Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 157 : Keceplosan


__ADS_3

Kututup kembali surat abang dan memasukannya ke dalam amplop.


Aku turun kebawah sambil membawa surat tersebut dan langsung keteras depan. Kudapati Redu dan Zuri asik mengobrol. Mereka berdua berhenti bicara dan melihat ke arahku.


"Ini Bang, suratnya. Abang bawa atau mau baca di sini?" tanyaku sambil menyerahkan surat.


"Abang bawa dulu ya Zanu. Mau abang cocokkan dengan tulisannya Angga. Tolong nanti kamu ingat-ingat lagi siapa nama dan raut wajah yang menyerahkan surat ini ke kamu. Aku juga akan mencari tau," ujar Redu sambil mengambil dan mengamati amplop yang kuberikan.


"Oke Bang, ambil saja jika perlu,"


Redu mengangguk. Tidak berapa lama ia pamit pulang dan meminta nomor telepon rumah dan kost aku di kota P. Jika ada keperluan, ia akan menghubungi aku segera.


*********


Sepeninggalan Redu, Papa dan Mama pulang.


"Ma, kok lama sekali acaranya?" tanyaku.


"Iya. Abis kondangan, rombongan kita sholat dulu di mesjid. Setelah itu makan lagi di sebelah mesjid itu. Tadi pas acara kita makannya dikit," jawab Mama sambil mengambil souvenir dari dalam tas.


"Rombongan? Bukannya cuma Papa Mama saja yang pergi?" tanyaku lagi. Aku mengamati souvenir yang di bawa Mama.


"Kita konvoi. Yang punya acara teman sekantor Papa. Eh, mesjid di sana bagus sekali Zanu. Mesjidnya baru selesai dibangun. Tempat jual makan-makanan disamping mesjid itu juga punya orang yang sama," cerita Mama dengan antusias.


"Nama mesjidnya apa Ma? Dimana lokasinya?" aku iseng membuka souvenir dan melihatnya dengan seksama.


"Nah itu dia, pengurusnya bilang, nama mesjid nanti akan ditanyakan ke yang punya. Kalau namanya sudah ada, barulah diresmikan dan dibuka untuk umum. Lokasinya di KP," Mama berdiri menuju ke kamarnya untuk menukar pakaian.


Mesjid?


Aku jadi teringat dengan mesjid yang diceritakan Pak Jack. Entah bagaimana kelanjutan pembangunannya dan aku juga belum tau dimana letak lokasinya.


Aku ingin menghubungi Pak Jack, tapi nomornya aku tidak tau. Entah mengapa aku tidak memikirkan hal itu sampai sejauh ini, dimana seharusnya aku menyimpan nomor ponsel orang-orang yang kukenal.


Terutama sekali Bram!


Haruskah aku memiliki ponsel juga? Berat rasanya meminta ke Papa. Mobilku saja entah berapa ratus juta sudah dihabiskan.

__ADS_1


"Zanu, apa kamu sudah bisa nyetir nak?" tanya Papa yang mengejutkan lamunanku.


"Eh, iya Pa. Zanu sudah bisa. Pelatihnya bilang, besok ini tinggal belajar nyetir secara teratur aja," jawabku sekenanya. Takut ketahuan Papa kalau aku pernah ngebut.


"Kamu kenapa? Sepertinya lagi memikirkan sesuatu?" tanya Papa lagi sambil duduk santai dan membaca koran terbitan hari ini.


"Hhmm, nggak ada Pa. Oiya, tadi Papa ke mesjid ya? Warna apa mesjidnya?" tanyaku mengalihkan pertanyaan Papa.


"Iya, mesjidnya megah, bagus, bersih dan rapi. Warnanya putih. Tapi sayang belum ada namanya. Pengurusnya bilang, tunggu yang punya datang," jawab Papa.


"Masa' yang punya belum pernah kesana Pa? Jadi kebangun sendiri itu mesjid, nggak mungkin dong. Aneh,"


"Iya aneh. Pengurusnya tidak bicara apa-apa lagi,"


"Oiya Pa, nanti malam kita makan malam di luar yuk," ajakku.


"Boleh. Beritau Mama sama Zuri,"


"Oke, Zanu ke atas dulu ya Pa," ujarku dan langsung beranjak ke lantai atas untuk menemui Zuri.


********


"Iya Kak," jawab Zuri singkat.


"Kok lesu gitu jawabnya? Eh, gimana kabar Damar?"


"Nggak ada kabar lagi Kak. Mungkin dia sudah menikah,"


"Lho? Tau darimana kamu kalau dia sudah menikah?" aku jadi penasaran.


"Siapa tau kan Kak? Bentar lagi kan calonnya tamat Sekolah, bisa jadi dipercepat. Lagian itu calonnya kan bisa kuliah walau sudah menikah. Duit Damar banyak gitu, jadi nggak perlu lagi nyari perempuan yang banyak duitnya," jawab Zuri dengan wajah kesal. Entah apa yang sedang merasukinya, seakan-akan dia sudah membenci Damar.


"Ya nggak gitu juga. Setau Kakak, calonnya itu memang pengen kuliah, belum memikirkan nikah sama sekali,"


"Lho? Kok Kakak tau tentang calonnya Damar? Kok bisa?"


Waduh! Aku keceplosan! Gimana cara menjelaskannya ya?

__ADS_1


Zuri menatapku dengan aneh.


"Udah ah, ngapain kamu bahas-bahas Damar lagi. Lagipula tentang ini kan kamu sudah tau sebelumnya, jadi nggak perlu kaget," aku mengalihkan pembicaraan, supaya Zuri tidak bertanya lagi tentang calonnya Damar.


"Kak! Tolong jawab pertanyaan Zuri. Kakak kenal sama calonnya Damar? Kenapa selama ini Kakak nggak mau cerita?" tanya Zuri dengan mimik wajah semakin kesal. Ia juga merasa kecewa denganku, karena tidak memberikan info apa-apa.


"Ngapain Kakak harus cerita, jika itu menambah luka kamu Zuri. Kita ini masih belajar, perjalanan masih panjang untuk memikirkan tentang pernikahan. Sedangkan Damar dan calonnya itu sudah tahap ke sana karena persetujuan dua keluarga. Sudahlah, percayalah sama Kakak, lebih baik kamu lupakan saja Damar," aku tidak tega melihat Zuri. Pasti ia terpukul sekali dengan kehilangan Damar.


"Iya Kak. Tapi tolong jelaskan, supaya aku tidak penasaran lagi kedepannya," suara Zuri mulai melunak. Mungkin ia mulai menyadari perasaannya yang tidak seharusnya memikirkan itu terus menerus.


"Baiklah. Calonnya itu bernama Laura. Bapaknya bernama Pak Jack. Pak Jack itu salah satu tangan kanannya Bram. Kakak pernah bertemu dan menginap di rumah Laura, karena ada sesuatu hal yang terjadi saat Kakak ospek. Dan dia juga pernah menemani Kakak di rumah sakit, ketika Bram di rawat. Anaknya baik dan juga sempat cerita tentang Damar. Dia juga menentang perjodohan tersebut, karena keinginan utamanya itu adalah kuliah. Hanya itu yang bisa Kakak sampaikan, karena sudah lama tidak bertemu dengannya lagi," penjelasanku.


Zuri menyimak informasi yang aku berikan. Ia hanya diam, tidak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya setelah aku selesai bercerita.


"Maafkan Kakak ya. Bukannya tidak mau cerita, tapi menurut Kakak lebih baik kamu tidak mengetahuinya. Makanya lebih baik diam saja. Kita pikirkan saja bagaimana cepat selesai Sekolah dan kuliah dengan mendapatkan nilai bagus. Supaya Papa sama Mama bangga dengan apa yang sudah kita capai nantinya," aku memeluk Zuri. Kulihat ia meneteskan air mata. Aku menyeka air mata itu.


"Sudahlah... Kakak mengerti sekali dengan apa yang kamu rasakan saat ini. Karena perasaan seperti itu Kakak rasakan juga sekarang. Lebih baik kita saling menguatkan. Menangislah jika kamu mau menangis, agar setelahnya, perasaanmu jadi plong,"


Tanpa ba bi bu, suara tangis Zuri pecah dan terisak. Aku hanya melihatnya dan menunggunya meluapkan semua kesedihan selama ini yang terpendam. Sebagai seorang Kakak, aku harus menghiburnya.


Setelah beberapa menit, akhirnya Zuri berhenti menangis. Ia mengambil tisu, menyeka ingus dan air mata yang sudah tumpah.


"Sudah lega sekarang? Kalau kamu sudah merasa lega, bagaimana kalau sore ini kamu temani Kakak ke rumah teman,"


"Kemana? Kita pakai apa kesana?" tanya Zuri.


"Naik kendaraan umum saja. Nggak jauh kok,"


"Oke. Zuri ganti pakaian dulu ya Kak," Zuri beranjak dari tempat tidur menuju ke lemari pakaian.


"Yup! Kakak tunggu di bawah ya, sekalian izin Papa Mama. Kamu jangan lama-lama, takutnya kita kesorean," ujarku hendak menuju ke lantai bawah.


"Siap,"


Aku turun dan menemui Papa Mama.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2