
Ternyata itu Richard.
Aku hendak berjalan menghindarinya. Tapi ternyata Ricard berjalan mengiringiku dari samping.
"Hei, apa kamu marah kepadaku? Atau ada yang memarahimu jika aku mengganggu?" tanya Ricard.
"Maaf, kali ini jangan ganggu aku dulu ya. Aku sedang ingin sedirian," aku merasa pikiranku saat ini masih terasa lelah. Lelah karena memikirkan Bram yang sudah pergi.
"Oh.., oke, oke. Maaf jika aku mengganggumu. Lain kali kita mengobrol ya, bye!" Ricard tersenyum dan pergi. Ia tidak merasak sakit hati di saat aku menolak untuk bicara dengannya.
Kenapa ya Ricard itu bersekukuh ingin mendekatiku? Walau dia sudah tau, kalau Bram adalah pacarku? Apakah benar yang dikatakan Bram kemaren, jika ada niat tertentu dari Ricard terhadapnya?
Aku pergi ke dalam ruangan kampus tempat aku belajar. Teman-teman satu jurusanku sudah menempati kursi masing-masing. Aku mengambil tempat duduk yang kosong bagian belakang. Kita semua masih menunggu kedatangan dosen.
Tidak berapa lama kemudian, dosen perempuan masuk ke dalam. Dibelakang dosen terlihat Ricard ikut masuk. Ia mencari-cari kursi kosong, yang kebetulan sisa satu, tepat sekali berada didekatku. Mau tidak mau, aku dan Ricard duduk berdekatan.
Ricard hanya tersenyum kepadaku, ia tidak bicara sepatah katapun. Aku juga ikut diam dan fokus dengan salah satu riset pembunuhan yang dijelaskan dosen di depan.
********
Dua jam berlalu, kuliah hari ini berakhir. Dua jam lagi ada mata kuliah kriminologi yang harus aku ikuti karena beberapa kali absen saat menemani Bram dulu.
Aku dan teman-teman bubar dan pergi keluar ke tujuan masing-masing. Aku pergi menuju ke kantin untuk memesan makanan. Sesampainya di kantin, aku duduk ditempat biasa saat masih bersama Bram.
"Hai Zanu. Apa Bram sudah berangkat ke Amerika?" tanya seseorang.
Aku menoleh dan ternyata itu temannya Bram, Ibas.
__ADS_1
"Eh iya Kak, sudah. Tadi malam Kak Bram berangkatnya," jawabku sedikit gugup.
"Oh, apa dia ada cerita kapan balik lagi kesini?" tanyanya lagi.
Deg! Aduh, pertanyaan macam apa ini? Apa yang harus aku jawab? Jika aku menjawab tidak, sama saja memberitahukan ke orang lain, kalau aku sudah end alias jomblo. Tapi jika aku menjawab iya, ternyata Bram tidak pernah ke sini lagi. Pusing!
"Tidak tau Kak, Kak Bram tidak mengatakan apa-apa," aku terpaksa berbohong demi posisiku di kampus ini. Betapa malunya aku, jika ada yang mengetahui Bram akan menikah dengan Prita. Dan pasti banyak yang mentertawakanku, berharap untuk sesuatu yang belum pasti.
"Oke. Mungkin nanti dia akan menghubungi kamu dan memberitau kapan bisa ke sini, ya kan?"
"Eh, iya Kak," aku meragukan itu.
"Maaf, apa kamu sendirian? Mana teman-teman kamu?" tanyanya lagi.
"Iya Kak," jawabku singkat. Aku mulai merasa tidak nyaman dengan kehadiran Ibas ini.
Pesananku sudah datang. Tanpa menunda lagi, aku langsung memakannya. Terasa sekali perutku lapar, sarapanku tadi hanya sedikit yang masuk ke dalam perut.
*******
Setelah selesai makan dan bayar ke kasir, aku keluar dari kantin menuju ke perpustakaan. Di sana aku berniat untuk meminjam buku yang berkaitan dengan mata kuliah. Termasuk artikel-artikel kasus yang sudah terpecahkan, dengan cara sederhana atau cara yang sulit sekalipun.
Aku menyempatkan untuk membaca buku sekilas, lalu langsung menuju ke pengurus perpustakaan sambil membawa buku bacaan yang sudah aku pilih dan cek satu persatu. Aku meminjam tiga buku dan buku itu adalah buku lama. Butuh kehati-hatian untuk membacanya, karena jika robek atau rusak dengan terpaksa harus di ganti. Tapi, nilai sejarah buku itu tidaklah bisa ditukarkan dengan uang.
Aku keluar dari perpustakaan, pergi menuju ke ruang kuliahku kembali. Saatnya mata kuliah kriminologi dimulai, dosennya kali ini seorang Bapak yang sudah berumur lima puluhan. Nama dosennya Pak Mujiko.
Pak Mujiko memberikan catatan sambil membahas kasus-kasus yang pernah ia tangani. Menurut pengakuan beliau, puluhan tahun ia tidak pernah gagal dalam menangani kasus kecil atau besar. Karena ia konsisten menangani kasus dan berinteraksi langsung dengan orang terdekat tersangka maupun seorang saksi.
__ADS_1
Aku menyimak dengan seksama penjelasan dari Pak Mujiko. Entah mengapa terasa gejolak penasaranku mengenai kasus yang sudah selesai. Ada permacam-macam spekulasi di sana, sehingga membuatku merasa tertantang.
"Baik, segitu dulu penjelasan hari ini. Jika ada yang kurang mengerti bisa tanyakan langsung kepada saya, baik di kampus maupun di mana saja, kecuali libur," ujar Pak Mujiko.
"Baik Pak," jawabku dan teman-teman serentak.
Kuperhatikan Ricard dari tadi masih diam ditempatnya. Aku tidak mau ambil pusing, aku beranjak pergi keluar dari kelas menuju halte kampus.
Selama di kampus hari ini, tidak ada satupun yang mau mendekati atau menyapaku. Jika ada Bram didekatku, aku memakluminya karena mereka semua takut dengan Bram. Sekarang Bram sudah tidak ada lagi, tapi mengapa semuanya termasuk teman-temanku tidak ada yang mau mendekat?
Aku berjalan sendirian melewati jalan di samping gedung Rektorat. Masih teringat jelas, dulu saat masih ospek, Bram memanggilku. Dimana saat itu aku sangat cemburu melihat Bram sedang bicara dengan Sari.
Ah! Betapa konyolnya aku waktu itu dan entah mengapa aku meneteskan air mata karena mengingat kenangan itu kembali. Masih terngiang-ngiang Bram memanggil namaku saat itu.
Sesampainya di halte, aku berdiri diantara banyaknya orang yang juga ikut menunggu bus kampus. Siang ini cuaca terasa terik sekali, banyak diantara mahasiswa beranjak pergi mencari pepohonan. Mereka berkumpul sambil duduk di bawah pohon yang rindang. Mereka seakan tidak memperdulikan lagi bus akan datang.
Tiba-Tiba ada sebuah mobil keluaran terbaru berhenti tepat didepanku. Aku tidak memperhatikannya, karena kupikir orang di dalam mobil tersebut sedang menunggu temannya yang sama-sama berada satu halte denganku.
"Hei Zanu! Yok bareng aku," teriaknya dari dalam, ternyata itu adalah Ricard.
Semua mata memandang kearahku. Mereka seperti penasaran apa yang akan aku lakukan dengan tawaran Ricard.
"Maaf, aku sedang menunggu Bus. Tempat tinggalku dekat kok. Terima kasih Ricard," aku menolaknya dengan cara halus.
"Yah, oke deh kalau gitu. Mungkin lain kali kamu mau. Bye Zanu," Ricard melajukan mobilnya dan menjauh dari halte. Tidak terlihat sedikitpun ia merasakan kecewa, marah atau menggerutu. Ricard bahkan tersenyum mendengar penolakanku.
Aku kembali fokus dengan penantian datangnya Bus. Bus kampus belum juga melintas di depan halte. Aku mulai gelisah dan memikirkan telepon yang berada di tempat kost. Berharap sekali Bram mau menghubungiku saat ia sudah mendarat di Amerika.
__ADS_1
...****************...