
"Dengarkan aku baik-baik, Lutfa ke kota ini untuk mencari keberadaanmu," tegas Bram dengan expresi geram.
"Hah!" aku kaget mendengar ucapan Bram.
"Dia mau ngapain lagi Kak? Bukannya sudah minta maaf ke aku sewaktu di kantin kampus? Apa dia hanya pura-pura?" tanyaku.
"Bisa jadi seperti itu. Mungkin dia tidak terima Kakaknya aku tolak. Ditambah lagi kondisi Kakaknya tidak seperti dulu lagi," jawab Bram.
"Tapi itu kan hak Kakak dong maunya sama siapa. Kenapa dia yang mengatur? Jadi sekarang gimana keamananku?" Aku mulai merasakan takut.
"Aku sudah tugaskan bodyguard lebih banyak dari yang sebelumnya. Maafkan aku Zanu, kamu ikut terlibat dan maaf aku tidak bisa berada di sampingmu terus. Aku juga takut terjadi sesuatu denganmu ketika aku pergi nanti," jawab Bram.
"Tidak bisakah kita saling memiliki Kak?" tanyaku dengan suara yang lembut, nyaris tidak terdengar.
"Apa? Kamu bilang apa barusan?"
Ternyata Bram mendengar ucapanku tapi tidak jelas apa yang ia dengar.
"Tidak ada Kak," aku menepis pertanyaan Bram, karena percuma pertanyaan itu dilontarkan berulang kali, jika jawabnya sama.
"Ya sudah, sekarang aku antar kamu pulang,"
"Kita main ke pantai dulu yuk," ajakku.
"Oke. Aku juga pengen ke pantai, kemaren ini tidak jadi," jawab Bram dengan ceria.
Bram menyetir mobilnya, berbalik arah ke pantai lagi. Beberapa lama kemudian, dari jauh kita berdua melihat Bayu dan pacarnya sedang bertengkar di pinggir jalan.
Tin!
Tin!
Bram membunyikan klakson sambil tertawa kecil. Mereka terperanjat dan melihat ke arah mobil. Untungnya kaca mobil Bram tidak terlalu transparan, pasti mereka ingin tau siapa orang yang mengklakson.
Dengan santainya Bram melajukan mobilnya lebih kencang.
*********
Kita sudah sampai di pinggir pantai. Setelah memarkirkan mobil, aku dan Bram berjalan berdua mendekati pinggir laut.
Bram mengambil patahan kayu yang ia dapatkan di atas pasir pantai. Lalu ia duduk di dekatku. Bram membuat lubang dan menarik tanganku ke arah lubang tersebut. Disusul tangannya yang langsung menggenggam tanganku.
Lalu, lubang tadi ia tutupi dengan pasir, sehingga genggaman tanganku dan tangannya berada di dalam satu lubang.
__ADS_1
"Zanu, aku ingin selalu menggenggam tanganmu ini. Untuk sementara aku melepaskannya," ucap Bram berlahan sambil menoleh ke arahku.
Aku hanya diam melihat Bram.
Semilir angin pantai berhembus dengan tenang dan sejuk. Sambil menunggu sunset datang, Bram mengajakku bermain engklek. Saat Bram membuat garis demi garis yang membentuk persegi empat, aku mengganggunya dengan ikut memegang kayu. Sehingga garis yang ia buat tidak begitu lurus.
Setelah selesai, kita berdua suit untuk menentukan siapa yang terlebih dahulu main. Ternyata Bram yang duluan bermain.
Saat Bram melompat setelah melempar batu, aku juga ikut melompat sambil memeluknya dari belakang sampai permainannya selesai. Bram tertawa melihat tingkahku.
Selanjutnya giliranku, Bram hanya memperhatikan saja tanpa mengganggu. Hanya beberapa putaran, aku mulai bosan, begitu juga Bram.
Kita berdua berhenti bermain di saat sunset mulai terlihat dari kejauhan. Berlahan sunset bergerak pelan, akan menghilang seperti terlihat masuk ke dalam lautan.
"Zanu, kita pulang yuk. Mau adzan magrib," ajak Bram.
"Oke," aku mengikuti Bram.
Tidak banyak yang kita obrolkan kali ini, hanya sibuk dengan pikiran masing-masing, seakan ingin waktu terulang kembali seperti hari ini.
"Besok kita berangkatnya pagi ya, aku jemput ke rumah," ujar Bram.
"Baik Kak,"
**********
Wuss..!
Reflek, Bram menggapai bahuku untuk menghindar. Seketika aku berada dipelukannya. Jantungku langsung berdebar-debar kencang. Bukan karena pelukan Bram, tapi karena aku syok dengan kejadian barusan.
Tidak sampai disitu saja, dua pemuda tadi menyerang Bram dengan gesitnya, terlihat sekali kalau mereka sudah terlatih. Tapi jangan salah, ternyata Bram lebih terlatih dan jago sekali menghadapi mereka.
Aku beranjak ketempat lain sambil menunggu Bram selesai beraksi. Pukulan demi pukulan mendarat di seluruh tubuh mereka hingga hampir saja babak belur.
"Stop Kak! Mereka sudah tidak berdaya," cegahku.
"Oiya? Aku lebih mementingkan keselamatanmu daripada mereka Zanu. Kenapa kamu malah membela mereka? Selalu dan selalu kamu mencegah aku," jawab Bram seakan geram dengan kejadian yang menimpaku.
"Iya, tapi kan mereka sudah tidak berdaya lagi Kak. Kalau mereka mati gimana? Kan bisa runyam urusannya,"
"Kalau kamu yang mati Zanu? Sama saja aku juga ikut mati, lebih baik mereka saja yang mati!" Bram makin geram.
Tiba-tiba dua motor lewat dan mengangkat dua pria yang terkapar tadi. Dengan sigap, Bram mengeluarkan pistolnya dan menembak semua kaki mereka berempat secara cepat kilat.
__ADS_1
Dor! Dor! Dor! Dor!
Dua motor jatuh dan mereka berempat langsung jatuh terkapar. Seketika dua orang yang babak belur tadi, pingsan di tempat.
"Kakak!!" teriakku.
Aku tidak tega melihat mereka, apalagi yang sudah babak belur akibat pukulan Bram, ditambah tembakan Bram mengenai kakinya.
"Sstt..! Tenang Zanu. Ini urusan laki-laki, kamu tidak akan tau bagaimana mereka yang sebenarnya. Sudah, ayo kita pulang!" Bram mau menarik tanganku.
"Pulang? Trus mereka dibiarkan begitu saja? Setidaknya antar mereka dulu ke rumah sakit Kak. Aku tidak mau ikut!" jawabku ketus. Aku mulai kesal dengan sikap Bram yang tidak punya belas kasihan.
Tiba-tiba Bram membopong tubuhku ke atas bahunya. Dengan cepat pula, Bram menjentikkan tangan kanannya ke atas. Seketika, aku melihat begitu banyaknya bodyguard Bram keluar dari persembunyian mereka.
"Urus mereka, interogasi sampai mereka menjawab. Nanti malam aku ke markas, aku mengantarkan bos kecil kalian ini pulang!" perintah Bram dengan sangat tegas ke salah satu bodyguardnya.
"Siap Bos!"
Bram membawaku masuk ke dalam mobil. Aku masih cemberut dan marah kepadanya.
Bram menghidupkan mesin mobil dan melaju dengan sedikit kencang menjauh dari tempat kejadian.
"Kenapa sih, main bopong-bopong anak orang segala! Malu tau!"
"Kamu sibuk urus ini itu, padahal nyawa kamu itu sudah terancam Zanu. Pikirkan dulu keselamatan kamu," jawab Bram masih dengan nada kesal.
"Aku tau Kak, tapi kan mereka sudah tidak berdaya lagi," aku masih ingin membahasnya.
"Lho? Apa kamu tidak perhatikan, dua orang lagi membantu mereka untuk kabur dari sana? Jika mereka tidak segera di lumpuhkan, akan ada yang lain lagi membantu mereka. Apa kamu tidak kepikiran jika dari jauh ada yang ingin menembakmu? Apa kamu tidak sampai berpikir sampai ke sana? Makanya aku cepat-cepat membawamu pergi," jawab Bram makin kesal.
Deg! Aku terdiam. Tidak menyangka pikiran Bram bisa sampai ke sana. Benar juga ya, kalau ada yang ingin menembakku dari jauh, ceritanya jadi berbeda lagi.
Bram memperhatikanku dan membelai rambutku.
"Zanu! Apa kamu tidak tau, betapa paniknya aku melihatmu tadi. Aku tidak mau kehilangan kamu Zanu, setidaknya walaupun kita berpisah, aku masih bisa melihatmu dari jauh. Aku masih bisa bertahan untuk hidup. Tapi jika kamu sudah tiada, aku tidak bisa Zanu. Hidupku tidak akan tenang," jawab Bram mulai dengan nada pelan.
Aku diam. Betapa besarnya cinta Bram terhadapku, dia rela melakukan apa saja demi aku. Tapi kenapa ia mau perpisah jika itu sebenarnya amatlah mudah untuk menolak keinginan orang tuanya? Entahlah..
"Sekarang pulang, Papa sama Mamamu pasti khawatir, karena dari tadi belum pulang juga,"
"Iya Kak. Oiya, kenapa tadi Kakak bilang aku bos kecil? Apa nggak salah tu?" aku penasaran, kenapa Bram memanggilku seperti itu.
"Mereka semua, aku tugaskan untuk menjagamu Zanu, sampai aku kembali lagi padamu. Jika aku bisa kembali. Tapi jika tidak bisa, mereka nanti akan pastikan keselamatanmu dulu. Sekiranya aman, mereka akan mundur dengan sendirinya dan kamu tidak akan bertemu denganku lagi. Jadi bos mereka selanjutnya adalah kamu selama aku pergi," terang Bram.
__ADS_1
Hah! Aku jadi bos mereka yang jumlahnya banyak tadi?
...****************...