
Setelah menyusuri pantai, aku berbelok ke jalan menuju ke pasar dan mencari bendi (kereta yang ditarik kuda).
Setelah menemukan bendi dan menunggu sejenak penumpang lain, aku melihat sosok yang kukenal di balik kerumunan. Dan sosok itu tidak sendirian, ada orang lain yang sedang bergelayut mesra dengannya.
Aku seakan tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Rasanya itu seperti mimpi dan tidak mungkin terjadi. Aku bergegas turun dari bendi dan mencari sosok itu diantara kerumunan orang. Tapi tidak aku temukan.
Dadaku bergemuruh dan aku merasa syok. Aku berusaha tenang sambil memegang dada yang masih terengah-engah. Ingatanku langsung berputar-putar dengan kisah yang telah dilewati bersama sosok itu.
"Mbak, hati-hati. Apa mbak baik-baik saja?" seseorang menegurku dari belakang. Aku sadar jika tubuhku mulai terhuyung dan terjatuh. Seketika semuanya gelap.
*******
"Zanu! Bangun nak..,"
Tiba-tiba kurasakan tepukan dikedua pipi dan kubuka mata sambil melihat kesekeliling.
"Zanu, kamu sudah siuman. Tenang dulu ya nak," terdengar suara mama yang berada tepat disampingku.
Ternyata aku sudah berada di rumah. Siapa yang mengantarkanku ke sini?
"Ma, apa yang terjadi?" tanyaku.
"Syukurlah Zanu sudah sadar. Tadi ada yang mengantarkan Zanu ke sini, dia menemukan kamu pingsan di pasar. Ada apa nak? Apa Zanu sakit?" tanya Mama sambil meraba keningku.
"Tidak Ma. Zanu baik-baik saja. Oiya, siapa orangnya yang mengantarkan Zanu ke rumah? Kenapa dia tau rumah kita? Orangnya seperti apa Ma?" pertanyaanku semakin banyak. Pikiranku kembali mengingat sosok itu.
"Mama tidak tau siapa itu nak. Dan Mama juga tidak sempat menanyakan mengapa dia tau rumah kita," Mama ikut bingung dan menyadari ada sesuatu.
"Memangnya ada apa Zanu? Bisa jadi itu temannya kamu kan? Mungkin dia bertanya-tanya dulu dengan orang disekitaran pasar yang tau tempat tinggal kita. Bisa jadi kan ya?" Mama mangut-mangut dan ikut memikirkan itu.
Hhmm.., jadi Mamaku tidak tau siapa pria itu. Bisa jadi dia adalah bodyguardnya Bram. Karena jika sosok itu yang mengantarkanku pulang, seharusnya Mama tau. Apa sebaiknya aku diam dulu? Mengapa sosok itu tiba-tiba muncul?
Kepalaku mulai pusing dan terasa hatiku mulai merasakan kesedihan. Aku tidak tau mengapa perasaan itu hadir?
"Sekarang kamu istirahat dululah," ujar Mama.
"Jam berapa sekarang Ma? Zanu mau privat nyetir,"
"Udah, kamu lupakan itu dulu, sekarang istirahat saja," perintah Mama.
"Nggak Ma, Zanu harus belajar nyetir. Papa sudah bayar dan lagipula Zanu jarang pulang. Kasian mobil nangkring lama di garasi. Zanu udah baikan juga kok," Aku merasakan tubuhku normal dan ingin segera bisa menyetir mobil. Sekalian aku ingin mencari info tentang sosok itu di luar.
__ADS_1
"Ya udah, kalau kamu ngotot. Pastikan dulu kondisi tubuh kamu sehat, Mama nggak mau kenapa-kenapa sama kamu. Sekarang bersiap-siap, sudah jam sembilan tiga puluh. Privatnya jam sepuluh kan?"
"Iya Ma. Zanu siap-siap dulu,"
Aku beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Sedangkan Mama keluar kamar menuju kelantai bawah.
********
Setelah bersiap-siap, aku turun ke bawah. Kebetulan guru privatku bang Bayu sudah ada diteras depan.
"Itu Bayu baru datang. Maunya duduk diteras, Zanu langsung saja pergi ya..," ujar Mama.
"Oke Ma. Oiya, Papa sama Zuri kemana ya Ma?" tanyaku.
"Papa nganter Zuri les renang. Entah kenapa Sekolah menyuruh murid belajar berenang, padahal bentar lagi mau kuliah. Seharusnya berenang itu kan dari kecil ya, biar mahir gitu? Ada-ada saja," celoteh Mama.
"Nggak ada kata terlambat untuk belajar Ma. Ya udah, Zanu pergi dulu ya Ma, bye," Aku mencium pipi Mama dan salam.
Dengan bergegas aku keluar dan mendapati Bang Bayu sedang bengong. Ia kaget saat melihatku keluar. Seakan terlihat mimik wajah bersalahnya. Aku bingung mengapa dia jadi seperti itu.
"Yok Bang kita berangkat. Zanu bukain garasi dulu ya," ujarku.
"Pakai mobil kamu ya?" tanyanya.
Terlihat Bang Bayu mulai bengong lagi, entah mengapa ia terlihat gelisah.
Ah, peduli amat! Aku hanya ingin segera bisa menyetir mobilku. Aku ingin langsung bawa mobilku saat kuliah nanti.
Setelah membukakan pintu, aku meminta tolong ke Bayu untuk mengeluarkan mobil. Dan setelahnya kita langsung berangkat.
Disela-sela menyetir tidak banyak yang kita bicarakan. Aku fokus mengikuti arahan Bayu, sedikit banyak aku mulai mahir menyetir.
"Zanu, Abang minta maaf ya atas sikap tunangan Abang yang kemaren. Dia salah paham dan itu juga kesalahan Abang karena telah membohonginya. Seharusnya dari kemaren ini Abang minta maaf, tapi Zanu tidak ada," Bayu membuka pembicaraan saat dalam perjalanan menuju ke arah pantai.
"Ah Abang, kenapa membahas itu lagi. Aku juga udah lupa kok kejadian waktu itu," jawabku dengan senyuman.
"Walau kamu sudah lupa, Abang tetap minta maaf. Jadi kepikiran terus,"
"Iya, aku maafin Bang. Bagaimana tunangan Abang itu? Kapan kalian menikahnya?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Hubungan kita sudah putus. Dia terlalu banyak mengatur dan selingkuh di belakang Abang," jawabnya dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
"Waduh, putusnya bukan karena masalah kemaren kan?" tanyaku lagi.
"Tidak ada hubungannya sama sekali,"
Aku diam dan kembali fokus menyetir. Sesaat kemudian mobilku berhenti diperepatan jalan karena lampu merah sedang menyala.
"Oiya, bagaimana pacar kamu Zanu? Apa dia masih marah?"
Deg! Aku teringat lagi akan Bram.
"Hhmm.., Dia nggak marah," jawabku singkat. Aku mengalihkan pandangan ke samping sambil melihat-lihat kendaraan yang sedang berhenti.
"Syukurlah. Cowok kamu itu sebenarnya siapa sih Zanu? Kok banyak banget bawa orang waktu itu?" tanya Bayu lagi.
Tiba-tiba pandanganku teralihkan ke motor yang baru berhenti tepat di samping mobilku. Lagi-lagi sosok itu bersama seorang perempuan yang duduk di belakang sambil memeluk pinggangnya dengan mesra.
Aku mengamati sosok itu dengan seksama. Saaapp!! Kebetulan dia juga menoleh ke arahku dengan pandangan yang sama. Tidak ada expresi diwajahnya, hanya terukir kerutan di kening yang menandakan jika ia sedang mencari jawaban.
Lampu hijau menyala.
Motor itu berbelok ke arah kanan. Tanpa menunggu aba-aba, aku mengikuti motor itu.
"Hei Zanu! Kamu mau kemana? Kita seharusnya kan belok kiri," ujar Bayu.
Aku diam dan mulai sedikit menginjak gas. Aku tidak mau kehilangan sosok itu lagi. Aku ingin memastikan, bagaimana ia bisa hadir lagi.
Tapi kurasakan tadi, sepertinya ada yang aneh. Mengapa saat ia melihatku, tidak ada terlihat bahwa ia mengenalku.
"Zanu! Mengapa kamu tancap gas! Pelan-pelan Zanu!" Bayu mulai panik. Ia bingung mengapa aku seperti mengejar sesuatu.
"Tenang Bang, aku lagi mengasah kemampuan balapku," jawabku dengan sedikit becanda.
"Iya, tapi kamu belum bisa sepenuhnya membawa mobil! Rem sekarang Zanu! Injak rem..!" Bayu semakin panik mendapati mobil yang aku kendarai melaju kencang.
Aku diam saja. Kulihat motor itu belok kiri, lalu belok kanan. Aku mengikutinya dengan sangat hati-hati saat berbelok, karena baru kali ini aku berbelok dengan mobil yang melaju kencang.
"Aaaa..., Zanu! Hentikan mobilnya, kita bisa masuk parit!" teriak Bayu.
Aku fokus dan syukurnya bisa melewati belokan tadi. Motor itu berbelok ke halaman sebuah rumah yang besar. Aku mengerem mendadak tepat di seberang rumah tersebut.
Ciiittt..!
__ADS_1
Suara rem mobil terdengar sampai sosok itu melihat kearah sumber suara.
...****************...