Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 130 : Izin Bram


__ADS_3

Mobil Bram berhenti di depan rumahku. Kita berdua turun dan berjalan ke teras rumah.


Aku mengetuk pintu, kebetulan yang buka adalah Zuri. Aku mempersilahkan Bram masuk ke dalam, ia mengikuti dari belakang.


"Mana mobilnya?" tanya Bram.


"Dalam garasi Kak,"


"Boleh aku lihat?" tanya Bram lagi.


"Boleh, tapi mobilnya nggak sebagus punya Kakak,"


"Kamu mau mobilku Zanu? Pilih saja mana yang kamu suka," Bram menawarkannya dengan senyuman.


"Enggak ah, aku cuma becanda aja Kak. Aku kan udah punya mobil baru, ngapain nambah mobil lagi? Yang ini saja belum bisa bawanya, he..he..," aku menarik tangan Bram menuju garasi.


Kubuka garasi, terlihat mobil nangkring di sana. Bram memperhatikan bentukannya dan mengatakan kalau mobilku bagus.


Tetap saja mobil Bram yang paling bagus. Apalagi mobil Rolls Royce yang ia punya, tidak usah ditanya lagi itu mobil harga sama bentukannya seperti apa.


"Gimana tadi privatnya? Siapa tuh nama pelatih kamu?" tanya Bram.


"Ya, tahap awal lumayanlah. Aku masih belajar mengingat kode-kode yang ada di mobil beserta fungsinya. Namanya Bayu," jawabku.


"Kamu harus latihan terus dan kalau bawanya mesti fokus. Yang tersulit itu nyetirnya di bawa pelan dan untuk manual kamu harus bisa mengimbangi antara gas, kopling dan rem tangan saat penanjakan. Lama-lama jadi terbiasa," nasehat Bram.


"Siap! Kita masuk ke dalam lagi yok, mana tau Papa sama Mama lagi nungguin," ajakku.


Aku dan Bram masuk ke dalam rumah dan ternyata benar, Papa dan Mama sedang menunggu di ruang tamu.


"Selamat malam Om, Tante. Maaf sebelumnya, tadi saya bertemu Zanu setelah latihan, lalu kita berdua singgah ke pantai dulu," ujar Bram.


"Oke, tidak apa-apa. Tapi, lain kali kerumah dulu atau telepon, baru pergi ke pantai," jawab Papaku.


Terlihat Mama menyikut pinggang Papa sambil menahan senyum.


"Iya Om, itu memang kesalahan saya, karena sudah membawa Zanu tanpa sepengetahuan Om dan Tante. Sekali lagi saya minta maaf," Bram merasa bersalah dengan tindakannya. Padahal yang mau main ke pantai itu adalah aku.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nak Bram. Terima kasih sudah mau mengantarkan Zanu sampai rumah," dengan cepat Mama membalas ucapan Bram sebelum di dahului Papa.


"Oiya Om, Tante. Sekalian, besok pagi saya dan Zanu berangkat ke kota P. Izin membawa Zanu jika diperbolehkan. Selasa saya sidang dan ingin nanti Zanu bisa hadir. Malamnya saya bersama orang tua langsung berangkat ke Amerika. Jadi, hari ini sekalian juga pamit dan minta maaf jika ada salah kata dan sikap selama tante dan Om mengenal saya," ujar Bram dengan serius.


"Oh, baiklah. Om izinkan dan terima kasih sudah menjaga Zanu selama ini. Semoga sukses dan salam buat orang tuamu. Semoga suatu saat ini, kamu bisa berkunjung kembali kesini. Jaga diri baik-baik dan sehat selalu. Hanya itu yang bisa Om dan Tante sampaikan," ujar Papaku.


"Iya Om, terima kasih. Saya permisi dulu," Bram pamit pulang.


Bram menyalami kedua orang tuaku, kita bertiga mengantar Bram sampai keluar pagar.


Bram menghidupkan mesin mobil dan langsung pergi. Setelahnya, aku dan orang tuaku masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.


**********


"Lho? Tamunya mana? Kok cepat sekali pulang? Ini air minumnya gimana nih?" ujar Zuri sedang membawa nampan, ada empat gelas teh es dan cemilan diatasnya.


"Kamu telat mulu deh, biar kita yang minum. Kebetulan Kakak haus," aku mengambil salah satu gelas di atas nampan.


Papa dan Mama tertawa melihat Zuri yang masih berdiri membawa nampan.


Papa dan Mama mengambil gelas berisi minuman di atas nampan.


Zuri merengut, ia meletakkan nampan ke atas meja makan.


"Zanu, apakah Bram membicarakan sesuatu tentang hubungan kalian kedepannya?" tanya Mama.


"Tidak ada Ma. Bram hanya mengatakan jika ia mengurus bisnis di Amerika dengan waktu yang lama. Untuk kepastian ia balik lagi ke sini, belum ada dibicarakan," aku berusaha tegar menjelaskannya ke Mama, walau sebenarnya aku tau, tidak ada kepastian dari Bram.


"Oh, ya sudah. Kamu kosentrasi saja kuliah nak. Jangan pikirkan yang lain. Kalau memang dia jodohnya kamu, pasti ia mencarimu. Tapi kalau tidak, masih banyak laki-laki lain di dunia ini," Mama berusaha menghiburku.


"Iya Ma," jawabku pelan.


Memang, lelaki banyak di dunia ini. Tapi apakah ada yang seperti Bram?


"Zanu ke atas dulu ya Pa, Ma, ngantuk. Sekalian mau beberes buat berangkat besok pagi," ujarku lagi.


"Iya nak," jawab Papa dan Mama serempak.

__ADS_1


Aku langsung melangkahkan kaki ke lantai atas, setelah meletakkan gelas di atas meja makan. Zuri ikut menyusul di belakangku.


Setibanya di kamar, aku rebahan sejenak. Rasanya hari ini sangat melelahkan. Zuri ikut rebahan di sampingku.


"Kak, apa iya Kak Bram sebentar lagi mau pergi? Bagaimana dengan Kakak?" tanya Zuri.


"Iya Zuri, dia akan pergi dua hari lagi. Ya Kakak nggak gimana-gimana, fokus kuliah saja. Oiya, bagaimana pemberian Damar kemarin, apa sudah kamu kembalikan?" tanyaku.


"Damar tidak mau menerimanya Kak, dia malah marah-marah dan meninggalkanku. Aneh," jawab Zuri.


"Hhmm, mungkin dia ingin kamu memilikinya. Kapan dia bertunangan? Apa jadi?" tanyaku lagi.


"Dia bilang jadi. Tapi nggak tau nikahnya kapan?" Ada perasaan sedih di raut wajah adikku.


"Ya udah, kamu nggak usah mikirin dia. Masih sekolah juga. Kalaupun dia milih kamu, butuh waktu yang lama. Kamu belum tamat Sekolah, belum kuliah, belum kerja. Mana boleh sama Papa Mama kita nikahnya cepat-cepat," jelasku.


"Nasib kita sama ya Kak, dicintai seseorang tapi di waktu yang tidak tepat. Harusnya mereka datang di saat kita sudah siap, jadi nggak harus merasakan patah hati. Kalau Kakak, nggak ada orang ketiga, jadi murni memang Kakak satu-satunya milik Kak Bram. Sedangkan aku, ada tunangannya Damar, ya pasti aku kalah," ujar Zuri panjang kali lebar.


"Yaa.., itu namanya hidup Zuri. Kalau untuk mendapatkan sesuatu yang indah itu tidaklah mudah. Jika tidak ada jalannya, sebaiknya menyerah saja, walau berurai air mata. Sedih boleh, tapi jangan berlarut-larut. Udahlah, kita tidur yuk, Kakak ngantuk," ajakku.


"Oiya Kak, bukannya Kak Bram memberikan Kakak berlian juga? Apa Kakak sudah kembalikan?" pertanyaan Zuri membuatku kaget.


"Untung kamu ingatin, besok sebelum dia berangkat, Kakak akan kembalikan. Tapi, apakah dia marah seperti Damar memarahimu?" tanya Zanu dengan ragu.


"Ya pasti marahlah Kak. Laki-laki kalau sudah memberikan hadiah yang mahal, itu tandanya ia sangat cinta. Kalau kita kembalikan, dia jadi kecewa dan merasa tidak dihargai dengan pemberiannya," jawab Zuri dengan bijak.


"Besok Kakak coba dulu deh. Semoga dia mau menerimanya kembali," aku ragu dengan pernyataanku. Tadi saja Bram menawarkan mobilnya untuk aku miliki, rasanya tidak mungkin Bram mau menerima pemberian satu set berliannya.


Entahlah..


"Yakin deh, pasti ditolaknya," celetuk Zuri.


"Udah ah, kita tidur yuk, hoaaam..," aku menguap.


Zuri dan aku mengatur posisi tidur, menarik selimut dan larut dengan lamunan masing-masing sampai terbuai mimpi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2