
Kriinggg.. Kringg..
Suara jam wekerku berbunyi nyaring. Seperti biasa kesibukanku sebagai anak kost, mandi, sarapan dan bersiap-siap menuju halte Bus.
Pagi ini cuaca sedikit mendung tapi tidaklah hujan. Hawa sejuk terasa menyentuh kulit. Ingin rasanya memakai jaket pemberian Bram, tapi belum di cuci.
Aku bersama Prita dan Rani pergi naik Bus. Rani lagi malas memakai kendaraannya sendiri. Lebih seru sih sebenarnya pakai Bus, tapi sekali-kali kalau ada hal penting, lebih baik memakai kendaraan sendiri. Misalnya saat ada demo, membawa peralatan atau tugas kampus yang membludak.
Apalah daya, aku belum memiliki kendaraan pribadi. Untuk saat ini belumlah penting untukku, kecuali kalau Papa mau belikan, ya di terima.
Sesampainya di kampus, Rani berpisah dengan aku dan Prita karena kita beda Fakultas. Hari ini aku dan Prita belajar di jam yang sama. Kita mendapatkan pengumuman bahwa jum'at besok akan diadakan perkemahan lagi dari Fakultas Hukum.
Jelas saja aku tidak mau mengikuti perkemahan tersebut. Karena aku mau pulang ke rumah. Aku kangen Papa, Mama dan adikku Zuri. Aku juga kangen masakan Mama, suasana pantai dan jajan. Tak sabar rasanya menunggu hari jum'at.
********
Hari demi hari aku lalui antara kost dan kampus. Aku merasakan kangen itu. Yup! Aku kangen dengan Bram. Tidak ada kabar Bram dari beberapa hari yang lalu.
Benar yang dikatakan Bram, suatu saat aku akan kangen dengannya. Dan di saat itu sudah terjadi, tidak ada kabar Bram sama sekali.
Apakah dia sudah lupa denganku? Atau dia sibuk di sana?
Akhirnya hari jum'atpun tiba. Aku bergegas menyiapkan keperluan yang akan di bawa untuk pulang. Tidak lupa aku juga membawa jaket Bram. Aku mulai menyukai jaket Bram, dengan memakainya, bisa melepaskan rasa kangenku.
Seperti biasa aku menaiki Bus menuju pulang. Dan tak lupa sebelumnya aku sudah menghubungi Papa melalui wartel atau telepon umum, kalau aku akan pulang. Jadi hari jum'at aku bisa di jemput di terminal PRN.
Selama perjalanan, aku mengingat moment di saat bersama Bram. Cukup singkat kedekatanku dengan Bram. Ada lucunya, ada romantis, ada drama dan ada accident. Semua hariku berwarna karena kehadiran Bram.
Dan di saat Bram pergi, semua itu hilang. Hari-hariku berjalan monoton, tidak ada semangat dan tidak ada cemistry.
Bram, dimanakah kamu sekarang? Aku benar-benar kangen!
********
Terminal PRN, Papa sudah menungguku.
"Zanu, bagaimana kuliahnya nak? Lancar?" tanya Papa sambil menyetir.
"Alhamdulillah lancar Pa," jawabku.
"Libur kali ini beberapa hari?"
"Hanya sampai minggu ini saja Pa,"
Papa tersenyum dan kosentrasi menyetir. Aku hanya di jemput Papa. Senang rasanya bisa berkumpul bersama keluarga.
Tak terasa mobil kita sudah sampai rumah. Mama sudah bersiap-siap menyambutku di teras depan.
"Aduh anak Mama! Rindu Mama lho," ujar Mama sambil mencium dan memelukku erat.
"Zuri mana Ma?" tanyaku.
"Adikmu sedang les. Bentar lagi juga pulang. Oiya, Mama masak lauk kesukaanmu, jengkol udang balado. Yuk masuk nak, Mama siapin ya makannya di meja makan,"
"Baik Ma,"
Aku masuk dan berjalan menuju tangga mau ke kamar. Saatku buka kamar, terasa sekali hawa yang selama ini sudah aku lewati. Yup! Hawa masa-masa kanak-kanak dan remajaku. Banyak kenangan di kamar ini.
Aku bergegas mandi dan beres-beres ranselku untuk mengeluarkan semua pakaian yang di bawa dari kost. Aku tercenung sejenak saat melihat jaket Bram. Tanpa ku sadari, aku mencium jaket Bram.
Kak, andai saja kamu ada lagi di dekatku.
__ADS_1
"Zanu! Sudah belum nak? Ayo turun, makan," Mama memanggilku dari bawah.
Aku kaget! Ini gara-gara Bram, aku mulai kurang kosentrasi dan selalu memikirkannya.
"Baik Ma," jawabku.
Aku turun dan langsung menuju meja makan. Mama masak banyak lauk pauk. Biasanya kalau makan masakan Mama, aku bisa makan dua atau tiga piring.
Ternyata Zuri sudah pulang dan kaget melihatku pulang.
"Eh Kakak! Aduh, kangen lho sama Kakak. Aku sendirian terus di rumah," ujar Zuri sambil ikutan makan.
"Bentar lagi Zuri juga akan kuliah, rumah kita jadi kosong. Bagaimana sekolahnya?" tanyaku.
"Alhamdulillah lancar Kak. Oiya, Vincent kemaren ke sini nanyain Kakak. Katanya sabtu mau ke sini lagi,"
"Oiya? Trus Zuri bilang apa?" tanyaku balik.
"Yah... Aku bilang belum tentu Kakak bisa pulang hari sabtu. Trus Vincent bilang, sabtu dia tetap ke sini untuk memastikan Kakak pulang. Sepertinya ada hal penting deh, ngotot banget mau ketemu Kakak,"
"Mungkin," jawabku sekenanya.
Aku sedikit kaget, karena Vincent masih saja mencari-cariku. Tapi rasanya aku menanggapinya biasa-biasa saja, karena memang dari awal aku merasa biasa, walau sebenarnya aku suka Vincent.
Tapi makin ke sini, Vincent makin terlupakan.
Apa karena sudah ada kehadiran Bram ya...?
Perihal Vincent inilah yang inginku bicarakan sama Bram. Karena aku merasa serba salah, seolah-olah sudah memberikan harapan besar sama Vincent. Walau hubunganku dengan Vincent sebenarnya tidak ada.
Baguslah kalau sabtu ini Vincent mau ke rumah. Jadi sekalian aku ingin memastikan ceritanya dan aku tegaskan untuk jangan terlalu berharap. Karena aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri kalau aku ingin bersama Bram.
Egoiskah aku? Atau ini keputusan salah, karena terlalu dini aku punya kekasih?
"Baik Pa,"
Aku dan Zuri bergegas makan. Sepertinya Papa akan menyampaikan berita penting.
Setelah selesai makan, aku membereskan meja dari piring dan gelas kotor. Setelah semuanya bersih dan rapi, aku langsung ke ruang tengah, Papa dan Mama sudah ada di sana sedang nonton TV.
"Nak, duduk sini. Papa mau bicarakan sesuatu,"
Aku mengangguk.
"Begini, Papa ada rencana mau membelikan Zanu mobil bulan depan. Tapi mobilnya jangan yang mahal-mahal," ujar Papa.
"Oiyaaaaa?!! Beneran ini Pa? Nggak bohong kan?" aku teriak kesenangan.
"Dengerin dulu. InsyaAllah. Tapi Zanu harus belajar nyetir dulu," celetuk Mama.
"Nah iya, Zanu belajar privat saja jelang mobilnya di beli. Nanti sekali-sekali Papa ajarkan nyetir untuk langkah awal. Cuma Papa minta, mobilnya jangan bawa dulu ke kampus sekitar satu bulan setelah di beli. Mahirkan dulu nyetirnya di rumah, bisa?" tanya Papa.
"Ya bisa dong Pa..., di beliin saja sudah bersyukur banget, kalau syaratnya cuma itu saja, kecil...," jawabku antusias.
"Ya sudah, nanti Papa cari tempat privat nyetir yang bagus,"
"Horeeee!! Terima kasih ya Pa. Duh Papa baik deh," jawabku sambil jingkrak-jingkak.
"Trus Mama nggak baik gitu?" celetuk Mama.
"Ya baik juga dong Mama. Papa dan Mama adalah orang tua yang terbaik buat Zanu,"
__ADS_1
Papa dan Mama tersenyum melihat tingkahku yang masih kekanak-kanakan.
Kring..kring..kring..
Aku mendengar suara telepon rumah berdering. Zuri yang mengangkatnya di dekat ruang tengah. Sedangkan aku, Papa dan Mama menonton TV.
"Kak, tu telepon buat Kakak. Tidak tau dari siapa, cowok," ujar Zuri menghampiriku.
"Oke, thank you Zuri," jawabku.
Dari siapa sih? Perasaan nggak ada yang tau telepon rumahku.
Aku bergegas mengangkat telepon.
"Ya hallo, ini Zanu. Dari siapa ya?" tanyaku.
"Hallo Zanu, apa kabar? Masih ingat tidak dengan suaraku?" jawab orang yang di seberang telepon.
Seperti suara Bram! Tapi dari mana dia tau telepon rumahku?
"Eh iya.. ini Kak Bram bukan ya?" tanyaku, takut salah orang.
"Yup! Aku Bram. Bagaimana kabarmu, kangen nggak samaku?" Bram tanya balik.
"Hmmm..., tau dari mana Kak telepon rumahku?" aku masih penasaran.
"Lho, Kamu kan pernah telepon kerumahnya pakai handphoneku. Ya aku simpan, mana tau suatu saat butuh kan. Nah, sekarang saatnya bisa telepon kamu," jawab Bram kesenangan.
"Ada apa nih telepon? Ada hal pentingkah? Kakak sudah pulang dari Jakarta?" tanyaku.
"Satu-satu pertanyaannya. Hari sabtu aku ke rumahmu ya, biar bebas kita ngobrol, bagaimana?" tanya Bram lagi.
Bagaimana ini? Ingat Vincent juga hari sabtu ke rumah. Help me...!
"Zanu, kenapa diam? Boleh tidak aku ke rumah?" tanya Bram lagi.
"Boleh Kak, kapan waktunya?"
"Malam minggu boleh?" tanya Bram.
"Boleh Kak, silahkan. Nanti cari saja Perumahan Citra Lanko dan tanyain rumahnya Zanu," penjelasanku.
"Oke. Siap-siap ya, dandan yang cantik untuk menyambutku," goda Bram.
"Apaan sih? Dandan yang simple saja, kalau nggak suka lihat, skip," jawabku ngasal.
"Iyaa..iya Non. Udah dulu ya, Assalammu'alaikum,"
"Waa'alaikum salam,"
Eh, udahan aja. Ada apa ya Bram pengen ke sini. Waduh...! Kalau Vincent sama Bram waktu datangnya sama, bagaimana ini jelasinnya??
Menit demi menit berlalu. Akhirnya aku dapat ide. Bilang saja Bram seniorku dan Vincent temanku, selesai. Aku nggak mau ribet gara-gara cowok, auk ah gelap..
Tapi kalau bisa mereka datang tidak barengan waktunya. Supaya banyak waktu luang aku mendengar cerita mereka masing-masingnya.
"Siapa Zanu?" tanya Mama sambil lewat depanku.
"Senior Ma,"
Mama cuma senyum dan langsung masuk kamar. Aku melangkahkan kaki ke tangga, mau istirahat dulu ah di kamar.
__ADS_1
Aku rebahan dan ingat Bram. Semoga Bram membawa berita baik. Akhirnya aku tertidur.
...****************...