
"Zanu.. Zanu... Turun nak, ada tamu," ujar Mama dari tangga.
"Iya Ma, bentar," jawabku sambil mengambil tas mungil berwarna soft pink.
Aku memakai dress berwarna pink campur putih. Warnanya jadi terlihat lembut di pandang mata, aduhai...!
"Sukses ya Kak, jangan lupa berfoto buat kenang-kenangan," ujar Zuri sambil melihatku dari tadi.
"InsyaAllah Zuri. Nanti jangan lama-lama terima tamunya, Papa bisa ngamuk. Kakak pergi dulu ya.. "
Zuri mengangguk. Aku langsung bergegas turun ke bawah. Dan betapa terkejutnya aku, ternyata itu bukan Bram yang sedang aku tunggu.
Tapi Vincent!!
"Zanu..., maaf aku datang tidak beri kabar dulu kalau mau kesini, aku ingin bicara," ujar Vincent tergesa-gesa dan terpana melihatku yang sudah dandan.
Aku menjadi gamang seketika dan benar-benar tidak percaya adanya Vincent sekarang berada di rumahku?!
Aduh! Bagaimana ini? Kenapa dia malah ke sini?
"Ada apa Vincent? Bukannya kamu hari ini mau tunangan? Ada perlu apa ke mari?" tanyaku.
"Iya Zanu, tapi sebelum acara pertunanganku di mulai aku ingin melihatmu dulu. Aku kok ya belum siap Zanu, masih berharap sama kamu. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri," ujar Vincent nanar sambil menatapku dalam-dalam.
Ya, ada bilar rasa yang dalam di tatapan itu. Dan aku tau, itu adalah cinta. Tatapan yang sama ku temukan dalam diri Bram. Tapi, aku tidak bisa membalas rasa Vincent. Karena sekarang aku sudah miliki Bram.
"Iya Vincent, aku tau. Tapi rasanya kita tidak bisa bersama karena....," aku berhenti sejenak bicara.
"Karena kamu lebih mencintai Bram bukan? Aku tau, kamu lebih memilih Bram yang memiliki segalanya. Apa kamu benar-benar yakin dengan pilihan kamu itu? Apa kamu benar-benar sudah tau siapa Bram itu sebenarnya?" ujar Vincent tiba-tiba menggebu dengan kecemburuannya.
Deg!! Bagaimana bisa Vincent bicara seperti itu? Apakah dia lebih tau siapa Bram yang sesungguhnya? Melebihi dari yang kuketahui selama ini.
Seketika hatiku terasa bimbang.
"Zanu, sebaiknya kamu pikirkan dulu. Lebih baik kamu fokus kuliah dan mencapai cita-cita kamu. Jangan sampai seperti aku, yang tiba-tiba harus segera menikah dan menjadi seorang suami. Di mana seharusnya aku masih menikmati masa lajangku sendiri," ujar Vincent lagi.
Aku terdiam dan mulai berfikir. Yang dikatakan Vincent itu sama persis seperti pesan Papa dan Mama. Dan semua itu benar adanya, terlalu dini untukku memikirkan sebuah pernikahan.
Aku sudah menghindar dari dua cowok sekaligus hanya karena alasan masih kuliah. Yaitu Vincent dan Angga.
Haruskah aku melakukan yang sama terhadap Bram? Entahlah.. Aku jadi bingung.
"Zanu, cinta itu tidak selamanya indah. Hidup harus pake logika. Jika aku mau, mungkin aku akan membawamu pergi dari sini. Tapi aku lebih memikirkan keinginanmu ketimbang keinginanku. Jangan pernah berubah, jadilah Zanu yang memiliki prinsip yang kuat, seperti yang aku kenal dulu,"
"Iya Vincent, terima kasih. Bukannya aku mengusirmu, tapi sebaiknya kamu segera kembali ke acaranya. Keluargamu pasti mencari. Kasihan calon istrimu dan keluarganya, bisa malu jika kamu menghilang," ujarku sedikit khawatir.
__ADS_1
"Iya Zanu, aku akan kembali ke sana. Tolong ingat pesanku, kamu cari tau dulu latar belakang Bram, siapa dia sebenarnya. Jika dia adalah pilihan terakhirmu nanti,"
Aku mengangguk. Vincent berdiri dan melihatku lagi dengan perasaan yang berat hati menjauh dariku.
"Aku pulang dulu ya Zanu, jaga dirimu baik-baik,"
"Iya Vincent. Nanti aku dan Bram akan datang ke acaramu," jawabku.
"Baiklah, aku tunggu,"
Vincent keluar dan masuk ke dalam mobilnya. Sebelum pergi, dia sempat melambaikan tangannya untukku.
*********
Aku duduk di ruang tamu sambil menunggu Bram datang.
Aku juga berusaha melupakan dulu perkataan Vincent tadi. Agar moodku hari ini menjadi bagus dan baik.
"Lho, Vincent tadi sudah pulang ya nak?" ujar Mama yang tiba-tiba membuatku kaget.
"Iya Ma. Tadi Zanu kirain Bram yang datang Ma," jawabku.
"Bukannya dia hari ini mau tunangan, kenapa malah ke sini?" tanya Mama heran.
"Mungkin dia berat untuk melepaskan Zanu. Atau tidak mau di jodohkan. Sudahlah, sekarang Zanu tunggu saja Bram. Kita tidak bisa ikut campur urusan Vincent, karena itu sudah ketetapan keluarganya. Mama ke dapur dulu ya, siapin makan siang,"
"Baik Ma,"
Aku beranjak ke ruang santai sambil nonton TV.
Sebenarnya acara jam berapa sih? Kok lama benar Bram menjemputku? Apa Bram batal ke sini?
Ting Tong!
Terdengar suara bel, bearti ada tamu yang datang. Semoga itu Bram!
Ku buka pintu ruang tamu dan ternyata itu memang Bram.
"Hai Zanu. Wow!! Kamu cantik sekali. Amazing!" ujar Bram sambil melihatku sedemikian rupa.
Seakan terpana melihat penampilanku yang berbeda dari biasanya, ahaaiii..! Dan aku hanya tersenyum malu-malu mendengar pujian Bram.
"Maaf, kamu menunggu lama, aku harus di cek dulu sebelum ke sini, untuk memastikan kesehatanku," ujar Bram.
Terlihat Bram sedikit sulit untuk mengangkat bahunya sebelah kanan, bekas luka jahit dari pengambilan peluru dalam daging. Tapi lumayan nekad juga Bram mau berjalan keluar dari RS hanya untuk menghadiri acara Vincent.
__ADS_1
"Iya, nggak apa2 Kak. Masuk dulu ya, kita pamit sama Mama," jawabku.
Bram mengangguk dan mengikutiku dari belakang. Aku memanggil Mama yang lagi menyiapkan makan siang di dapur. Mama menghampiri Bram.
"Nggak makan dulu nak Bram?" basa basi Mama.
"Terima kasih, kapan-kapan saja tante. Kita maka siangnya di tempat acara saja," jawab Bram.
"Oke nak Bram. Tante tunggu ya, nanti biar masak banyak dibantuin sama Zanu,"
"Baik Tante. Oiya, saya izin membawa Zanu keluar untuk menghadiri pesta pertunangan teman kita. Bolehkah Tante?" tanya Bram.
"Boleh, tapi jangan lama-lama ya. Kalau lama pulang, nanti Papanya Zanu nyusul ke sana, maklumlah ya nak Bram," jawab Mama.
"Iya Tante, saya tau dan memakluminya. Oke, permisi Tante,"
Mama mengangguk dan tersenyum. Aku berjalan mengikuti Bram dari belakang.
"Hati-hati ya nak,"
"Iya Ma," jawabku.
Aku dan Bram duduk di belakang. Kali ini Bram di sopiri sama driver pribadinya, bukan Pak Jack. Dan di sebelahnya, Atif.
Lalu mobil melaju menuju hotel, tempat acara berlangsung.
"Kak, seharusnya acara tunangan di rumah cewek ya? Tapi kok malah diadakan di daerah sini?" tanyaku penasaran.
"Itu aku kurang tau, kenapa bisa seperti itu. Mungkin sekalian keluarga besar istrinya Pamanku mau jalan-jalan. Karena di sini terkenal memiliki banyak tempat wisata. Yang pasti, kita di undang dan datang," jawab Bram.
Aku mangut-mangut saja mendengar ucapan Bram.
Kenapa pula ya aku menanyakan hal itu? Itu kan urusan mereka. Aneh kamu Zanu.
"Zanu, kamu terlihat makin cantik hari ini. Wajarlah ya kalau aku cemburu terus jika ada yang mendekatimu," Bram berbisik ke arahku.
"Jadi, hari-hari biasa aku jelek, gitu maksudnya?" tanyaku.
"Tetap cantik. Aku suka melihat kamu alami saja, karena memang dasarnya kamu itu sudah cantik dari sana. Nanti kalau sudah jadi istriku, pasti lebih cantik lagi. Karena kamu akan jadi ratunya," jawab Bram sambil menggenggam jemariku.
Deg!! Kenapa Bram sering bicara tentang istri? Aduh, nanti bagaimana menjelaskan pendapat Papa tentang keseriusan Bram? Aku yakin Bram pasti kecewa.
Ratu? Apa Bram seorang Raja? Cuma kiasan saja Zanu, jangan berlebihan deh...!
...****************...
__ADS_1