Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 149 : Curhat Zuri


__ADS_3

"Bram sudah berangkat Pa, dari seminggu yang lalu," jawabku.


"Oh, pasti dia sibuk sekali ya. Semoga urusannya lancar di sana. Zanu fokus kuliah ya nak,"


"Iya Pa," jawabku singkat.


Mobil sudah sampai di depan rumah. Mama dan Zuri dengan riang menyambutku di teras depan.


"Duh! Nak gadis Mama, kangen lho," Mama memelukku.


"Zuri juga Kak, rumah jadi sepi kalau lagi sendirian," Zuri menyalami dan memelukku.


"Bawa Zanu masuk dulu Ma, ini mau maghrib," Papa membawa barang bawaanku ke dalam.


"Eh iya lupa Pa, saking senangnya, he..he..,"


Aku, Mama dan Zuri masuk ke dalam rumah. Terlihat ruang tamu berubah. Sofa dan gorden berganti dengan model dan warna baru.


"Cantikkan? Mama bosan ruang tamu kita gitu-gitu saja dari lima tahun yang lalu, sekali-kali mata kita harus fresh, ha..ha..," Mama antusias sekali memperlihatkannya kepadaku.


"Iya Ma cantik dan terlihat lebih modern dari yang sebelumnya," sebenarnya bukan tentang pergantian isi ruang tamu ini, tapi sangat disayangkan ada banyak kenangan dari perabot yang lama. Dimana disitu aku pernah mengobrol dengan almarhum Abang, almarhum Vincent dan Bram.


Ah..., semuanya sudah pergi begitu saja. Mungkin ini sudah nasibku.


Aku izin sama Mama untuk ke lantai atas. Aku mau mandi dan berganti pakaian.


*********


Magrib telah berlalu, kita sempatkan tadi sholat berjamaah. Setelah itu, aku dan Zuri membantu Mama menyiapkan makan malam. Kita bolak balik dari dapur ke ruang makan. Seperti biasa Mama sudah menyiapkan makanan kesukaanku.


"Zanu, besok kamu harus privat lagi menyetir. Mobilnya harus segera kamu bawa, sayang sekali nangkring lama di rumah ini," ujar Papa saat kita sudah berkumpul di ruang makan.


"Iya Pa. Besoknya kapan Pa, pagi atau siang?" tanyaku sambil mengambil nasi.

__ADS_1


"Besok dari jam sepuluh sampai jam dua belas nak, nanti si Bayu itu yang jemput kamu ke sini,"


Mendengar nama Bayu, aku jadi teringat peristiwa itu. Aku di maki oleh pacarnya dan untungnya ada Bram yang membawaku dari sana. Ada perasaan sedih menyelimuti hatiku jika mengingat itu karena Bram sekarang tidak bisa lagi melindungiku kecuali bodyguard yang ia utus sendiri.


"Baik Pa,"


Setelah mengobrol sebentar, kita mulai makan malam bersama, menikmati dan mensyukuri apa yang sudah Allah berikan kepada keluarga kecilku ini. Kesehatan, kekompakan dan rezeki yang selalu patut untuk di syukuri.


Makan malam sudah selesai, kita beranjak ke ruang tengah sambil menonton berita di televisi. Dan sekali-sekali mengobrol tentang kuliahku dan sekolah Zuri.


"Bagaimana kuliah Zanu nak? Sudah masuk semester dua ya?" tanya Mama.


"Belum Ma, ini mau ujian semester satu. Mungkin bulan depan,"


"Wah, nggak kerasa ya waktu berjalan begitu cepat. Perasaan Mama baru kemaren ini mengantarkan kamu Sekolah. Besok ini giliran adikmu yang kuliah, Mama pasti merindukan masa-masa itu,"


"Iya Ma, pastinya Mama juga capek, singgah dulu ke Sekolah kita sebelum ke kantor. Belum lagi menjemput kita saat pulang Sekolah dan les. Kalau kita sudah kuliah, semua dikerjakan sendiri, harus mandiri," jawabku.


"Makanya Zanu harus lancar nyetirnya nak. Biar nanti adikmu kuliah nanti bisa barengan dan pakai mobil berdua," celetuk Papa.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Zuri mengajakku tidur, ia memberi kode ke arahku. Seakan ada sesuatu yang hendak disampaikannya. Setelah izin Papa Mama untuk tidur, aku dan Zuri langsung ke lantai atas menuju ke kamar.


Sesampainya di kamar, Zuri ingin menceritakan sesuatu perihal Damar.


"Kak, Damar sudah tunangan. Mereka akan menikah empat tahun lagi," ujar Zuri.


Aku kaget, kenapa bisa jarak tunangan dengan menikahnya sangat lama.


"Kok bisa lama gitu menikahnya? Aneh," aku merasa geli mendengar info dari Zuri. Baru kali ini aku mendengarnya dan menurutku ini langka.


"Damar cerita kalau itu kesepakatan antara kedua orang tua mereka. Diadakannya pertunangan itu tujuannya untuk mengikat satu sama lain dan mempererat hubungan kedua keluarga mereka. Nah, kenapa empat tahun baru menikah, karena umur mereka berdua belum dianggap dewasa dalam menjalani rumah tangga. Begitulah penjelasan Damar Kak,"


"Masuk akal juga sih. Tapi menurut Kakak aneh saja, takutnya di tengah jalan mereka bisa putus atau bosan. Atau selingkuh dan tau kekurangan masing-masing yang mungkin tidak saling menerima. Kalau sudah menikah kan sudah terikat, mau tidak mau harus saling pengertian dan menerima segala kekurangan pasangan masing-masing,"

__ADS_1


"Beuh Kakak, panjang sekali penjelasannya. Zuri seperti di beri Qultum, he..he..,"


"Sudah ah, ngapain juga kamu mikirin itu. Kamu harus fokus Sekolah, setahun lagi kamu naik kelas tiga, habis itu kuliah. Damar kalau suka sama kamu, pasti suatu saat nanti dia bakal datang walau mungkin di waktu yang salah,"


"Lho? Maksudnya di waktu yang salah?" Zuri masih bingung dengan pernyataanku.


"Udah deh, kita bobo yuk. Besok pagi Kakak mau ke pantai, kamu mau ikut?" tanyaku untuk mengalihkan pertanyaan Zuri.


"Maaf Kak, maksud Kakak tadi, Damar akan datang menemui Zuri walaupun dia sudah bertunangan? Itu kan maksudnya?"


Yup! Zuri benar, hanya saja belum tepat waktunya untuk membahas ini karena mereka masih remaja.


"Zuri, apa kamu benar-benar suka sama Damar? Kan dia sudah bertunangan dan nanti menikah dengan tunangannya," aku mulai serius bertanya tentang perasaan Zuri yang sebenarnya.


"Iya Kak, Zuri suka sama Damar. Begitu juga dengan Damar. Mungkin lebih dulu kita berkenalan dan mulai dekat sebelum dia bertemu dengan tunangannya. Hanya saja waktu itu, Damar belum menyatakan perasaannya, keburu kemudian orang tuanya meminta mereka tunangan," jawab Zuri lirih.


"Tapi kalau seandainya perasaan Damar berubah jadi menyukai tunangannya gimana? Kan lambat laun kalau mereka sering bertemu perasaan itu akan muncul dengan sendirinya. Kamu tidak boleh menjadi orang ketiga diantara mereka berdua," aku menasehati Zuri.


"Iya Kak, kalau tentang masalah itu sudah Zuri pikirkan dengan baik. Zuri akan mundur pelan-pelan,"


"Nah gitu dong, memangnya cuma Damar doang cowok dimuka bumi ini? Kamu bisa menemukan cowok yang lebih dari seorang Damar. Dah ah, kita bobo yuk, Kakak ngantuk nih,"


"Baik Kak,"


Aku dan Zuri menarik selimut, sebelum tidur kita berdo'a terlebih dahulu.


Entah mengapa aku teringat perkataanku barusan. Aku kepikiran jika Prita dan Bram sering bertemu, bisa jadi benih-benih cinta diantara mereka bisa tumbuh dan akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Apalagi Prita tidak mengingat tentang dirinya, Atif, Bram dan aku.


Aku juga harus menelan ucapanku sendiri kepada Zuri yaitu tidak boleh menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain. Jika aku masih mengharapkan Bram yang sudah jelas-jelas sudah dijodohkan, itu bearti aku adalah orang ketiga bagi mereka.


Aku mungkin bisa mundur pelan-pelan dari kehidupan Bram, tapi mungkin aku belum bisa melenyapkan perasaan cintaku kepada Bram.


Tidak semudah itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2