Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 36 : Kepo Again


__ADS_3

Adzan magrib sudah berkumandang.


Aku dan anak kost lainnya sholat magrib. Setelah sholat kita ngumpul di ruang makan.


"Bagaimana nih perkemahan kalian di sana? Seru nggak?" ujar Kak Siska.


"Seru sih Kak. Tapi Zanu sempat hilang di hutan dan mengalami accident," jawab Prita.


"Hah! Kok bisa?!"


Semua pada kaget mendengar ucapan Prita. Aku hanya diam saja, membiarkan Prita menjelaskan apa yang dia ketahui.


"Ya begitulah Kak.., tapi yang lebih hot lagi, karena kejadian tersebut, Zanu jadi lebih dekat Ketua. Dari awal berangkat sampai pulang, dekat Ketua. Malah tambah romantis, he..he..he..," Prita makin heboh menjelaskannya.


"Itu namanya, sengsara membawa nikmat, ahaiii...," celetuk Mira.


"Ini berita terkeren yang ada di kampus kita. Eleh..eleh.. Mantap Zanu! Hanya hitungan hari udah bisa bikin Ketua klepek-klepek," ujar Kak Siska.


"Cewek lain terpaksa menyingkir. Ketua itu dingin orangnya, kalau bisa sampai bucin sama Zanu, itu amazing..," Kak Rosi ikut nimbrung sambil membuat susu coklat.


Aku masih diam. Mereka tidak tau kejadian yang sebenarnya. Tapi tentang kedekatanku dengan Bram memang benar adanya.


Biarlah ini menjadi cerita yang menarik buat mereka, toh teman-teman kostku mendukung dan senang dengan kisahku. Walau sebenarnya dihatiku masih ada keraguan.


"Zanu, jangan di lepas Ketuanya. Semoga hubungan kalian baik-baik saja. Kita di sini semua senang mendengar berita beginian. Uuhhh..! Andai saja Kakak punya cowok begitu, tak ikat kuat, di rantai kalau perlu, ha..ha..ha..," ujar Kak Siska sambil tertawa.


Semua tertawa dengan ucapan Kak Siska.


"Eitsss! Ada yang lebih hot lagi dari cerita Zanu. Prita lagi PDKT sama cowok," ujarku.


"Ssttt... Jangan beritau dulu Zanu. Kan belum pasti," bisik Prita ke arahku.


"Lho! Keren dong Prita. Cowok mana? Anak kuliahan juga?" tanya Kak Rosi.


"Hhmm.. Bukan Kak. Belum tau juga dia dari mana, masih abu-abu. Baru juga penjajakan," jawab Prita malu-malu.


"Semoga lancar Prita penjajakannya. Kalau menurut Kakak, kalian fokus kuliah saja dulu. Toh, kalau jodoh juga entar ketemu lagi atau ada yang lebih baik lagi," ujar Kak Kinan yang baru datang tiba-tiba.


Kak Siska dan Kak Rosi mesem-mesem mendengar ucapan Kak Kinan.


"Biarin sajalah adik-adik ini menikmati masanya. Yang penting kan pacarannya tidak aneh-aneh atau melakukan hal yang tidak pantas," bela Kak Siska.


"Yoi, aku juga kalau ada cowok, pasti senang. Kuliah jadi tambah semangat dan ada tempat buat curhat. Tapi ya, belum ada yang mau," ucap Kak Rosi.


Aku dan yang lainnya diam. Suasana mulai berubah.


Kenapa jadi begini ya?


Zanu, terkadang dalam berteman itu pasti ada yang suka ada yang tidak. Tinggal kita sendiri menyingkapi mau mengikuti yang mana. Toh itu kan cuma pendapat yang sama-sama baik tujuannya!.


"Kak, aku ke atas dulu ya, mau istirahat," ucapku memecah keheningan.


"Iya, aku juga. Badan rasanya capek abis perkemahan," Prita juga ikutan.


Belum lagi aku berjalan, tiba-tiba Bibi datang dari ruang tamu.


"Non Zanu, ada tamu. Bibi sudah suruh masuk dan sekarang dia sudah di ruang tamu,"

__ADS_1


"Oiya Bi, Zanu ke sana. Terima kasih ya Bibi,"


Bibi mengangguk dan langsung pergi ke dapur.


"Wah! Zanu ada tamu nih. Kita-kita boleh ngintip ya Zanu," ujar Kak Siska semangat.


"Paling juga itu Ketua Kak. Aku ngintip juga ah. Sayang, kalau berita hot begini dilewatkan begitu saja, hi..hi..hi..," celetuk Prita.


"Katanya mau istirahat...," Kak Rosi meledek Prita.


"Jiwa ke kepoanku sedang meronta-ronta Kak, tolong jangan halangi, ha..ha..ha..,"


Semua ikut tertawa.


Ada-ada saja mereka ini. Siapa ya tamunya? Bisa jadi Bram.


********


Aku berjalan menuju ruang tamu. Dan benar ternyata itu Bram. Masih memakai baju yang sama dari tadi pagi. Pasti dia capek banget mengurus ini itu, kasian kamu Kak, ucapku dalam hati.


"Zanu.., maaf aku malam-malam mampir ke sini. Urusanku sudah selesai hari ini. Tinggal tunggu besok keputusan Rektor dan Dekan," ujar Bram.


Aku duduk di samping Bram. Kuperhatikan Bram, masih sempat-sempatnya mengurus kasusku. Dengan situasi saat ini, tidak etis membahas yang lain.


"Kak, Lutfa bagaimana keadaannya sekarang? Bisa tidak untuk kasus aku di pending dulu. Fokus dengan kesembuhan Lutfa dulu," jawabku.


"Lutfa mengalami patah tulang kaki dan Sari harus di rawat, kemungkinan kena hantaman di bagian dada. Jadi tadi mereka berdua sudah di rontgen dan hasilnya besok, menunggu Dokter yang ahli dibidangnya. Masalah kasus kamu besok tetap di bahas dan keputusan mutlak di tangan Rektor. Mungkin melihat kejadian sekarang, bisa di tunda dulu atau apa, aku belum tau pasti," jawab Bram panjang lebar.


"Selain patah, kena apa lagi Kak?" tanyaku lagi.


"Ya luka lebam di seluruh tubuhnya. Sedangkan Sari wajahnya robek bagian hidung sampai mulut. Tadi mereka sempat pingsan dari awal kejadian sampai di bawa ke rumah sakit," jawab Bram.


"Zanu, saat Lutfa mencelakai kamu, apa kamu tidak pernah berfikir nasibmu jadi seperti apa? Kamu bisa lebih parah dari itu. Baik sama orang itu boleh, tapi kalau sudah niat ingin mencelakakan kamu, itu sudah beda cerita. Sudahlah, kamu jangan pikirkan mereka. Pikirkan kuliah dan aku saja!" ujar Bram, tegas tapi sempat-sempatnya suruh mikirin dia.


"Lho? Kenapa jadi ikutan mikirin Kakak? Kan tidak terjadi apa-apa?" tanyaku lagi.


"Jadi kamu tidak pernah memikirkan aku Zanu?" Bram tanya balik. Terlihat raut wajah kecewanya Bram.


"Bukan begitu Kak. Bagaimana caranya bisa memikirkan Kakak, sedangkan Kakak ada terus menghampiri Zanu," jawabku pelan, takut menyinggung perasaan Bram.


"Ya sudahlah. Tidak apa-apa, jangan pikirkan itu, mungkin ada yang masih mengganjal di hatimu. Semoga kedepannya aku bisa tau apa itu. Oiya, besok ini aku mau ke Jakarta beberapa hari ke depan, jadi kemungkinan kita tidak bertemu dulu,"


Deg! Bearti aku tidak bisa melihat Bram? Bagaimana ini?


"Kok diam? Kamu mau di bawain apa? Nanti aku belikan," tanya Bram.


"Tidak usah Kak. Yang penting Kakak selamat sampai tujuan pulang dan pergi," jawabku.


"Mulai perhatian ya sekarang, yes!"


Bram sangat senang dengan ucapanku barusan. Aku juga tidak tau kenapa suka keceplosan. Semakin lama aku merasa hubungan ini semakin asik. Bram juga tidak pernah memaksakan hubungan ini jadi serius.


"Zanu, tolong ambilkan ranselku. Aku tidak bisa lama-lama karena mau cepat pulang. Badan rasanya capek sekali," ujar Bram.


"Oke. Aku ke atas dulu ya ambil ranselnya. Oiya, Kakak mau minum apa? Biar sekalian aku ambilkan," tanyaku.


"Tidak usah, minuman sudah ada di mobil,"

__ADS_1


Aku bergegas ke kamar mengambil ransel Bram. Setelahnya aku memberikan ransel tersebut. Bram langsung pamit pulang. Aku mengantarkan Bram sampai teras depan.


"Bye Zanu," ujar Bram sambil masuk ke dalam mobilnya.


Aku cuma mengangguk dan memperhatikan Bram melajukan mobilnya sampai hilang dari pandangan.


********


Aku masuk ke dalam kost dan mengunci pintu depan. Saat aku hendak ke ruang tengah, terlihat teman-teman kost sedang pura-pura nonton. Lucu lihat tingkah mereka. Pasti abis nguping aku dan Bram tadi di ruang tamu.


"Cie.. cie.. Langsung di apelin, suiiittt....," ucap Kak Siska menggodaku.


"Makin ganteng aja Ketua ya..., duh, jadi meleleh," Prita ikut juga menggodaku.


Aku cuma senyum-senyum melihat godaan mereka. Hatiku juga sedang berbunga-bunga tapi mengingat ucapan Bram yang akan pergi, rasanya ada yang hilang.


"Eh Zanu, tadi kedengaran Ketua bicara tentang Sari? Emangnya ada apa?" tanya Kak Rosi dengan mimik wajah serius.


Semua tiba-tiba langsung duduk sambil menunggu aku bicara. Ternyata memanglah ya teman-teman kost aku ini haus akan info.


"Iya Kak, tadi sore Sari sama adiknya kecelakaan di dekat kost kita ini. Adiknya patah tulang kaki dan lebam. Sedangkan Sari robek di wajah dari hidung ke mulut. Dan di rontgen bagian dada. Belum tau hasilnya," jawabku.


"Lho? Jadi yang tadi kecelakaan itu si Sari sama adiknya ya? Kenapa Ketua tidak beritau ke kita?" tanya Prita kaget.


"Ketua beritaunya ke aku Prita. Dia minta izin buat antarin mereka ke rumah sakit. Takutnya aku cemburu atau marah karena si Sari, gitu..," jawabku.


"Wah, minta izin pula Ketua kita. Itu tandanya Ketua menghargai perasaan kamu Zanu," ucap Prita.


"Itulah dinamakan karma. Selama ini si Sari itu musuhin orang, belagak sok iye. Belum lagi adiknya, sombongnya...," ujar Rani tiba-tiba nyeletuk.


"Ya, do'akan saja yang baik-baik. Semoga mereka cepat sembuh. Kita tidak boleh berkata yang jelek ke orang lain, nanti bisa berbalik ke diri kita sendiri," Kak Kinan ikut komentar.


Semua mengangguk.


"Zanu, tadi Kakak dengar Ketua mau pergi ya?" tanya Kak Siska.


"Kepo amat Siska, hi..hi..hi..," ucap Kak Rosi.


"Biarin! Aku suka berita yang berbau-bau Ketua. Apalagi pacarnya Zanu sendiri, teman satu kost. Ya.., berita ini pasti hot banget di kampus," jawab Kak Siska.


"Dia ada urusan Kak di Jakarta untuk beberapa hari. Urusan apa Zanu tidak tau,"


"Jangan-jangan mau menemui orang tuanya buat ngelamar kamu Zanu," ledek Kak Siska.


"Udah Siska.., mereka baru jadian. Zanu juga baru kuliah, mana mungkinlah," celetuk Kak Kinan.


"Siapa tau kan, kalau udah cinta. Tinggal gas!"


"Sudah, sudah, bubar! Katanya tadi Zanu sama Prita mau istirahat. Ini sudah jam berapa lho.. Kita besok kuliahnya pagi semua. Yok istirahat di kamar masing-masing," ujar Kak Rosi sedikit memerintah.


Semua manut-manut dan beranjak dari ruang tengah. TV dimatikan dan semuanya masuk ke kamar masing-masing.


Aku langsung ke kamar atas dan langsung rebahan. Teringat ucapan Kak Siska tentang cinta.


Apakah benar Bram cinta padaku? Apa semua perhatiannya tersebut dikatakan cinta?


Entahlah.. Rasanya terlalu dini untukku mengenal apa itu cinta. Atau memang inilah saatnya?

__ADS_1


Aku ngantuk dan langsung tertidur.


...****************...


__ADS_2