Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 54 : Sunset


__ADS_3

Aku dan Bram pergi menuju pantai.


Selama perjalanan, Bram sekali-kali menggodaku. Tapi aku berusaha tidak terpengaruh. Karena menurutku Bram hanyalah bercanda. Jikapun ada hal yang romantisme, Bram selalu menyanggah dan tau diri. Dia tidak berani macam-macam terhadapku.


Kecuali yang sudah menjadi kebiasaannya adalah mengusap rambut atau mengacak poniku.


Dengan caramu selama ini Bram, rasanya tidak mungkin aku akan berpaling ke yang lain. Tapi kenapa kamu selalu cemburu?


"Zanu, sedari tadi aku lihat merenung terus. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Bram.


"Nggak ada Kak. Oiya, Kakak sudah bikin skripsi?" tanyaku balik.


"Sedang dikerjakan, semoga nanti di terima. Setelah itu sidang dan selanjutnya wisuda. Aku takut kuliah cepat berakhir. Tapi aku juga tidak bisa berlama-lama di sini, karena Papa membutuhkanku," jawab Bram.


Terlihat wajah Bram merasa sedikit sedih. Aku tau, Bram berat meninggalkanku.


"Kak, selagi bisa bantu ortu, kenapa tidak? Jangan fikirkan yang lain-lain dululah Kak..,"


"Zanu, kamu itu tidak tau apa yang aku rasakan. Amerika itu jauh dan butuh waktu yang lama untuk bisa ke sini. Itu juga kalau aku ada waktu luang. Kerja di perusahaan tidak segampang itu yang selalu bisa liburan atau cuti. Apalagi aku harus handle semuanya. Minimal kalau ada kamu didekatku, aku jadi semangat untuk kerja dan bisa melihatmu setiap hari," ujar Bram panjang kali lebar.


"Kak, nanti InsyaAllah ada waktunya. Yakinlah, kita hanya menunggu waktu saja,"


Bram hanya diam dengan segala fikirannya.


********


Mobil Bram berhenti di parkiran yang berada di pinggir pantai. Di sana terlihat banyak aktifitas muda mudi dan penjual makanan yang meramaikan pantai.


Aku dan Bram turun dari mobil. Kita berdua berjalan menuju bebatuan besar yang terletak di pinggir pantai. Terasa angin sepai sepoi menerpa rambutku. Bram menggenggam tanganku dan mengajakku duduk di atas bebatuan.


"Kita mau pesan apa nih?" tanya Bram.


"Aku mau jagung bakar. Tuh ada," jawabku sambil menunjuk ke arah jalan dekat parkiran.


"Kalau minumnya?" tanya Bram lagi.


"Air kelapa muda Kak," jawabku.


"Bentar ya, aku ke sana dulu,"


Aku mengangguk. Bram langsung menuju tempat penjual jagung bakar dan kelapa. Setelah memesan, Bram balik lagi ke arahku.


"Aku banyak pesan jagung bakar, nanti lebihnya bisa kamu bagikan sama teman-teman di kost,"

__ADS_1


"Iya Kak," jawabku.


*********


Pesanan datang. Kubuka kotak isi jagung bakar dan langsung ku makan. Kelapa muda juga sekali-kali aku sedot dengan pipet. Begitu juga dengan Bram, pesanannya sama denganku.


"Zanu, setelah selesai kuliah kamu lanjut ke mana? Kerja atau lanjut S2?" tanya Bram disela-sela dia sambil mengunyah jagung.


"Belum tau Kak. Maunya bisa langsung kerja, kalau langsung ke terima. Minimal masuk PNS lah," jawabku sekenanya.


"Kamu lanjut saja ke S2. Bagusnya di Amerika, karirmu juga bisa meningkat di sana. Aku yakin kamu bisa menjadi pengacara hebat. Kalau kamu PNS, otomatis aku tidak bisa memboyongmu ke Amerika. Kecuali kamu mau berhenti demi hidup bersamaku nanti," ujar Bram.


"Aku belum memikirkannya sampai ke sana Kak, karena aku baru mulai kuliah. Semoga nanti ada jalannya yang terbaik untukku. Lagipula, untuk menjadi pengacara itu masih angan-angan,"


"Kamu bisa Zanu. Jangan hanya dijadikan angan-angan saja, tapi jadikan motivasi kalau kamu bisa meraih itu," ujar Bram berusaha meyakinkanku.


Aku hanya diam saja. Karena takut berharap, jika tidak bisa kuraih, aku takut kecewa bahkan bisa down.


"Oiya, tentang idemu waktu itu, ternyata sukses besar. Sekarang, penjualan roti Kembang semakin meningkat pesat. Dan karyawanpun bertambah. Terima kasih ya sayang, idemu memang cemerlang. Maka dari itu, aku sepenuhnya percaya padamu perihal angan-angan tadi,"


"Syukurlah Kak! Aku senang mendengarnya. Semoga berkah buat semua di pabrik Kakak," jawabku antusias.


Tidak menyangka ternyata ideku berhasil dan berjalan dengan semestinya.


"Wah! Aku senang mendengarnya Kak, semoga lancar semua urusan Kakak," aku kembali merasakan senang mendengar berita ini.


"Bentar lagi istri dari salah satu mereka akan melahirkan. Kalau kamu mau nanti kita menjenguk dan sekalian lihat bayinya,"


"Boleh. Nanti Kakak kabari saja,"


Bram mengangguk sambil tersenyum. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya jagung yang kita makan ternyata sudah habis. Begitu pula air kelapa.


"Abis ini kamu mau kemana lagi?" tanya Bram sambil mengikat kotak berisi jagung bakar.


"Bentar lagi ada sunset Kak, kita lihat sebentar. Trus nanti kita singgah di mesjid dekat sini, untuk sholat magrib," jawabku.


"Okelah kalau gitu,"


Sekitar sepuluh menit kemudian, berlahan dari permukaan di ujung lautan, terlihat matahari akan terbenam. Warna matahari berubah menjadi orange yang membias indah kearah sekitarnya.


"Zanu, tunggu sebentar di sini. Aku mau ambil kamera di dalam mobil. Biar aku photo sunsetnya, oke," ujar Bram.


"Oke Kak, jangan lama-lama ya. Nanti sunsetnya keburu menghilang.

__ADS_1


Bram berbalik dan bergegas berjalan menuju parkiran.


********


Tak sampai sepuluh menit, Bram kembali lagi sambil membawa kameranya.


Bram langsung memotret sunset. Dan juga memotretku dari belakang serta depan, dengan background sunset. Bram menyuruhku untuk memotretnya.


"Aku tidak bisa Kak, ini gimana sih cara menggunakannya?" ujarku sedikit takut. Takut salah pencet atau terhapus photo yang tadi.


"Begini, kamu arahkan ke objek yaitu aku dan sunset yang terlihat. Kamu bisa putar ini untuk mengatur jarak yang diinginkan. Setelah pas, kamu klik tombol ini. Udah, gitu aja. Mudah kan?" tanya Bram.


"Oke, aku coba dulu Kak. Semoga hasilnya bagus," jawabku.


Bram bergegas mengambil posisi dengan bergaya melipat tangan didadanya. Aku segera mengikuti intruksi Bram tadi. Dan klik!


Bram berjalan ke arahku dan melihat hasil potretku barusan.


"Wah! Ini kamu udah pro Zanu. Bagus banget kamu mengambilnya. Tambah lagi ya," ujar Bram sambil berlari menuju tempat tadi untuk berphoto.


Apa iya, foto yang aku ambil tadi bagus?


"Ayo, jangan bengong lagi. Entar sunsetnya lenyap," ujar Bram sedikit teriak karena jaraknya denganku sedikit berjauhan.


Klik! Klik! Klik! Klik!


Sudah empat pose yang aku ambil. Dan sepertinya sunset kali ini benar-benar luar biasa indah. Dan moment sekarang bersama Bram juga melengkapi keindahan ini.


"Sudah Kak, dilihat dulu hasilnya,"


Bram bergegas melihat hasil jepretanku. Dan dia sangat senang dengan hasilnya.


"Aku suka hasilnya. Kamu bisa juga nih jadi photograper,"


Aku hanya tersenyum.


"Kak, kita udahan yuk. Udah mau magrib, kita cari mushola atau mesjid terdekat," ujarku.


"Oke. Ini kamu bawa kamera dan aku bawa kotak jagung ini,"


Aku mengangguk. Aku dan Bram berjalan ke arah parkiran. Setelahnya aku dan Bram sudah berada di dalam mobil.


Kita bersiap dan melaju untuk mencari mesjid.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2