Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 47 : Pabrik


__ADS_3

Mobil Bram masuk melewati gerbang sebuah bangunan yang cukup luas.


Di atas gerbang terdapat tulisan PT. Putra Tunggal Ox. Aku perhatikan dengan seksama tulisan tersebut, seperti mengingatkan akan sesuatu.


Yup! Ox adalah bagian dari nama kepanjangan Bram. Disingkat PTO, ternyata tempat ini yang disebutkan Bram tadi. Apakah PT ini punya Bram?


Mobil Bram berhenti di teras depan gedung, yang sepertinya itu adalah tempat pintu masuk kantor PT ini. Terlihat ada beberapa karyawan yang berbaris rapi menyambut Bram.


Bram keluar dari mobilnya dan bergegas membukakan pintuku, supaya aku juga ikut keluar dari mobil.


Aku terperangah dengan semua ini. Gedung, karyawan dan sikap Bram yang membukakan pintu mobil untukku.


Aku merasa seperti dalam dongeng! Jangan norak Zanu! Udahlah, nikmati saja.


Aku berdiri tepat di samping Bram. Ada perasaan takut menghampiriku.


Mau ngapain ya Bram bawa aku kesini?


"Selamat datang Pak Bram, silahkan masuk. Kami senang Pak Bram bisa berkunjung ke sini," ujar salah satu karyawan dengan perawakannya yang sedikit berumur.


"Iya, terima kasih sambutannya Pak Suryo. Saya bersama Non Zanu mau melihat-melihat keadaan di sini. Apakah Ibu Dela sudah menghubungi Bapak?" tanya Bram.


Tanpa kusadari dari awal, tangan Bram sudah menggenggam tanganku sedari tadi. Entah kemana pikiranku sampai aku tidak mengetahuinya.


"Sudah Pak, laporannya segera dikirimkan oleh sekretaris saya. Untuk kendala di pabrik ini belum ada, hanya saja kita sedang menghadapi persaingan," jawab Pak Suryo.


"Kita bicarakan saja di dalam. Silahkan semua yang ada disini untuk bekerja kembali," ujar Bram tegas.


"Baik Pak Bram. Silahkan masuk lebih dulu, saya akan memberikan instruksi terlebih dahulu," jawab Pak Suryo.


Bram menangguk dan berjalan menuju pintu masuk. Salah satu karyawan membukakan pintu kantor untuk Bram dan aku. Dan Bram masih saja memegang tanganku. Aku hanya manut-manut mengikuti Bram.


"Mari silahkan Pak," ujar karyawan sambil mengarahkan Bram ke suatu ruangan yang lumayan luas.


*******


Di dalam ruangan terdapat meja dan kursi yang tertata sangat rapi. Dan ada papan nama di atas meja yang bertuliskan Omar Putra sebagai Direktur.


Tapi tiba-tiba Bram malah duduk dengan santainya di kursi tersebut.


Lho? Berani sekali Bram duduk di kursi ini? Apa dia tidak takut yang punya marah?


Bram masih saja menggenggam tanganku. Aku mulai risih, bukan karena tanganku, tapi karena kelakuan Bram yang seenaknya di kantor orang.

__ADS_1


"Tolong ambilkan kursi untuk Non Zanu," perintah Bram ke karyawan tadi.


"Baik Pak," jawab karyawan tadi dan beranjak mengambil kursi yang tersedia di ruangan tersebut.


"Maaf Non, silahkan," ucap karyawan ramah mempersilahkan aku duduk. Kursi tersebut diletakkan tepat di samping Bram.


Aduh!! Ini mau ngapain lagi sih. Aku kenapa duduknya dekat Bram?


"Kak, kita ngapain di sini? Aku kok duduknya dekat Kakak? Aku tunggu di luar ajalah ya..?" bisikku ke telinga Bram.


"Tidak usah. Kamu di sini saja. Temani aku rapat," jawab Bram sambil tersenyum.


"Apa?! Rapat? Aduh, kenapa ke sini cuma buat rapat? Ogah ah, aku mau pulang!" ujarku sedikit kesal.


"Zanu, sebentar kok. Abis dari sini, aku mau menunjukkan sesuatu yang selama ini bikin kamu penasaran. Temani aku sebentar ya," ujar Bram dengan nada lembut.


Aku tidak bisa menjawab. Hanya diam dan sedikit manyun.


Tidak lama kemudian, masuklah beberapa orang ke dalam ruangan. Bram mulai melepaskan tanganku dan langsung berdiri.


Salah satunya menghampiri Bram dan langsung menyalami Bram.


"Hallo Pak, selamat datang. Apa kabar? Senang bisa bertemu Bapak kembali," ucap Bapak tersebut.


Aku kelabakan dan langsung berdiri. Aku mengulurkan tangan ke arah Pak Omar.


"Zanu Pak," ujarku sambil tersenyum.


"Salam kenal Non Zanu. Selamat datang di kantor kita,"


Aku mengangguk. Perasaanku mulai tidak karuan.


Apalah ya kira-kira pikiran semua orang di sini saat aku di sini, duduk di sini, dekat Bram pula. Hadehhh...! Mimpi apa aku semalam?


Yang aku salami barusan ternyata Pak Omar, Direktur di PT ini. Tapi kenapa dia membiarkan Bram duduk di kursinya? Bisa jadi Bram adalah pemilik Perusahaan ini?


"Baik semuanya. Silahkan duduk. Saya langsung saja ke pokok permasalahan di Perusahaan kita. Setelah ini saya akan berkeliling melihat kondisi setiap ruangan. Jadi saya tidak bisa berlama-lama. Semoga tidak ada yang mengecewakan saya," ujar Bram tegas.


Lalu Bram duduk dan aku juga ikut duduk. Aku melihat Bram sangat wibawa dan tegas saat dia bicara di sini. Sedikit berbeda saat dia bicara di kampus. Di kampus, Bram terlihat datar dan sangar. Sedangkan di sini, Bram terlihat wibawa, tegas dan perhatian.


Di ruangan ini ada enam orang. Di tambah aku dan Bram, jadinya delapan.


"Begini Pak Bram, untuk kendala Perusahaan kita tidak ada. Hanya saja kita memiliki saingan baru. Jadi, untuk produksi bulan ini sedikit menurun sekitar satu persen. Untuk menutupi itu, saya memiliki saran. Bagaimana jika kita memperluas lagi zona pengiriman. Dibutuhkan kerjasama Perusahaan ke market yang baru berdiri. Tentunya kita akan kirim karyawan untuk mendata setiap daerah," ujar Pak Omar.

__ADS_1


"Itu ide yang bagus. Nanti pastikan zona masing-masing daerah di hitung waktunya sebagai acuan untuk menganalisis expired product kita. Catat nama-nama karyawan yang akan berjalan di lapangan. Pastikan uang jalan dan makan mereka ada. Langsung nanti kirim laporan keuangannya ke Ibu Dela. Saya akan hubungi beliau," jawab Bram.


"Baik Pak. Nanti saya akan kirim laporannya langsung ke Ibu Dela," jawab Pak Omar.


Bram mengangguk dan langsung menoleh ke arahku.


"Bagaimana Non Zanu, apa anda ada masukan?" tanya Bram tiba-tiba.


Aku kaget! Kenapa malah Bram bertanya padaku? Owalah..., bukannya aku menemani Bram rapat, tapi juga diikut sertakan dalam rapat, ya Tuhan! Awas nanti ya Kak!


"Hhmm.., menurut saya sebaiknya karyawan yang akan ditugaskan kelapangan di ambil dari karyawan baru dengan membuka lowongan pekerjaan. Jadi, kita bisa membantu orang lain dan mengurangi pengangguran. Karena jika perluasan produksi bisa menjanjikan naiknya omset, maka gaji karyawan yang baru bisa tertutupi. Dan karyawan baru bisa fokus dengan tugasnya sendiri-sendiri di lapangan, tanpa melibatkan karyawan lama di Perusahaan ini," jawabku dengan sedikit hati-hati untuk menyampaikan pendapatku.


Kulihat semua yang hadir mangut-mangut. Bram malah tepuk tangan sendiri.


"Keren! Itu ide yang bagus Non Zanu. Tolong ide ini langsung dilaksanakan! Besok buka lowongan karyawan baru yang akan ditempatkan untuk setiap masing-masing daerah. Tetap fokus stabilnya rasa dan awetnya produk kita. Karena sekarang adanya persaingan, kita harus perketat lagi produksi, jangan sampai lengah. Jangan sampai pelanggan pergi ke produk yang lain," ujar Bram.


"Baik Pak," jawab karyawan dan Direktur di ruangan tersebut secara serempak.


"Oke, rapat hari ini sekian dulu. Semoga Perusahaan kita maju terus dan tetap memegang prinsip kekeluargaan. Saya tidak mau ada konflik apapun di Perusahaan saya ini. Baik, saya dan Non Zanu akan berkeliling,"


Bram berdiri dan mempersilahkan aku jalan duluan. Semua yang hadir ikut berdiri, lalu menyalami Bram dan aku satu persatu.


"Terima kasih semua kerjasamanya ya, saya bangga Perusahaan ini bisa berjalan dengan semestinya, tanpa saya harus hadir di sini setiap hari. Ini pastinya karena kepemimpinan Bapak Omar selama di sini," ujar Bram ke Pak Omar.


"Sama-sama Pak. Saya senang bisa menjadi bagian dari Perusahaan Bapak Bram. Semua ini juga berkat kerjasama yang baik dari setiap karyawan yang ada di sini dan tentunya ada andil Bapak dalam mengawasi kami. Mari Pak silahkan keruangan lainnya," jawab Pak Omar.


"Bapak tidak usah mengantarkan saya. Cukup saya dan Non Zanu saja yang berkeliling, silahkan lanjutkan tugasnya masing-masing,"


"Oh, Baik Pak. Jika ada keperluan, nanti bisa langsung hubungi saya,"


Bram mengangguk. Aku dan Bram keluar ruangan. Kali ini kita masuk ke salah satu ruangan yang luas, penuh berisi karung-karung yang tersusun sangat rapi. Aku penasaran dengan isi karung-karung tersebut.


"Kak, dalam karung itu isinya apa aja?" tanyaku.


"Itu tepung. Dan sebelah sana gudang yang berisi gula. Sebelahnya lagi telur. Sebelum masuk ruang produksi, kita harus memakai baju pelapis dan masker," jawab Bram.


"Sebenarnya ini tempat membuat produk apa sih Kak?" tanyaku lagi.


"Ini pabrik. Ayo kita kesana, nanti kamu tau sendiri, ini pabrik apa," jawab Bram.


Huh! Dari berangkat tadi sampai aku ikut rapat, belum juga menemukan jawabannya. Kenapa harus tebak menebak sih?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2