
Mobil masuk ke suatu gerbang yang berdiri kokoh, terdapat patung singa berukuran besar di kiri dan kanan depan gerbang.
Terdapat juga banyak pohon-pohon palem yang menjulang di pinggir gerbang. Dihiasi juga bunga-bunga mawar berwarna merah, di dekat pohon palem. Taman terindah yang pernah aku lihat.
Saat masuk, di tengah jalan terdapat kolam kecil berbentuk bulat. Kolam tersebut mengeluarkan air mancur dan terdapat bunga kecil-kecil dipinggir kolam.
Mobil Bram mengambil jalur kanan. Tidak jauh dari kolam kecil tadi, terdapat gerbang lagi yang terdiri dari pagar besi berukuran besar dan tinggi. Pagar besi itu tiba-tiba terbuka sendiri saat Pak Jack menghentikan mobilnya di depan pagar.
Aku perhatikan dengan seksama dan aku langsung menjadi heran dan katrok, ha..ha..ha..
Ini di mana ya? Apa ini rumah Bram? Besar dan mewah sekali.
Mobil melaju lagi, terlihatlah rumah yang super mewah dan megah. Ada empat pilar yang tinggi dan besar menghiasi rumah tersebut. Rumahnya didominasikan cat warna putih. Hamparan rumput hijau dan bunga berwarna merah membuat suasana rumah ini seperti sedikit dark.
Mobil berhenti di depan teras rumah. Pintu rumah segede gaban tiba-tiba terbuka. Keluarlah ibu-ibu dan para gadis memakai seragam berwarna merah hitam, membentuk barisan dari pintu masuk sampai ke mobil Bram.
Aku takjub, seperti berada di negeri dongeng. Tapi ini nyata ada, tepat di depan mataku sendiri.
"Ayo Zanu, kita turun," ajak Bram sambil meraih tanganku.
Bram membuka pintu mobil, aku mengikutinya dari belakang. Aku hanya diam saja sedari tadi, takut salah untuk bertanya, atau takut dengan ke katrokanku sendiri, entahlah.
"Selamat datang Bos, Non Zanu," sambut seorang Bapak setengah baya dengan senyum ramahnya.
Oh, ternyata ini rumahnya Bram.
Bram dan aku menyalami Bapak tersebut.
"Kenalkan Zanu, Bapak Tio, yang menjaga dan mengatur semua urusan di rumah ini," ujar Bram.
"Salam kenal Non, nama saya Pak Tio. Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Non Zanu," ucap Pak Tio.
"Salam kenal juga Pak, saya Zanu. Bapak tau darimana ya, kalau saya Zanu?" tanyaku dengan lugu.
"Cuma Non satu-satunya yang di bawa Bos ke rumah ini. Kita semua juga tau kalau hari ini Non mau mampir ke sini. Iya kan dayang-dayang cantik?" teriak Pak Tio ke arah semua perempuan yang sedang berbaris.
"Iya Non Zanu, selamat datang...!" jawab mereka serempak dengan senyuman.
OMG! Apa lagi ini?! Sekeren inikah yang menyambutku? Apa aku sedang bermimpi ya?
Bangun Zanu! Jangan malu-maluin deh..
__ADS_1
"Ayok kita masuk ke dalam," lagi-lagi Bram meraih tanganku tanpa peduli dengan banyak mata yang melihat.
"Kak, jangan pegang-pegang. Ih, malu tau!" aku berbisik protes ke Bram.
"Tidak apa-apa, santai saja," bisik Bram.
**********
Cling!!
Di dalam rumah aku melihat dua pilar lagi di pinggir dua anak tangga yang berbentuk huruf J. Semua perabot di dalamnya benar-benar mewah. Tapi, semua warna perabot terdiri dari warna hitam dan putih.
Ada beberapa pot bunga yang menghiasi setiap sudut rumah, lagi-lagi bunga mawar berwarna merah.
Rasa penasaranku kembali muncul, kenapa semuanya hanya berwarna hitam, putih dan merah? Rumah ini menurutku aneh.
Bram membawaku ke ruang tengah, melewati ruang tamu. Bram duduk di salah satu sofa yang tersedia, aku ikut duduk di sebelah Bram.
"Bagaimana? Kamu suka dengan rumahku? Nanti kita jalan lagi ke belakang ya, aku istirahat sebentar di sini. Tubuhku terasa capek," ujar Bram.
Glek! Baruku sadari kondisi tubuh Bram yang belum sepenuhnya pulih habis operasi.
"Kak, bawa rebahan dulu ya. Kakak mau rebahan di sofa ini atau di kamar? Biar Pak Tio bantuin bawa ke kamar," ujarku dengan kekawatiran akan kondisi Bram.
"Suka Kak. Rumah ini terlalu besar dan luas menurutku. Tapi kok warnanya hitam dan putih saja Kak? Hanya bunga-bunganya yang berwarna, itupun merah semua," jawabku sambi membantu Bram rebahan di sofa.
Aku mengambil bantal sofa untuk alas kepala Bram.
"Aku penyuka warna hitam dan putih, karena warna tersebut netral. Sedangkan warna merah itu simbol keberanian dan garang. Cocoklah dengan karakterku, ha..ha..ha..," ujar Bram dengan bangga.
"Apaan itu berani dan garang? Setiap di dekat aku, Kakak malah terlihat melow dan manja. Mana tuh garangnya? Biasa sajah," tanyaku sambil meledek Bram.
"Owww, rupanya kamu ingin melihat kegaranganku ya? Entar kamu takut, nangis," Bram meledekku balik.
"Alah, bilang saja takut menghadapi aku, ya kan? Apalagi dengan kondisi Kakak seperti ini, belum bisa garang-garang dulu deh," aku tersenyum penuh kemenangan.
Tiba-tiba Bram duduk dan mencengkram kedua bahuku. Dengan cepat wajah Bram mendekati wajahku dan Bram langsung menyentuh bibirku.
Aku kaget dan mataku terbelalak seakan tidak percaya dengan apa yang Bram lakukan. Bram menekan tubuhnya sehingga aku kesulitan untuk bernafas dan bergerak.
Aku berusaha berontak sekuat tenaga untuk menjauh dari Bram.
__ADS_1
Plak!
Aku menampar Bram!!
Bram langsung melepaskan cengkramannya. Bram kaget dan dia langsung duduk terdiam.
"Jangan sekali-kali kamu menantangku Zanu. Aku bisa lakukan apa saja, jika aku mau. Maafkan aku Zanu," ujar Bram sambil tertunduk.
"Aku bukan takut kepadamu Zanu! Tapi aku ingin menjagamu dan tolong jangan merongrong perasaanku lagi. Aku..aku..aku takut kehilanganmu Zanu," ujar Bram lagi dengan suara yang sedikit bergetar.
Apa Bram menangis? Apa yang Bram katakan?
Aku ikut terdiam dan memperbaiki bajuku yang sedikit bergeser. Bekas sentuhan bibir Bram masih terasa basah dibibirku.
"Hhmm! Maaf mengganggu Bos, Non. Chefnya sudah ada di ruang makan. Apa ada request menu khusus untuk makan malam ini Bos?" tanya Pak Tio yang tiba-tiba muncul di hadapan Bram dan aku.
"Maaf Pak Tio, nanti saya ke sana. Sekarang tinggalkan dulu saya bersama Zanu," jawab Bram masih dengan kepala yang tertunduk.
"Baik Bos, permisi,"
Pak Tio beranjak pergi. Aku merasa bersalah karena telah mengejek Bram, walau aku tidak bermaksud demikian.
"Kak, maafin Zanu ya," hanya ucapan itu yang keluar dari mulutku.
Bram mengangkat wajahnya dan memandangku dengan tatapan harap. Tiba-tiba Bram tersenyum.
"Iya Zanu, seharusnya aku yang minta maaf karena sudah lancang untuk ke dua kalinya menyentuh bibirmu. Maafkan aku Zanu," ujar Bram dengan rasa bersalahnya.
Aku hanya bisa mengangguk.
"Kak, ayo kita ke ruang makan. Pasti chef dan Pak Tio sedang menunggu," ujarku menetralkan suasana.
"Kamu mau makan apa?" tanya Bram.
"Hmmm, aku mau steak daging lada hitam," jawabku.
"Oke, ayo kita kesana," ajak Bram.
Aku mengikuti Bram dari belakang. Terlihat tubuh Bram sedikit goyang. Seharusnya Bram istirahat dulu dengan kondisinya saat ini. Tapi karena ledekanku tadi, istirahatnya jadi buyar.
Maafkan aku Kak.
__ADS_1
...****************...