Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 8 : Perpisahan Sekolah


__ADS_3

Dua minggu sudah berlalu.


Ijazah sudah dapat dan rata-rata nilaiku tidak mengecewakan. Wali kelas sempat menanyakan kembali perihal jalur PMDK yang ditawarkan pihak Universitas Negeri yang ternama di kota Bandung kepadaku.


Aku menolak kembali tawaran tersebut dengan alasan yang sama yaitu Papaku tidak mengizinkan kuliah di luar dari wilayah tempat kita tinggal sekarang.


Sedih memang. Tapi kupikir memang berat juga berpisah jauh dari orang tuaku. Apalagi di Bandung tidak ada sanak saudara.


Mungkin alasan ini juga mendap dipikiran Papa. Toh, di kota ini juga ada Universitas Negeri yang kualitasnya tidak kalah bagus dari yang lainnya.


"Zuri, ayo bersiap-siap. Sarapan sana, Kakak sudah selesai, tinggal pakai handbody," ujarku kepada Zuri.


"Iya Kak, sebentar. Nanti Zuri nyusul ke bawah," jawabnya sambil memasukkan dompet ke dalam tas kecil.


Sejak kejadian dua minggu yang lalu, Zuri tidak pernah lagi membahas tentang cowok manapun. Dan dia sudah meminta maaf tentang kejadian kemaren.


Tentang Abang! Eh, udah dua minggu dia tidak muncul lagi ke rumah. Dia kemana ya? Apa dia pulang kampung?


Ah..! Tolong lenyap dulu ya Bang dari pikiranku.


"Ayo Kak kita ke Sekolah," ucap Zuri mengagetkan lamunanku.


"Oke,"


Sekolah aku dan Zuri mengadakan acara perpisahan. Acara dimeriahkan dengan adanya orgen dan tambahan acara lainnya dari semua adik kelas.


Zuri juga ikut andil dalam acara tersebut sebagai pembawa acara perwakilan pihak Sekolah.


Mama mengantarkan kita sampai depan pintu gerbang.


"Nanti Mama jemput sekitar jam satu siang ya..," ujar Mama sebelum pergi.


"Baik Ma," jawabku dan Zuri serempak.


Aku menuju ke tempat acara, sedangkan Zuri menuju ruang Kepala Sekolah untuk mempersiapkan bahan yang akan digunakan saat acara.


Sedangkan aku langsung menemui Ratna dan Dice yang sedang mengobrol. Teman-temanku sudah banyak yang hadir dengan memakai pakaian bebas.


"Sudah dari tadi?" sapaku ke Ratna dan Dice.


"Adalah sekitar lima belas menit yang lalu," jawab Ratna.


"Acara mau di mulai, kamu sudah ambil kupon belum? Kupon buat makan siang. Tuh di sana ada meja dekat pohon, keliatan nggak?" ujar Dice sambil menunjukkan arahnya.


"Oke, aku ke sana dulu,"


Aku bergegas menuju meja kecil yang di tunjuk Dice tadi. Dan ternyata di sana sudah ada Vincent bersama pacarnya!


Vincent menoleh dan tersenyum padaku. Sedangkan pacarnya menatapku sinis.


Aku berdiri tepat di sebelah Vincent dan tiba-tiba dia menggenggam erat jemariku.


Deg! Perasaanku jadi tidak karuan. Anehnya aku malah diam, membiarkan tangan itu menyentuh jemariku.


Vincent mulai beranjak pergi, dia dan pacarnya sudah mendapatkan kupon. Tinggal giliranku.

__ADS_1


Tapi kenapa tangan Vincent belum lepas?


Pacarnya tau kalau Vincent berusaha menarik tanganku.


Aku reflek berusaha melepaskan tangan. Pacarnya juga berusaha menarik tangan Vincent untuk segera pergi.


"Zanu," ucap Vincent lirih.


Tatapan itu sangat lembut kulihat, seperti mengisyaratkan sesuatu kalau Vincent merindukan kehadiranku.


Akhirnya Vincent melepaskan tangannya dan langsung berbalik arah, berjalan meninggalkan aku dan pacarnya yang sedang melongo.


Aku langsung mengambil kupon dan pergi dari tempat tersebut menuju ke arah Dice dan Ratna.


"Hei Zanu! Kalian kenapa tadi? Vincent menarik-narik tanganmu? Dia kenapa?" tanya Dice keheranan.


"Lho, kalian lihat juga kejadian tadi? Mungkin dia merindukan aku, pacarnya cemburu," jawabku sekenanya.


"Ya lihat dong, semua juga pada lihat. Wajar ceweknya cemburu kalau Vincentnya begitu. Depan umum lagi," ucap Ratna.


"Udahlah, kita lupakan saja. Biarkan itu jadi urusan Vincent. Sekarang aku memikirkan perpisahan kita ini. Belum tentu kedepannya bisa ngumpul lagi kan?" jawabku santai.


"Aku dengar dari temannya Vincent, kalau dia tidak bisa kuliah. Karena Bapak Vincent ingin anaknya kerja di toko," ujar Dice.


Kenapa dia tidak kuliah? Padahal orang tuanya termasuk orang mampu.


"Mungkin, dia merasa tidak akan pernah bertemu kamu lagi Zanu. Karena dia tau kamu mau kuliah, otomatis kalian jadi berjauhan," Ratna menimpali.


Bisa jadi.


********


Riuh suara murid-murid mulai terdengar, acara silih berganti diisi dengan kesenangan, kemeriahan dan kesedihan.


Kulihat disekelilingku, Sekolah ini suatu saat nanti pasti akan membuatku rindu. Banyak kenangan manis sudah terlewati di sini.


Tak sengaja aku melihat dari jauh, sosok Vincent yang sedang berdiri di sana. Aku tidak tau, sudah berapa lama dia melihatku. Dia sedang bersama teman genknya.


Aku tidak melihat pacarnya, apa mereka bertengkar?


Acara terakhir adalah acara yang ditunggu-tunggu. Semua yang hadir bebas bernyanyi dan berjoget mengiri musik yang didendangkan. Teman-temanku bersorai riang gembira dan satu persatu menaiki panggung.


Saat aku mau naik ke panggung, tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Ternyata itu Vincent!


"Zanu, ikut aku," ajak Vincent.


"Ada apa Vincent? Aku mau di bawa kemana?" tanyaku dengan nada sedikit menolak.


"Kita ke kantin depan,"


Aku menurutinya dan genggaman tangan itu belum juga lepas. Banyak teman-teman yang memperhatikan.


Sesampainya di kantin, aku dan Vincent duduk berdampingan. Tidak banyak orang di kantin, tapi tidak terlalu sepi.


"Zanu. Apa kamu jadi kuliah? Kamu kuliah di mana? Jauhkah?" tanya Vincent.

__ADS_1


"Jangan lupakan aku Zanu. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi," ujarnya lagi.


"Iya, aku kuliah. Di kota P. Tidak terlalu jauh bukan dari sini?" jawabku.


"Aku tidak kuliah Zanu. Karena Papa ingin aku meneruskan tokonya," ucap Vincent dengan raut muka sedih.


"Tidak ada salahnya membantu orang tua sendiri?" tanyaku.


"Aku tau itu Zanu. Tapi, sebenarnya aku ingin kuliah di tempat yang sama dengan kamu. Supaya kita bisa selalu bersama," harap Vincent.


"Zanu, aku tidak tau perasaanku ini dinamakan apa, tapi yang pasti aku tidak mau kehilanganmu,"


"Sudahlah Vincent, kamu ingat saja perkataanku dua minggu yang lalu dan kita sudah berkomitmen. Kita hanya bisa berdo'a semoga bisa bertemu kembali,"


"Entahlah Zanu, aku merasa kita tidak akan bertemu lagi,"


"Huss...! Kamu tidak boleh bicara sembarangan, tidak baik,"


Sejenak suasana menjadi hening.


"Di mana pacarmu, kok tidak keliatan?" aku mengalihkan pembicaraan.


"Dia sudah pulang, tadi kita bertengkar. Dan aku sempat katakan bahwa aku menyukaimu Zanu. Dia juga kaget, ternyata kamu dan aku pernah pacaran," jawab Vincent santai.


"Wah, bisa-bisa aku dimusuhin nih sama pacar kamu," ledekku.


"Tidak akan, apa hak dia musuhin kamu. Tenang, ada aku," Vincent membelaku.


"Aku antar pulang ya Zanu,"


"Maaf Vincent, aku dan Zuri mau di jemput Mama jam satu siang,"


"Bearti sebentar lagi dong. Kita pesan es saja ya sambil menunggu Mamamu datang,"


"Oke,"


Aku dan Vincent mengobrol sambil makan kwaci. Terlihat suasana saat ini begitu menyenangkan buat kita berdua.


Tapi ada perasaan bersalahku terhadap pacarnya Vincent.


Tidak berapa lama kemudian, dari kejauhan aku melihat mobil Mama menghampiri gerbang Sekolah. Dan kebetulan Zuri sudah berada di luar gerbang.


Berat hati rasanya meninggalkan Sekolah, teman, Guru dan terutama Vincent.


"Vincent, aku pulang dulu. Maaf kali ini aku menolak tawaranmu," ujarku lirih.


"Iya Zanu. Kalau sempat besok-besok aku main kerumahmu ya," jawabnya.


"Oke, aku tunggu. Bye,"


"Bye,"


Aku berjalan menuju mobil Mama dan memanggil Zuri. Saat mobil mulai melaju, aku lihat Vincent termangu melihatku dari jauh.


Vincent, kenapa cerita kita jadi seperti ini.

__ADS_1


Terasa hatiku bersedih. Entah itu pertanda apa, aku tidak tau.


...****************...


__ADS_2