
"Sini, ayo turun," tiba-tiba Bram muncul dibalik pintu mobil dengan raut wajah yang datar. Ia membuka pintu mobil dan mengulurkan tangannya kehadapanku.
Aku menatap Bram, ada sesuatu yang ingin ia utarakan dibalik bola matanya yang berwarna coklat. Dengan terpaksa aku menyambut uluran tangan Bram dan mengikuti langkahnya menuju ke pintu utama rumahnya.
Bram mengajakku sholat magrib berjama'ah di tempat biasa, bersama karyawannya. Orang tua Bram berada di luar.
Setelah menyelesaikan sholat, Bram mengajakku ke halaman belakang yang terdapat kolam renang. Kita berdua duduk saling berhadapan dan terlihat raut wajah Bram yang tegang, sedih, takut dan bingung. Tidak biasanya seperti itu.
"Zanu, hari ini sudah tiba saatnya aku mengatakan semuanya. Sedikit banyak kamu pasti tau arahnya kemana. Sebelum aku jelaskan, aku minta maaf tentang meeting di cafe tadi. Aku memang salah karena mengambil keputusan tanpa menanyakannya terlebih dahulu kepadamu," Bram berhenti sejenak sambil menghela nafasnya.
"Zanu, di cafe ada kecurangan. Aku mencari asisten manager secara acak, supaya bisa menghandle pekerjaan yang ditugaskan. Fungsinya untuk mengetahui kecurangan itu menjadi bukti. Dimulai dari Manager, bagian keuangan, bagian pengelola dan pengaturan belanja barang. Fungsi kamu di sana untuk mendapatkan apa saja informasi yang didapatkan dari asisten Manager. Hanya kamu yang bisa mengatasinya Zanu," penjelasan Bram.
Waduh! Kenapa jadi begini? Kenapa permasalahannya dilimpahkan kepadaku? Memangnya aku seorang polisi yang harus menyelidiki sebuah kasus?
"Jika kamu merasa keberatan, tidak masalah bagiku. Aku bisa mengutus yang lain untuk menyelidikinya. Sekarang, kita lupakan itu dulu. Aku ingin bicara serius padamu. Apa kamu siap untuk mendengarkannya?" Bram menatapku dalam-dalam, ia membelai pipi kiriku dengan perasaan yang syahdu.
"Iya Kak. Aku sudah siap mendengarkannya, dari jauh-jauh hari," jawabku.
"Baiklah. Zanu, orang tuaku dulu pernah menjodohkan aku dengan anak temannya Papi. Berjalannya waktu, orang tuaku tidak memperdulikan itu lagi, semua keputusan ada ditanganku. Tapi, kisah ini diluar dugaan keluargaku dan keluarga pihak perempuan, dimana aku harus menikahinya," Bram diam sebentar. Ia menunggu gelagatku.
Deg! Apa aku tidak salah dengar? Bram dijodohkan? Dan itu bearti aku tidak bisa memilikinya?!
"Keluarga perempuan itu memohon untuk membantu mengatasi masalah yang sedang mereka hadapi. Yaitu Kakaknya perempuan itu sedang disandera dan mengharuskan aku untuk menikah secepatnya. Jika pernikahan itu sudah di gelar, maka Kakaknya akan dibebaskan. Tapi, aku tidak bisa menikahinya dalam keadaan yang tidak normal. Jikapun terpaksa, aku pasti menyalahkan diriku sendiri. Untuk itu, aku ingin menyelesaikan masalah ini dengan caraku sendiri. Dan solusinya, aku memang harus berada di Amerika," penjelasan Bram panjang lebar.
__ADS_1
"Kalau boleh tau, siapakah perempuan itu?" tanyaku. Entah mengapa pertanyaan itu aku lontarkan begitu saja.
Bram diam, dia menatap ke atas langit, seakan berat untuk mengatakannya kepadaku.
"Jika aku beritau, tolong berjanjilah, kamu tidak akan bersedih atau menangis. Bisa?" tanya Bram.
Aku mengangguk, walau sebenarnya di dalam hatiku belumlah pasti untuk menepati janji tersebut.
"Perempuan itu adalah Prita, temanmu," jawab Bram lirih dan ia tidak berani menatapku.
Duar!! Pritaaaa?! Kenapa harus Prita? Ya Tuhan, mengapa jadi begini?
Entah mengapa tiba-tiba tubuhku terasa lunglai dan tidak berdaya.
"Aku tidak bisa menikahi Prita karena keadaannya yang belum normal. Sambil menunggu Prita pulih, aku harus mencari keberadaan Kakaknya dan menyelidiki siapa dibalik semua ini. Atif aku tugaskan untuk selalu ada di sisi Prita, karena mereka berdua saling mencintai. Walau sebenarnya itu tugasku karena dia calon istriku,"
Aku tidak sanggup lagi mendengar penjelasan Bram. Aku berusaha melepaskan pelukan Bram dengan cara berontak. Bram memelukku lebih erat lagi, ia berusaha menenangkanku.
"Zanu! Diam! Dengarkan aku baik-baik! Aku belum selesai bicara," Bram memarahiku.
"Zanu, sebelum Prita pulih, aku sekuat tenaga akan menyelesaikan semuanya. Jika pelakunya sudah aku temukan, maka perjodohan itu tidak ada lagi. Dan aku bisa kembali kepadamu. Tapi jika aku belum selesai di saat Prita sudah pulih, dengan sangat terpaksa aku dan dia akan menikah. Maka dari itu, diawal sudah aku katakan jika semua ini belumlah pasti. Apakah kamu bisa menungguku?" tanya Bram.
"Kak, mengapa tidak dari awal Kakak katakan jika akan dijodohkan dengan Prita? Aku bingung mau menjawab apa," terasa dadaku mulai sesak dan rasa sedih di hatiku mulai menyeruak keluar.
__ADS_1
"Zanu, aku sangat mencintaimu. Aku berharap kamu mau menungguku. Tapi jika takdir berkata lain, maukah kamu memaafkanku Zanu?" Bram menatapku lekat-lekat di dalam pelukannya.
Aku diam seribu bahasa dan entah mengapa air mataku mengalir membahasi pipi. Bram menyeka air mataku.
"Sudahlah, jangan kamu menangis. Aku juga ikut bersedih melihatmu seperti ini. Jika Prita tau tentang ini, pasti ia juga menolaknya. Tapi pernikahan itu harus dilakukan demi keselamatan dua keluarga dan termasuk perusahaan keluargaku dan Prita. Sekali lagi, maukah kamu memaafkan aku Zanu?" tanya Bram untuk kedua kalinya.
"Iya, aku maafkan," hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan kepada Bram.
Bram melihatku dan ia mulai menyentuh bibirku dengan hangat, lembut dan syahdu. Terlihat jelas sorot mata Bram penuh cinta, kasih sayang dan perasaan takut akan kehilanganku. Entah mengapa, aku membalas sentuhan Bram, seakan aku tidak ingin melepaskannya begitu saja. Apalagi Bram akan pergi dan tidak pasti kapan akan kembali lagi.
Sentuhan itu semakin membara, Bram menyentuh leherku dengan kecupan-kecupan lembutnya. Ia juga menyentuh cuping telingaku sehingga membuat nafsuku mulai memuncah dan bergelora. Ini pertama kalinya aku merasakan gejolak kenikmatan yang aku sendiri tidak mengerti dengan rasa ditubuhku sendiri.
Yang pasti, aku tidak mau kehilangan Bram. Tapi aku juga tidak mau Bram menyentuh tubuhku lebih dalam lagi, walau sebenarnya aku berharap Bramlah yang pertama kali menikmatinya di dalam sebuah ikatan yaitu pernikahan.
"Aahhh..,"
Aku mendengar suara gumaman Bram ditelingaku. Ia mulai merasakan getar-getar ditubuhnya sendiri. Aku ikut menyentuh leher, telinga dan dada Bram. Kita berdua larut dengan nafsu dan perasaan masing-masing. Seakan tidak ingin berakhir sampai disini.
"Stop Zanu! Aku tidak mau melanjutkannya lagi. Maafkan aku. Aku tidak mau menodai kisah kita berdua dengan hal yang tidak senonoh," tiba-tiba Bram berhenti dan menyadari kesalahannya. Ia melepaskan pelukannya dan berdiri sambil merapikan baju yang sudah terbuka di bagian atas.
Ia berbalik melihatku dan memperbaiki pakaian atasku yang terlihat miring. Aku hanya bengong melihat tindakan Bram. Hampir saja aku terjerumus dalam nafsu yang menyesatkan dan aku tidak menyangka bisa seberani itu. Apakah itu kekuatan cintaku? Atau perasaan takut kehilangan?
Bram, aku benar-benar mencintaimu. Rasanya aku tidak sanggup berpisah darimu. Jangan tinggalkan aku begitu saja Bram.
__ADS_1
...****************...