Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 21 : Mampir


__ADS_3

Panas terik matahari menyengat kulitku.


Ospek hari ke tiga sudah selesai. Saatnya kita pulang ke tempat masing-masing.


Aku dan Prita berjalan menuju halte Bus, melewati jalan samping gedung Rektorat. Tanpa sengaja aku melihat Ketua bersama Sari itu lagi. Entah apalagi yang mereka bicarakan.


Aku berjalan sembunyi-sembunyi di balik tubuh Prita, agar tidak melihat atau terlihat oleh Bram.


Dugaanku ternyata salah. Bram malah melihat dan memanggilku. Aduh...!


"Zanu! Ke sini sebentar!" teriak Bram.


Aku malah mempercepat langkah kaki dan meninggalkan Prita di belakang.


"Zanu, kamu di panggil Ketua tuh!" ujar Prita.


Aku diam dan tetap berjalan. Terus terang, aku tidak sanggup melihat Bram bersama Sari itu. Tidak tau ya kenapa, lebih baik menghindar saja.


Bram tidak tinggal diam, dia mengejar dan menarik tanganku.


"Zanu! Dari tadi aku memanggilmu, kenapa kamu diam?!" ujar Bram dengan nada sedikit kesal.


"Ada apa lagi Ketua?! Ospek sudah selesai, jadi tidak ada lagi pengaturan kampus diterapkan di luar jam ospek! Terserah aku mau diam atau pergi!" entah kenapa aku jadi marah sama Bram.


"Kamu kenapa Zanu? Aku cuma memanggil kamu, karena ada yang mau aku bicarakan," jawab Bram yang kebingungan dengan sikap dan ucapanku.


"Ya!! Ketua ingin bicara tentang cewek itu kan? Kan sudah aku bilang, aku tidak mau berurusan tentang ini lagi. Lagi pula, apa hubungannya antara kalian denganku?! Aku hanyalah seorang junior yang kebetilan baru masuk kuliah, tidak lebih dari itu!" ucapku dengan suara bergetar.


Zanu! Ada apa denganmu, bangun Zanu. Jangan bikin malu, aduh! Pulang aja kamu Zanu, jangan dilanjutkan lagi. Suara hatiku meredakan sedikit emosi yang sudah terlanjur aku luapkan.


Aku diam sejenak.


Kenapa aku jadi marah-marah sama dia? Bram bukan pacarku. Dan belum tentu dia memanggilku untuk membahas cewek itu?


Aku malu dan ingin rasanya mengnenggelamkan diri. Lalu aku berjalan cepat dan berlari meninggalkan Bram, Prita dan cewek itu di sana.


Aku sudah tiba di halte Bus. Beruntung aku menemukan Bus dengan segera dan syukurnya masih ada bangku yang kosong. Aku duduk dan termenung mengingat kejadian barusan.


Tiba-tiba air mataku menetes dengan sendirinya.


Aneh! Kenapa aku meneteskan air mata? Ada apa denganku?


Aku seperti takut akan kehilangan. Mungkin karena aku pernah merasa kehilangan dengan orang yang tidak pernah aku miliki yaitu Abang.


Dan perasaan tersebut seakan terulang kembali di saat aku bertemu Bram.


********


Tak menunggu waktu yang lama, akhirnya Bus sampai di halte berikutnya. Aku turun dan berjalan kaki menuju kost.


Sesampainya di kost, aku langsung menuju kamarku di lantai dua. Lalu rebahan di kasur dan tanganku menggapai diary biru yang berada di atas meja.


Kutuliskan,


Bang, andai saja kamu masih ada, ingin rasanya aku bercerita kembali tentang apa yang sedang terjadi dalam hidupku.


Aku menemukan sosok yang mirip dengan Abang, namanya Bram. Aku tidak ingin mendekatinya, tapi takdir selalu mempertemukan aku dan Bram berulang kali. Aku tidak ingin mengenalnya, karena aku takut kehilangan lagi.

__ADS_1


Kututup kembali diary dan aku beranjak tidur.


********


Tok! Tok! Tok!


"Zanu! Zanu! Bukain pintunya dong,"


Terdengar suara Prita di balik pintu kamarku. Aku duduk sebentar dan berjalan sedikit lunglai menuju pintu.


Lalu aku bukakan pintu. Prita langsung menerobos masuk. Terlihat nafas Prita terengah-engah, seperti sedang terjadi sesuatu.


"Zanu, kenapa kamu tadi pergi duluan? Aku di tinggal sendiri, nggak enak banget tau suasananya," ucap Prita.


"Maafin aku Prita, aku tidak bermaksud demikian. Entahlah, tadi perasaanku campur aduk dan yang bisa aku lakukan hanya pergi menjauh dari sana. Sekali lagi aku minta maaf ya Prita," ujarku memelas.


"Baiklah Zanu, kali ini aku maafin kamu. Kalau ada apa-apa kamu bisa curhat ke aku. Jadi kedepannya aku bisa mengerti kalau tiba-tiba ada hal yang tidak terduga dari sikap kamu,"


"Terima kasih Prita. Untuk saat ini, aku belum bisa cerita apa-apa. Tentang Ketua tadi, aku hanya dilema. Untuk mulai ceritapun aku tidak tau,"


"Ya tidak apa-apa. Oiya, ada Ketua sedang menunggu kamu di ruang tamu. Kamu temui dulu,"


Aku kaget! Ngapain Bram kesini? Apa dia mau membahas yang tadi? Atau dia marah?


Ada banyak pertanyaan yang hinggap dikepalaku.


"Sudahlah Zanu, kamu temui dulu Ketua. Tentang apa yang mau dia bicarakan nanti, kamu tinggal jawab saja. Mau sampai kapan kamu menghindar terus?" ujar Prita.


Aku mengangguk dan beranjak ke lemari pakaian. Aku ganti pakaian bekas ospek tadi dengan baju kaos. Aku rapikan rambut dan bedakan tipis-tipis diwajahku biar tidak terlihat kusut.


"Nah gitu dong, dandan dikit biar Ketua jadi makin suka sama kamu, hi..hi..hi..," Prita mulai menggodaku.


"Nggaklah..., ini kan maunya membahas sesuatu. Tidak ada hubungannya sama aku. Nanti aku bantuin deh bikin minuman," tangkis Prita.


"Baiklah. Tapi janji jangan godain aku di depan Ketua,"


"Tenang, kamu selesaikan dulu masalahnya. Yuk kita turun,"


Aku mengangguk dan berjalan keluar kamar bersama Prita. Setelah turun dari tangga, aku langsung menuju ruang tamu dan Prita ke dapur.


Kulihat Bram sedang duduk sambil menelepon seseorang dengan ponselnya. Sayup-sayup aku mendengar Bram membahas tentang kelapa dan tanaman coklat.


Dia tiba-tiba menoleh kearahku. Refleks dia langsung mematikan ponsel.


"Hai Zanu. Apa kamu baik-baik saja?" ujar Bram dengan suara yang lembut menyapaku.


"Alhamdulillah baik-baik saja Ketua," aku menjawab tanpa melihatnya.


"Maaf tentang tadi. Aku salah. Karena tidak langsung menjelaskan apa maksudku memanggilmu tadi," ujar Bram to the point.


"Eh iya Ketua, tidak apa-apa," jawabku datar.


"Kamu bisa kan, di luar kampus jangan panggil aku Ketua?" tanya Bram.


Aku mengangguk dan duduk langsung dihadapannya.


"Zanu, tadi aku memanggilmu, karena mau mengantarkan kamu pulang. Sekalian tadi aku mau temuin kamu dengan temanku tadi. Supaya kedepannya dia tidak berharap banyak untuk mendekatiku terus menerus. Selama ini dia berkoar ke sana kemari dan mengancam siapa saja yang mendekati aku. Aku risih dan tidak suka caranya seperti itu," Bram menghela nafas sebentar.

__ADS_1


"Jadi, dengan adanya kamu, masalah bisa selesai. Aku bisa tenang dan menjalani hari-hariku tanpa beban lagi. Karena di luar masalah ini, masih banyak lagi tugas yang harus kujalani bahkan di luar kampus,"


Suasana hening. Aku lihat Bram bicara sangat serius dan ingin mengatakan sesuatu di balik sorot matanya.


"Trus, apa aku hanya sebagai tameng untuk menyelesaikan masalah Kakak? Kita kan baru saja kenal Kak dan aku baru kuliah. Ini juga masih mengikuti ospek," ujarku dengan memberanikan diri untuk menjelaskan posisiku saat ini.


"Iya, aku tau itu. Aku ingin kamu menjadi bagian dari keseharianku. Aku ingin selalu melihatmu. Aku tidak tau, yang pasti aku menyukaimu dari awal kita bertemu," ucap Bram lirih.


OMG!! Apakah barusan dia menyatakan perasaannya? Apakah dia benar-benar menyukaiku? Apa itu bearti kita akan pacaran?


Aku kaget bukan main. Dan timbul banyak pertanyaan dikepalaku.


Kok bisa ya, dia menyukaiku?


Tenang Zanu! Kamu jangan norak deh, dengar dulu penjelasan dia.


"Mungkin ini terlalu cepat buatmu. Tapi, maukah kamu menjadi pacarku?"


Bram melihat wajahku dan sekaligus menatap mataku dengan cara yang tak biasa.


Deg! Aku jadi panik dan gelisah.


Jawaban apa yang harus aku katakan kepada Bram? Kenapa secepat ini? Aduh...


"Bagaimana Zanu, maukah kamu menerimaku?" tanya Bram penuh harap.


Aku bingung. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Jawaban apa yang pas buat aku ungkapkan ke Bram? Aku tidak mau dia kecewa dan aku juga tidak mau kehilangan dia.


Tuhan tolonglah...


"Zanu? Ada apa? Apa ada yang salah?" tanya Bram lagi.


"Tidak, tidak ada yang salah. Hanya saja ini terlalu mendadak dan aku butuh waktu. Sulit untuk dijelaskan. Itu juga kalau Kakak mau menerima dan mendengar ceritaku nanti," jawabku.


"Baiklah. Tidak apa-apa. Jikapun nanti kamu tidak menerimaku, tidak masalah, walau aku akan merasakan sedih. Tapi, izinkan aku untuk selalu bisa melihatmu. Dan aku akan dengarkan apapun ceritamu nanti," ujarnya Bram melow..


"Iya Kak, maaf. Aku juga belum bisa pacaran di saat masih kuliah, tapi tidak tau kedepannya seperti apa," jawabku.


Sekilas, aku ingat Vincent. Yup! Vincent juga menyukaiku dan ada perasaan bersalah saat aku memutuskan hubungan tersebut. Sekarang apakah akan terulang kembali kisahku?


Aku tidak mau kehilangan lagi.


"Oke Zanu, aku paham dan mengerti. Biarlah dulu kita jalani seperti ini. Mengalir begitu saja. Tapi, apakah aku bisa pastikan, kamu suka aku juga kan?" tanya Bram.


"Ya..," jawabku singkat.


"Syukurlah, satu kata itu saja sudah cukup membuatku lega. Thank you Zanu,"


Bram tersenyum. Terlihat raut senang diwajahnya. Dan akupun lega mengatakan "Iya", walau cuma satu kata saja.


"Baiklah Zanu, aku pulang dulu. Sekali lagi maaf tentang tadi. Sekali-kali boleh aku antar kamu pulang?"


"Iya Kak, boleh," jawabku sambil tertunduk malu.


"Bye Zanu,"


Bram melangkahkan kaki keluar dan aku mengantarkannya ke teras depan. Dia menaiki motornya dan melihatku sebentar sambil tersenyum.

__ADS_1


Diapun berlalu sampai menghilang dari pandanganku.


...****************...


__ADS_2