
Minggu pagi.
Aku dan Zuri pergi lari pagi. Kali ini arah yang kita tempuh cukup jauh. Kita mau ke pantai dekat pasar. Nanti saat pulang rencananya naik bendi saja, karena aku yakin kondisi kita akan capek jika pulangnya jalan kaki.
Pagi-pagi sekali, di pantai sudah ramai orang berolah raga dan ada juga yang berlalu lalang hendak ke pasar. Setelah melihat-lihat dan melakukan gerakan selama satu jam, aku bersama Zuri hendak berjalan ke arah pasar.
Tiba-tiba dari ujung jalan yang ada di pinggir pantai aku melihat Bram! Dia tidak sendirian, ada beberapa orang yang mengelilinginya. Ada apa ya pagi-pagi begini Bram di sana? Sepertinya ada hal penting yang dia diskusikan.
Aku tidak ingin mengganggunya, jadi aku dan Zuri mempercepat langkah untuk berjalan menuju pasar.
"Zanuuu...!"
Bram teriak memanggilku. Aduh! Aku jadi malu. Karena teriakan Bram tersebut membuat semua orang di pantai melihatku.
"Siapa sih Kak? Cakep amat itu cowoknya," tanya Zuri sambil melihat ke arah suara yang memanggilku.
Aku cuma diam dan menunggu Bram menghampiriku. Terlihat Bram berlari ke arahku sambil tersenyum sumringah. Orang-orang disekelilingnya terlihat bengong melihat sikap Bram.
Bram tidak peduli dengan reaksi orang-orang di sana. Dia terus melihatku. Dengan sedikit nafas yang terengah-engah dia berhenti didepanku.
"Zanu, mau kemana?" tanya Bram sambil melihat Zuri di sampingku.
"Mau ke pasar Kak, habis lari pagi," jawabku.
"Ini siapa Zanu, adikmu ya?" tanya Bram lagi.
"Iya, kenalin Kak, adekku namanya Zuri,"
"Hai Zuri, kenalkan aku Bram," sapa Bram.
Kulihat Zuri diam dan bengong. Nih anak pasti terpesona melihat Bram. Karena Bram memang berbeda dari cowok kebanyakan. Aku menyenggol pundak Zuri supaya di move on dari bengongnya.
"Eh..eh iya, saya Zuri," jawab Zuri grogian.
Bram tersenyum dan kembali melihatku.
"Kakak lagi ngapain di sana?" tanyaku langsung to the point.
"Ada sesuatu yang aku urus. Kalian mau pulang ya? Apa kita bisa ngobrol Zanu?" tanya Bram.
"Kita mau ke pasar dulu nyari makanan buat sarapan, trus langsung pulang. Boleh, ngobrol di mana?" tanyaku.
"Di pondok kayu itu saja," jawab Bram.
Aku mengangguk. Zuri cuma ngikutin saja tanpa banyak bicara.
Tumben Zuri kali ini nggak kepo? Mungkin Zuri belum berada di alam sadar, ha..ha..ha..
Atau mungkin saat di rumah nanti, kekepoan Zuri akan keluar.
Aku, Zuri dan Bram berjalan menuju pondok yang di maksud. Pondok tersebut tidak memiliki sekat, plong begitu saja. Biasanya digunakan untuk pembeli yang mau makan atau melepas lelah. Lebih tepatnya buat nongkrong di pinggir pantai.
********
__ADS_1
Aku dan Bram duduk berdekatan, sedangkan Zuri duduk arah sisi lain. Kulihat Bram mengambil sesuatu di kantong celananya dan ternyata itu rokok.
"Kak, masih merokok ya? Bukannya tidak merokok lagi?" tanyaku.
"Eh, lupa. Iya deh, nggak jadi. Maaf," jawab Bram sambil menyimpan kembali rokok yang di bawa.
"Kak, Zuri main ke sana dulu ya. Sambil nyari kerang buat accesories. Mana tau ketemu yang bagus," ujar Zuri.
Nah, ini dia. Memang seharusnya Zuri tidak di sini, karena aku yakin Bram ingin membicarakan sesuatu bersamaku.
Adanya Zuri, obrolan ini tidak bisa lepas, takutnya Bram menggodaku lagi.
Malulah sama adik sendiri kan ya.. Tapi tidak tau juga sih, apa Bram berani?
"Oke, hati-hati air lautnya bisa seret kamu. Nggak bisa berenang pula. Main di pinggirnya aja ya..," jawabku.
Zuri mengangguk dan langsung berlari kecil menuju pasir-pasir yang terhampar luas. Kulihat Bram sekali-sekali melihat ke arah rombongan tadi yang ditinggalkannya begitu saja.
Tiba-tiba dari kejauhan, aku melihat seseorang menghampiri pondok ini dan Bram seperti mengenalnya.
Aku dengan teliti melihat siapa itu? Mungkin Atif? Biasanya kan di mana ada Bram pasti di situ ada Atif.
Ternyata bukan. Tapi seseorang yang pernah aku lihat, tapi di mana ya?
Akhirnya dia sampai ke pondok dan langsung menghampiri Bram dan aku yang sedang duduk.
"Bos, semua sudah siap. Tinggal menunggu keputusan Bos saja," ujarnya sambil berdiri di pinggir pondok.
Dia melihatku sejenak. Dia kaget! Setelah sekian detik mengamatiku. Tapi dia tidak berani melihatku lebih lama lagi, pandangannya langsung dialihkan menghadap Bram.
"Siap Bos, kita akan menunggu sampai Bos selesai. Saya permisi dulu Bos,"
Bram mengangguk. Diapun berbalik arah menuju tempat rombongan tadi, yang masih berada di sana.
Aha! Aku baru ingat, ternyata itu orang yang pernah memberikan aku surat Abang saat pemakamannya berlangsung. Yup! Dia temannya satu kontrakan dengan Abang.
Tapi kenapa dia bisa kenal Bram ya? Dan ada urusan apa Bram di sini bersama rombongan tersebut? Masih teka-teki buatku.
"Kak, itu siapa ya? Aku pernah bertemu dengannya sekali," tanyaku to the point supaya tidak penasaran terus.
"Itu Ipank, aku pernah cerita bukan? Dia berteman dengan Angga dan satu angkatan. Kamu kan pernah cerita tentang Angga? Pasti dia kaget kenapa kamu sekarang bersamaku, ha..ha..ha...," ujar Bram sambil tertawa.
Lho? Kenapa Bram ketawa, aneh!
"Kenapa Kakak tertawa? Perasaan tidak ada yang lucu?" jawabku sedikit kesal.
"Maaf Zanu. Aku tertawa karena merasa dunia ini sempit ya. Mungkin siapapun orang yang kamu kenal, kenal juga sama aku. Lebih tepatnya bukan lucu tapi aneh. Dan jika Ipank masih ingat kamu tadinya, pasti dia heran," jawab Bram.
"Kak, sebenarnya Kakak siapa sih? Kok banyak sekali urusannya dengan banyak orang? Dan mereka panggil Kakak Bos?" tanyaku mulai menyelidiki Bram.
Aku tidak mau lagi otakku penuh dengan tanda tanya akan Bram selama ini.
"Zanu, aku ada bisnis di sini, yang berhubungan dengan perkebunan kelapa dan coklat. Sekarang aku lagi mengurus kerjasama dengan nelayan yaitu bisnis ikan. Kebetulan di sini, urusan ikan-ikan berjalan dengan baik. Mereka memiliki manajement yang bagus. Dan aku mau memasok kapal yang nantinya akan memperkerjakan anak muda di wilayah sini. Nanti beberapa persen hasil jual akan aku berikan untuk kesejahteraan keluarga nelayan. Karena ini berhubungan dengan banyak orang, butuh orang untuk mengawali setiap perjalananku di sini. Selain kawal pribadi, termasuk juga pengawalan dari kepolisian. Ipank dan Angga adalah orang yang aku pilih setiap ke sini, kamu sudah paham?" jawab Bram panjang kali lebar.
__ADS_1
Aku mangut-mangut. Ternyata inilah jawabannya, kenapa semua orang selama ini memanggil Bram dengan sebutan Bos.
"Kakak kerjasama saja atau milik sendiri?" tanyaku lebih dalam lagi.
"Nanti kamu akan tau juga. Aku tidak mau menjelaskannya secara detail. Aku hanya mau membahas tentang kita saja, okey?" tanya Bram.
Aku mengangguk saja. Memang tidak etis rasanya mengetahui lebih dalam lagi tentang kehidupan Bram. Apalagi aku baru saja dekat dengan Bram.
"Oiya, nanti sore aku ke rumah kamu, sebelum berangkat ke kota P. Ada sesuatu yang sudah aku siapkan buatmu," ujarnya sambil tersenyum kepadaku.
"Boleh. Tapi kok Kakak cepat sekali balik? Baru juga dua hari di sini kan?" tanyaku.
"Aku ada urusan lagi. Menemui klien baru, untuk mengurus pemasokan coklat melewati pulau Batam. Kapan-kapan aku ke sini lagi kalau ada waktu luang untuk bertemu denganmu," jawab Bram.
Aku hanya diam mendengar penjelasan Bram. Aku merasa seperti berada di dimensi lain. Karena aku lebih mengenal Bram hanya sebagai mahasiswa dikampusku.
Tapi kalau ceritanya Bram mengurus bisnis ini itu, aku kok jadi kagok ya..
"Kamu masih kangen ya? Gimana, sudah merasakan apa itu kangen sama aku?"
Aku hanya tersenyum kecil. Yup! Aku sudah merasakan kangen itu.
"Nggak juga. Cuma tanya saja kenapa Kakak cepat baliknya," jawabku berusaha menutupi perasaanku sendiri.
Jual mahal dikitlah..
Reaksi Bram cuma mangut-mangut dan tersenyum.
"Kamu kapan kuliahnya?" tanya Bram mengalihkan pembicaraan.
"Besok Kak. Pagi sekali berangkat dari rumah,"
"Coba sore ini kamu juga ke kota P, kita bisa bareng berangkatnya,"
"Ogah ah! Aku nggak mau asal numpang gitu aja Kak," aku menolak tawaran Bram.
"Oke, rilex.. Oiya, kita ke sana yuk main pasir. Adikmu main sendirian saja dari tadi," ujar Bram sambil menunjuk arah Zuri yang sedang mengejar sesuatu.
Tanpa basa basi lagi, aku langsung menarik tangan Bram dan berlari menuju arah Zuri. Bram menurut saja dengan tindakanku barusan.
Kita berdua main pasir dan setelahnya kita ikut mencari kerang bersama Zuri. Terlihat Bram begitu bahagia.
"Zanu, sudah lama aku tidak main ke pantai. Dan dengan adanya kamu di sini, aku merasakan sesuatu yang kembali lagi. Kedepannya aku akan sering-sering main ke sini bersamamu ya..," ujar Bram.
"Iya, boleh. Jangan lupa Kakak sering beri kabar ya. Nanti aku beritau nomor telepon kost, biar bisa hubungiku,"
"Tuh kan, kamu tu sebenarnya kangen, ha..ha..ha..," ujar Bram sambil mencolekku dan berlari.
"Ogaaaahhhh....! Siapa sih yang kangen," jawabku sambil mengejar Bram.
Aku dan Bram berlarian, kita tertawa terus. Seakan tidak ingin semua ini cepat berlalu. Kasihan Zuri, hanya berperan sebagai penonton akan kehadiranku bersama Bram.
Maafin Kakak ya Zuri. Suatu saat Zuri juga akan bertemu dengan orang yang baik dan menyayangimu sepenuh hati.
__ADS_1
...****************...