
Bram bergeser mendekatiku.
"Zanu, aku tu sayang sama kamu. Aku belum bisa jujur tentang masalahku. Kenapa harus menunggu aku selesai sidang? Karena setelah sidang malamnya aku akan terbang bersama orang tuaku, dokter Wahyu, Prita dan Atif menggunakan jet. Kamu tau kenapa? Karena aku tidak ingin melihatmu sedih terlalu lama. Yang aku sampaikan nanti pasti akan membuatmu terkejut," ujar Bram.
Bram menatapku dalam-dalam sambil membelai rambutku.
"Kenapa orang tua Kakak kesini walau cuma sehari jelang sidang?" tanyaku.
"Itu karena orang tuaku ingin melihatmu dan ingin melihat kampusku. Mereka ingin tau, siapakah perempuan yang bisa meluluhkan hati seorang Bram," jawab Bram sambil mencium keningku.
"Kenapa secepat itu orang tua Kakak ingin mengetahui tentangku? Kita kan baru dekat? Kan aneh..," Aku merasa ada yang disembunyikan Bram. Dan jawaban itu hanya bisa ku dapatkan setelah ia sidang.
"Sudahlah, jika aku beritau sekarang, aku yakin kamu pasti akan menjauhiku dan tidak akan pernah mempercayai aku lagi. Sebaiknya kita tidur, malam semakin larut. Besok kita menyambut kehadiran Dokter Wahyu,"
"Kapan Dokter Wahyu ke sini?" tanyaku.
"Besok siang. Pagi-pagi kita bareng ke kampus, habis itu kita jemput Dokter Wahyu di bandara dan langsung ke sini," penjelasan Bram.
"Apa kita tidur di sini lagi?" tanyaku.
"Kemungkinan tidak, rencananya Dokter Wahyu dan Atif yang akan tidur di sini. Dan aku minta kamu besok tidur di rumahku,"
Deg! Bagaimana mungkin aku tidur di tempat Bram?
"Hah! Tidur sama Kakak?" tanyaku dengan expresi kaget.
"Bukan tidur bersamaku sayang, tapi tidur di rumahku, di tempat yang berbeda. Jelang sidang aku tidak mau jauh darimu Zanu. Hanya tinggal beberapa hari saja. Tolong kamu temani aku terus,"
"Baiklah Kak," hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Bram menggeser tempat tidurnya sekitar dua meter dari tempat tidurku.
"Goodnight Zanu, mimpi indah ya," ucap Bram menoleh ke arahku.
"Oke, goodnight too," jawabku.
Aku menarik selimut dan mulai tidur. Begitu juga Bram. Kita semua yang ada di ruang ICU ini larut dengan mimpi masing-masing.
*******
Subuh.
Aku, Bram dan Atif bangun tidur dan sholat.
Setelah itu aku mandi duluan, kemudian giliran Bram. Kita mau berangkat ke kampus pagi-pagi sekali, karena jarak antara rumah sakit dengan kampus memakan waktu sekitar tiga puluh menit.
__ADS_1
Setelah bersiap-siap, kita berdua pamit dengan Atif. Lalu aku dan Bram pergi ke kampus. Aku melihat beberapa bodyguard Bram sedang berjaga di setiap sudut rumah sakit.
Kenapa mereka berada di rumah sakit ini? Mereka menjaga Bram dari apa? Apa ada orang yang berniat jahat?
"Ada apa Zanu? Dari tadi kamu lihat ke sekeliling?" Bram mulai melajukan mobilnya dari parkiran menuju ke luar gerbang rumah sakit.
"Kenapa bodyguard Kakak banyak ditempatkan di sini? Apa ada sesuatu?" tanyaku.
"Oh itu, Iya. Untuk berjaga-jaga dari musuh," jawab Bram.
"Musuh siapa? Kenapa sampai ada yang memusuhi Kakak?" tanyaku lagi.
"Panjang ceritanya, nanti sekalian aku akan jelaskan ke kamu, oke,"
"Penjelasannya setelah Kakak sidang kan? Kumpul saja semua pertanyaanku Kak untuk di jawab setelah sidang, huh," Aku makin kesal dengan cara Bram. Apa yang aku tanyakan selalu jawabannya setelah sidang.
"Tolong kamu jangan seperti itu Zanu. Aku tau apa yang harus aku lakukan dan itu tidak semudah apa yang kamu bayangkan," jawab Bram.
Aku diam dan diam. Sepanjang jalan aku dan Bram banyak memilih diam. Kita larut dengan pikiran masing-masing.
"Zanu, kita sarapan dulu ya di kantin? Kamu masuk jam berapa?" Bram membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Masuk jam sembilan Kak," jawabku.
"Kita mau ke mana?" tanyaku.
"Menemui dosen Pembimbing, mau menanyakan kapan dan jam berapa aku sidang,"
"Oke,"
Kita kembali larut dalam keheningan. Aku juga bingung mau menanyakan tentang apa lagi. Mungkin lebih baik diam saja.
Mobil Bram sudah memasuki area parkir yang ada di dekat gedung Rektorat. Setelah mobil diparkirkan, aku dan Bram langsung berjalan menuju kantin.
Seperti biasa banyak mata yang melihat kita berdua. Entah kenapa tiba-tiba Bram menggandeng tanganku.
"Kak, kenapa gandengan segala, malu tau!" aku berusaha melepaskan genggaman tangan Bram.
"Sudah Zanu, ikuti aku. Hilangkan saja rasa malu itu, tidak akan ada yang berani membicarakan kamu di kampus ini,"
Genggaman tangan Bram semakin kuat, seakan tidak mau dilepaskan.
Setibanya di kantin, kita mengambil tempat duduk di dekat pohon. Belum sepuluh menit kita duduk, ada seorang pria yang mendekati meja.
"Hai Bram. Apa kabar?" tanyanya, seperti sudah sudah akrab mengenal Bram.
__ADS_1
"Hei Ujang, kabarku baik. Bagaimana skripsimu? Apa sudah bisa sidang?" tanya Bram antusias.
"Sudah dong, mungkin kita bareng sidangnya,"
"Oiya, kenalkan ini pacarku," Bram memperkenalkan aku dengan temannya yang bernama Ujang.
"Yup, kenalkan aku Ujang, teman baiknya Ketua Bram. Kamu pasti Zanu, anak fakutas hukum tingkat pertama," Ujang menjulurkan tangannya kepadaku untuk bersalaman.
Aku menerima salaman itu.
"Zanu,"
"Lho, kamu tau dari mana Jang? Lengkap lagi," tanya Bram.
"Heyyy..., semua juga sudah pada tau Bram. Kalian itu sudah menjadi bahan gosip di kampus ini, apalagi yang perempuannya, heleh..heleh, dua puluh empat jam juga nggak akan kelar menceritakan tentang kalian berdua," jelas Ujang.
"Sampai segitunya?" tanya Bram mulai penasaran .
"Iya. Emang selama kalian jalan tidak ada yang perhatikan? Pasti ada dong.. Tapi sayang, beberapa hari kebelakang, kita tidak ada bahan gosip alias zonk. Karena kalian berdua tidak nongol di kampus, jadi sepilah dunia pergosipan, ha..ha..ha..," Ujang ngakak.
Pantesan, mereka selalu melihatku dan Bram jika sedang bersama. Tapi entah mengapa, aku mulai terbiasa dan tidak menjadi canggung lagi.
"Kamu ada-ada saja Ujang. Masa aku di jadikan bahan pergosipanmu. Itu tidak diperbolehkan, masuk dalam pasal organisasi BEM, bisa kualat, ha..ha..ha..," Bram tertawa renyah.
"Kapan lagi kita bisa menggosipkan Ketua BEM? Ya kan Zanu?" Ujang melirik Zanu, menandakan ia minta dukungan.
"Iya," jawabku singkat sambil menunduk.
"Udah, biarkan saja mereka menggosipkan Aku. Biar mereka juga sekalian tau kalau Zanu adalah pacarku, jadi tidak ada yang boleh mendekatinya," rasa cemburu Bram mulai keluar.
"Eleh..Eleh.., Sang Ketua mulai posesif nih. Nggak bakal ada yang mau merebutkan Zanu darimu Bram. Mana ada yang berani," ujar Bram.
"Kita sudahi dulu ya pembicaraan ini. Aku mau sarapan. Kamu mau ikut gabung nggak Jang?" tawar Bram.
"Nggak Bram, aku baru saja selesai sarapan. Ini mau mengejar dosen pembimbingku. Dosenku yang ini susah-susah gampang mencarinya. Yok aku ke sana dulu Bram, Zanu,"
"Oke Jang, selamat berjuang. Semoga kita lulus sidang semuanya,"
"Aamiin, yok, bye Bram, Zanu," Ujang langsung berlalu dari tempat kita duduk.
Aku baru tau kalau Bram punya teman, ha..ha..ha..
Biasanya dia hanya berkutat dengan dunianya sendiri. Ternyata dugaanku salah.
...****************...
__ADS_1