Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 140 : Pemecatan Mandor Pabrik


__ADS_3

"Baiklah, jika tidak ada yang perlu disampaikan, saya akhiri meeting kita hari ini. Hari ini saya juga mau mengurus cafe," ujar Bram.


"Terima kasih Pak Bram sudah memberikan arahannya. Kita yakin, dengan adanya Non Zanu, perusahaan ini bisa update dan maju. Kita menerima dengan senang hati kehadiran Non Zanu di pabrik ini dan direkomendasikan langsung oleh Bapak," ujar Pak Omar. Disambut juga senyuman dari semua yang hadir di ruang meeting.


Aku menginjak kaki Bram.


"Aduh!" Bram kaget dan melihat ke arahku. Semuanya juga ikut memperhatikan.


"Kenapa Kakak memberi keputusan tanpa bicara dulu denganku? Aku tidak mau dan tidak suka diginiin," aku berbisik ke arah Bram dan cemberut.


"Nanti kita bicaranya," jawab Bram singkat.


Aku diam dan berusaha tersenyum walau agak kecut.


"Baik, saya dan Non Zanu permisi dulu. Silahkan Bapak dan Ibu dinikmati makanan yang sudah tersedia. Untuk hal-hal lain bisa langsung bicarakan ke Pak Omar dan Pak Omar bisa menyampaikannya ke saya," ujar Bram.


"Baik Bos," jawab semua karyawan di ruang meeting.


Semua karyawan mulai mengambil dan menikmati makanan yang sudah disediakan di atas meja. Salah satu karyawan Pak Omar masuk ke dalam dan membawa keranjang rotan berisi bermacam buah-buahan.


"Maaf Bos, ini buahnya," ujar karyawan sambil menyodorkan keranjang kehadapan Bram. Bram menyambutnya.


"Terima kasih Pak," jawab Bram. Bram memberikannya kepadaku. Dan kemudian ia mengajakku keluar dari ruang meeting. Terlihat Pak Omar dan Pak Suryo mengikuti kita dari belakang.


Sesampainya di teras depan pabrik, kita pamit pergi.


"Pak Omar dan Pak Suryo, titip pabrik saya. Tolong di jaga dengan baik dan amanah. Apapun kendalanya, Bapak bisa hubungi saya dan nanti di urus semuanya walau dari jauh. Saya dan Zanu permisi dulu," ujar Bram dengan sopan. Bram menyalami dan memeluk mereka secara bergantian.


Aku ikut menyalami. Setelah itu kita masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan ke arah Pak Omar dan Suryo. Mobil melaju melewati pintu gerbang pabrik menuju cafe.

__ADS_1


*********


Di dalam perjalanan menuju cafe, aku dan Bram berdebat perihal tadi.


"Sudahlah Zanu, kamu akan mengerti jika nanti sudah masuk ke dalam dunia kerja. Aku ingin kamu bisa belajar banyak mengenai perusahaan," ujar Bram sambil menyetir.


"Tapi itu bukan basicku Kak. Aku anak hukum dan berhubungan dengan orang-orang yang bermasalah. Nggak ada hubungannya dengan pabrik, apalagi aku belum ada pengalaman sedikitpun," aku masih bersekukuh dengan pendirianku.


"Justru itu, jika ada masalah di perusahaan, aku ingin kamu ikut andil dalam mengatasinya. Nanti kamu aku gaji kok,"


"Lho? Kenapa jadinya permasalahan perusahaan dilimpahkan kepadaku? Apa karena perusahaan Kakak mengalami kenaikan lima puluh persen, aku tiba-tiba dimasukkan ke dalam dunia kerja? Tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu!" entah kenapa aku mulai emosi dengan cara Bram yang tidak sesuai dengan nuraniku.


Bram diam dan aku ikut diam. Selang sepuluh menit kemudian Bram memperhatikanku dan ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Sudah reda marahnya sayang? Kalau sudah, aku mau memberitahukan alasannya. Maaf jika aku tidak diskusikan ini terlebih dahulu denganmu. Situasinya mendadak dan aku harus cepat mengambil keputusan saat itu juga, dikarenakan aku segera berangkat malam ini," ujar Bram.


Aku diam dan mencoba meredakan emosi yang sudah terlanjur tersulut begitu saja.


"Dengan begitu mereka memiliki rumah layak huni dan sejahtera, kredit tanpa bunga. Kamu tau? Semua keuntungan itu didapatkan dari ide cemerlang kamu. Jadi, aku berfikir kamu pantas mendapatkan apresiasi dalam mengelola pabrik. Tapi karena masih kuliah, aku hanya menempatkanmu sebagai penasehat saja. Jika perusahaan butuh ide kamu atau masukan nantinya, aku minta kamu maju dan bantu mereka,"


Deg! Aku terpana mendengar penjelasan Bram, ternyata dia sudah memikirkannya sampai sejauh itu. Dan aku tidak menyangka, ideku bisa merubah kehidupan banyak orang. Aku jadi malu dengan diriku sendiri, yang hanya melihat dari sisiku sendiri. Tapi Bram! Dia luar biasa! Memikirkan orang lain dari sisi yang berbeda. Aku layak selalu jatuh cinta kepada Bram.


"Bagaimana? Apa kamu masih marah sayang? Aku juga tidak akan memaksamu, jika ini menjadi beban. Tapi aku berharap banyak, kamu mau membantu mereka," Bram menatap lekat wajahku, ia membelai rambutku dengan kasih sayang.


"Baiklah Kak, aku setuju. Maafkan aku yang tidak memikirkannya sampai kesana, aku hanya peduli diriku sendiri," aku tertunduk malu.


Bram memelukku.


"Itu baru Zanuku. Kamu ingin tau mengapa aku menyeretmu ke dalam perusahaanku?" tanya Bram sambil melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Aku menggeleng dan menunggu jawaban Bram.


"Aku ingin, jika kita sudah menikah nanti, kamu mendampingiku mengurus semua perusahaan. Dan jangan pernah lupakan orang-orang yang berkesusahan disekitar kita," ujar Bram.


Aku belum yakin bisa menikah dengan Bram. Entahlah, aku takut untuk memikirkannya.


"Sekarang kita ke cafe. Aku mau menunjuk orang yang nantinya akan mengurus bahan makanan, kita kesana yok," ajak Bram hendak menyetir. Tapi aku mencegah Bram, karena masih ada yang mengganjal di hatiku tentang apa yang kudengar di pabrik tadi.


"Maaf Kak, pembahasan kita belum selesai. Aku mau menanyakan tentang mandor yang mau Kakak pecat. Itu ada apa ya? Aku penasaran," tanyaku serius.


Bram kaget dan memperhatikanku dengan ragu. Ada rasa khawatir yang tersirat dari wajah Bram.


"Begini Zanu, seharusnya aku tidak memberitahukanmu karena takutnya akan menambah beban pikiran. Tapi mungkin sebaiknya aku jelas apa yang sudah terjadi, supaya kamu mawas diri dimanapun berada," Bram masih belum menjelaskannya.


Aku masih menunggu.


"Zanu, mandor yang bekerja dipabrikku sudah bekerja sama dengan Lutfa. Dialah yang memberitahukan posisi tempat tinggalmu di kota Prn. Dia juga yang memberitahukan info hubungan kita. Jadi, aku memecatnya,"


Hah?! Kok bisa? Ya Tuhan, ternyata nyawaku sedang tidak baik-baik saja.


"Darimana mandor itu tau Kak?" tanyaku penasaran.


"Dari cerita-cerita Pak Jack, Pak Omar dan Pak Suryo. Dia suka menguping pembicaraan dan bertanya seolah-olah peduli. Dari sanalah dia mendapatkan informasi dan kebetulan Lutfa langganan mengkomsumsi roti buatan pabrikku. Disanalah awalnya mereka mulai mengobrol dan diskusi bagaimana caranya untuk mencelakakanmu. Lutfa membayar mandor itu sebanyak dua puluh juta rupiah," penjelasan Bram.


"Hah?! Terus, bagaimana nanti kedepannya keamananku Kak? Ini kenapa cerita hidupku jadi berbahaya," aku mulai khawatir dengan keselamatanku.


"Untuk urusan Lutfa, sudah bisa diatasi, tinggal menunggu proses dari kepolisian. Ada hal lain yang lebih besar yang aku urus di Amerika, termasuk urusan Gilang. Sudahlah, sekarang kita ke cafe dulu, keburu waktu habis. Aku juga harus bersiap-siap," ajak Bram. Ia menghidupkan mesin mobil.


Aku mengangguk. Mobil melaju ke arah tujuan yaitu cafe Coffe Break Ox.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2