
"Selamat pagi Pak Bram," ujar dokter.
"Pagi juga Dok," jawab Bram.
"Maaf Pak Bram, saya sudah menerima hasil kondisi kesehatan Bapak dan ternyata perkembangannya semakin bagus. Sekarang apa yang Bapak rasakan? Apa ada keluhan sakit?" tanya dokter antusias.
"Alhamdulillah Dok, tubuh saya terasa sehat dan bersemangat. Paling hanya nyeri sedikit saja di bagian jahitan dada. Kapan saya bisa pulang Dok?" tanya Bram.
"Mungkin paling cepat sekitar dua hari Pak. Tapi sebaiknya empat hari lagi," jawab dokter singkat.
"Aduh, itu terlalu lama empat hari. Saya mau dua hari saja, selebihnya rawat jalan. Dokter bisa kan atur jadwal pengobatan saya selama di rumah?" tanya Bram lagi.
"Bisa Pak. Yang penting selama rawat jalan, Bapak tidak lupa minum obat. Supaya tenaga kuat kembali dan luka jahitannya cepat kering. Nanti sekitar dua minggu kita rontgen dan lihat perkembangan luka di dalam. Semoga hasilnya bagus," jawab dokter.
"Oke Dok," ujar Bram singkat.
"Baik Pak Bram, tugas saya hari ini selesai. Silahkan Bapak lanjutkan sarapan, sebentar lagi Suster akan membawanya ke sini. Saya permisi dulu,"
"Terima kasih Dok,"
Dokter mengangguk dan beranjak pergi dari ruangan. Di susul oleh perawat-perawatnya. Tidak menunggu lama, datanglah perawat membawa sarapan di atas nampan. Setelah meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil, perawat langsung keluar ruangan.
Aku menyuapi Bram sarapan. Terlihat dia semangat sekali, mungkin sudah hampir dua hari tidak makan. Bahkan saat pesta Vincent kemaren juga belum sempat makan siang.
********
Sarapan Bram sudah habis dan aku memberikan Bram minum.
"Zanu, Atif ada di mana ya? Semalam ke sini kan?" tanya Bram sambil memegang gelas.
Deg! Aduh..., bagaimana ini menjelaskannya? Aku juga tidak tau Atif semalam ada di mana. Pagi ini juga belum muncul.
"Zanu? Ada apa? Jangan bengong lagi," ujar Bram.
Aku kaget!
"Eh, iya Kak. Atif mungkin lagi di luar buat nyari sarapan," jawabku kelabakan, karena bingung nyari alasan apa.
"Trus, semalam ada ke sini kan?" tanya Bram lagi.
OMG! Bram masih saja tanya yang itu. Aku harus jawab apa? Haruskah aku jujur tentang kejadian semalam?
"Atif semalam ada ke sini Kak, cuma setelah itu pergi antar Prita ke hotel," aku terpaksa sedikit jujur.
"Prita? Ngapain Prita ke sini? Apa mau ketemu kamu?" tanya Bram sedikit kaget.
__ADS_1
"Aduh, gimana ya Kak. Aku bingung juga mau menjelaskannya bagaimana. Kakak belum pulih, takutnya jadi kepikiran. Aku nggak mau lagi terjadi apa-apa sama Kakak, please," aku menatap Bram seakan memohon, jangan tanya dulu atau jangan membahas ini.
"Coba kamu jelaskan apa yang sudah terjadi. Percayalah, itu tidak akan membebani pikiranku. Karena aku sudah terbiasa menghadapinya. Ayo sayang, jelaskan saja, aku akan mendengarnya,"
"Begini, sebelumnya aku minta maaf karena telah lancang mengambil dan membawa ponsel Kakak. Aku bermaksud menghubungi Pak Rektor untuk tanda tangan persetujuan operasi. Jadi aku insiatif hubungi Atif. Ternyata di ponsel Kakak aku lihat ada pesan masuk yang isinya mengancam Prita. Itu dari adiknya Gilang yang ada di kost. Jadi aku khawatir dan menyuruh Prita segera ke sini," ujarku serius.
"Trus, Prita mana sekarang? Kok nggak ada?" tanya Bram penasaran.
"Bentar dulu, diselesaiin dulu ceritanya. Mau lanjut apa enggak nih?"
"Jangan gitu dong sayang, lanjutttt....," jawab Bram sambil mencupit pipiku.
"Aduh! Sakit ini," ujarku sedikit cemberut dan mengusap-usap pipiku.
"Biarin, aku suka! Pipimu jadi kemerah-merahan merekah seperti tomat, he.he.he..," Bram tersenyum-senyum kesenangan karena usil kepadaku.
"Yalah..., aku nggak mau lanjutin. Lagi serius ini," ujarku mulai cemberut beneran.
"Oke Non Zanu, silahkan lanjutkan. Saya akan mendengarkannya sampai selesai, hhmmm....," ujar Bram merubah expresi wajahnya ke serius.
Aku diam sejenak sambil memperhatikan wajah Bram. Kulihat Bram sangat bahagia, apalagi sudah berhasil menggangguku.
"Oke Pak Bram, diharapkan diam. Sebelum diizinkan untuk bertanya,"
Bram mengangguk. Aku langsung melanjutkan ceritaku dari awal Prita mau ke sini dan sampai Atif mengantarkan Prita ke hotel.
Semoga saja, cerita ini tidak membebani pikiran Bram dan tidak mengganggu kesehatannya ke depan, aamiin.
*********
Ceritaku selesai.
"Jadi begitu Kak ceritanya. Pagi ini aku belum lihat Atif. Mungkin sebentar lagi ke sini. Nah, kalau Kakak ada yang mau ditanyakan, sekarang aku beri izin," ujarku sedikit lelah.
Lelah karena ceritanya puanjang sekali, hi.hi.hi...
"Aku tidak menyangka selama aku di rawat sudah ada beberapa peristiwa. Sekarang terseret Prita, tidak tau besok-besok siapa lagi,"
"Hush! Tidak boleh bicara seperti itu Kak. Do'akan saja yang baik-baik. Dan selesaikan masalah juga. Kakak juga harus hati-hati jika ada yang dendam nantinya. Pokoknya, aku tidak mau terjadi apa-apa lagi sama Kakak. Hari ini saja, aku panik dan tidak bisa tenang. Apalagi ini pengalaman pertama aku mengurus dan menemani orang sakit, malah operasi pula," celotehku.
"Eh, ngomong-ngomong, kamu kenapa bisa ambil ponselku? Kan ponsel ada di dalam kantong celana? Bearti kamu ambilnya di dalam kantong langsung kan? Ini pelecehan namanya, kena pasal berlapis," ujar Bram dengan serius.
Ah! Paling dia mulai menggodaku lagi, hadehh...
"Apaan sih..., itu kan terpaksa! Coba kalau aku nggak telepon Atif, kan jadi lama lagi operasinya," aku menggerutu.
__ADS_1
"Iya, tapi kan kamu harus minta izin aku dulu. Bukan langsung nyosor gitu. Ambilnya pakai tangan pula. Aku nggak terima," ujar Bram lagi.
"Ya pake tanganlah ambilnya, masa' pake kaki? Gimana mau minta izin, orangnya aja pingsan. Udah deh! Udah di tolongin juga. Aku pergi nih," jawabku mulai merajuk.
"Ya, nggak bisa gitu dong.. Main pergi-pergi saja. Kamu harus minta maaf dan ada gantinya. Biar impas,"
"Mulai lagi deh! Mulai keluar nakalnya. Aku tau maksud Kakak itu apaan! Ogah! Aku nggak mau yang seperti kemaren. Lagian kan sudah impas juga," aku menolak.
"Impas bagaimana? Emang kemaren aku ngapain?" tanya Bram.
"Alah.. Jangan pura-pura lupa deh! Kemaren nyosor ke bibir aku, nggak bilang-bilang! Padahal aku kan nggak lagi pingsan. Apa minta izin? Nggak! Jadi kita impas, pas, pas," aku mulai protes.
"Jadi, maunya sekarang aku harus izin dulu ya?" tanya Bram sambil melirikku.
"Nggak gitu juga konsepnya. Udah ah! Nggak usah di bahas lagi. Aku lagi lapar nih, entar bisa makan orang kalau digangguin terus,"
"Ayo sini! Makan aku! Aku pasrah aja, ha.ha.ha..," ujar Bram dan menarik tanganku tiba-tiba ke arah pangkuannya.
OMG! Aku kaget sekaligus takut. Wajahku berhadapan langsung dengan wajah Bram yang jaraknya hanya beberapa centi saja.
Wajahku berubah tiba-tiba merah merona. Degup jantungku mulai berdetak kencang. Perasaan itu kembali lagi, bergelora dan menjerit.
"Zanu, terasa sudah lama aku tidak mengamati wajahmu. Kamu masih saja terlalu cantik bagiku. Terima kasih ya, sudah menjaga dan sayang padaku. Tapi maaf jika kamu sekarang dalam masalah karena aku. Aku janji, masalah apapun itu aku akan selesaikan semuanya. Apa kamu bahagia selama ini bersamaku Zanu?" tanya Bram sambil membelai rambutku.
"Iya Kak, aku bahagia," jawabku dengan hati yang luluh.
"Kamu jangan khawatir, aku tidak akan menciummu lagi, sebelum kamu menjadi sah untukku," ujar Bram sambil tersenyum.
Aku menarik pelan-pelan tubuhku menjauhi wajah Bram. Dan Bram hanya tersenyum saja tanpa memaksa untuk aku selalu dipelukannya.
Thank you Kak, tadi tidak melakukan apa-apa terhadapku.
"Zanu, apa kamu menginap di sini semalam?" tanya Bram.
"Iya Kak, aku dari kemaren sampai pagi ini, ada di sini saja," jawabku sambil memperbaiki rambutku.
"Terus, orang tuamu tau? Apa mereka memberi izin?" tanya Bram lagi mulai serius.
"Iya, orang tuaku tau dan memberi izin sampai Kakak siuman. Nanti aku hanya boleh mampir sekali-sekali untuk melihat kondisi Kakak," jawabku.
"Itu bearti ada harapan untuk kita tunangan kan? Aku tidak sabar ingin meminangmu," ujar Bram.
Deg!! Aku kaget mendengar ucapan Bram. Bagaimana ini? Bagaimana caranya aku menjelaskan ke Bram? Apakah ini waktu yang tepat dengan kondisi Bram yang belum pulih seratus persen?
Ingin rasanya aku pergi dari sini, untuk menghindari pertanyaan Bram.
__ADS_1
...****************...