
Beberapa detik aku terdiam sambil mengamati sosok tersebut. Sepertinya dia berusaha menghindar dari penglihatanku.
"Bos, maaf saya terlambat. Pesanannya besok di antar," ujarnya.
Dengan seksama aku memperhatikan.
Dan suara itu adalah suara Vincent! Ada urusan apa dia sama Bram? Dan Bram sedang memesan apa? Mungkin perhiasan emas? Karena setauku Vincent sedang menjalankan usaha perhiasan emas Papanya. Atau ada usaha lain?
"Oke. Besok ada yang ambil ke tempat kamu, suruhan saya," jawab Bram sambil mengangguk.
"Saya pulang dulu Bos," ujar Vincent singkat.
"Baik. Hati-hati,"
Vincent berbalik arah dan keluar. Tak banyak yang mereka obrolkan. Aku melihat Bram memperhatikan gelagatku. Aku pura-pura makan ayam.
"Zanu, ada apa? Sepertinya kamu memperhatikan orang barusan yang mengobrol denganku. Apa kamu mengenalnya?" tanya Bram.
Alamak! Bagaimana ini? Aku menjelaskannya mulai dari mana ya? Atau aku harus jujur saja?
"Hmmm.. Itu sebenarnya yang ingin aku ceritakan Kak. Tapi sekarang sudah ada penjelasannya," jawabku masih bingung.
"Kamu jelaskan saja, aku akan dengarkan," tegas Bram.
"Dia itu mantan pacar aku dulu Kak, saat masih kelas satu SMA. Kita putus setelah satu bulan dari jadian karena aku belum mau pacaran. Saat tamat Sekolah kemaren, dia datang lagi dengan perasaannya yang masih sama. Aku tidak bisa mengambil keputusan menolak atau menerima, karena kan kita tidak tau jodoh kita siapa kedepannya," jawabku.
"Sekarang kamu tidak ada hubungan lagi kan sama dia? Apa karena dia, kamu belum mau menerimaku?" tanya Bram.
"Bukan. Karena aku belum kepikiran pacaran Kak sampai sekarang. Aku takut tidak kosentrasi kuliah dan takut kehilangan. Plus takut dipermainkan," jawabku nelangsa.
Posisiku sekarang sudah merasa nyaman dekat Bram.
Apakah aku bicara seperti ini, Bram akan menjauhiku? Sama seperti Abang dulu.
"Aku mengerti. Jadi posisiku saat ini sama seperti Vincent juga? Tidak ada keputusan dan hanya berpegang kepada takdir saja. Begitu bukan?"
"Vincent sudah dijodohkan ortunya Kak, jadi memang aku dan Vincent tidak mungkin ada hubungan lagi,"
Aku tidak berani menatap Bram. Aku hanya bisa diam. Karena aku bingung harus bagaimana. Tapi Bram pasti butuh kepastian dari jawabanku.
"Zanu, jika memang kamu tidak ingin pacaran, tidak apa-apa. Aku suka dengan pemikiran kamu seperti itu. Yang pasti saat ini kamu bukan milik siapa-siapa. Apa kamu nyaman selama bersamaku?" tanya Bram lagi.
__ADS_1
Aku mengangguk dan tertunduk malu plus takut. Aku pasrah dengan keputusan Bram. Dia akan menjauhiku atau menjalani ini tanpa harus terikat.
"Zanu, coba kamu lihat aku," tegas Bram.
Aku perlahan melihat Bram. Aku melihatnya dengan seksama. Hatiku tidak bisa berbohong kalau aku sudah mengenal cinta itu dari Bram. Walau aku tidak bisa berharap terlalu jauh dengan perasaan itu sendiri.
"Zanu, aku tetap menjagamu dan tetap ada. Kedekatan kita ini bisa di bilang sudah seperti orang pacaran. Aku juga tidak mau, semakin kita dekat, bisa saja terjadi hal-hal di luar batas. Jadi alangkah baiknya kita jangan sering-sering bertemu. Jika kamu butuh sesuatu, Aku siap bantu," jawab Bram.
"Iya Kak," aku jawab singkat saja.
Aku menerima keputusan Bram seperti itu karena tidak ada pilihan lain.
"Ya sudah. Sekarang kita siap-siap pulang. Nanti Mamamu menunggu lama. Aku harus bertanggung jawab. Kamu sudah selesai makan?" tanya Bram.
Aku mengangguk. Aku melihat Bram sedikit berubah setelah aku membahas tentang jodoh dan takdir.
Tapi mungkin inilah cara Bram untuk bisa sedikit mengambil jarak supaya hubungan kita tidak terlalu jauh untuk di jalani. Mungkin.
Aku dan Bram keluar langsung menaiki mobil. Selama perjalanan pulang, Bram hanya diam. Sepertinya dia kecewa dengan ucapanku tadi.
Mungkin dia kecewa kenapa aku tidak mau pacaran?
Ya Tuhan, aku tidak ingin kehilangan Bram. Aku tidak ingin suasananya jadi berubah seperti sekarang. Aku kangen Bram yang kemaren-kemaren.
Mobil akhirnya sampai juga dirumahku. Aku dan Bram turun langsung ke teras. Setelah mengetuk pintu, tidak berapa lama Mama keluar.
"Malam Tante," sapa Bram.
"Malam juga. Terima kasih sudah antar Zanu tepat waktu ya..," ujar Mama sambil tersenyum.
"Sama-sama Tante. Sekalian saya mau pamit pulang Tante,"
"Tidak masuk dulu?" tanya Mama menawarkan.
"Tidak usah Tante, kapan-kapan saya main lagi ke sini," jawab Bram.
"Baiklah. Tante ke dalam dulu ya, mungkin ada yang mau disampaikan sama Zanu sebelum pulang,"
Bram mengangguk dan Mama langsung masuk ke dalam. Aku dan Bram duduk sebentar di teras. Ku lihat Bram melihat ke langit sejenak. Kebetulan di langit yang gelap, ada banyak bintang bertaburan.
Sebenarnya malam ini indah, tapi karena sikap Bram yang sedikit berubah, suasana hatikupun ikut berubah.
__ADS_1
"Zanu, sebenarnya kamu ada keinginan tidak untuk bersamaku?" tanya Bram berbalik melihatku dengan serius.
Aku kaget dengan ucapan Bram! Tidak ku sangka keluar pertanyaan seperti itu. Aku harus jujur dengan perasaanku selama ini, aku tidak ingin diam lagi. Aku ingin Bram tau dengan perasaanku.
"Kak, aku sebenarnya suka sama Kakak. Selama kita mulai dekat, aku merasakan kenyamanan. Aku ingin rasanya selalu bersama Kakak, becanda dan bercerita. Hanya saja saat ini umurku masih muda, aku tidak bisa memutuskan untuk serius dulu. Aku ingin kuliah sampai selesai dan bekerja. Jika Kakak mau, kita seperti ini saja, dijalani. Aku berharap Kakaklah jodohku," jawabku panjang kali lebar.
"Baiklah, aku mengerti maksudmu itu. Mulai sekarang, kamu adalah pacarku. Dan yakinlah aku akan selalu menjagamu dan hubungan ini dengan sebaik mungkin. Kedepannya aku bisa tenang menjalankan semua kegiatan dan aku akan menunggu waktu yang tepat untuk bisa memilikimu nanti," jawab Bram.
Aduh! Kedengarannya kalimat-kalimat Bram lebay menurutku, tapi mungkin itulah penegasan Bram untuk serius denganku. Aku merasa bahagia mendengarkan perkataan Bram barusan.
"Dah, aku pulang dulu ya. Ada tugas yang ingin aku selesaikan malam ini. Besok aku kabari lagi, mana tau kita bisa bertemu, oke darling," ujar Bram sambil mengerlingkan matanya.
"Nah, mulai lagi menggodaku. Udah ah, pulang sana," jawabku sambil mendorong Bram.
"Bukan menggoda, tapi kamu itu lucu buat dibecandaiin. Makanya aku langsung suka saat melihatmu pertama kali. Kamu lagi celingak celinguk bingung mikirin photo, lugu banget, ha..ha..ha...," Bram tertawa sumringah.
Hah?! Aku baru tau, ternyata saat aku mendaftar UMPTN, Bram sudah memperhatikan aku dari jauh.
"Jadi, pinjam pena waktu itu hanya alasan sajakah?" tanyaku penasaran.
"Ya iyalah..., masa' aku nggak punya pena? Aku kan ketua BEM, pena harus standby untuk urusan kampus. Kalau sudah suka, aku langsung gas, tanpa basa basi atau mundur. Untungnya kamu mau dan jadi milikku sekarang," jawab Bram senyum-senyum.
"Jadi ceritanya, Kakak jatuh cinta padaku?" tanyaku lagi.
"Kamu itu memang lugu yah.. Itu memang jatuh cinta namanya. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Sampai aku harus mencari tau di mana saja kamu berada,"
Wah! Pantesan waktu aku jalan dari kampus, pas demo, dia tiba-tiba bisa menemukanku dan berhenti.
Padahal yang jalan kaki saat itu banyak sekali dan semua warna seragamnya sama. Paling juga dia menyuruh bodyguard untuk mencari aku yang mana. Ada-ada saja Bram.
"Sudah, aku pulang dulu ya. Thank you untuk malam ini Zanu," ujar Bram.
"Iya Kak, hati-hati ya. Terima kasih sudah mentraktir," jawabku.
Bram mengangguk dan beranjak menuju ke mobilnya. Tiba-tiba Bram membalikkan badan menghadapku. Bram mengelus kepalaku dengan lembut. Aku seketika meleleh.
"Zanu, see u," ujar Bram.
Aku mengangguk saja dan melihat Bram mulai masuk ke mobilnya. Bram pun pergi. Lalu aku masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.
Selamat malam minggu Bram.
__ADS_1
...****************...