakit?" aku panik sambil memegang bahu Bram. Hampir saja aku menyentuh dada Bram.
"Ha..ha..ha.., ternyata Zanuku mulai berani pegang-pegang ya..," ledek Bram.
Bram mulai menggodaku lagi. Aku cemberut. Hatiku jadi tak karuan lagi. Senang, takut, khawatir, cemas, sedih atau apalah..
"Bos! Melapor. Orangnya sudah ketemu," tiba-tiba terdengar suara Atif dari balik gorden.
"Bawa ke sini!" jawab Bram tegas.
Aku kaget! Ada apa lagi ini?
"Sayang, tolong bukain gordennya ya," pinta Bram.
Aku beranjak dan melepaskan genggaman tangan Bram sedari tadi. Kubuka gorden lebar-lebar.
Terlihat ada sepuluh orang bodyguard dengan seragam hitam, sambil mencekal seorang pria, masuk keruangan menuju tempat aku dan Bram.
Atif bergerak maju lebih dulu. Aku tidak melihat Prita. Prita lagi dimana ya?
"Bos! Pelaku sudah siap di out kan," ujar Atif.
Apaan sih? Apa out itu dimatikan? Tidak, mana berani Bram mematikan pria tersebut di RS ini? Bingung aku.
"Bawa dia ke sini," ujar Bram sambil bergerak mengangkat tubuhnya untuk duduk.
Dengan sigap aku mengambil bantal dan meletakkannya di belakang tubuh Bram sebagai penyangga.
"Terima kasih sayang," bisik Bram.
Aku mengangguk.
Atif mencekal pria tersebut mendekatiku dan Bram. Kuperhatikan dengan seksama, betapa terkejutnya aku.
Pria itu adalah orang yang pernah aku lihat sebelumnya. Terlihat wajah pria itu mengalami luka lebam di mata, bibir dan pipi. Dia menundukkan wajahnya.
Apa urusan Bram dengan pria ini ya?
...****************...
__ADS_1