Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 50 : Novel


__ADS_3

Aku menutup pintu ruang tamu.


Kudapati Prita sedang membuka box roti. Prita terlihat kaget dengan roti-roti tersebut.


"Zanu! Ini roti banyak banget?! Ada tiga rasa lagi. Perasaanku setiap beli roti ini cuma ada rasa original lho? Kok bisa ada rasa lain?" tanya Prita.


"Masih mendinglah kamu tau roti ini. Aku aja nggak tau apalagi masalah rasanya. Taunya juga karena Ketua yang kasih," jawabku sambil duduk dan ikut melihat-lihat roti tersebut.


"Mungkin, dijualnya di tempat tertentu Zanu dan yang rasa keju sama coklat di produksinya sedikit, mungkin ya..," Prita menduga-duga.


"Bisa jadi. Oiya, rotinya aku bagiin untuk kita semua yang ada di kost dapat tiga masing-masingnya. Biar kita bisa coba semua rasa," aku mulai menyisihkan roti tersebut untuk teman kost.


"Wah..! Thank you Zanu.., nanti aku bantuin promosikan sama teman-teman dan keluargaku," ujar Prita sumringah.


"Sama-sama. Oiya, bagaimana tadi kamu sama Atif? Ngobrolin apa?" tanyaku.


Prita langsung meletakkan roti dan mulai terlihat mimik serius dari wajahnya.


"Hmm.. yaa, ngobrolnya nggak banyak. Lebih ke aku yang banyak tanya dan bercerita. Sepertinya dia tidak terlalu merespon aku, mungkin cuma berteman saja, nggak mau lebih dari itu," jawab Prita sedikit murung.


"Itu mungkin pendapat kamu Prita. Kan baru jumpa dan ngobrol berdua, pasti dia belum terbiasa dengan kehadiran kamu. Apalagi aku lihat Atif orangnya pendiam dan cuek. Atau mungkin dia lebih fokus pekerjaannya dengan Ketua saat ini, jadi belum mau pacaran," ujarku menghibur Prita.


"Bisa jadi Zanu. Hanya saja aku sudah terlanjur jatuh cinta sama Atif. Kalau lihat sikapnya seperti itu, aku merasa sangat kecewa. Sedih rasanya kalau di tolak,"


"Prita, awalnya aku terhadap Ketua juga biasa saja, cuma Ketua yang terlalu over mengungkapkan perasaan dengan sikap yang manis. Lama-lama aku luluh mengerti sendiri dengan apa yang aku rasakan,"


"Lha, beda Zanu. Posisi kamu kan Ketua yang mendekati, karena dia cowok. Kalau aku, malu dong dekatin Atif terus-terusan," ujar Prita nelangsa.


"Prita, intinya hanya masalah waktu. Sering saja kamu bertemu Atif, lama-lama dia akan luluh dengan kehadiran kamu. Tapi, sikapmu jangan diperlihatkan terlalu bucin. Yah, jaim dikit di saat waktu tertentu saja," ujarku berusaha meyakinkan Prita.


Prita terdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu.


"Hmmm.. Bagus juga ya idemu Zanu. Jika cinta tidak bisa tumbuh diawal, maka usahakan selalu bertemu, lama-lama cinta hadir dengan sendirinya. Begitu kan Zanu?"


"Nah!! Pinter kamu. Nanti aku bantuin deh lewat Ketua, supaya kamu bisa sering ketemu Atif," ujarku.


"Duh.. Terima kasih ya Zanu, kamu baik banget," Prita langsung memelukku.


"Oke. Bantuin aku yuk bagiin roti-roti ini ke anak kost,"


Prita mengangguk dan mulai memasukkan roti-roti tersebut ke dalam box. Aku dan Prita membawa roti ke setiap kamar dan membagikannya. Mereka senang sekali dan mencoba roti tersebut. Dan memang sesuai kenyataan bahwa rotinya sangat enak. Mereka semua juga antusias untuk mempromosikan roti "Kembang" milik Bram.


Setelahnya aku istirahat di kamar dan rebahan sejenak. Kemudian aku mandi dan sholat, terus langsung tidur.

__ADS_1


********


Aktifitas pagi berjalan seperti biasanya. Aku dan Prita masih memilih naik Bus ketimbang menumpang kendaraan teman-teman kost, walau mereka selalu menawarkan setiap hari.


Aku juga belum kepikiran untuk meminta kendaraan ke Papa dan tidak terlalu memperdulikan itu. Begitu juga Prita, dia masih merasa nyaman pakai Bus untuk ke kampus. Mungkin beda cerita jika nanti aku punya kendaraan sendiri.


Pagi ini cuaca sangat cerah sekali. Di kampus aku dan Prita belajar seperti biasa. Namun kali ini keadaan sedikit berbeda dari sebelumnya. Karena sudah banyak yang mengetahui kalau aku sedang dekat dengan Bram. Suasana jadi agak canggung dan ada juga yang berusaha menghindariku.


Aku tidak menggubris mereka dan terkesan cuek. Tapi terkadang ada kalimat yang terlontar dari mereka seolah mengejek aku cewek matre atau hal yang buruk lainnya. Aku memaklumi itu, karena mereka tidak ada kesempatan untuk mendekati Bram.


Bahkan hanya sekedar menarik simpati dari Bram saja tidak akan bisa karena dia orang yang dingin dan datar. Tapi terkadang aku merasa sakit hati dengan mereka yang asal bicara tanpa tau pastinya seperti apa.


Di waktu kuliah sedang berlangsung, aku kebelet mau buang air kecil. Aku izin ke dosen yang sedang mengajar. Setelah mendapatkan izin, aku langsung menuju toilet.


Lega rasanya bisa bebas dari buang air kecil. Setelah bersih dan memperbaiki celana, aku melangkah ke arah cermin yang cukup besar di luar toilet. Aku memakai lipgloss tipis-tipis supaya tidak terlihat pucat.


Sesudahnya aku langsung keluar dari pintu toilet.


Brukkk...!


Aku merasa ada seseorang yang menabrakku. Tubuhku terasa oleng dan tiba-tiba si penabrak menggapai tanganku agar aku tidak jatuh.


Dan aku dengan si penabrak saling melihat satu sama lainnya. Hening sejenak dengan expresi kagetku dan kagetnya.


"Iya.., tidak apa-apa," jawabku.


Ternyata dia seorang cowok. Di lihat dari perawakannya, cowok tersebut memiliki daya tarik tersendiri. Tapi aku tidak terlalu pedulikan itu.


Aku membalikkan badan menuju ruanganku. Si cowok terlihat masih saja berdiri di dekat toilet. Entah apa yang difikirkannya.


Aku masuk dan langsung duduk di dekat Prita yang serius mendengarkan penjelasan dari Dosen.


Tak berapa lama, jam kuliah sudah selesai. Dosen hanya memberikan tugas mengenai hukum dasar dalam tindakan pidana. Kedepannya kita harus bisa menghafal pasal-pasal dalam hukum.


"Zanu, abis ini mau kemana?" tanya Prita.


"Aku mau ke kost dulu Prita. Setelah itu mau ke toko sewa novel. Aku mau mencari bacaan untuk mengisi waktu di kost," jawabku.


"Oh, tempat sewaan yang ada dekat kost itu ya. Banyak juga mahasiswa di sana suka sewa dan termasuk lengkap. Komik juga ada lho..,"


"Itu dia, aku mau lihat-lihat dan sewa sekalian. Mana tau ada novel tentang kriminal, untuk menambah wawasan kan..,"


Prita mengangguk. Aku dan Prita langsung berjalan turun melalui gedung rektorat untuk menunggu Bus di halte dekat sana.

__ADS_1


Aku tidak melihat tanda-tanda adanya Bram selama di kampus. Kebetulan Fakultas Bram dan aku, lokasinya cukup jauh. Aku tidak berani menghampiri Fakultas Bram kecuali Bram yang menghampiriku.


Tidak lama kemudian, Bus datang dan berhenti di halte. Aku sama Prita langsung naik masuk ke dalam Bus.


*******


Bus sampai di halte Pasar Baru. Aku dan Prita turun dan langsung berjalan menuju kost. Selama perjalanan, tidak banyak yang aku bicarakan dengan Prita karena kita sibuk dengan pikiran masing-masing.


Sesampai di kost aku langsung ganti pakaian. Aku lalu bergegas menuju toko tempat penyewaan novel. Sekalian aku nanti mau menelepon Bram di wartel yang berada tepat di depan toko tersebut.


Aku berjalan sendirian ke toko buku bacaan. Ternyata banyak juga peminat baca di sana. Aku masuk dan langsung menuju rak yang sudah tersusun rapi dengan segala jenis bacaan.


Kali ini aku lebih tertarik ke rak khusus novel. Aku mulai memilih-milih dan membaca sekilas sinopsis setiap novel yang aku pegang. Tak segaja novel yang aku pegang jatuh dari peganganku.


Plukkk..!


Buku novelnya jatuh, saat aku ingin mengambilnya, tiba-tiba ada yang lebih dulu menggapai novel tersebut.


Dan ternyata dia cowok yang menabrak aku di toilet kampus tadi. Dia kaget melihatku.


"Hai.. Maaf, novelmu terjatuh. Oiya, Ini ceritanya bagus sekali," ujarnya menyapa sambil menatapku dengan seksama.


"Iya, terima kasih sudah mengambilnya," jawabku santai.


"Aneh ya, kita bisa bertemu lagi. Kamu sering ke sini?" tanyanya tanpa basa basi.


"Baru kali ini," jawabku singkat sambil memilih kembali novel yang berjejer di depanku.


"Oiya, aku Gilang. Kalau boleh tau namamu siapa?" tanyanya langsung to the point.


Aku diam sejenak dan membalikkan badan ke arahnya. Aku bingung mau menjawab apa.


Haruskah aku memberi tau namaku?


"Baiklah, kalau tidak mau memberitahukan namamu, mungkin dilain waktu jika kita bertemu lagi. Senang bisa bertemu kamu kembali," ujarnya sambil tersenyum.


Aku masih saja diam. Sadar dengan kebingunganku, cowok tersebut perlahan pergi dari hadapanku menuju tempat kasir. Ternyata dia sudah memilih buku novel dan membayarnya.


Aku langsung bergerak memilih kembali novel-novel yang ada di rak. Mataku langsung tertuju pada novel yang jatuh tadi. Kuperhatikan judulnya "RATU".


Tanpa pikir panjang aku langsung menyewanya dan membayar di kasir. Kulihat cowok yang bernama Gilang tadi sudah di luar menuju mobil yang sedang terparkir.


Lalu dia hilang dari pandanganku.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2