Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 107 : Teman Lama


__ADS_3

"Mereka lagi!"


Bram terlihat geram dan marah. Baru saja kasus Gilang selesai, sekarang adiknya. Apakah Sacia itu balas dendam karena kakaknya dipenjarakan?


Ada kejadian apakah di balik dendamnya kakak beradik itu ke keluarga Prita ya? Pasti ceritanya sangat pelik, sehingga mereka tidak segan-segan untuk membunuh. Aku kenapa jadi kepo?


"Atif, kamu dan Zanu tunggu di sini, saya mau memanggil dokter Cahyo," ujar Bram.


"Biar saya saja Bos," Atif menawarkan diri.


Bram mengangguk dan membiarkan Atif pergi mencari dokter Cahyo.


"Zanu, setelah Dokter memberikan pengarahan, kita pulang ya. Aku antar kamu ke kost," terlihat raut wajah Bram gelisah.


"Iya Kak,"


Suasana hening. Hanya terdengar bunyi EKG dan alat oksigen.


**********


Dari kejauhan terlihat Atif bersama dokter Cahyo menuju ICU.


"Pak Bram, kita semua langsung saja ke ruangan saja," ujar dokter Cahyo.


"Oo, baik Dok," jawab Bram.


Dokter Cahyo berjalan menuju ke sebelah ruang ICU, ada ruang lain di sana. Setelah dipersilahkan masuk, kita mengambil posisi duduk di tempat masing-masing.


Penjelasan demi penjelasan terjabar dengan baik dan kita harus bisa memahami situasinya. Ada hal-hal yang tertentu yang harus dihindari saat menghadapi pasien seperti kondisi Prita saat ini.


Setelah semuanya sudah dijelaskan oleh dokter Cahyo, kita kembali lagi ke ruang ICU.


"Jadi begitu kesimpulannya Pak Bram. Jika nanti Nona Prita mau di bawa ke Amerika, saya punya referensi dokter terbaik di sana. Kebetulan beliau adalah sahabat baik saya, namanya Dokter Wahyu Abilom,"


"Baik Dok, nanti saya konfirmasi lagi saat Prita akan di bawa ke Amerika. Terima kasih Dok," Bram menyalami tangan dokter Cahyo.


"Sama-sama Pak Bram. Saya permisi dulu, jika ada sesuatu bisa hubungi saya melalui perawat jaga di sini,"


Bram mengangguk. Dokter Cahyo pergi keluar ruang ICU.


"Atif, saya dan Zanu pulang dulu. Nanti saya utus karyawan lain untuk menemani kamu di sini. Sekalian bodyguard untuk berjaga-jaga di rumah sakit. Kamu harus waspada dan lihat keadaan. Urusan perempuan itu besok saya proses," Bram masih terlihat geram, terlihat dari sorot matanya.


"Siap Bos,"


Aku dan Bram berlalu dari ruang ICU. Bram mengantarkan aku pulang ke kost. Sepanjang perjalanan, aku tidak berani bersuara duluan.


"Kenapa kamu diam saja?" tanya Bram tiba-tiba.


Aku kaget!

__ADS_1


"Tidak ada, cuma bingung mau menanyakan tentang apa?" aku balik bertanya.


"Maaf Zanu, hari ini pikiranku sedang mumet. Besok ini aku mau sidang dan wisuda. Tapi banyak sekali yang harus aku urus, rasanya aku lelah," Bram mengeluh.


Baru kali ini aku melihat Bram lemah dan tidak bersemangat. Apakah selelah itu? Apa sebesar itu masalah yang dihadapinya? Biasanya aku melihat Bram tegas, sangar dan dingin.


Reflek aku memeluk Bram yang sedang menyetir.


"Sayang, yang kuat ya. Aku yakin kamu bisa melewati ini," tidak tega rasanya aku melihat keadaan Bram. Aku juga tidak berani bertanya lebih jauh lagi.


"Iya, semoga aku bisa menyelesaikan semuanya. Tapi hal yang terberat adalah jika aku kehilangan kamu Zanu," Bram mengecup rambutku dari samping.


"Apakah kita akan berpisah?" kalimat inilah sebenarnya yang ingin aku tanyakan selama ini. Aku beranikan bertanya dengan suara sedikit bergetar.


"Bisakah kita jangan membahas ini dulu?" terdengar suara Bram sedikit meninggi, apakah dia marah?


"Baik Kak, aku tidak akan bertanya-tanya lagi. Apapun keputusan Kakak, jika itu yang terbaik aku mundur," aku tidak kalah sengit dengan ucapan Bram.


Rasanya sudah cukup bagiku untuk main teka-teki, jika jawabannya saja tidak pernah kudapatkan.


Kamu tau Bram, aku berusaha merenda hatiku hari demi hari agar kuat, jika kenyataannya nanti kita akan berpisah. Aku tidak ingin kamu melihatku sebagai perempuan yang cengeng dan manja. Walau hatiku sedih dan menangis.


"Maaf Zanu, aku sedang berusaha. Jadi tolong tunggu keputusan dan penjelasanku,"


Aku diam dan menarik diriku dari pelukan Bram. Aku tau Bram kaget dan tidak bisa berbuat apa-apa. Terlihat jelas pikiran Bram sedang kalut, aku tidak berani bersuara lagi.


"Zanu, apa kamu lapar? Kita belum makan malam. Bagaimana kalau kita pergi ke cafe mencari makanan. Sekalian aku mau pesan coffee," Bram melirik dan menunggu responku.


"Tolong kamu jangan cemberut malam ini Zanu. Aku ingin menikmati waktu bersamamu,"


Bram membelokkan mobilnya ke sebuah cafe elite. Terletak bersebelahan dengan hotel bintang lima. Banyak pemudi pemudi yang nongkrong di sana, berpasangan atau berkelompok.


Aku dan Bram masuk ke dalam cafe, di sambut dua karyawan di depan pintu.


"Silahkan Bos," ujar salah satu karyawan.


Bos? Apa cafe ini milik Bram?


Karyawan cafe mempersilahkan aku dan Bram ke suatu ruangan yang berbeda. Tapi tetap terhubung dengan cafe, hanya di sekat dengan kaca transparan berukuran besar. Terlihat jelas para pengunjung hilir mudik dari balik kaca tersebut.


Karena ruangan ini beda sendiri, otomatis aku dan Bram jadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, ruangan khusus ini berukuran cukup luas, hanya di isi satu meja saja. Berbeda kontras dengan keadaan disekitarnya. Tapi cafe ini tetap ramai dikunjungi pengunjung.


"Kamu mau makan apa?" Bram memberikan menu.


"Aku mau martabak mesir Kak dan minumannya jus alpukat," jawabku.


"Oke," Bram menekan sebuah tombol kecil yang ada di atas sudut meja.


Tidak beberapa lama kemudian datang satu karyawan dan satu lagi pria memakai setelan jas berwarna hitam.

__ADS_1


"Selamat datang Bos," ujar pria itu.


"Pesan martabak mesir, nasi ayam bakar, jus alpukat, jus jeruk dan coffee. Jangan lupa potongan buah-buahan,"


"Siap Bos, segera dibuatkan pesanannya. Permisi Bos,"


Bram mengangguk. Pria tadi keluar dan tinggallah karyawan tadi yang sibuk menata peralatan makan di atas meja. Tidak lupa musik melow dihidupkan. Setelah tugasnya selesai, karyawan tersebut keluar.


"Yang pakai jas itu siapa Kak?" tanyaku sambil melihat sekeliling.


"Manager cafe ini,"


"Kok tau sama Kakak? Dan kenapa hanya kita yang berada di ruangan ini?" tanyaku lagi.


"Kamu suka tidak duduk di sini? Atau kamu mau duduk di luar ruangan ini?" Bram bukannya menjawab pertanyaanku, malah mengalihkan pertanyaan.


"Di sini saja Kak,"


"Kapan-kapan kita ke sini lagi. Aku mau duduk di luar menikmati suasana malam. Kamu mau menemaniku Zanu?" tanya Bram.


"Kapan?"


"Setelah aku sidang. Aku ingin merayakannya bersamamu,"


"Oke, tapi jangan sampai kemalaman,"


Bram tersenyum.


Tiba-tiba mataku tertuju ke pintu masuk cafe. Ada dua orang yang kukenal sedang celingak celinguk mencari tempat. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat mereka.


Masuk lagi dua orang pria mengikuti mereka berdua. Sepertinya mereka sedang date bersama pasangannya. Atau mereka berempat hanya berteman?


"Ada apa sayang? Kamu dari tadi melihat ke pintu masuk," Bram ternyata memperhatikanku.


"Itu Kak temanku. Apa aku boleh menghampiri mereka? Sudah lama sekali aku tidak berjumpa,"


"Yang laki-laki itu?"


"Bukan, yang perempuannya. Yang laki-laki mungkin pacar temanku,"


"Bawa saja mereka ke sini, gabung sama kita," ujar Bram.


"Hah! Beneran? Apa aku tidak salah dengar? Tapi kan..," aku berhenti bicara sejenak. Tidak enak rasanya teman-temanku bergabung di sini. Takutnya mereka tidak bisa beradaptasi dengan Bram yang super dingin.


"Iya tidak apa-apa. Aku lihat kamu senang bisa bertemu teman-temanmu. Aku jadi ikut senang,"


"Oke. Aku ke sana dulu memanggil mereka. Semoga mereka mau bergabung di sini," aku antusias dan tidak sabar untuk menemui teman-temanku.


"Silahkan sayang, aku tunggu di sini,"

__ADS_1


Aku bergegas keluar dan berjalan ke arah teman-temanku.


...****************...


__ADS_2