
namun di sisi lain Raisa juga merasa sedikit kesal karena ciuman pertama setelah siuman itu gagal total dan seperti nya dapat terjadi dalam waktu lama.. Karena menurut perkiraan Raisa, sedikit lagi ruangan nya akan di penuhi oleh keluarga, Sahabat, dan orang orang yang khawatir dan dengan tulus sayang pada diri nya.
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
"Haaahh.... Kamu menghancurkan segala nya Sil... " Keluh Resa pada Adik nya yang masih berdiri dengan ke dua tangan menutup mulut nya.
"Menghancurkan ? Maksud kaka apa coba ? Jelas jelas Kaka yang memonopoli Kak Raisa sendirian tanpa kasih tau ke siapapun.. Udah gitu salahin Aku yang datang untuk menyimpan buah ? Kaka gila atau apa sih ? " Sambil berjalan dengan membanting kaki nya kuat kuat di atas lantai, Silvia berjalan mendekat ke arah ranjang pasien milik Raisa.
"Bukan.. Bukan itu yang Kaka salahkan. Maksud Kaka, Kamu itu datang di timing yang kurang tepat dek.. " Jelas Resa dengan sangat lesu.
" ???? " Mendengar penjelasan Resa membuat Silvia bertanya tanya bahkan sampai memiringkan kepala nya. Lalu isi otak nya kembali mengingat adegan apa yang Silvia lihat saat membuka pintu.
"Aaahhh.... " Ujar Silvia sambil membulatkan mata nya.
__ADS_1
"....... " Resa dan Raisa hanya diam dan memperhatikan Silvia yang berseru kaget di hadapan mereka. Benar benar akan sangat berisik jika sudah ada Silvia dan tiga sahabat Raisa nanti.
"Hehehe... " Tawa nakal Silvia sambil menaruh beberapa jemari di mulut nya . Resa dan Raisa mulai merasakan perasaan gelisah yang entah apa penyebab nya.
"Kak Resa sama Kak Raisa mau ciuman ya tadi ?? " Tanya Silvia yang jelas jelas sudah tau jawaban nya. Entah apa yang perlu di tanya lagi jika sudah mengetahui jawaban nya, hal itu membuat Resa dan Raisa sadar bahwa perasaan gelisah mereka berdua tadi menandakan akan kejahilan Silvia, yang seperti nya akan menyebarkan hal ini seperti gosip hangat.
"Hmpt... Kamu kira Kaka sama Raisa bakal memohon pada Mu jika Kamu berencana untuk menyebarkan hal ini ? Heh, jangan harap ! " Resa pun langsung melayangkan perkataan yang seperti sudah tidak takut dengan perkataan keluarga yang akan mengolok atau menjadikan bahan candaan.
"Idiiihhh... Kak Resa kok berlagak banget sih ?! Kak Resa pikir Silvia bakal sadar dan gak bakal aduin ke Papa sama Om Surya ? Hmpt, Kak Resa.... Kak Resa... " Sambil menggelengkan kepala nya. " Kak Resa pikir Om Surya bakal suka dengan hal ini ? Padahal bukan muhrim.. Tapi apa ? Kak Resa udah melangkah ke jalan yang salah... Sungguh salah besar... " Ujar Silvia yang sudah seperti orang paling soleha di muka bumi ini.
"Gak apa apa Sil.. Lagian dikit lagi Aku bakal nikah sama Kaka kamu kok ! Jadi gak apa apa kan kalau lakuin hal itu ? " Ujar Raisa yang seperti biasa menjadi penengah antara adik kaka yang jika sudah berdebat, maka benar benar membutuhkan wasit yang berakal dan manusiawi.
"AAAPPPPAAA ??????? "
"AAAPPPPAAA ??????? "
"Loh ? Kenapa kalian berdua mandang Aku kaya gitu sih ? Aku jadi malu tau... " Ucap Raisa malu malu.
"Ka.. Kamu yakin Sa ? Ini Beneran kan ? " Tanya Resa sambil memegang punggung tangan Raisa kuat kuat dengan tatapan penuh harap.
"Iyah.. Yakin banget.. Emang kenapa sih ? Emang respon Kamu harus segitu nya yaah ? Apa Kamu udah gak bersedia lagi buat jadi pendamping Aku yaah Res ? "Tanya balik Raisa.
"Tidak.. Tidak.. Tidak.. Bukan seperti itu Sa ! Aku bahkan bisa melakukan pernikahan sekarang juga di dalam ruangan ini ! Tapi seharusnya yang melamar itu Aku Sa ! Seharusnya Aku yang berkata seperti itu pada Mu ! " Ujar Resa dengan wajah yang bersemu merah. Sungguh melupakan bahwa badan dan otak nya benar benar butuh istirahat beberapa saat yang lalu.
"Hahaha.. Kalau Kamu sangat mempermasalahkan hal itu, maka Kamu tinggal melamar Aku secepatnya dengan cara Kamu kan ? Aku akan menikmati momen itu jika benar benar terjadi.. " Jawab Raisa yang jika di pikir pikir masuk akal juga.
__ADS_1
"Ehem... Ehem.. Kamu ada benar nya juga Sa ! Sekarang berhentilah memikirkan hal yang berat berat, nikmati saja reuni yang akan terjadi sedikit lagi... " Pinta Resa pada Raisa.
"...... " Raisa hanya diam dan mengangguk sebagai jawaban, di barengi dengan senyum simpul yang mengembang sempurna di wajah nya.
"Oh Noooo..... Gaaakk...... Uugghhhh.... Gak boleh Kak Raisa... Hikss.. Gak boleh... " Rengek Silvia yang sudah duduk di atas ranjang dan memeluk Raisa kuat kuat.
Sambil mengusap puncak kepala Silvia dengan tangan nya yang masih lemas, Raisa berucap " Loh ? Kenapa kamu tiba tiba bilang kaya gitu sih Sil ? Bukan kah dulu Kamu yang gak tahan banget liat Aku sama Kaka kamu gak nikah nikah juga ? Alasan Kamu apa Sil ? "
"Kalau Kak Raisa nikah sama Kak Resa... Ughh.. nanti Silvia main sama Siapa dong ? Hiksss.. Silvia bakal jadi cewek yang jomblo sendirian dong.. Huwaa... Amit amit.... " Jawab Silvia yang lagi lagi tampak seperti bocah SD.
"Hahaha.. Kalau Kamu mau main kan tinggal datang ke rumah.. Gak ada larangan kok. Dan lagi, tak akan ada yang berubah. Semua nya sama saja, hanya status Aku sama Kaka kamu yang berbeda. " Jelas Raisa yang masih setia membelai kepala Silvia, dan itu membuat Silvia yang tiba tiba histeris tadi menjadi tenang. Bahkan bukan hanya Silvia yang tenang, Resa juga ikut merasa tenang karena menjadi semakin yakin bahwa Raisa akan menjadi Istri nya.
"Oke deh kalau kaya gitu.. Janji yaah, keponakan pertama Aku harus lucu bangettt... " Pinta Silvia dengan muka nya yang kembali ceria.. Yaah sebenar nya sejak awal muka Silvia tidak berair sama sekali sih.. Jadi cuma akting untuk menghebohkan suasana sih.
"Aman... Kalau itu nanti baru Aku sama Kaka Kamu diskusi kan bersama sama.. " jawab Raisa santai sambil mengedipkan satu mata nya pada Resa. Dan hal itu membuat jantung Resa semakin berdegup tak karuan, karena Raisa yang dia lihat saat ini benar benar sangat liar.
...*Klek.* Belum juga Resa mengatur nafas untuk membuat wajah nya yang bersemu merah kembali seperti sedia kala, pintu ruangan terbuka lagi dan nampak Noa yang datang dengan beberapa jarum dan peralatan medis lain nya di atas nampan....
"Loh ? Buah buah yang kamu jatuhin tadi ada di mana Sil ? " Tanya Resa yang bukan nya fokus ke arah Noa yang mematung di tempat, namun fokus ke lantai dengan suara yang di kecilkan seperti suara bisikkan.
"Em... Udah di pungut sama bodyguard yang ada di depan pintu deh Kak Res.. Mereka kaya nya gak mau masuk, karena gak mau merusak reuni kita. " Jawab Silvia yang imut mengecilkan suara seperti Kaka nya.
"Ohh.. Syukurlah kalau kaya gitu ! Kaka kita udah di ambil semut ! "
"Gak mungkin lah Kak.. Buah apel yang Silvia beli itu gede gede loh hari ini. "
__ADS_1
"Baguslah.. "
"HEI KALIAN BERDUA !!! BUKAN SAAT NYA BERBISIK TENTANG BUAH YANG DI AMBIL SEMUT ATAU ENGGAK ! YANG HARUS DI BAHAS SAAT INI ITU, KENAPA KALIAN GAK NGASIH TAU KALAU RAISA UDAH SIUMAN HAAAAHH ???? " Teriak Noa yang merasa kesal akan tingkah dua saudara yang benar benar tidak menganggap kehadiran diri nya.