Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 109 : Lutfa


__ADS_3

Setelah makan dan berbincang-bincang, teman-temanku pamit pulang. Semua pesanan di tanggung Bram.


"Jangan lupa mampir ya," pesanku ke Dice dan Ratna sebelum keluar dari ruang kaca. Aku memeluk mereka berdua, rasanya waktu hari ini terasa singkat.


"InsyaAllah Zanu. Nanti kita telepon ke rumah kalau lupa alamat kost kamu," jawab Dice.


Setelah semua salaman, mereka berempat keluar dan pulang. Tinggallah aku berdua dengan Bram di ruangan ini.


Karyawan mulai mengambil bekas makan kita tadi satu persatu. Dengan sigap membereskan meja sampai bersih, hanya menyisakan potongan buah dan coffee Bram.


"Sayang, di makan buahnya. Sebentar lagi kita pulang," ujar Bram sambil menyeruput coffee.


"Oke,"


Aku mengambil dan memakan potongan buah-buahan di atas meja.


"Bagaimana hari ini, apa kamu senang Zanu?" Bram juga ikut makan buah.


"Senang banget Kak, tidak di duga bisa bertemu teman di sini. Sepertinya temanku itu pernah ke sini sebelumnya. Hanya aku yang tidak pernah tau ada cafe di daerah sini, he..he..he..," jawabku.


"Justru bagus seperti itu, bearti kamu jarang keluyuran," Bram mencubit pipiku.


"Aww! Sakit Kak! Bukannya nggak mau keluyuran, dari awal aku kuliah, selalu ketemu Kakak,"


"Oo, jadi nyesal? Karena waktu kamu selama ini habis bersamaku?" Bram berhenti mengunyah.


"Bukan begitu maksudnya, jangan sensi deh," Aku jadi serba salah bicara sama Bram.


"Maaf ya Zanu, sebenarnya apa yang kamu katakan itu benar. Dari awal kuliah kita sering bertemu, bahkan kamu jadi jarang kuliah karena sibuk menemaniku di rumah sakit" Bram melihatku dengan perasaan bersalahnya.


"Sudahlah Kak, aku senang sekali bisa bertemu Kakak terus. Nanti kalau Kakak sudah pergi, apa aku sanggup di sini? Itu yang aku takutkan," Aku tidak kuasa menahan perasaanku sendiri.


"Yah, begitulah kisah kita ini," Bram seakan pasrah dengan apa yang sudah kita berdua lewati.


"Kak, kita pulang yok. Aku ngantuk," Aku mengalihkan pembicaraan. Mataku juga tidak bisa di ajak kompromi.


"Oke,"


Aku dan Bram keluar dari ruang kaca tersebut. Manager cafe dan karyawan lainnya mengantarkan kita berdua sampai keluar pintu. Aku tidak melihat Bram membayar pesanan tadi, kemungkinan besar cafe ini punya dia.


Setelah itu kita naik mobil dan pergi. Aku tidak sanggup menahan kantukku, setiap beberapa menit aku menguap.


"Kalau kamu ngantuk tidur saja sayang. Nanti aku bangunin kalau sudah sampai," ujar Bram.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk kecil dan blek!! Aku tertidur.


********


"Zanu! Zanu! Bangun sayang, kita sudah sampai kost," Bram berbisik di telingaku.


"Hoamm... Duh aku ngantuk banget nih Kak," Aku merasa sempoyongan dan mataku berkunang-kunang.


"Bentar, tunggu bibi bukakan pintu depan," Bram mengamati pintu masuk dari dalam mobil.


Beberapa saat kemudian, terlihat bibi membukakan pintu depan.


Tiba-tiba tubuhku terasa ada yang mengangkat. Dalam keadaan tertidur, aku tidak tau sama sekali, kalau ternyata aku di gendong Bram dari depan menuju pintu masuk.


Gendongannya tidak berhenti begitu saja. Aku merasa Bram naik tangga dengan langkah satu persatu. Aku bisa pastikan, Bram membawaku sampai ke kamar lantai dua.


Setelah itu aku tidak sadar lagi, beralih ke dunia alam mimpi.


*********


Pagi menyapaku dengan bunyi alarm yang masih nyaring.


Aku terkejut saat bangun dan berusaha mengingat cerita semalam.


Sepertinya Bram yang membawaku ke kamar ini. Aku belum sempat bilang terima kasih atau sekedar melihatnya pergi dari tempat kost.


Aku bergegas turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, tidak lupa menenteng handuk.


Setelah bersiap-siap dan memakai pakaian, aku berjalan turun ke bawah.


"Hai Zanu!" sapa teman-teman kostku.


"Hai semuanya, selamat pagi," jawabku sambil duduk di kursi makan.


"Kamu semalam dari mana Zanu? Kita semua sudah pada tidur, kirain kamu nggak pulang," kak Siska langsung mengambil posisi duduk di dekatku.


Deg! Bagaimana ini, apa aku harus beritau kalau Prita kecelakaan? Pasti semuanya kaget mendengar ceritaku. Aduh....! Bagaimana ini?


"Zanu! Hei Zanu! Kamu kenapa diam?" kak Siska menggoyangkan tanganku.


Aku kelimpungan.


"Eh.. Iya Kak, maaf. Prita, dia.. dia..," kenapa jadi terbata-bata gini.

__ADS_1


"Kenapa Prita? Kamu sudah ketemu sama Prita?" tanya kak Siska.


Yang lainnya mulai mendekatiku, mereka penasaran apa yang terjadi dengan Prita.


"Begini Kak, aku sudah ketemu Prita kemaren. Kakak jangan kaget ya. Hhmm.., Prita mengalami kecelakaan dan kemaren koma," aku tidak tega menjelaskannya tapi mau gimana lagi, sampai kapan aku harus menyimpan berita ini? Toh, suatu saat nanti mereka juga bakal tau.


"Hah! Beneran Zanu? Kamu tidak salah kan?"


Teman-teman kost aku kaget mendengarnya, seakan mereka tidak percaya dengan apa yang aku sampaikan.


"Benar Kak, mana mungkin Zanu berbohong. Ketua yang memberitau langsung. Kemaren abis kuliah kita berdua langsung ke rumah sakit," jawabku.


"Trus bagaimana kondisi Prita sekarang?" tanya Kak Kinan.


"Alhamdulillah kritisnya sudah lewat. Tapi permasalahannya tidak berhenti sampai di sana, ada hal penting yang harus diperhatikan," aku harus tuntas menjelaskan walau membawa kesedihan.


"Apa lagi Zanu? Apa ada yang patah? Luka parah atau bagaimana?" kak Rosi ikut nimbrung.


"Prita hilang ingatan Kak dan butuh waktu bertahun-tahun untuk kesembuhannya. Kemungkinan besar Prita berhenti kuliah sementara waktu," aku hanya bisa menjelaskannya sampai di sini. Aku tidak mau menjelaskan kalau Prita akan di bawa ke Amerika. Pasti mereka lebih kaget lagi.


"Ya Tuhan. Segitu parahnya Prita. Kasihan sekali," ujar kak Rosi.


Terlihat raut wajah mereka sedih dan tidak menyangka kejadiannya lebih parah lagi.


"Kita do'akan semoga Prita lekas sembuh. Keajaiban itu ada jika kita meyakininya," ujar kak Siska.


"Sudah. Kita harus bersiap-siap kuliah, jangan sampai telat. Zanu, kalau hari ini kamu mau ke rumah sakit, beritau Kakak ya. Kakak mau menjenguk juga," ujar kak Kinan.


"Iya Kak, hari ini memang Zanu ke rumah sakit dan nginap. Tapi, Zanu langsung di jemput Ketua dari kampus. Kalau Kakak dan teman-teman mau menjenguk Prita, langsung saja ke ruang ICU," jelasku.


"Oke Zanu, nanti kita atur siapa yang bisa menjenguk hari ini, pakai mobil Kakak saja," jawab Kak Siska.


"Sip,"


Aku beranjak dari kursi dan mengambil makanan yang sudah di sediakan dekat meja makan. Sedangkan kak Kinan, Kak Rosi dan Kak Siska bergegas pergi ke kampus. Sekarang hanya tinggal aku, Mira dan Rani yang sedang sarapan.


"Zanu, kamu belum tau ya kabar Lutfa?" tanya Rani.


Deg! Aku berusaha mengingat-ngingat nama itu. Oiya, dia adiknya Sari. Ada apa ya?


"Iya ingat, ada kabar apa?" tanyaku balik.


"Dia sudah masuk kuliah kemaren. Tapi tidak tau apa kuliah atau mengurus sesuatu," jawab Rani.

__ADS_1


Hah!! Wah, bagaimana ini? Apa Bram sudah tau?


...****************...


__ADS_2