Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 94 : Kebun Rambutan


__ADS_3

"Assalammu'alaikum,"


"Waa'alaikum salam," jawabku, bergegas membukakan pintu.


"Hai.., sedang menungguku ya?" tanya Bram tersenyum melihatku di balik pintu.


"Nggak juga. Yuk masuk Kak," jawabku cuek.


Bram melangkah masuk dan langsung duduk di sofa ruang tamu.


"Kakak mau minum apa?" tawarku.


"Air putih saja," jawab Bram.


"Tunggu bentar ya,"


Bram mengangguk. Aku menuju ke dapur dan langsung mengambil gelas dan teko air. Aku membawa nampan dan kembali lagi ke ruang tamu.


Ternyata sudah ada Papa di sana. Sepertinya baru mengobrol. Aku menuangkan air dari teko dan kuletakkan di atas meja depan Bram duduk.


"Pa, Zanu ambil barang di atas dulu ya. Silahkan di minum Kak," ujarku.


"Iya nak. Papa ngobrol bentar sama nak Bram," jawab Papa.


Aku melihat sebentar ke arah Bram dan Bram membalas dengan senyuman. Aku langsung bergegas ke atas kamar untuk mengambil ransel dan beberapa peralatan kecil untuk di bawa.


*********


Setelah beberapa menit kemudian, aku turun lagi ke bawah. Kuperhatikan Papa dan Bram sedang bicara serius, entah apa itu.


"Sudah siap semua Pa. Zanu boleh kan ikut Kak Bram?" tanyaku.


"Iya nak, boleh. Izin sama Mama dulu ya," ujar Papa.


"Baik Pa, Zanu panggil Mama,"


Aku menuju ke kamar Mama. Mama abis selesai sholat zuhur.


"Ma, Zanu sama Bram mau pamit. Papa sudah ada di depan," ujarku.


"Iya nak, bentar. Mama lipat dulu mukena ini. Oiya, banyak berdo'a selama di perjalanan nanti," pesan Mama sambil melipat selimut.


"Iya Ma,"


"Yuk, kita keluar," ajak Mama.


Aku mengikuti Mama dari belakang menuju ke ruang tamu.


"Om, Tante, saya pamit berangkat sama Zanu," ujar Bram langsung tanpa basa-basi lagi.


"Oiya nak, hati-hati di jalan. Titip Zanu ya," jawab Mamaku langsung.

__ADS_1


"Jangan ngebut ya. Nanti kalau sudah sampai kost beri kabar ya nak," Papa menimpali.


"Iya Pa. Zanu pergi dulu ya,"


Aku dan Bram menyalami Papa dan Mama. Tiba-tiba Zuri nongol dari ruang keluarga. Zuri langsung menyalami aku dan Bram.


Papa, Mama dan Zuri mengantarkanku sampai teras depan. Terlihat ada tiga mobil, pasti Bram ikut membawa anggotanya.


Aku dan Bram masuk ke dalam mobil. Setelah melambaikan tangan, mobil akhirnya melaju menuju tujuan yaitu ke kota P.


*********


Selama perjalanan, Bram selalu membuatku tertawa dengan cerita-cerita lucunya. Sekali-kali Bram menggenggam tanganku.


Satu jam kemudian, dari kejauhan Bram melihat ada yang jual semangka di pinggir jalan.


"Zanu, kamu mau semangka?" tanya Bram.


"Lho, kita kan lagi jalan. Emang boleh berhenti?" tanyaku balik.


"Ya boleh dong. Pak Jack, saya mau beli semangka, tolong hentikan mobilnya," perintah Bram.


"Baik Bos,"


Mobil berhenti di pinggir jalan. Bram mengajakku menyebrangi jalan sambil menggenggam tanganku.


"Aku tau kamu suka buah-buahan. Semangkanya langsung dipotong-potong saja ya, supaya bisa langsung di makan," ujar Bram.


Aku manut menuruti keinginan Bram. Aku memang suka buah-buahan, terutama semangka. Aku tidak menyangka Bram memperhatikan kesukaanku sampai sedetail itu.


Setelah membeli semangka, kita berdua menyebrang jalan lagi menuju ke mobil.


Mobil melaju kembali. Aku, Bram dan Pak Jack makan semangka. Semangkanya manis dan gurih karena baru di petik si penjual dari kebun.


"Zanu, aku juga bawa rambutan sekarung. Aku titip sama teman kemaren," ujar Bram sambil makan semangka.


"Ha?"


"Rambutannya ada di bagasi mobil. Nanti kamu bawa ke kost, bisa dibagikan ama teman-teman,"


"Nggak usah repot-repot Kak," jawabku.


"Nggak repot kok, buat kamu apa sih yang nggak? Iya kan Pak Jack," goda Bram kepadaku.


"Iya Non, jangankan rambutan, sama kebun-kebunnya di beli Bos khusus buat Non," Pak Jack membela Bram sambil tersenyum.


"Ah, Pak Jack bisa aja," ujarku sambil tersenyum.


"Lha, benar itu apa yang dikatakan Pak Jack. Kamu mau kebun rambutan? Biar aku pesankan sama managerku. Kamu mau lokasinya di mana?" tanya Bram sambil menoleh ke arahku dengan serius.


"Aduh, nggak usah Kak. Udah, rambutan sekarung itu biar aku bawa nanti ke kost," aku menolak penawaran Bram secara halus. Lagipula ini cuma gurauan semata.

__ADS_1


Tiba-tiba Bram mengambil ponselnya. Entah menghubungi siapa, aku tidak terlalu memperhatikan. Aku masih santai menikmati sisa semangka ditanganku.


"Siang juga. Tolong kamu beli tanah satu hektar di kota B dan tanami rambutan. Kamu hubungi ahlinya dan tanam bibit rambutan binjai, rapiah. Semua atas nama Zanu, nanti saya kirim berkas-berkasnya," ujar Bram.


Ha!! Apa aku tidak salah dengar? Glek!! Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam?!


Mataku melotot ke arah Bram, seakan tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Sedangkan Bram hanya tersenyum melihatku sambil mengelus kepalaku.


Klik!


Bram mematikan ponselnya. Dengan santainya Bram mengambil lagi semangka yang ada di kantong plastik.


"Sudah sayang, sekarang kamu sudah punya kebun rambutan sendiri sekalian sama tanahnya. Nanti aku yang urus surat tanah kamu, cukup siapkan KTP saja, oke," ujar Bram.


"Wah! Selamat Non, sudah punya kebun sendiri. Nanti kalau panen, saya bantuin ya Non. Benar kan apa yang Bapak bilang, he..he..he..," ujar Pak Jack sambil menyetir.


"Tapi Kak, apa itu tidak terlalu berlebihan? Apa yang dikatakan Papa sama Mama nanti? Aku kok ngerasa seperti cewek matre ya?" tanyaku ke Bram.


"Matre dari mana? Kan aku yang belikan, bukan karena kamu yang minta. Sudahlah, aku ingin melihat kamu senang," ujar Bram.


"Tapi kesenanganku bukan semuanya untuk dibelikan Kak. Aku nggak mau terima begitu saja. Lagipula kita masih pacaran, janganlah terlalu berlebihan. Aku jadi merasa bisa di beli,"


"Ssttt..! Kamu jangan bicara seperti itu! Tarik ucapanmu Zanu! Jangan pernah bicara seperti itu lagi! Ingat itu!!" Bram menghardikku. Terlihat amarah Bram membara dari tatapan matanya.


"Tapi Kak....," aku terdiam sesaat. Bingung mau mengungkapkan apa lagi.


"Tidak ada tapi-tapi Zanu, semuanya sudah aku atur. Kamu tidak akan pernah tau sebelum nanti kedepannya aku yang memberitaukan semuanya. Jadi tolong, jangan kamu bahas lagi, oke," tegas Bram.


"Maksud Kakak apa ya? Aku tidak mengerti sama sekali? Apa ada sesuatu yang Kakak sembunyikan dariku? Aku merasa ada yang berubah saat setelah Kakak menerima telepon dari orang tua Kakak waktu itu di rumah sakit. Tolong beri tau aku Kak, apa itu?" tanyaku penasaran.


"Tidak ada Zanu. Orang tuaku hanya memberitau akan ke Indonesia jelang aku wisuda nanti," jawab Bram dengan suara yang mulai merendah.


"Nggak, aku nggak percaya kalau hanya itu yang dibicarakan. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang Kakak sembunyikan. Jangan bohong Kak," tanyaku lagi.


Rasa penasaranku semakin memuncah. Aku tidak tahan dengan penasaranku selama ini.


Tiba-tiba Bram menarik bahuku dan menyenderkan kepalaku di atas bahunya. Aku kaget! Ada apa dengan Bram?


Kenapa aku merasa yakin, ada sesuatu yang akan terjadi kedepannya.


"Zanu, apapun yang terjadi, aku tetap mencintai Kamu. Tetaplah menjadi Zanuku, di saat waktu yang tepat aku menghampirimu," ujar Bram dengan lembut di telingaku.


Deg! Apa maksud Bram? Apa dia akan pergi? Apa yang terjadi? Please..


"Oiya, apa kamu bisa berenang? Dirumahku ada kolam renang, kamu bebas berenang di sana," ujar Bram, dengan cepat mengalihkan kebingunganku.


"Aku tidak bisa berenang Kak," jawabku.


"Pakai pelampung saja, nanti aku yang dorong. Aku juga sudah datangkan chef khusus ke rumah, nanti kamu bisa request makanan apa saja yang kamu suka. Oke sayang," ujar Bram dengan semangat.


Aku hanya mengangguk. Kepalaku masih dihantui dengan banyak pertanyaan, yang tidak mungkin di bahas Bram kembali.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2