Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 106 : Sacia


__ADS_3

Setelah selesai makan, aku dan Bram pergi ke ruang ICU.


Di sana sudah ada dokter Cahyo dan dua dokter lagi. Para perawat sedang sibuk membawa keluar peralatan bekas operasi.


"Hallo Pak Bram," dokter Cahyo menjabat tangan Bram dan aku.


"Hallo juga Dok. Bagaimana Dok, apa saya bisa masuk ke dalam?" tanya Bram.


"Silahkan Pak Bram. Nona Prita sudah melewati masa kritis dan sekarang kondisinya sedang stabil," dokter Cahyo membuka pintu masuk ke ruang ICU tempat Prita sedang berbaring lemah.


Semuanya masuk ke dalam ruangan. Aku melihat Prita masih memejamkan matanya.


"Nona Prita sudah ada reaksi, tapi belum ada tanda-tanda matanya terbuka. Butuh waktu untuk melihat dia bergerak. Siapa saja yang akan berjaga-jaga di sini Pak Bram? Sebagai perwakilan keluarganya?" tanya dokter Cahyo.


"Ini Dok, pacar saya, namanya Zanu. Zanu ini teman dekatnya Prita. Selain Zanu, ada asisten saya bernama Atif. Untuk sementara baru dua orang yang bisa menemani. Sedikit banyak saya sudah jelaskan tadi ke Dokter, semoga paham dengan situasinya saat ini," jawab Bram.


"Iya Pak Bram, saya mengerti. Saya hanya ingin tau siapa saja yang menemani Nona Prita selama di sini. Karena saya akan memberikan arahan dasar untuk menghadapi pasien yang baru siuman dengan kondisi hilang ingatan. Ada hal-hal tertentu yang harus dihindari untuk pertama kalinya menghadapi pasien seperti kasus Non Prita ini,"


"Oke Dok. Tunggu asisten saya, mungkin sebentar lagi dia akan ke sini. Kemungkinan Atif dan Zanu akan gantian berjaga dan sekali-kali saya akan menemani,"


"Iya Pak Bram. Maaf, saya permisi dulu, nanti saya kembali lagi ke sini untuk memberikan arahan kepada saudara Atif dan Non Zanu," ujar dokter Cahyo.


"Baik Dok, silahkan. Terima kasih,"


"Sama-sama, mari Pak," dokter Cahyo keluar ruangan diiringi dua asisten dokter.


Sekarang tinggal aku dan Bram di ruangan ini. Aku menggenggam tangan Prita dengan pelan.


"Kak, kasihan Prita ya. Kenapa jadi seperti ini," tidak tega rasanya melihat kondisi Prita.


"Sayang, yang penting sekarang Prita sudah melewati kritisnya. Kita do'akan yang baik-baik buat Prita, semoga dia bisa pulih seperti sedia kala," Bram menyentuh bahuku sambil melihat Prita.


"Kak, hari ini aku tidak bisa menemani Prita. Besok InsyaAllah sepulang kuliah aku nginap di sini," Aku harus pulang dulu ke kost.

__ADS_1


"Iya nggak apa-apa, biar Atif yang menemani malam ini. Besok, aku temani kamu menginap di sini sekalian aku mau membuat laporan untuk sidang. Skripsiku sebentar lagi selesai," Bram membelai rambutku.


"Kakak tidur di mana? Aku lihat di sini cuma ada satu kasur. Jangan bilang mau tidur berdua denganku!" Aku takut Bram berpikiran ke arah sana, walau sebenarnya tidak mungkin dia melakukannya.


"Kalau maunya aku tidur bersama kamu bagaimana?" Bram mulai menggodaku.


"Nggak mau ah! Lebih baik aku tidur di luar saja!" jawabku ketus.


"Eits! Tidak tega aku membiarkan kamu tidur di luar. Tenang, itu mudah kok. Nanti biar karyawanku yang membawa kasur ke sini. Sekalian bantal, selimut, pakaian, peralatan mandi, handuk,"


"Sekalian Kak bawa lemari! Memangnya Kakak mau pindah ke sini?" aku memotong perkataan Bram.


"Nah iya sayang, lemari juga penting. He..he..he..,"


"Ada-ada saja Kakak ini. Besok Kakak jemput atau aku naik angkot?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Ngapain aku membiarkan kamu naik angkot? Besok aku jemput langsung ke kampus. Kamu mau tidak aku belikan mobil?" tanya Bram.


"Nggak usah! Papa rencananya mau belikan mobil buatku,"


"Lihat nanti,"


Ssreet...!


Pintu terbuka dan ternyata itu Atif.


Atif menghampiri aku dan Bram.


"Sore Bos. Saya dapat informasi terbaru,"


"Duduk dulu Atif. Ada kabar baik mengenai Prita, dia sudah melewati masa kritis dan keadaannya sudah stabil," Bram langsung menjelaskan tanpa bertanya dulu informasi apa yang di bawa Atif.


"Hah!! Benarkah Bos?! Alhamdulillah..," Atif menghampiri Prita, seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

__ADS_1


Atif membelai rambut Prita dan membisikkan sesuatu di telinganya. Terlihat jelas Atif mulai menyayangi Prita, di mana awalnya dia tidak begitu tertarik dengan Prita.


Tidak berapa lama kemudian, Atif sadar jika Bram dan aku memperhatikannya dari tadi.


"Eh maaf Bos. Saya jadi lupa, he..he..he.. Syukurlah Bos, Prita sudah ada perkembangan. Lega rasanya hati saya Bos," Atif berjalan mengambil kursi dan duduk dihadapan Bram.


"Tidak apa-apa Atif. Oiya, malam ini tolong kamu temani Prita lagi, besok saya sama Zanu yang jaga di sini. Kita gantian supaya bisa istirahat. Nanti dokter mau memberikan arahan buat kita yang berjaga,"


"Siap Bos! Bos, apa boleh saya langsung menyampaikan informasi yang saya dapatkan?" tanya Atif, takutnya dia salah bicara karena ada aku di sini.


"Silahkan, tidak apa-apa. Informasi apa?" Bram mulai serius mendengarkan.


"Begini Bos, ternyata pemilik truk itu seorang perempuan. Saat kita sudah mendapatkan siapa pemilik truk, aku bersama polisi langsung menuju ke tempat drivernya terlebih dahulu. Informasi dari driver, kalau dia di suruh majikannya untuk menabrak ke arah Prita,"


Deg! Bearti ini sudah direncanakan, bukan kecelakaan. Bisa jadi Prita sudah di intai dari awal. Siapa ya perempuan itu? Aku jadi ikut mikir dan penasaran.


"Terus?" Bram masih menyimak Atif bicara.


"Prita sudah diintai sejak awal. Ternyata perempuan itu adalah dalangnya, mengintai seluruh keluarga Prita di Amerika dan di sini. Dia di bantu oleh Kakak laki-lakinya. Dan dia memiliki satu Kakak lagi, sekarang tinggal di Amerika. Mereka seperti ada dendam ke keluarga Prita, selain tentang persaingan bisnis,"


Nah betul dugaanku, Prita sudah lama di intai. Apakah perempuan itu sudah tau kalau Gubernur adalah pamannya Prita?


Kulihat Bram mengernyitkan dahi seakan ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya.


"Kita harus bantu kemelut keluarga Prita ini Atif. Kita juga harus bergerak cepat karena jika mereka sudah tau siapa dan di mana saja keluarga Prita berada, akan menjadi bencana besar. Secepatnya harus di selesaikan karena Prita harus segera di bawa ke Amerika. Orang tua Prita tidak akan bisa ke sini, bisa membahayakan semuanya," tegas Bram.


"Iya Bos. Semua informasi dan data-data sudah dikerahkan semua di sini. Hanya tinggal menunggu informasi dari Amerika dan itu langsung wewenang dari Bos,"


"Iya, sudah saya pikirkan dan sedang dalam proses. Sebentar lagi saya akan ke Amerika dan langsung di selesaikan. Kita fokus dulu di sini. Oiya, siapa pemilik truk itu?"


"Bos jangan kaget ya, dia adiknya Gilang! Dia waktu itu sengaja ngekost di tempat Prita dan Non Zanu. Saat malam itu, sewaktu Bos di rumah sakit Prn, Prita akan di habisi. Untungnya, Non Zanu menyuruh Prita segera ke Prn,"


Hah!! Perempuan itu ternyata Sacia! Ya Tuhan..., seharusnya Prita dan aku tau lebih awal. Untung dia tidak mengganggu anak kost lain. Apakah aku termasuk target juga? Kok perasaanku jadi takut balik ke kost ya?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2