
Kamar Bram.
Aku mengamati diri di depan cermin. Kuperhatikan diriku dengan seksama. Terlihat kalung berlian yang diberikan Bram, kilaunya sama dengan gelang dan cincin yang kukenakan. Ini pasti satu set berlian, kuamati bentukannya mirip. Kalung kubuka dan kulihat lagi ada dua huruf terukir di balik liontin, huruf B dan Z.
Itu dipastikan perpaduan namaku dan Bram. Kalung, gelang dan cincin kubuka hati-hati dan dimasukkan ke dalam kotak kecil yang ada di dalam ransel.
Selepas itu, aku membuka gaun dan menggantikannya dengan baju tidur. Aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan makeup dan wudhu.
Setelah sholat isya, aku berbaring di atas tempat tidur, terasa sekali malam ini melelahkan. Dan tak terasa aku tertidur lelap.
********
Subuh.
Aku mendengar adzan subuh dari kejauhan, walau samar-samar tapi bisa membuatku terbangun. Aku sudah terbiasa memakai alarm sebagai pengingat.
Aku bangun, mandi, wudhu dan sholat. Untungnya, di dalam kamar mandi ada air hangat, jadi tubuhku aman dari air yang dingin.
Kring!
Kring!
Aku mencari sumber suara dan ternyata itu telepon yang ada di dekat meja kecil. Aku angkat.
"Hallo, sudah bangun sayang?" terdengar suara Bram di seberang telepon.
"Sudah Kak," jawabku singkat.
"Keluar yuk, aku sekarang ada di ruang kerja," ajak Bram.
"Oke, bentar ya," aku menutup telepon dan langsung menghampiri cermin.
Kuamati sebentar wajah dan penampilanku pagi ini. Setelah selesai, aku keluar. Terlihat Bram sedang duduk di ruang kerjanya yang berada di dekat kamar.
"Hei, selamat pagi," Bram mendekatiku dan mencium keningku.
"Pagi juga,"
"Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyakkah?" tanya Bram.
"Yaahh begitulah. Pagi ini kita mau kemana Kak?"
"Aku mau kita ke kebun miniku. Kemaren kamu belum lihat semuanya kan?"
"Okelah kalau gitu," aku mengiyakan ajakan Bram dengan senang hati.
Bram menggapai tanganku dan membawaku keluar dari ruang kerja menuju kebun mini yang berada di halaman belakang.
Pintu kaca besar di buka, aku menghirup udara pagi yang segar dan dingin. Terlihat dedaunan dan pohon yang masih menyisakan embun pagi. Ternyata semalam hujan, terasa tubuhku mulai dingin. Bram memperhatikan gelagatku, saat aku melipat kedua tangan di depan dada.
"Kamu kedinginan sayang? Sisa-sisa hujan semalam masih terasa. Paling sejam lagi matahari muncul," Bram memeluk bahuku.
"Iya Kak, kenapa udara tiba-tiba menjadi dingin gini ya? Aku paling tidak bisa merasakan udara terlalu dingin Kak, telapak tanganku bisa merah dan perih. Biasanya di susul dengan menggigil seluruh tubuh," jelasku.
__ADS_1
"Aduh, bahaya kalau kita berada di luar. Kita tunggu saja matahari muncul, sekarang kedalam dulu," Bram membalikkan tubuhku dan mengajak kembali lagi ke dalam rumah.
Aku mengikuti Bram. Pintu di buka lagi, kita berdua masuk ke dalam dan langsung menuju ruang tengah. Setelah duduk, dengan cepat Bram membuka telapak tanganku.
"Sini, aku gosok-gosok ya, biar terasa hangat," Bram menggosokkan tangannya ke tanganku.
Lambat laun, aku mulai merasakan hawa panas mengalir melalui telapak tanganku. Setelah selesai, Bram memencet satu tombol yang ada di samping meja. Tidak berapa lama, Pak Tio masuk ke dalam.
"Pak Tio, tolong bikinkan teh panas untuk aku dan Zanu. Sekalian roti bakar dan toping-topingnya," perintah Bram.
"Baik Bos," jawab Pak Tio.
Setelah kepergian Pak Tio, Bram duduk disampingku.
"Bagaimana sayang? Sudah mendingan?" tanya Bram.
"Sudah Kak,"
"Harusnya beritau dari awal, kalau kamu tidak bisa merasakan hawa dingin. Tidak apa-apa kan kita batal ke kebun?"
"Nggak apa-apa Kak, lain kali kan bisa,"
"Dalam waktu yang dekat sepertinya tidak bisa Zanu,"
Aku diam dan tau Bram sebentar lagi akan berangkat. Belum tau pasti apakah aku bisa bertemu kembali dengan Bram atau tidak sama sekali.
Pak Tio datang bersama dua orang pelayan yang membawa baki berisi air teh hangat dan roti bakar beserta topingnya.
Pak Tio mengangguk. Setelah semuanya tersusun rapi di atas meja, Pak Tio dan dua pelayan pergi meninggalkan ruangan ini.
"Yok, di minum tehnya Zanu. Sekalian kita sarapan roti bakar ini," ajak Bram.
Aku mengambil gelas berisi teh hangat dan meminumnya. Setelah itu aku mengambil roti bakar dan toping selai nanas.
Bram juga ikut serta minum teh panas. Tidak lama berselang, Pak Tio masuk lagi dengan tergopoh-gopoh.
"Permisi Bos, Non. Maaf mengganggu sebentar," ujar Pak Tio.
"Ada apa Pak Tio?" tanya Bram.
"Nona Prita sudah siuman Bos,"
"Hah? Benarkah? Siapa yang memberi tau Bapak?" tanya Bram seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Atif menelepon barusan Bos,"
"Oke. Terima kasih infonya, aku dan Zanu akan ke rumah sakit pagi ini. Tolong persiapkan semua keperluan yang akan di bawa,"
"Baik Bos,"
Aku kaget mendengar informasi yang disampaikan Pak Tio. Syukurlah Prita sudah siuman, semoga ini awal menuju kesembuhannya.
Pak Tio sudah keluar dari ruangan. Aku menghabiskan minuman dan makanan, termasuk Bram.
__ADS_1
"Zanu, kita segera bersiap-siap pergi ke rumah sakit ya," ujar Bram.
"Baik Kak,"
*********
Hujan turun membasahi bumi.
Tubuhku mulai terasa dingin, Bram menyadari akan itu.
"Tunggu sebentar di sini, aku mau ke kamar sebentar,"
Aku mengangguk.
Tidak berapa lama, Bram kembali membawa jaket tebal. Ia memasangkannya ke tubuhku.
"Semoga kamu tidak kedinginan lagi. Kalau masih terasa dingin, nanti aku peluk ya,"
"Nggaklah, ngapain peluk-peluk segala. Bentar lagi terasa hangat kok," aku menolak keinginan Bram.
"Oke kalau begitu. Sekarang kita langsung ke RS saja,"
"Ranselku bagaimana Kak?"
"Di sini saja, nanti kan kita balik lagi. Setelah itu aku mengantarmu pulang,"
Aku mengikuti saran Bram.
*********
Aku dan Bram pergi ke rumah sakit.
Di sana, sudah ada dokter Wahyu, dokter Cahyo, Atif dan beberapa perawat. Mereka menyambut kedatangan Bram dan Aku.
"Selamat pagi Pak Bram," ucap dokter Wahyu.
"Pagi juga dok. Bagaimana perkembangan Prita?" tanya Bram serius.
"Nona Prita sudah siuman, tadi ada memanggil nama seseorang dan sempat membuka matanya sebentar. Saudara Atif tadi melihat langsung dan bicara dengan Non Prita, tapi belum ada respon. Sekarang sudah tertidur begitu saja, kita harus segera membawanya ke Amerika," terang dokter Wahyu.
"Apa bisa tiga hari lagi kita ke Amerika dok? Karena sebentar lagi saya akan sidang," tanya Bram.
"Semoga bisa Pak Bram. Saya akan cek setiap hari kestabilan kondisi Nona Prita,"
"Baik dok, saya percayakan semua ke dokter. Beri informasi terus melalui nomor telpon saya. Siang ini saya mau ke kota Prn, jadi tidak bisa hadir di sini sampai besok,"
"Siap Pak Bram,"
Bram dan aku mendekati Prita. Terlihat Prita sedang terlelap tidur.
Semoga Prita masih mengingatku.
...****************...
__ADS_1