
Aku kaget!
Tanpa pikir panjang, aku langsung menerobos keramaian menuju perempuan yang di tunjuk Prita barusan.
"Zanu! Mau kemana?!" teriak Prita.
Aku diam dan berlalu saja tanpa menoleh ke arah Prita sedikitpun. Pikiranku seakan kalut dan takut apa yang kupikirkan benar-benar terjadi. Aku tak sanggup mengungkapkannya jika itu benar.
Tuhan, semoga bukan itu yang aku pikirkan. Jauhkanlah ada pikiran buruk itu, aku tidak akan sanggup membayangkannya.
"Aura!" panggilku ke arah perempuan tersebut.
Yup! Aura adalah calon istrinya Vincent yang beberapa hari lalu bertunangan.
Aura yang tadinya menangis histeris, tiba-tiba mengalihkan pandangannya kepadaku. Tapi tangisannya masih terdengar.
"Aura, siapa yang kecelakaan?" tanyaku mulai sedikit panik.
Aku takut!
"Vincent! Vincent! Dia koma dan.. dan..," teriak Aura sambil menangis.
Praakkk!!
Dugaanku ternyata benar!! Ketakutanku akhirnya terjawab. Orang yang pernah mencintaiku, sekarang sedang bertaruh nyawa di dalam sana.
Aku tiba-tiba menangis. Menangis karena ingat nasib Vincent yang sudah dijalaninya selama ini. Aku berusaha mengalihkan pandangan untuk mengusap air mataku. Aku tidak ingin calon istri Vincent melihatku seperti ini.
"Maaf mbk, kamu bagaimana tau namaku?" tiba-tiba Aura menanyakanku dengan pandangan sedikit heran.
Hadeh!! Ternyata dia tidak tau sama kamu Zanu. Gimana kalau dia sampai menanyakan, kenapa aku sampai menangis?
"Aku teman dekatnya Bram. Sewaktu kamu bertunangan dengan Vincent aku hadir di sana. Dan Vincent adalah teman Sekolahku," jawabku tegas dan lugas.
"Oo.., kamu Zanu. Maaf aku lupa,"
"Tidak apa-apa. Oiya, kamu bersama siapa di sini?" tanyaku penasaran.
Kulihat tangisannya mulai berkurang, hanya tinggal sesekali isak dan air mata yang selalu dia seka.
"Di dalam ada Kakaknya Vincent. Aku hanya sanggup menunggu di sini. Aku tidak mau kehilangan Vincent. Aku sangat sayang sama Vincent," ujar Aura hendak menangis kembali.
Secepat itukah Aura sayang sama Vincent? Mungkin Aura sudah jatuh cinta dengan Vincent, terlihat betapa sedih dan histerisnya dia saat ini. Tapi, apakah Vincent sudah bisa mencintai Aura? Entahlah..
"Sudah, kamu yang tabah ya. Do'akan saja Vincent bisa melewati masa kritisnya. Kamu jangan menangis histeris begitu, nanti keluarga Vincent merasa bersalah dan larut dalam kesedihan. Kamu tenangkan diri dan ikut memberi semangat kepada keluarganya Vincent,"
Bisa-bisanya, aku memberi nasehat untuk orang lain, sedangkan aku sendiri merasakan sedih di dalam hati. Vincent, semoga kamu bisa melewati ini. Aku tau, kamu kuat.
"Iya Zanu. Oiya, kalau kamu mau, masuk saja ke ruangan IGD. Mungkin kamu ingin melihat keadaan Vincent di sana," Aura menawarkanku untuk melihat Vincent.
Haruskah aku ke sana? Pergilah Zanu, pergilah..
"Oke, aku ke sana dulu ya,"
__ADS_1
Aura mengangguk. Aku melangkahkan kaki ke ruang IGD. Sangat sulit memasuki ruangan tersebut dikarenakan banyaknya korban dan keluarga yang berdatangan. Belum lagi tenaga medis yang bolak balik silih berganti. Aku juga sempat melewati jenazah yang ditutupi kain!
Ngeri! Dan miris sekali, hatiku jadi tidak karuan dan takut. Kurasakan tubuhku gemetar, aku tahan sebisa mungkin untuk bisa melihat Vincent. Dalam hidupku baru kali ini melihat banyaknya orang dan korban yang berserakan di mana-mana.
Aku harus fokus mencari Vincent!
"Zanu!" teriak seseorang dan langsung memelukku.
Itu kakaknya Vincent. Ternyata dia masih mengingatku.
"Iya Kak, yang tabah. Vincentnya di mana Kak?" tanyaku dan ternyata aku mengeluarkan air mata kembali.
"Itu Zanu, Vincent koma," jawab Kakak Vincent.
Aku melihat arah telunjuk Kakak Vincent dan.. Ya Tuhan, kulihat Vincent terbaring lemah sedang menghadapi antara hidup dan mati. Nafasnya yang tersengal-sengal, kakinya yang patah terkulai. Banyak selang di sana yang melekat di tubuh Vincent. Tangannya sobek dan ada bekas darah kering di kepalanya!!
Aku hanya bisa menangis! Aku tidak kuat melihat Vincent seperti itu. Aku syok....!!
Kakak Vincent terus menangis. Aku juga ikut menangis. Wajar Aura bisa menangis sehisteris itu, melihat kondisi Vincent yang sudah nyaris rusak.
Aku ingat perkataan Bapak tadi, ada motor yang menghindari mobil dan menabrak tiang. Bisa jadi itu adalah motornya Vincent?
Beberapa menit kemudian aku menghapus air mata dan berusaha mengambil nafas dalam-dalam. Tak elok rasanya aku menangis terus tanpa beranjak dari sini.
Aku ingat Prita yang masih tertinggal di depan sana. Pasti dia menungguku. Tiba-tiba ingat Bram yang sedang sendirian di ruang ICU. Belum lagi Atif memesan makan siang untuk kita makan bersama.
Aku berdiri dan memberanikan diri menuju ke tempat Vincent. Aku mendekat dan menyentuh pipi Vincent.
"Za.. Za.. Zanu....," jawab Vincent terbata-bata.
Ternyata Vincent merespon ucapanku. Tapi hanya sekedar itu saja, setelahnya Vincent diam.
Tak berapa lama, datanglah dokter dan perawat menghampiri Vincent.
"Permisi mbk, pasien ini harus segera di tangani. Kita akan membawanya ke ruang ICU. Apakah Mbk keluarganya pasien?" tanya dokter kepadaku.
"Bukan Dok, saya temannya. Ada Kakaknya pasien di sana," jawabku.
"Baik, boleh saya minta tolong panggilkan keluarga pasien Mbk?"
"Oke Dok, bentar ya,"
Dokter mengangguk dan aku bergegas menuju ke arah Kakak Vincent yang sedang duduk. Masih kulihat Kakak Vincent menangis dengan tatapan kosong.
"Kak, di panggil Dokter. Vincent mau di bawa ke ruang ICU. Nanti Zanu menyusul ke sana," ujarku.
"Eh.. Iya Zanu, terima kasih. Kakak ke sana dulu ya,"
Aku mengangguk. Kulihat Kakak Vincent tergopoh-gopoh menuju ke tempat adiknya yang terbaring lemah, iba rasanya hatiku.
Aku berjalan lunglai menuju keluar dari ruang IGD. Aku tidak pedulikan lagi hiruk pikuknya orang-orang di sekitar sana.
********
__ADS_1
"Zanu!"
Aku kaget dan menoleh ke samping. Ternyata itu Aura yang masih duduk di sana. Aku menghampirinya.
"Zanu, bagaimana Vincent? Apa dia sudah siuman?" tanya Aura.
"Vincent akan di bawa ke ruang ICU. Sekarang sedang ditangani Dokter," jawabku tanpa memberitau tentang Vincent yang sempat siuman.
"Oh! Aku ke sana ya, terima kasih infonya," ujar Aura yang langsung berlari ke dalam ruang IGD.
Belum juga aku menjawab, Aura sudah pergi begitu saja.
Aku berjalan lagi menuju ke tempat tadi, di mana aku meninggalkan Prita begitu saja.
"Hei Zanu! Kamu dari mana saja? Aku capek lho nungguin kamu dari tadi! Nanti Ketua nyariin kamu bagaimana?" ujar Prita dengan nada kesal.
"Maafkan aku Prita," jawabku singkat.
"Ada apa sih? Kok kamu sayu amat? Coba cerita deh,"
Aku diam sebentar dan menarik nafas. Haruskah aku cerita ke Prita?
"Ayo cerita! Kalau kamu tidak mau cerita, kita pergi saja dari sini. Takutnya Atif sudah di sana, mereka menunggu kita untuk makan siang," Prita masih kesal.
"Salah satu korban kecelakaan itu adalah mantan aku Prita. Sedangkan perempuan yang histeris tadi calon istrinya. Aku dan Bram kemaren ini menghadiri pertunangan mereka. Sekarang dia sedang koma dan akan di bawa ke ruang ICU," ujarku lirih.
"Ya Tuhan.., jadi kamu kenal mereka Zanu?" tanya Prita.
"Iya, perempuan itu juga kenal dengan Ketua. Dia keponakan dari istri Rektor kita. Makanya aku dan Bram di undang," jawabku.
"Trus, kenapa aku lihat kamu terlihat sangat sedih Zanu?"
"Dia itu dijodohkan Prita. Sebenarnya dia masih sayang sama aku. Ceritanya sangat panjang, makanya aku jadi sesedih ini. Apalagi aku melihat kondisinya, yang....,"
Aku tidak tahan lagi, air mataku tumpah. Reflek aku memeluk Prita.
"Sudahlah Zanu. Kamu harus bisa menerima kenyataan hidup, sebaiknya kamu mengirimkan do'a buat dia. Semoga dia bisa sembuh. Yok, kita ke tempat Ketua, kasihan dia sendirian," ujar Prita yang berusaha menghiburku.
"Tapi.. Tapi.., dia sedang kritis Prita. Dia mau di bawa ke ruang ICU," aku masih saja menangis.
"Ya sudah, Ketua kan juga ada di ruang ICU. Kita ke sana saja, sekalian kamu bisa melihat dia,"
"Oh iya..., aku baru ingat! Ayuklah Prita kita segera ke sana!" ucapku antusias sambil menyeka air mata.
"Nah gitu dong! Nangis terus, mau sampai kapan kita berdiri di sini terus? Malu tau... Tuh lihat mata kamu sembab. Nanti Ketua bertanya, kamu mau jawab apa?" tanya Prita.
"Yahh.. Aku jawab saja apa adanya. Ketua tau kok dengan mantan aku itu,"
"Oke, sekarang kita go!"
Prita menarik tanganku. Aku terpaksa mengikutinya ke ruang ICU tempat Bram berada dan tempat Vincent akan di operasi.
...****************...
__ADS_1