
Akhirnya sampai juga di kampus.
Kak Siska mengantarkan aku ke gedung Fakultas Hukum. Setelah itu mobil Kak Siska melaju ke Fakultasnya.
Saat aku di dalam ruang kampus, banyak mata yang melihatku. Aku berusaha tidak memperdulikannya.
Rasanya sepi kalau tidak ada Prita didekatku. Proses belajar mengajar berjalan lancar, kebetulan dosenku kali ini orangnya baik dan ramah.
Dosenku sempat menanyakan keberadaan Prita, sudah dua hari Prita tidak masuk kuliah. Aku terpaksa berbohong, karena memang saat ini aku tidak tau sama sekali tentang kondisi Prita.
Aku berharap Prita baik-baik saja dan bisa ditemukan nanti di tempat pamannya. Satu-satunya orang yang bisa membantuku adalah Bram. Karena ada hubungannya dengan Atif.
Terakhir kalinya Prita bersama Atif. Pastinya Atif tau keberadaan Prita.
**********
Tiba-tiba ruangan jadi hening.
"Zanu, ada yang mencarimu," ujar dosenku.
Aku mengangkat kepala dan melihat ke arah pintu.
Itu Bram!! Aduh, ngapain dia ke sini? Kan bisa tunggu beberapa menit lagi atau tunggu di luar dulu. Hadeh...!
"Silahkan masuk nak Bram," ujar dosen sambil tersenyum.
Eh! Kok Dosen tau ya kalau Bram mencariku? Kan Bram belum bilang apa-apa ke Dosennya?
"Zanu, kamu saya izinkan pulang lebih dulu," ujar dosen lagi.
Bram masuk dan berdiri di depan dengan expresi dingin, diam tanpa bicara apapun. Hanya matanya saja tertuju kepadaku.
Aku terpaksa beranjak dari tempat duduk dan berjalan ke arah dosen. Rasanya malu sekali dilihat teman-temanku.
"Iya Bu, saya izin pulang. Maaf kalau saya tidak sampai selesai mengikuti mata kuliah hari ini,"
"Tidak apa-apa nak, silahkan,"
Malah dipersilahkan. Kenapa si dosen malah jadi nurut sama Bram?
Bram berjalan keluar, aku mengikutinya dari belakang.
"Kak, bisa nggak sih jangan ganggu aku kuliah? Malu tau! Kan bisa tunggu di luar beberapa menit," gerutuku.
Bram diam dan terus saja berjalan.
"Ada apa sih Kak? Kenapa terburu-buru?" tanyaku lagi.
Bram tetap diam tanpa expresi. Aku mulai jengkel dengan kelakuan Bram. Aku berhenti dan membiarkan Bram berjalan sendirian.
__ADS_1
Bram tau dan berputar arah kehadapanku.
"Ayo Zanu ikut aku! Aku akan katakan saat kita di dalam mobil," ujar Bram sambil menarik tanganku.
Aku terpaksa mengikutinya dengan perasaan masih jengkel. Sepanjang jalan, semua mahasiswa melihat aksi Bram terhadapku. Mau sampai kapan wajahku diperlihatkan seperti ini.
Aku menarik tangan dengan kuat dan menepis dengan cepat tangan Bram saat berusaha menarik tanganku kembali.
"Tolong Kak, jangan tarik-tarik tanganku! Aku bisa jalan sendiri! Malu dilihat orang Kak, please!" teriakku sambil menghindarinya
Seketika Bram berhenti dan menghampiriku.
"Zanu, Prita kecelakaan! Aku sedang kesal dengan Atif, kenapa dia baru beritau sekarang! Prita koma dan masih di ruang ICU. Tidak ada seorangpun yang tau, dimana keluarga Prita. Atif panik dan bingung mau bicara ke siapa. Dia takut menghubungiku karena saat itu aku masih di rumah sakit bersamamu," penjelasan Bram.
Duar!! Aku kaget! Benar-benar kaget mendengar penjelasan Bram.
Bagaimana mungkin? Apa aku sedang bermimpi? Ada apa lagi ini! Prita.........!
Aku shock dan terdiam.
"Zanu, ayo kita segera ke rumah sakit! Semoga ada keajaiban Prita bisa melewati masa kritisnya," ajak Bram.
Aku masih saja diam dan mulai menangis. Walau baru mengenal Prita, tapi aku sudah merasa Prita adalah sahabatku.
"Sayang, maafkan aku dari tadi mendiamkanmu. Aku ingin menjelaskannya saat kita di dalam mobil, supaya kamu bebas menangis. Aku tau, berita ini pasti membuatmu shock. Aku tidak ingin orang-orang melihatmu dalam keadaan sedih," bujuk Bram sambil menyeka air mataku.
********
Aku dan Bram sudah berada di dalam mobil. Bram menungguku selesai menangis.
"Bagaimana? Kita langsung jalan?" tanya Bram.
Aku mengangguk sambil menyeka air mataku.
Selama dalam perjalanan, aku dan Bram lebih banyak diam.
Entah kenapa tiba-tiba aku ingat sesuatu.
Yup! Aku ingat paman Prita! Hanya itu satu-satunya yang aku ketahui tentang Prita.
Tapi, bagaimana caranya memberitahukan pamannya Prita? Apa aku harus ke rumah dinasnya Gubernur? Sedangkan aku tidak punya akses ke sana, bahkan lokasinyapun aku tidak tau sama sekali.
Aku harus jujur ke Bram. Maaf Prita, aku terpaksa memberitahukan orang lain. Tapi aku yakin, Bram adalah orang yang bisa aku percaya.
"Kak," ujarku memecah keheningan.
"Iya sayang?" jawab Bram menoleh ke arahku.
"Sebenarnya aku tau keluarga Prita. Kebetulan ada di kota ini," ujarku pelan.
__ADS_1
"Hah! Benarkah? Siapa orangnya? Kamu tau rumahnya?" tanya Bram.
"Sebelumnya aku tidak mau memberitaukan ini, karena Prita tidak ingin seorangpun tau tentang dia. Ini menyangkut keselamatan Prita. Tapi aku terpaksa dan berharap Kakak bisa merahasiakannya," jawabku.
"Iya, kamu percaya saja sama aku. Ini juga tentang keselamatan Prita. Bagaimanapun, keluarganya harus tau kondisinya saat ini,"
"Paman Prita adalah Gubernur kita sendiri. Kita harus ke rumah dinas pamannya sekarang. Tapi, apa kita bisa masuk ke sana tanpa akses?" penjelasanku.
"Wah! Tidak disangka, Gubernur kita adalah pamannya Prita?! Tenang sayang, aku punya akses untuk masuk ke rumah dinas itu. Kamu lihat saja nanti," jawab Bram.
"Syukurlah kalau Kakak bisa masuk ke sana,"
"Kamu jangan meragukan aku Zanu. Gubernur kita itu berteman dengan Pamanku. Aku sudah beberapa kali bertemu dan diundang ke rumah dinasnya. Jadi urusan seperti ini sangatlah mudah," ujar Bram sambil tersenyum.
Alhamdulillah, pernyataan Bram membuatku lega. Ya Tuhan, semoga Prita bisa berjuang untuk hidup. Aku sebenarnya kasihan melihat kisah hidupnya. Sudah jauh dari orang tua, kakak, sekarang malah sedang diincar pesaing bisnis keluarganya. Pasti dia merasa tidak tenang selama ini.
"Kak, untung ya ada Atif yang menjaga Prita selama di rumah sakit. Tidak terbayangkan kalau Prita mengalami ini sendirian,"
"Itu gunanya pasangan kita. Bukan sekedar untuk menemani saja, tapi juga sebagai penyemangat biar lekas sembuh. Seperti kamu kemaren yang mau menjagaku," ujar Bram sambil membelai rambutku.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Bram.
Tidak berapa lama, mobil Bram berhenti di suatu gerbang yang besar. Terlihat jelas rumah yang begitu besar berada di balik pagar besi.
Halamannya yang begitu luas dan dihiasi bendera merah putih. Aku yakin ini adalah rumah dinas Gubernur.
Bram membuka kaca jendela mobil. Kiri kanan gerbang terdapat pos penjaga kepolisian.
"Hallo Pak Bram. Sudah lama tidak bertemu. Apa kabarnya?" ujar salah satu polisi di sana.
"Hai mas Bayu, Alhamdulillah baik," jawab Bram ramah.
"Syukurlah. Mau bertemu Bapak ya?" tanyanya lagi.
"Iya. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan,"
"Oke. Silahkan masuk Pak. Saya akan langsung sampaikan pesan Bapak ke Pak Gubernur,"
"Baik, terima kasih ya. Saya permisi dulu," ujar Bram.
"Silahkan Pak,"
Ternyata benar yang dikatakan Bram, dia memiliki akses untuk masuk ke sini. Bahkan terlihat aksesnya sangatlah penting, sehingga begitu mudahnya Bram masuk ke rumah dinas ini.
Akhirnya mobil Bram melaju lagi, masuk ke dalam rumah dinas Gubernur. Melewati jalan yang tidak terlalu jauh dari rumah dinas.
Sepanjang jalan ditanami pohon beringin dan bunga warna warni yang sedang bermekaran. Terlihat sekali rumah dinas ini asri, sejuk dan indah di pandang mata.
...****************...
__ADS_1