Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 123 : Pak Boil


__ADS_3

Sebenarnya aku tidak tega melihat Bram menangis. Tapi hatiku cukup perih untuk mengerti situasi saat ini.


Bram masih saja memegang tanganku dan yang bisa kulakukan hanyalah diam.


"Zanu, kamu boleh membenciku. Tapi aku minta jangan pernah berhenti mencintaiku. Aku janji akan menyelesaikan semuanya dan aku akan kembali kepadamu Zanu, apapun yang terjadi, please!" Bram terisak, sedikitpun ia tidak merasa malu menangis di depanku.


Sebegitu besarkah Bram mencintaiku? Berapa lama aku harus menunggu janjinya? Sedangkan orangtuanya saja tidak merestui hubungan ini.


"Sudahlah Kak, sebaiknya kita lupakan saja semua yang sudah kita lewati. Hubungan kita tidak bisa dipertahankan lagi Kak, lagipula Kakak jauh dan aku harus menyesaikan kuliah," aku sudah menyerah dan jauh sebelumnya aku sudah menduga akan terjadi seperti ini.


"Tidak Zanu. Aku bisa mengatasi ini, aku hanya butuh waktu. Percayalah, aku akan kembali padamu," Bram masih menyakinkanku.


"Maaf Kak, sebaiknya fokus saja dengan permasalahan Kakak sendiri yang entah apa itu.


"Percayalah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu hanya untukku dan tetap seperti itu. Aku tidak ingin larut dalam kesedihan, ayo ikut aku. Kita makan dan pergi ke Prn," Bram menyeka air matanya dan menarikku masuk ke dalam.


********


Aku dan Bram sudah berada di ruang makan, terlihat beberapa pelayan hampir selesai menyusun menu di atas meja.


Bram menarik kursi untukku. Pak Tio mengkomando semua pelayan untuk segera selesaikan tugas mereka.


Setelah semua sudah tersedia, pelayan dan Pak Tio keluar dari ruang makan, hanya tinggal aku dan Bram.


"Kamu mau makan apa?" tanya Bram.


"Nggak tau Kak, aku lagi malas makan," entah kenapa tiba-tiba mood aku hilang.


"Sayang, please. Kamu boleh marah sama aku, tapi aku minta kamu harus makan. Makan ya," Bram membujukku.


Aku hanya diam dan sesekali memperhatikan menu yang ada di atas meja. Bram berdiri dan mengambil steak daging kesukaanku. Bram juga memotong kecil-kecil daging tersebut, setelah itu ia menyodorkannya kehadapanku.


Dengan ogah-ogahan akhirnya aku makan. Bram terus memperhatikanku sambil ia makan. Akhirnya makananku habis juga, tidak bisa kusisihkan karena steak ini terlalu enak.


Setelah selesai makan, kita berdua bersiap-siap pergi menuju ke rumah salah satu karyawan pabrik roti Bram.


Mobil sudah disiapkan, aku dan Bram keluar dari rumah dan langsung masuk ke dalam mobil. Kita berangkat.


********

__ADS_1


Mobil Bram memasuki halaman rumah yang terlihat sederhana. Rumah itu tidak besar, ukurannya sekitar enam kali empat meter saja. Disampingnya ada tanah kosong yang belum ada tambahan bangunan rumah.


Diteras yang sudah rusak lantainya terdapat sepeda kecil usang bertengger ke arah dinding. Pintu depan yang terbuat dari triplek tebal mengisyaratkan betapa sederhananya kehidupan karyawan Bram.


Aku dan Bram turun dari mobil dan langsung menuju ke pintu utama rumah. Terlihat Bram membawa tas ukuran kecil.


Tok!


Tok!


Bram mengetok pintu, tidak lupa kita berdua membaca salam.


Lima menit setelahnya, pintu terbuka dan ternyata itu adalah karyawan Bram sendiri. Dia kaget dan tidak menyangka kalau Bram mau mampir kerumahnya.


"Aduh Bos, terima kasih mau mampir ke rumah saya. Maaf rumah saya cuma begini dan berantakan. Mari silahkan masuk Bos," ajak karyawan.


Oiya, nama karyawan Bram ini, Boil.


Aku dan Bram masuk ke dalam rumah. Kita duduk di teras yang hanya beralaskan tikar, tidak banyak barang yang terlihat di ruang tamu ini. Hanya ada kamar satu, kamar mandi dan dapur saja. Kemungkinan ruang tamu juga digunakan sebagai ruang makan.


"Bos, saya ambilkan minum dulu ya. Maaf istri saya lagi mengurus bayi di kamar, bentar lagi saya ajak keluar," ujar Pak Boil.


"Alhamdulillah Bos, semua lancar. Semua fasilitas dan pelayanan di rumah sakit bagus. Terima kasih Bos sudah membiayai semua keperluan istri saya selama di rumah sakit. Saya bersyukur sekali mendapatkan rezeki sebesar itu," jawab Pak Boil antusias.


Bram merogoh tas yang ia jinjing, mengambil amplop coklat dan memberikannya ke Pak Boil.


"Ini Pak, silahkan diterima untuk keperluan keluarga. Pasti banyak pengeluaran dalam mengurus bayi yang baru lahir,"


"Aduh Bos, maaf, sudah terlalu banyak Bos membantu kami. Bukannya saya menolak, tapi uang yang sudah Bos berikan kemaren masih ada sisanya," Pak Boil menolak secara halus.


"Tidak apa-apa, terima saja. Ini rezekinya si bayi dari saya dan pacar saya," Bram menoleh ke arahku.


"Terima kasih Bos, Non," akhirnya Pak Boil menerima amplop coklat tersebut.


"Oke Pak, kita berdua pamit, ada keperluan lagi. Titip salam buat keluarga Bapak," Bram pamit dan langsung berdiri hendak meninggalkan rumah Pak Boil.


"Iya Bos, sekali lagi terima kasih," Pak Boil mengantarkan kita sampai ke halaman rumah.


Aku dan Bram masuk ke dalam mobil, mesin di hidupkan. Pak Boil melambaikan tangan dan Bram menyambutnya hanya dengan senyuman.

__ADS_1


Mobil melaju keluar dari rumah Pak Boil menuju ke kota Prn.


*********


"Kak, apakah keadaan rumah karyawan pabrik seperti itu semua?" tanyaku memulai pembicaraan.


"Aku tidak tau Zanu. Setahun yang lalu aku sudah menugaskan manager pabrik untuk memberikan perumahan layak huni dengan cicilan bunga rendah. Tapi sepertinya itu tidak jalan, nanti aku tanyakan sama Pak Omar," jawab Bram sambil menyetir.


"Kasihan ya keadaan mereka,"


"Itulah Zanu, karyawan pabrik gajinya berdasarkan UMR yang sudah di tetapkan pemerintah. Itu cukup hanya untuk biaya sehari-hari mereka. Setiap bulan aku memberikan bonus untuk mereka semua, walau tidak banyak. Dan aku sudah berinsiatif memberikan keringanan mereka yang ingin kredit rumah dengan pemotongan gaji langsung dari pabrik. Jadi kredit mereka tidak terhubung dengan pihak bank, tapi pabrik," penjelasan Bram.


"Semoga urusan Kakak lancar ya,"


"Iya, itu baru pabrik Zanu, masih banyak lagi urusan lain yang harus aku selesaikan sebelum berangkat. Untuk tanah perkebunan kamu aku urus juga. Ingatkan nanti kamu bawa syarat-syaratnya, semuanya aku serahkan ke Pak Jack, oke?"


Aku mengaangguk.


"Oiya, nanti kamu temani aku ke dermaga untuk melihat perahu dan kapal yang sudah aku pesan. Besok kita pergi ke pulau, bagaimana?" tanya Bram.


"Oiyah? Beneran? Kita pakai perahu apa kapal?" tanyaku antusias.


"Ya pakai kapallah, kalau pakai perahu, kamu mau mendayungnya sampai pulau? Sekalian aku pengen mengecek laju dan kondisi kapal, semoga yang aku pesan sudah memenuhi syarat dan baik-baik saja,"


"Oke. Apa aku boleh bawa adikku Zanu?" tanyaku lagi.


"Boleh, siapa saja kamu boleh bawa. Kapalnya muat membawa beberapa orang lagi, sekalian kita nanti piknik di pulau. Aku sudah pesankan makanan yang akan di bawa besok, jadi kita tidak perlu repot-repot buat masak,"


"Apa kita bermalam di pulau itu?"


"Tidak, paling di sana hanya beberapa jam. Karena aku harus menandatangi surat-surat kepemilikan kapal dan perahu yang sudah datang, sekalian memberikan penjelasan dan serah terima ke beberapa nelayan yang bisa di ajak kerjasama,"


"Ribet amat ya pekerjaan Kakak? Sepertinya tidak selesai-selesai,"


"Yah, begitulah Zanu. Bisnis orang tuaku berkembang pesat, aku harus terjun langsung di saat usiaku masih sangat muda,"


Aku diam, sudah terlalu banyak pertanyaan yang aku lontarkan ke Bram.


Kita sudah sampai di kota Prn, Bram melajukan mobilnya ke arah rumahku.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2