Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 85 : Gadis Remaja


__ADS_3

Srett...!


Pintu di buka Prita. Saat kita berdua masuk ke dalam, terlihat suasana yang berbeda.


Aku melihat Bram sedang marah dan Atif memukul seorang laki-laki yang sedang berada di antara mereka.


Sejenak mereka semua terdiam melihatku dan Prita.


"Atif, kamu bawa dia dari sini. Selanjutkan biar aku urus besok," ujar Bram sambil memberi kode.


Aku tau, Bram tidak ingin memperlihatkan amarahnya didepanku lagi. Mungkin Bram belajar dari peristiwa kemaren saat di gedung tua itu.


Aku menghampiri Bram dan melihat sosok laki-laki yang berada didepanku. Betapa terkejutnya aku, ternyata itu Damar!!


Damar juga heran dan kaget dengan kehadiranku.


"Kak, aku bukan pelakunya! Tolong Kak bilang sama Abang ini, please," ratap Damar dihadapanku.


"Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Coba kamu jelaskan," ujarku dengan sedikit heran.


"Kak, aku menginap di hotel Belis. Saat beberapa menit aku masuk, banyak yang menerobos dan menarikku keluar. Aku tidak tau kesalahan aku apa? Tolong Kak, Abang-abang ini pasti salah paham," jawab Damar uring-uringan.


Terlihat jelas Damar masih kekanak-kanakan dan kuyakini tidak mungkin dia pelakunya.


"Apa kamu kenal dia Zanu?" tanya Bram.


"Iya, aku kenal Kak. Dia teman adikku Zuri, namanya Damar. Aku rasa memang bukan dia pelakunya. Mungkin Atif salah orang," jawabku to the point.


Damar mengangguk-angguk dan terus memohon untuk dilepaskan. Sehingga suasana di ruangan ini menjadi heboh dengan suara Damar.


Kak Resa di mana ya? Dia lebih tau wajah pelakunya.


Sreet...!


Pintu terbuka dan untungnya itu adalah Kak Resa. Dia menghampiri kita semua, terlihat expresi bingung dari raut wajahnya.


"Ada apa ini kok rame? Dan ini siapa?" tanya Kak Resa sambil menunjuk ke arah Damar.


"Kamu tidak tau dia siapa? Jadi benar Atif salah orang. Apa kamu punya fotonya Resa?" tanya Bram.


"Aku tidak kenal pemuda ini Kak. Foto pelaku tidak ada, tapi ada ta..tato di pergelangan tangannya gambar teng..teng..korak," jawab Kak Resa sedikit terbata-bata dan sambil menunduk.

__ADS_1


"Hah?!! Pakai tato!! Apa kamu tidak salah mengenal orang Resa! Bisa nggak sih kamu menilai sedikit saja, apa tidak ada lelaki lain? Buat apa kamu jauh-jauh dari Amerika, hanya bisa menemukan lelaki seperti itu?!!" Bram murka.


Semua yang berada di dalam ruangan terdiam membisu. Tidak ada seorangpun yang berani bicara apalagi bergerak sedikit saja.


Termasuk aku.


Kali ini Bram mungkin sudah kecewa dengan Kak Resa, sehingga tidak mengindahkan lagi dengan kehadiranku. Yang biasanya kemarahan Bram terhenti sejenak jika ada diriku.


"Sekarang, kita salah tangkap orang. Apa yang bisa kamu pertanggung jawabkan?! Kedepannya, aku tidak mau lagi ada masalah yang kamu buat sendiri! Masih untung hari ini selamat, jika tidak, aku yang harus bertanggung jawab ke Paman dan Bibi. Kamu pikir cuma ini saja yang harus diselesaikan?!! Kamu tau kan apa saja tugas-tugasku?" ujar Bram lagi dengan nada yang tinggi.


Kak Resa hanya tertunduk tak berdaya. Kulihat Damar bangkit menghampiri Bram. Semua kaget! Takutnya Damar akan bertindak sesuatu yang bisa membahayakan Bram.


"Bang, tenang. Tentang kejadian ini aku akan lupakan dan tidak menuntut apa-apa. Aku tau siapa pria yang di maksud. Aku cuma minta tolong obati semua luka-lukaku ini, mumpung sekarang sedang berada di rumah sakit," ujar Damar.


"Baik. Saya mewakili semua di sini meminta maaf karena salah dalam bertindak. Untuk pengobatan semua saya tanggung, nanti kamu di urus sama mereka. Dan kelanjutan dari masalah ini, saya meminta kerjasama kamu untuk bisa menemukan pelakunya," ujar Bram mulai melunak.


"Setelah saya di obati, saya akan ke sini lagi,"


"Atif dan kalian semua, antarkan pemuda ini ke dokter untuk di obati. Setelah selesai, semua langsung ke sini," perintah Bram.


"Siap Bos,"


Damar dan rombongan Atif bergegas dari ruangan ini menuju tempat pengobatan yang di maksud. Sekarang tinggallah aku, Bram, Prita dan Kak Resa.


"Ib, maafkan aku sudah membuatmu susah karena memikirkan kelakuanku. Aku tau aku salah dan semoga tidak terjadi lagi. Aku memang menyukai laki-laki itu tapi tidak tau ternyata dia memiliki maksud jahat. Sekali lagi maafkan aku Ib," ujar Kak Resa memelas.


Ib? Itu panggilan apa? Biasanya aku mendengar Kak Resa selalu memanggil Ketua terhadap Bram. Aku tau Ib itu singkatan nama Bram yang sebenarnya yaitu Ibram. Ah sudahlah, entar aku tanyain Bram langsung.


Bram menarik nafas dan diam sejenak.


"Iya, aku maafkan. Aku minta tolong kamu bisa menjaga diri sendiri, kamu sudah besar. Kalau kamu ragu, bisa tanyakan lebih dulu kepadaku. Jangan diam-diam begini. Besok bantu aku urus meeting dengan Pak Rustam perihal nelayan di daerah sini. Kamu tau bukan apa yang harus kamu lakukan?" tanya Bram.


"Iya, aku akan mengurusnya besok. Aku izin hari ini mau ke kota P. Ibu mau mengenalkanku dengan seseorang," jawab Kak Resa.


"Hah?! Kamu mau dijodohkan?" tanya Bram kaget.


"Mungkin, tapi belum tau pasti dikenalkan buat apa. Aku tidak berani bertanya sama Ibu. Tau sendiri kan Ibuku bagaimana? Tidak bisa di bantah atau banyak tanya," jawab Kak Resa.


"Ya sudah. Bergegas pergi mumpung belum sore dan jangan lupa bawa orang buat jagain kamu,"


"Oke, aku pergi dulu ya,"

__ADS_1


Bram mengangguk. Lalu Kak Resa ikut pamit ke aku dan Prita yang sedari tadi hanya bengong memperhatikan mereka ngobrol.


Kalau Kak Resa ke kota P, apa yang menemani Bram cuma aku saja? Aduh...! Bagaimana ini?


"Zanu, apa yang kamu pikirkan? Dari tadi diam saja?" tanya Bram tiba-tiba.


"Eh.. Ini.., yang menemani Kakak di sini siapa saja?" tanyaku kelabakan.


"Kamu saja. Tidak ada siapa-siapa lagi," jawab Bram sambil tersenyum.


"Nggak mau! Masa cuma kita berdua saja di ruangan ini?" jawabku ketus.


"Biar aku saja yang temani Zanu, aku bisa tunda pergi ke kota P. Tapi besok pagi aku harus keluar dari sini," ujar Prita menyela.


"Tidak usah Prita, kamu pergi saja hari ini ke kota P bersama Atif. Nanti ada yang menemani Zanu di sini," jawab Bram dengan cepat.


"Siapa? Apa orang yang aku kenal?" tanyaku penasaran.


"Ada deh. Bentar lagi dia ke sini. Kamu pernah ketemu kok sama orangnya," jawab Bram santai.


"Oh ya udah, kalau ada yang menemani Zanu. Saya bersiap-siap dulu Ketua, menyusun barang yang ada di hotel. Sekalian saya pamit berangkat bersama Atif. Nanti Atif menyusul saja ke hotel," ujar Prita.


"Oke, nanti saya sampaikan ke Atif. Kamu harus tetap waspada Prita,"


"Siap Ketua. Zanu, aku pergi dulu ya. Nanti kita ketemu lagi di tempat kost," izin Prita kepadaku.


"Oke, hati-hati ya Prita," jawabku.


Prita mengangguk. Setelahnya Prita keluar dari ruangan ini dan suasana kembali hening.


Aku mendekati Bram yang masih berbaring.


"Kak, Kak Resa memanggil dengan sebutan Ib. Itu maksudnya apa ya?" tanyaku penasaran.


"Oh itu. Ib itu panggilan masa kecil Resa kepadaku. Singkatan dari Ibram," jawab Bram sambil tersenyum.


Aku diam saja mendengar penjelasan Bram. Tidak berapa lama kemudian, terdengar pintu terbuka. Dan masuklah seorang perempuan yang masih remaja ke dalam ruangan ini.


Dan ternyata dia adalah orang yang pernah kutemui sebelumnya di suatu tempat.


Apa dia yang akan menemaniku tidur malam ini di sini?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2