
Kita menemukan mesjid yang tidak terlalu jauh dari pantai.
Adzan magrib baru saja selesai berkumandang. Aku dan Bram bergegas wudhu di tempat terpisah. Setelah itu kita lanjut sholat di tempat masing-masing. Untungnya ada mukena yang siap di pakai secara gratis di mesjid tersebut.
Setelah beberapa menit, sholatku selesai dan berdoa juga sudah. Aku lihat dari kain pembatas, Bram masih duduk di sana.
Aku keluar mesjid dan berdiri di tiang sambil menunggu Bram keluar dari pintu.
Akhirnya Bram keluar dan langsung menghampiriku.
"Abis ini kita mau kemana lagi Zanu? Langsung pulang?" tanya Bram.
"Iya, takutnya nanti kemalaman pulang. Entar di tegur Mami kan nggak enak," jawabku.
"Oke, yuk," ajak Bram.
Aku ikut ajakan Bram menuju parkiran mobil.
Mobil berjalan keluar halaman mesjid dan melaju menuju kost aku.
"Zanu, kamu kapan pulang ke Prn?" tanya Bram.
"Rencana sabtu besok. Kenapa Kak?" tanyaku.
"Minggu besok kamu waktunya kosong nggak?" tanya Bram lagi.
"Yah.. Seperti biasa kumpul keluarga saja di rumah, ada apaan sih?" tanyaku balik, bikin penasaran.
"Minggu besok itu, mantan kamu mau tunangan. Aku di undang, mau bawa kamu. Kamu mau nggak?" Bram menoleh ke arahku.
Deg! Aku kaget dengar berita Vincent.
Secepat itukah Vincent? Kenapa kamu tidak beri kabar?
"Zanu, kenapa kamu bengong? Apa kamu tidak di beritau Vincent? Atau kamu masih ingat dia kan..?"
"Eh, enggaklah. Cuma kaget saja, bisa secepat itu. Dan dia tidak beri kabar kalau mau tunangan. Kalau mau dijodohkan, dia pernah bilang," jawabku langsung menepis omongan Bram.
"Kamu mau nggak ikut aku ke acaranya nanti?" Bram kembali bertanya.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya Kak," jawabku.
Bram tersenyum mendengar jawabanku.
__ADS_1
"Oiya, Kakak kenal Vincent dari mana?" tanyaku.
Pertanyaan yang selama ini ingin kutanyakan ke Bram. Rasanya tidak mungkin hanya sekedar pelanggan di toko emas Vincent.
"Vincent itu akan tunangan dengan keponakannya istri Rektor kita. Rektor itu Pamanku, Kakaknya Mama. Mama sama Papaku ada di Amerika sekarang, mereka menungguku selesai kuliah untuk nanti menggantikan posisi penting di perusahaan. Dan Resa itu anaknya Rektor, Resa dan aku sepupu kandung. Tapi janji, jangan bilang ke siapapun, kalau Resa anaknya Rektor. Dia tidak mau orang lain tau," jawab Bram panjang lebar.
Hah!! Jadi Kak Resa itu anaknya Rektor? OMG!! Pantesan, informasi apapun yang berhubungan dengan Bram, pasti tau.
Trus, Vincent kenal di mana itu tunangannya? Kalau dijodohkan, bisa saja orang tua Vincent yang lebih tau tentang calonnya.
"Kak, Vincent pernah cerita. Dia tidak mau dijodohkan karena terlalu cepat dengan umurnya segitu, baru tamat SMA. Dia juga mau kuliah, tapi Bapaknya mengharuskan menjaga toko," ujarku.
"Hhmm.. Aku kurang tau ceritanya bagaimana. Sebenarnya bisa saja aku hentikan perjodohan tersebut, jika Vincent menolak langsung ke orang tuanya. Tapi yang aku dengar, Vincent malah setuju, walau mungkin dia sendiri merasa terpaksa. Semoga saja pilihan ortunya adalah yang terbaik untuk Vincent, kita do'akan saja,"
"Iya Kak.., semoga," jawabku lirih.
"Kita kapan Zanu?" tanya Bram sambil melirikku.
"Ah Kakak, masih bahas itu lagi," jawabku tersipu-sipu.
"Ya harus di bahas. Kita tunangan aja dulu, gimana?" tanya Bram mulai serius.
"Tapi kalau tunangan, masih lama nunggu aku selesai kuliah Kak," jawabku.
"Yah, aku belum bisa memberi kepastian Kak. Orang tuaku yang lebih berhak untuk memutuskan,"
"Ya iyalah, kalau tentang itu aku juga tau. Yang penting, kamu mau tidak tunangan dulu sama aku?" tanya Bram.
"Mau," jawabku singkat.
"Oke, besok minggu aku langsung bicara ke orang tua kamu,"
"Jangan dulu Kak, itu terlalu mendadak. Biar aku jelaskan dulu secara pelan-pelan. Ortuku aja belum tau kalau kita sudah pacaran. Dan ortuku juga sudah wanti-wanti melarang pacaran saat baru kuliah ini," cegahku.
"Yah.., kalau gitu gagal dong kita tunangan," terlihat wajah kecewa di raut wajah Bram.
"Kakak harus bisa menerima situasiku. Tidak semudah itu kita tunangan. Lagi pula aku belum cukup matang untuk menghadapi sebuah pernikahan Kak. Kakak harus terima aku dengan segala prinsip dan ketentuan yang sudah ada," ujarku tegas.
"Okelah, kalau memang itu ceritanya. Nanti aku juga akan cerita tentang kamu ke orang tuaku, semoga mereka bisa menerima dan suka sama kamu,"
Aku mengangguk.
"Jadi nanti di saat wisuda, kalau mereka hadir, bisa ketemu langsung sama kamu,"
__ADS_1
"Oke Kak. Oiya, bagaimana tentang Atif? Waktu pulang bareng Kakak kemaren, ada cerita apa gitu tentang Prita?" tanyaku.
"Nggak ada. Mana beranilah, Atif itu asistenku. Segala urusan pribadi tidak ada ikut campur. Atif itu orangnya profesional dan sudah lama ikut. Dan dia bukan sembarang asisten, ada latihan khusus. Ada tiga orang lagi suruhanku, tapi tugas mereka hanya memantau dari jauh. Biar tidak ada yang curiga, cukup Atif yang menemaniku," jawab Bram.
Gila!! Bram punya bodyguard empat?!! Kenapa dia harus di kawal segala? Apa ada musuhnya? Apa Bram gengster? Mafia?
Segitu pentingkah seorang Bram?
"Kamu kenapa diam? Kalau seandainya Atif jadian sama Prita, kasian Pritanya. Karena Atif nanti akan ikut aku ke Amerika. Nanti mereka LDR dan belum tentu bisa komunikasi setiap hari. Kalau Atif pacaran, kosentrasi dia bisa buyar dan tugasnya tidak fokus," ujar Bram lagi.
"Lho, emangnya Kakak siapa sih? Kok berlebihan sekali pakai body guard segala? Kakak Mafia? Atau bagaimana?" tanyaku heran, benar-benar heran.
"Ha..ha..ha... Aku biasa saja. Selama jalan samaku, tidak ada sesuatu yang terjadi bukan? Ini urusan laki-laki. Cukup saja memahami dan lihat aku seperti senior yang sedang jatuh cinta dengan juniornya. Udah! Cukup itu saja," jawab Bram.
"Ah Kakak, bisa nggak sih kalau beri info itu jangan setengah-setengah," ujarku mulai sedikit cemberut.
"Maaf sayang, urusan ini tidak bisa di bahas terlalu jauh,"
Bram membelai belakang rambutku.
Aku diam. Yah, mungkin lebih baik aku tidak terlalu jauh mengetahui tentang Bram. Yang pasti aku bisa lega, kalau Bram aman mau kemana saja karena ada bodyguard yang menjaga.
"Zanu, lihat! Banyak buah rambutan di pinggir jalan. Sepertinya sedang musim. Pasti ada yang jual rambutan dekat-dekat sini. Kamu suka rambutan?" tanya Bram.
Aku reflek melihat ke arah luar jendela mobil. Yup! Sepanjang jalan, terlihat pohon-pohon rambutan yang sedang berbuah lebat.
"Iya Kak, aku mau! Selain semangka, aku juga suka sekali rambutan," jawabku antusias.
"Ayok kita selusuri jalan sini, pasti ada yang jual,"
Aku dan Bram sesekali melihat keluar. Memang mulai terlihat pedagang yang jual rambutan di pinggir jalan. Bram menghentikan mobilnya di dekat salah satu pedagang rambutan.
"Yuk Zanu, kita turun," ajak Bram.
Aku dan Bram turun dari mobil. Kita menuju pedagang yang paling banyak rambutannya, biar puas milih atau beli banyak.
Rambutan yang di jual ternyata jenis Rapiah atau lebih di kenal di kota ini, Rambutan Aceh. Rambutan yang tidak ada rambutnya, sangat manis dan airnya kering.
Bram memesan sekarung rambutan. Untuk dibagi-bagikan ke semua anak kost aku. Senang rasanya bisa dapat sebanyak ini dan aku bisa makan sepuasnya.
Setelah membayar, aku dan Bram kembali berjalan menuju mobil. Si Bapak pedagang membantu membawa karung untuk diletakkan di bagasi mobil.
Setelah semuanya selesai, mobil Bram melaju menuju arah kost aku.
__ADS_1
...****************...