
Ruang ICU.
Bram sudah terlihat stabil. Dokter dan perawat sudah menyelesaikan tugasnya. Hanya tinggal memantau perkembangan Bram setiap hari.
Sekarang di ruangan ini tinggal aku, Kak Resa, Ibu dan Bapak Rektor.
"Nak Zanu, Bapak sama Ibu nanti sore pulang. Karena saya ada rapat dengan semua dosen, besok pagi. Tapi sebelum pulang, kita mau antar Zanu pulang ke rumah dulu untuk menjelaskan semuanya ke orang tua kamu nak. Sekalian minta izin kamu menginap di sini bersama Resa," ujar Pak Rektor.
"Iya Pak," jawabku singkat.
"Yok nak Zanu kita pergi sekarang. Resa, tolong kamu jaga Bram sebentar, Mama mau antar Zanu pulang," ujar Ibu Rektor.
"Oke Ma," jawab Kak Resa.
Aku, Bapak dan Ibu Rektor pergi keluar menuju parkir mobil. Terlihat bodyguard Bram masih nangkring di sekitaran rumah sakit.
Atif berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Pak Rektor.
"Maaf Pak, bagaimana perkembangan Bos saya?" tanya Atif ke Pak Rektor.
"Oiya Atif, hampir saja saya lupa memberitau kamu kalau nak Bram sudah selesai operasi. Sekarang di ruang ICU, masih menunggu perkembangan selanjutnya. Kamu tolong berjaga-jaga. Dan sekarang Bapak sama Ibu mau antar nak Zanu pulang. Nanti nak Zanu akan menginap di sini, tolong kamu pantau semuanya. Jangan sampai terulang lagi, kasian nak Bram. Bapak sama Ibu pergi dulu," jawab Pak Rektor.
"Baik Pak, kita akan berjaga terus sampai Bos pulang. Terima kasih infonya Pak," jawab Atif.
Pak Rektor mengangguk. Kemudian kita masuk ke mobil dan berlalu dari rumah sakit menuju kerumahku.
Selama perjalanan, tidak banyak yang kita bahas. Hanya Ibu Rektor saja yang menanyakan tentang awal pertemuan aku dan Bram. Banyak cerita lucu yang membuat Bapak dan Ibu Rektor tertawa.
**********
Mobil berhenti di depan rumahku.
Aku turun dan memencet bel. Kebetulan yang keluar adalah Papa.
"Aduh nak, dari mana saja? Udah mau sore baru pulang?" tanya Papaku. Untung banget Papa tidak langsung marah.
__ADS_1
Tiba-tiba Bapak dan Ibu Rektor muncul di teras depan.
"Assalammu'alaikum Pak," ujar Pak Rektor.
"Waa'alaikum salam...," jawab Papaku.
"Maaf Pak, saya dan Istri mengantar nak Zanu terlambat. Karena ada suatu kejadian yang mengharuskan nak Zanu hadir. Oiya, saya Rektor di kampusnya nak Zanu,"
Papa kaget dan bingung juga, kenapa sampai ada Rektor ke rumah kita.
"Oh.., maaf.. Saya Bapaknya Zanu. Mari Pak, Ibu masuk dulu. Kita mengobrolnya di dalam saja..," ujar Papaku sambil menyalami dan mempersilahkan masuk.
Kita semua masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Mamaku muncul dari dapur juga ikut kaget dengan kedatanganku bersama tamu yang belum Mamaku ketahui.
Papa memberi kode ke Mama supaya duduk bersebelahan.
"Ma, Bapak ini Rektornya Zanu. Mau menjelaskan kenapa Zanu kita pulang terlambat," ujar Papa.
Mama tersenyum dan menyalami Bapak dan Ibu Rektor.
Papa dan Mama hanya diam dan menyimak setiap ucapan Pak Rektor. Sedangkan aku merasa cemas dan deg-degan menunggu keputusan selanjutnya. Aku takut Papa marah dan melarangku.
"Bram belum siuman dan saat operasi sempat memanggil nama Zanu. Jadi Dokter berinsiatif untuk meminta nak Zanu bisa menemani Bram selama di rumah sakit. Karena saat ini Bram butuh support dari orang yang dia inginkan. Saya sebagai perwakilan orang tua Bram selama di sini, mohon sama Bapak dan Ibu untuk mengizinkan nak Zanu berada di dekat keponakan saya. Nanti yang menemani nak Zanu selama di sana ada Resa, anak perempuan saya," sambung Pak Rektor.
Papaku menghela nafas. Sedangkan Mama kulihat hanya menunduk. Mungkin Papa sedang mengingat pembicaraanku kemaren mengenai Bram. Tapi situasi saat ini pasti sulit untuk Papa mengambil keputusan.
"Maaf Bapak dan Ibu. Saya mendapatkan informasi ini sangat mendadak. Jadi saya dan istri butuh waktu untuk mengambil keputusan yang terbaik. Saya harap Bapak dan Ibu mengerti maksud saya," jawab Papaku.
Waduh..., kalau Papa sudah bicara seperti itu, besar kemungkinan aku tidak diizinkan. Bagaimana nanti Bramku? Tuhan, please.., aku ingin Bram pulih dan beraktifitas lagi.
"Iya Pak, saya paham dengan apa yang Bapak sampaikan. Saya juga punya anak perempuan yang wanti-wanti untuk saya jaga. Tapi saat ini, keponakan saya benar-benar butuh kehadiran anak Bapak. Hanya anak Bapaklah yang bisa membuat dia semangat dan bisa kembali pulih. Saya hanya ingin kita memandang mereka sebagai manusia yang saling membantu, bukan sebagai sepasang kekasih Pak. Ini menyangkut nyawa ponakan kesayangan saya," ujar Pak Rektor lirih.
"Baiklah Pak, beri saya dan istri untuk diskusi terlebih dahulu. Nanti kita kabari lagi,"
"Oke Pak. Saya dan Istri pamit dulu, kita tidak bisa berlama-lama karena ada urusan yang harus di selesaikan. Semoga keputusan yang Bapak ambil bisa memberikan kabar yang baik untuk saya, Bram dan keluarga," ujar Pak Rektor.
__ADS_1
"Iya Pak, terima kasih sudah mengantarkan anak saya sampai rumah,"
"Sama-sama. Mari Pak, Ibu, nak Zanu. Assalammu'alaikum," ujar Pak Rektor.
"Waa'alaikum salam,"
Bapak dan Ibu Rektor keluar dari ruang tamu. Papa, Mama dan aku mengantarkan mereka sampai teras depan.
Setelahnya mobil Pak Rektor dan Ibu pergi dari rumahku. Sempat Pak Rektor tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Papaku.
********
Papa, Mama dan aku duduk kembali di sofa ruang tamu.
"Zanu, apa benar cowok itu yang kamu maksud? Yang kamu ceritakan kemaren kalau dia mau menikah denganmu?" tanya Papaku.
"I..i..iya Pa," jawabku singkat dan gugup.
"Apa kamu sudah katakan ke dia, kalau Papa menolak?" tanya Papaku lagi.
"Belum sempat Pa. Tadi rencananya Zanu mau bilang, tapi ternyata kejadiannya seperti ini. Dia di serang orang dan banyak mengalami luka. Bahkan kemaren dia tertembak dan sudah di operasi. Hari ini dia kembali di operasi Pa, dengan luka yang berbeda di tubuhnya" jawabku menjelaskan perkaranya.
"Sekarang bagaimana keadaannya nak?" tanya Mamaku menyela.
"Dia belum siuman Ma. Kasian, orang tuanya jauh. Pamannya tadilah yang mengurus selama dia tinggal di sini," jawabku.
Kulihat expresi Papa yang diam dan sedikit gelisah. Aku mengerti, Papa pasti berat melepaskanku begitu saja. Apalagi bersama laki-laki yang bukan siapa-siapa. Orang-orang akan berfikiran buruk terhadap anak perempuannya yaitu aku.
Papa pasti juga bingung mau menjawab apa ke Rektorku. Dan Papa juga pasti memiliki rasa kasihan terhadap Bram dengan keadaannya yang seperti itu.
"Pa, dia butuh anak kita saat ini Pa. Hanya itu satu-satunya cara untuk menyembuhkan dan menyelamatkan hidupnya. Kita jangan dengarkan omongan orang yang tidak paham situasinya. Apa lebih penting omongan orang atau kita menyelamatkan nyawa orang Pa?" tanya Mamaku nanar.
Papa masih diam membisu. Aku semakin cemas menunggu keputusan Papa.
Bram, jika seandainya aku tidak diizinkan Papa, bertahanlah. Hiduplah demi aku.
__ADS_1
...****************...