Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 126 : Cafe Baru


__ADS_3

Magrib sudah berlalu.


Aku sudah bersiap-siap dan menunggu Bram di teras depan.


Tidak berapa lama kemudian, Bram datang. Ia turun dari mobil dan menghampiriku.


"Assalammu'alaikum,"


"Waa'alaikum salam," jawabku.


"Kok kamu tunggu di luar? Nggak digigit nyamukkah?"


"Iya, nyamuknya Kakak, he..he..," candaku.


"Udah mulai nih ya..," Bram senyum-senyum.


"Kamu sudah siap kan? Aku izin dulu sama Om dan Tante," Bram mengajakku ke dalam.


Aku memanggil Papa dan Mama untuk menemui Bram.


"Selamat malam Om, Tante. Saya izin bawa Zanu keluar malam ini," ujar Bram.


"Silahkan nak Bram, tapi jangan terlalu malam pulangnya," jawab Papaku.


"Iya Om, paling lama sekitar dua jam, InsyaAllah saya antar kembali Zanu selamat sampai rumah,"


Papa dan Mama mengangguk. Aku dan Bram keluar dari rumah menuju ke mobil Bram.


Tumben Mamaku nggak beri waktu, malah manut menuruti Bram, hi..hi..hi..


Di dalam mobil, aku gelisah ingin menanyakan sesuatu perihal Lutfa ke Bram. Tapi aku takutnya mengganggu pikiran Bram saat kencan kita yang kedua ini.


"Ada apa sayang, diam dari tadi? Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" tanya Bram menoleh ke arahku.


"Gimana ya, takutnya jadi kepikiran sama Kakak," Aku ragu-ragu untuk menjelaskannya.


"Ayo cerita saja, tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa menghadapi banyak masalah,"


"Gini, tadi siang abis pulang dari showroom, Papa ngerem mendadak hampir nabrak orang. Dan ternyata orang itu Lutfa, aku kaget dong. Kenapa si Lutfa itu bisa nyampe di kota ini? Aku jadi takut," penjelasanku.


"Oiya? Setau aku dia tidak ada saudara atau keluarga di kota ini. Apa mungkin lagi liburan atau bertemu sama temannya, bisa saja kan?" Bram berusaha menghiburku dengan statment positifnya.

__ADS_1


"Dia bawa Bodyguard lho, sama saat kita ketemu di kantin kampus waktu itu. Papa bilang, Bodyguardnya menjelaskan kalau Lutfa ini keluar tanpa sepengetahuan mereka. Ngapain coba, dia keluar sendirian dengan kursi roda? Padahal punya Bodyguard yang siap membantunya,"


"Sayang, kamu jadi kepikiran ya?" tanya Bram.


"Iyalah, siapa tau dia mau balas dendam ke aku,"


"Baiklah, kalau kamu merasa was-was, aku menyuruh anggota untuk menyelidikinya. Lagipula kamu kan punya bodyguard juga, bedanya mereka hanya memantau dari jauh,"


"Oiya? Masih? Sampai kapan bodyguard Kakak itu memantauku?" tanyaku.


"Sampai nanti aku kembali padamu. Sekarang kita lupakan dulu tentang ini, aku ingin membahas mobil barumu. Selamat ya," Bram tersenyum.


"Selamat buat apa Kak?"


"Kamu sudah punya mobil dan aku tidak khawatir lagi melihatmu naik angkot, bus atau motor. Mobilmu di mana ya?"


"Ada di dalam garasi Kak, kan muat dua mobil,"


"Oke, besok jadi kan belajar nyetir?" tanya Bram lagi.


"Jadi, jam siang. Kakak mau kerumah ya?"


"Iya, tapi abis ashar. Besok kita keluar lagi, aku mau main ke pantai bersama kamu, bisa kan?"


"Siap Nona. Oiya, kita mau kemana nih?"


"Ada cafe baru buka, kita ke sana saja,"


"Oke, lets go," Bram menambah kecepatannya mobilnya.


*********


Mobil Bram masuk ke dalam halaman cafe dan parkir di tempat yang sudah disediakan. Kita turun dan langsung mencari tempat duduk yang nyaman yaitu di pinggir kolam.


Karena cafenya masih baru, semua barang yang ada di sana terlihat serba kinclong. Cafe ini rekomendasi dari adikku Zuri.


"Silahkan Bang, Mbak, di pesan dulu," salah satu pelayan menyodorkan buku menu, kertas dan pulpen.


Bram mengambilnya. Kita mulai memesan makanan yang ada di dalam daftar menu. Aku dan Bram memesan nasi goreng dan jus jeruk, plus kopi susu. Kertas kecil kita serahkan ke pelayan yang sedari tadi menunggu pesanan kita.


"Zanu, besok jangan lupa serahkan fotocopy ktp kamu ya, sekalian kartu keluarga. Besok ada yang urus surat tanah kamu di kota B. Nanti, tanah kamu itu akan di tanami rambutan dan kubuatkan juga pondok kecil di dekat kebun untuk kamu istirahat. Yang nanam dan jaga kebun kamu sudah ada orangnya," jelas Bram.

__ADS_1


"Hah?! Sampai sedetail itu Kakak mengurusnya? Nanti kalau Kakak ke Amerika, tetap ya ada yang mengurus?" tanyaku.


"Tetap Zanu. Walaupun aku sudah nggak ada, tetap kebun kamu ada yang mengurusnya. Kecuali atas permintaan kamu sendiri untuk menghentikannya. Kalau bisa jangan lepaskan sampai aku menemui kamu lagi, walau bertahun-tahun lamanya. Itu pesanku," Bram serius menjelaskannya kepadaku. Tapi pernyataannya tersebut justru membuatku terkejut.


"Kok? Kenapa Kakak bilang bertahun-tahun? Bukannya orang tua Kakak tidak menyukaiku? Kenapa harus bertahun, apa kita tidak bertemu dalam waktu yang lama?"


"Iya Zanu, kemungkinannya seperti itu. Maafkan aku," Bram tertunduk.


"Permisi Bang," ucap dua orang pelayan yang sedang membawa pesanan kita.


Pelayan langsung meletakkan makanan-makanan tersebut di atas meja. Setelah selesai, mereka beranjak pergi menuju dapur cafe.


Aku dan Bram mulai menyantap makanan. Tidak banyak yang kita obrolkan di saat makan masih berlangsung.


********


Aku dan Bram sudah meyelesaikan makan. Bram bersantai sejenak menyeruput kopi susu. Sesekali aku melihat keadaan sekitar. Tiba-tiba aku melihat Lutfa dan bodyguardnya masuk ke dalam cafe. Karena tempat yang diduduki saat ini tertutup tirai-tirai, Lutfa tidak akan jelas melihat kita berdua berada di cafe ini.


"Kak! Itu Lutfa!" aku memanggil Bram dengan menyentil bahunya.


"Mana?" Bram kaget dengan info yang aku berikan.


"Itu! Dia lagi melihat-lihat tempat. Lho..lho, dia mau lewat sini Kak, bagaimana ini?" aku panik dan bingung.


"Santai saja sayang, kita duduk menghadap kolam saja, biar dia tidak melihatnya," jawab Bram dengan santainya.


Aku cepat-cepat merubah posisi. Entah kenapa Bram memeluk bahuku dari belakang dan ia tersenyum-senyum. Aku tidak bisa mengelak dari kelakuan Bram dikarenakan Lutfa hampir melewati tempat kita.


Dirasa Lutfa sudah lewat, aku mendorong Bram untuk menjauh.


"Apaain sih! Ini namanya mengambil kesempatan dalam kesempitan," gerutuku.


"Nggak apa-apalah, kan cuma peluk bahu kamu saja. Biar akting kita alami," goda Bram sambil senyum-senyum kemenangan.


"Kan nggak perlu peluk-peluk segala!" aku masih cemberut.


Bram mengacak-acak poniku.


"Sudah, maafin aku kalau tindakan tadi membuatmu marah. Tapi aku bahagia walau kamu anggap itu kesempatan dalam kesempitan. Karena dua hari lagi kita sudah tak bersama, aku ingin sekali menggodamu dan membuatmu cemberut begitu. Jadi terlihat lucu dan menggemaskan, sama seperti saat kita pertama bertemu dan pertemuan berikutnya. Mungkin, jika nanti kita bertemu kembali, semua akan berbeda. Udah, kita pulang yok," terlihat mata Bram mulai berkaca-kaca, ia urungkan dengan cara mengajakku pulang.


Aku menuruti saja tarikan tangan Bram dan entah kenapa aku tidak memperdulikan lagi kehadiran Lutfa di cafe itu. Perasaanku berubah alur, takut akan kehilangan Bram.

__ADS_1


Atau takut Bram tidak akan pernah kembali lagi.


...****************...


__ADS_2