Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 150 : Mesjid


__ADS_3

Kring..!


Alarm berbunyi nyaring, menandakan waktu subuh sudah waktunya.


Aku bangun dan langsung wudhu. Setelah sholat subuh, aku membangunkan Zuri yang sedang tertidur lelap.


Aku turun ke bawah dan mendapati Mama sedang beres-beres rumah. Aku ikut membantu sebelum keluar bersama Zuri.


"Ma, Zanu sama Zuri pagi ini mau keluar sampai pantai. Mama ada yang mau dipesanin nggak? Biar nanti kita sekalian ke pasar," tanyaku.


"Hmm.., sepertinya nggak ada, Mama sudah belanja kemaren untuk stock tiga hari kedepan. Zanu mau olah raga apa jalan-jalan saja?" tanya Mama.


"Jalan-jalan saja Ma, lagi cape olah raga, hehehe..,"


"Ya sudah, kamu bersiap-siap dan bangunkan adikmu,"


"Baik Ma,"


Aku ke atas dan masuk ke kamar untuk membangunkan Zuri. Setelah itu aku ganti pakaian dan dandan tipis-tipis. Sambil menunggu Zuri bersiap, aku mengambil diary biru yang ada di dalam laci.


Aku membaca diary yang berisikan tentang curhat masalalu. Walau isinya tidak banyak, tapi mengena dihati, terutama kenangan bersama Bram. Walau hubunganku tidak terlalu lama bersama Bram, tapi hampir setiap hari selalu ada cerita bersamanya.


Bahkan ada hal diluar logika, peristiwa-peristiwa yang menurutku hanya ada di dunia mafia dan dongeng.


"Kak, aku sudah siap. Ayo kita turun," ajak Zuri.


Aku mengangguk dan mengikuti dari belakang. Saat berada di lantai bawah, aku dan Zuri berpamitan dengan Mama. Papaku sedang tidak ada di rumah, sudah keluar subuh untuk melakukan hobbynya yaitu memancing.


Aku dan Zuri mulai berjalan kaki menuju ke pantai yang tidak terlalu jauh dari rumah. Sepanjang jalan kita berdua bercerita tentang kesibukan masing-masing di Sekolah dan kuliahku. Tidak ada terbersit untuk menceritakan orang yang kita cintai karena itu akan melukai perasaan masing-masing.


Sesampainya di pantai, aku langsung bermain pasir dan sekali-kali membasahi kaki ke ombak yang menghampiri. Begitu juga Zuri, sibuk mencari kerang dan bermain ombak. Tak di duga, terlihat dua orang menghampiriku.


"Hallo Kak Zanu!" teriak seorang anak perempuan dari kejauhan. Terlihat wajah sumringahnya saat menghampiriku dan ternyata merek berdua kakak dan adiknya Vincent.


"Hallo juga," jawabku sumringah sambil memeluk adik Vincent.

__ADS_1


"Sudah lama aku tidak melihat Kakak, lagi ngapain di sini?" tanya adik Vincent.


"Iya..ya.., kamu kangen ya sama Kakak? Lagi main pasir sama adik Kakak. Yuk, Kakak kenalin," ajakku sambil menghampiri Zuri yang sedang menghitung kerang.


"Zuri, kenalin ini adiknya Vincent,"


"Hei, salam kenal ya Dek, nama Kakak Zuri. Namamu siapa?" tanya Zuri.


"Hallo Kak Zuri, namaku Tiara. Dugaan Tiara ternyata benar ya Kak Zanu, kalau Kak Zuri ini juga sama cantiknya dengan Kakak," Tiara memuji Zuri.


"Ah, Tiara bisa aja. Kakak jadi melayang-layang nih," ledek Zuri tersipu-sipu malu.


"Udah, kita kesana yuk Tiara. Kakakmu menunggu," aku mengajak Tiara ke tempat semula.


"Hallo Kak, maaf Tiaranya Zanu bawa kesana," ujarku.


"Tidak apa-apa Zanu. Kamu lagi libur kuliah ya?" tanya Kakak Vincent.


"Liburnya setiap minggu. Libur semesternya belum. Oiya, bagaimana kabar Ibu Kak?"


"Ibu Alhamdulillah sehat. Ibu sering bertanya dan menunggu kedatangan Zanu ke rumah kita. Mainlah ke rumah Kakak, pasti Ibu sangat senang. Semenjak kepergian Vincent, Ibu suka sedih dan terlihat murung. Vincent anak kesayangan Ibu, dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarga kita," penjelasan Kakak Vincent.


"Nanti agak sorean Zanu main ya ke rumah," ujarku.


"Benar? Duh! Pasti Ibu bahagia mendengarnya. Tapi kenapa harus sore Zanu? Siang saja, biar bisa berlama-lama kita ngobrol bersama Ibu,"


"Jam sepuluh Zanu latihan nyetir Kak. Belum tau selesainya jam berapa. Habis nyetir, Zanu usahakan secepatnya ke rumah Kakak, oke,"


"Duh... Beneran ya, Kakak tunggu. Nanti kalau sudah mahir nyetir, bisa dong ya sering-sering main ke rumah kita,"


"InsyaAllah Kak," jawabku. Terlihat sekali Kakak Vincent antusias menunggu kehadiranku dirumahnya.


Aku, Zuri, Kakak Vincent dan Tiara bermain engklek, permainan yang pernah aku mainkan waktu bersama Bram. Kenangan itu hadir kembali dalam sanubariku.


Kak, aku rindu.

__ADS_1


*********


Setelah puas bermain, Kakak Vincent dan Tiara pamit pulang lebih dulu. Tinggallah aku dan Zuri di pantai. Kita berdua masih berleha-leha sambil berlarian, mencari kerang atau main ombak.


Tiba-tiba dari kejauhan, aku melihat beberapa orang menghampiriku. Hanya satu orang yang aku kenal yaitu Pak Jack.


Ada apa Pak Jack kesini ya? Pasti ini urusan penting, sehingga Pak Jack membawa beberapa orang bodyguardnya. Semoga aku bisa mendapatkan kabar mengenai Bram.


"Selamat pagi Non Zanu. Apa kabarnya?" tanya Pak Jack dengan sopan.


Aku membersihkan kedua tanganku dari pasir yang menempel.


"Selamat pagi juga Pak Jack. Alhamdulillah baik, Bapak bagaimana?" tanyaku balik.


"Alhamdulillah sama baiknya dengan Non. Oiya, maaf saya mengganggu waktu Non sebentar. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan perihal mengenai nelayan di sini termasuk muda mudinya," ujar Pak Jack.


Waduh! Apa ini tugas dari Bram? Bagaimana mungkin tugas ini ditujukan kepadaku, sedangkan Bram sudah memberikan posisi Bos di daerah sini adalah Pak Jack secara keseluruhan?


"Ada apa ya Pak? Apa ada sesuatu yang disampaikan Kak Bram untuk saya? Tapi sebaiknya mengobrol di pondok itu saja Pak," aku menunjukkan pondok terbuka di pinggir jalan yang tidak terlalu jauh dari bibir pantai.


Pak Jack dan bodyguard mengikutiku dari belakang. Sesampainya di pondok, aku mengambil posisi duduk saling berhadapan dengan Pak Jack, sedangkan bodyguard berdiri di belakang.


"Begini Non. Mungkin Non sudah tau kalau kuasa penuh untuk pengurusan nelayan di wilayah sini adalah saya. Tapi ada batasannya termasuk izin berupa tanda tangan surat-surat penting, usulan dan pengaturan dalam mengambil suatu keputusan itu diserahkan ke Non Zanu," penjelasan Pak Jack.


"Lho? Kak Bram tidak pernah bilang ke saya tentang itu? Lagipula saya tidak tau sama sekali tentang nelayan, bagaimana misi dan fisinya serta pembagian bantuan ke mereka semua Pak," aku menolak dan rasanya aku seperti ditumpukan banyak tugas oleh Bram.


"Maaf Non, lebih tepatnya tugas Non itu hanyalah sebagai pengawasnya. Untuk pengerjaan ini itu, semua tugas Bapak, tapi keputusan tetap di tangan Non. Jadi tidak perlu Non bersusah payah turun ke lapangan, begitulah kira-kira. Seminggu ini nelayan mendapatkan hasil penangkapan ikan terbanyak dan perusahaan Bos mendapatkan keuntungan beberapa persen dari sebelumnya. Sesuai amanat Bos, keuntungan dibagikan untuk keluarga masing-masing nelayan dan sisanya untuk pembangunan mesjid,"


Hah! Mesjid? Bram rasanya tidak pernah membahas atau memberitahukan tentang itu.


"Mesjid Pak? Mesjid yang mana? Perasaan Kakak tidak pernah bilang," tanyaku penasaran.


"Memang Bos tidak mau memberitahukan Non perihal pembangunan mesjid tersebut sebelum beliau berangkat ke Amerika. Karena itu surprise buat Non. Bos membangun mesjid tersebut untuk Non Zanu,"


"Hah?!"

__ADS_1


Aku benar-benar kaget mendengar info dari Pak Jack. Dan aku tidak menyangka sedikitpun, di dalam hidupku memiliki sebuah mesjid. Dan Bramlah orangnya, yang benar-benar bisa mewujudkan semua impian banyak orang yaitu membangun mesjid.


...****************...


__ADS_2