
Diskusi belum rampung.
"Dari mana Ketua tau, perusahaan Papa saya bekerjasama dengan perusahaan OX?" tanya Prita heran.
"Yah, tau saja. Jadi sekarang kamu sudah mulai diintai. Nanti saya bantu tanyakan ke orang yang mencari kamu saat di toko kemaren bersama Zanu. Semoga dapat informasi akurat dan di urus kepolisian Amerika tentang masalah ini. Di usut dulu dari kepolisian sini. Sekarang kamu sudah menjadi target utama mereka," jawab Bram.
"Jadi bagaimana ya Ketua? Saya takut sekali, selama ini saya berusaha menghindar untuk keluar dari kost. Selama di kampus saya juga terus waspada. Walau Papa sudah mengutus body guard buat saya untuk memantau dari jauh," ujar Prita lirih.
Terlihat expresi kaget Atif saat Prita menjelaskan semuanya. Mungkin Atif tidak menyangka, Prita yang dikenalnya ternyata seorang perempuan yang wow! Atau bisa jadi Atif ikut prihatin dengan kondisi Prita yang bisa saja terjadi sesuatu sewaktu-waktu.
"Kamu jalani saja hari-hari seperti biasanya. Kuliah bareng Zanu, karena Zanu juga sudah ada yang mengawasi langsung dari utusan saya. Jadi body guard kamu dan saya bisa bekerja sama,"
"Hah!! Zanu juga ada yang mengintai ya Ketua? Kenapa harus di kawal juga?" tanya Prita heran.
"Sampai sejauh ini tidak ada. Zanu di kawal hanya untuk penjagaan dia saja. Jadi saya bisa dapat informasi apapun tentang Zanu, ha..ha..ha..," jawab Bram sambil melihatku yang lagi makan.
Aku diam saja dan melanjutkan makanku yang tinggal sedikit lagi.
Jangan heran ya Prita, Bram itu sebenarnya ingin melindungiku dari fans-fans beratnya, hi..hi..hi..
"Keren juga ya Zanu, pakai body guard juga," ujar Prita senyum-senyum.
Bram hanya diam saja.
Aku sudah selesai makan dan mencuci tangan ke wastafel. Lalu aku mengambil kursi dan meletakkannya di dekat tempat tidur Bram.
"Itu karena Ketua tidak mau aku di lirik cowok lain Prita, makanya di utuslah bodyguardnya, he..he..he..," ujarku sambil tersenyum dan duduk.
Sekarang gantian aku menggoda Bram. Aku ingin tau bagaimana reaksinya.
"Enggaklah, itu karena aku pengen kamu aman dari orang-orang yang jahil," jawab Bram sambil menarik hidungku.
"Aduh.. Sakit,"
Bram tersenyum melihatku meringis.
"Atif, sekali-kali kamu ajak Prita jalan. Biar nggak bosan di kost terus," ujar Bram ke Atif yang sedari tadi hanya diam.
"Eh, iya. Baik Bos," jawab Atif.
"Lho, bukannya Prita dalam bahaya jika keluyuran Kak?" tanyaku heran.
"InsyaAllah aman kalau Atif yang jagain Prita. Kamu jangan ragukan kemampuan Atif ya..," ujar Bram.
Atif diam saja tanpa expresi.
Memang ya nih orang profresional sekali.
"Terima kasih Ketua," ujar Prita dan melirik Atif yang berada di dekatnya.
Bram mengangguk.
"Oke, diskusi hari ini selesai. Apa kalian berdua mau menginap di sini?" tanya Bram.
__ADS_1
"Ya nggaklah. Masa' pakai nginap, kan nggak bawa pakaian ganti. Kita mau pulang nih, hari sudah mulai sore. Aku mau pulang kampung. Kakak harus istirahat dan minum obat," jawabku cepat.
"Oiya udahlah. Atif tolong antarkan mereka berdua, pakai mobilku dan drivernya Pak Jack. Minta empat anggota berjaga di depan pintu, aku mau tidur," ujar Bram.
"Waduh! Banyak amat empat orang yang jagain Kakak? Nggak salah dengar tuh?" tanyaku heran se herannya.
"Nggak salah sayang. Nanti juga kamu akan mengerti. Besok aku jemput ke rumahmu, jangan lupa dandan yang cantik yah," jawab Bram.
"Iyaaa Bos," jawabku manyun.
Bram senyum melihatku. Tangan Bram ikut membelai rambutku dari belakang.
"Hati-hati Zanu," ujar Bram.
Aku mengangguk.
"Ketua, kami pulang dulu ya. Terima kasih sekali lagi," ujar Prita.
"Oke Prita, sama-sama," jawab Bram.
Aku, Prita dan Atif beranjak dari tempat Bram menuju pintu keluar. Aku lihat Bram melambaikan tangan dan aku membalasnya.
Setiba di luar RS, mobil Bram sudah nangkring di sana. Atif mempersilahkan aku dan Prita masuk mobil.
Atif duduk di dekat driver. Dan mobil melaju menjauh dari RS menuju kost aku dan Prita.
Selama di perjalanan, tak banyak yang kita obrolkan. Pak Jack hanya sekedar menyapaku, begitu juga sebaliknya. Sedangkan Prita dan Atif hanya diam saja.
********
Aku dan Prita turun. Atif ikut turun dan menghampiri Prita.
"Prita, nanti aku kabari kalau kita mau jalan. Jaga diri baik-baik ya," ujar Atif.
Wow! Baru kali ini aku melihat Atif berbeda dari sebelum-sebelumnya. Sepertinya Atif mulai jatuh cinta sama Prita, yuhuu...!
"Baik Bang, terima kasih ya," jawab Prita dengan senyum terbaiknya.
Wadaw! Sudah panggil abang segala.
"Non kita balik lagi, nanti saya kabari Bos," ujar Atif ke padaku.
"Oke, terima kasih sudah mengantarkan kita," jawabku.
"Mari Non Zanu, Prita," ujar Atif.
Atif masuk ke mobil. Pak Jack melambaikan tangannya dari dalam mobil.
"Hati-hati Pak Jack," ucapku.
Tin!Tin! Bunyi klakson dari Pak Jack. Mobil melaju keluar kost dan pergi.
"Yuk kita masuk Prita," ujarku.
__ADS_1
Prita mengangguk dan menggandeng tanganku masuk ke dalam kost lewat pintu samping.
*********
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Aku bergegas beres-beres barang yang mau dibawa pulang ke rumah. Tak banyak yang dibawa, hanya seperlunya saja. Jaket Bram juga untuk nanti aku pakai selama perjalanan.
Setelah selesai, aku mengunci pintu kamar dan bergegas turun ke bawah langsung menuju kamar Prita.
"Prita, aku masuk ya," izinku dulu.
"Masuk saja Zanu, nggak dikunci kok," jawab Prita dari dalam kamar.
Aku masuk dan mendapati Prita sedang menelepon seseorang lewat ponselnya.
Nah! Betul dugaanku sebelumnya, kalau Prita pasti punya ponsel tapi disembunyikan.
"Iya Pa, Ma, Prita baik-baik saja di sini. Nanti Prita kabari lagi ya, jaga kesehatan Papa sama Mama. Mama jangan lupa di minum obatnya, cepat sembuh ya Ma," sepenggal percakapan Prita yang terdengar olehku.
Klik! Prita selesai menelepon.
"Lagi menelepon orang tuamu ya?" tanyaku.
"Iya Zanu, Mamaku sedang sakit. Aku sedih, mereka juga sedih karena jauh dariku. Kita semua kangen, hiks..," jawab Prita dengan raut muka sedihnya.
"Sabar Prita..., kita berdo'a bersama, semoga Ketua bisa mengusut cepat siapa saja pelakunya selama ini. Dan kamu bersama keluarga bisa berkumpul kembali," ujarku sambil memeluk Prita.
"Iya Zanu.. Tapi tidak semudah itu dilakukan, karena jaringan mereka luas. Tapi tidak tau juga kalau yang mereka hadapi itu adalah perusahaan OX. Hanya perusahaan itu yang bisa memutuskan kerjasama di segala bidang di Amerika. Kenapa Ketua bisa tau ya?" Prita masih penasaran mengenai ucapan Ketua tadi.
"Emangnya perusahaan OX itu perusahaan apa sih? Aku penasaran dari kemaren-kemaren tapi tidak jadi-jadi aku mencari infonya," tanyaku penasaran.
"Perusahaan OX itu bergerak di segala bisnis besar. Termasuk pemasok segala kebutuhan hidup manusia dalam skala besar. Jaringan mereka bukan di Amerika saja, tapi di Eropa dan Asia. Terbaru mereka mau buka di Australia. Itu perusahaan sangat-sangat besar Zanu dan bukan mainlah pokoknya," jelas Prita.
Aku termangu dan bengong.
Jadi nama Bram yang di ujungnya adalah OX, bearti Bram adalah pemilik perusahaan tersebut? Wow!! Pantaslah, semua di sekeliling Bram seperti berada di dunia yang berbeda saat aku menjalani duniaku sendiri.
Tapi, sebaiknya aku tidak memberitaukan apa-apa tentang Bram ke Prita. Biar dia tau sendiri nanti. Takutnya Prita bisa syok, seperti yang kualami akhir-akhir ini, ahaiiii...!
"Udahlah Zanu, jangan bengong. Kamu ke sini mau ngapain?" tanya Prita.
"Aku cuma mau pamit pulang kampung, kalau ada yang tanyain aku, kamu bisa jawab, oke," jawabku.
"Oke deh.. Hati-hati ya selama perjalanan, semoga selamat sampai tujuan," ujar Prita.
"Okelah, aku pergi dulu ya, bye,"
"Bye Zanu,"
Aku keluar dari kamar Prita dan berjalan melalui pintu samping. Sesampai di luar kost, aku menunggu angkot di depan.
Tidak pakai lama, Angkot datang dan berhenti. Aku naik dan Angkot langsung melaju menuju pasar besar.
...****************...
__ADS_1