
"Hallo...?"
Terdengar suara Atif di seberang ponsel. Untunglah teleponku di angkat.
"Hallo Atif.., Ini saya. Tolong kamu hubungi Paman Ketua segera untuk ke rumah sakit. Ketua harus operasi dan minta persetujuan keluarganya. Cepat ya Atif!" ujarku dengan sedikit panik.
"Baik Non," jawab Atif.
Klik!
Aku mematikan ponsel Bram. Aku masuk lagi ke ruang IGD. Di sana masih kulihat Bram sedang di bersihkan lukanya sama perawat.
Jantungku masih terasa berdegup kencang yang menandakan kecemasanku. Aku cemas jika Paman Bram tidak cepat ke sini, nasib Bram bagaimana? Sedangkan Bram harus segera ditangani.
Bram, tolonglah bertahan.
Detik demi detik dan menit demi menit berlalu. Entah kenapa aku mulai merasa kantuk atau lelah?
Tiba-tiba paman Bram dan istrinya masuk ke dalam menghampirku.
"Bagaimana keadaan Bram nak Zanu?" ujar Paman ke padaku dengan perasaan cemas.
"Kata dokter harus di operasi Paman, mengingat lukanya terlalu banyak, kemungkinan besar ada luka dalam," jawabku lirih.
"Ya Tuhan, kasihan Bram. Semoga tidak terlalu parah dan bisa pulih," ujar Bibi Bram.
Terlihat raut wajah Bibi dan Paman yang kaget, sedih dan khawatir melihat keadaan Bram.
**********
Untung dokter segera datang menghampiri kita yang sedang bingung dan gelisah. Dokternya kaget saat melihat Paman Bram.
"Lho? Bapak sama Ibu sedang ngapain di sini?" tanya dokter sambil tersenyum sembari menyalami Paman dan Bibi.
"Ini Dok, melihat keadaan keponakan saya Bram," jawab Paman sedikit bingung.
"Ooo... Jadi Bapak pamannya Pak Bram ya? Aduh Pak, masih ingat saya tidak?" tanya dokter lagi.
__ADS_1
"Waduh, maaf Dok, saya lupa-lupa ingat," jawab Paman makin bingung.
"Ya jelas Bapak tidak ingat saya. Dulu saya pakai kacamata, sekarang nggak lagi. Saya Danang Pak, yang dulu Bapak menyediakan tempat, sampai saya selesai kuliah sepuluh tahun yang lalu," jawab dokternya dengan antusias dan perasaan senang.
"Ooo.. Nak Danang. Apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu," ujar Paman sambil memeluk dokter.
"Nak Danang, kita pangling lho. Alhamdulillah kita bersama bisa berjumpa lagi," ucap Bibi.
"Iya Bapak Ibu. Saya senang sekali. Saya bersyukur dahulu Bapak sama Ibu mengurus saya selama kuliah. Kalau nggak ada Bapak sama Ibu, mungkin kuliah saya tidak bisa dilanjutkan,"
"Ah nak Danang, itu memang sudah kewajiban kita untuk bisa membantu orang yang sedang berkesusahan. Kebetulan juga tempat tinggal kita dekat dengan kampus kedokteran," jawab Paman.
"Jadi, Pak Bram ini keponakannya Bapak ya? Aduh, coba Pak Bram mau cerita-cerita, pasti saya sudah dari tahun-tahun lalu bisa bertemu Bapak sama Ibu. Saya adalah dokter pribadi Pak Bram, yang selalu menangani kesehatan beliau. Pak Bram kemaren habis operasi dan sekarang saya ikut ke daerah ini untuk mengamati kesehatannya. Tapi ternyata ada kejadian yang lebih parah lagi dan untungnya saya punya akses di rumah sakit daerah sini," ujar dokter panjang kali lebar.
Ternyata Bram membawa tim medisnya sekaligus dokter ke sini? Mantap juga ya.. Gumamku.
"Iya Dok, bagaimana perkembangan selanjutnya? Berikan yang terbaik untuk penyembuhan Bram. Beliau adalah keponakan kesayangan saya. Sekarang apa yang harus saya lakukan?" tanya Paman.
"Maaf Pak, sebaiknya kita mengobrol sebentar di ruangan saya. Mari..," jawab dokter sambil mempersilahkan masuk ke dalam ruang yang tertutup.
Paman dan Bibi mengikuti dokter. Aku tidak tinggal diam, aku juga mengikuti mereka. Aku ingin tau tentang Bram, apa yang sebenarnya di alami Bram.
*********
Deg! Ya Tuhan.. Apakah Bram baik-baik saja? Bisakah dia sembuh?
Aku syok mendengar keterangan dokter. Terlalu banyak luka di tubuh Bram.
Paman dan Bibi terdiam dan merasa sedih atas apa yang terjadi dengan Bram.
"Ya sudah Dok, lakukan saja yang terbaik. Saya menyetujui apa saja yang dibutuhkan Bram saat ini," ujar Paman.
"Baik Pak, silahkan tanda tangan di sini untuk persetujuan atau pengesahan tindakan operasi dari keluarga Pak Bram,"
Dokter menyodorkan kertas-kertas untuk ditandatangani Paman.
Setelah urusan izin dan persetujuan selesai, semua keluar dari ruangan. Bibi memelukku. Pasti Bibi mengerti bahwa aku sangat terpukul akan hal ini.
__ADS_1
"Kita do'akan ya nak, semoga Bram operasinya lancar dan segera sembuh," ujar Bibi kepadaku.
"Iya Bibi," jawabku singkat.
Terlihat Bram sedang dipersiapkan perawat untuk di bawa keruang operasi. Dokter juga mulai bersiap-siap.
"Pak, operasinya berjalan sekitar dua jam. Nanti saya ke sini jika sudah selesai," ujar dokter ke Paman.
"Iya Dok, kita tunggu saja," jawab Paman.
Dokter mengangguk. Lalu hospital bed Bram di bawa oleh perawat menuju ruang operasi.
Tatapanku nanar melihat Bram di bawa oleh mereka. Semoga Bram baik-baik saja.
*********
Sekitar lima belas menit di dalam, aku memutuskan untuk keluar mencari angin. Cape' juga duduk terlalu lama.
Di luar aku menemukan Atif dan bodyguard lainnya yang sedang duduk santai. Aku memanggil Atif untuk bertanya tentang kejadian yang sebenarnya.
"Iya Non?" tanya Atif.
"Bagaimana tadi, apa sudah di urus semua ke polisi?" tanyaku.
"Sudah Non. Sudah di urus semua langsung Kapolda yang turun tangan. Tinggal menunggu keputusan selanjutnya dan menunggu Bos pulih. Karena Bos adalah saksi kunci untuk nanti dihadirkan di persidangan," jawab Atif.
Aku mangut-mangut. Jelaslah kalau Kapolda yang langsung menangani, lha paman Bram satu lagi, Kapolri. Pasti langsung di urus keponakannya.
"Kalau boleh tau, kenapa Ketua begitu marahnya terhadap Gilang? Apa yang sudah terjadi sebelumnya?" tanyaku penasaran.
"Begini Non. Sebenarnya Bos melarang kita untuk cerita ke Non Zanu. Karena Bos tidak mau Non Zanu khawatir atau ikut campur dengan masalah Bos. Masalah Bos tidaklah main-main karena banyaknya orang jahat di luar sana yang ingin menjatuhkan Bos. Dan mengancam nyawanya. Bos selama ini tidak mau memiliki pasangan, dikarenakan takut nanti ikut terseret dan berakibat fatal. Tapi entah kenapa, dengan Non Zanu, Bos jadi berbeda dan bersekukuh untuk mendekati Non. Bahkan ingin sekali Non dijadikan istri oleh Bos," ujar Atif.
Atif belum menjawab pertanyaanku. Tapi pernyataan Atif membuatku kaget, karena ternyata aku adalah orang yang special buat Bram. Tapi di sisi lain, Bram juga takut kehilanganku.
"Bos pikir, menjalin hubungan dengan Non disekitaran kampus saja, bisa aman dari ancaman. Tapi ternyata Bos salah. Bahkan terjadi di luar dugaan Bos. Gilang itu punya pacar bernama Lora. Lora tidak terima saat Bos memarahinya dan di pecat dari anggota BEM. Non tau kan Lora itu siapa?" tanya Atif balik.
Deg! Lora..? Lora..? Aku berusaha mengingat nama itu. Bram pernah menyebut nama itu, tapi dimana ya?
__ADS_1
Aku berusaha keras untuk mengingat nama itu. Bram hanya menyebut sekali saja dan tidak pernah membahasnya.
...****************...