
Seperti nya Raisa sudah menduga hal ini akan terjadi, sehingga mengirim pesan pada Resa saat berada di dalam taxi yang di kemudikan oleh pria tadi.
"Reesaaa !!! " Sapa Raisa dengan raut wajah bahagia, bukan seperti psikopat tadi.
Resa pun langsung berjalan ke arah Raisa, lalu merangkul pundak Raisa dengan sangat erat. Seakan jika rangkulan nya merenggang sedikit saja, dia akan kehilangan Raisa.
"Cih, datang lagi satu pengganggu . " Kata andre merenggangkan setiap jemari nya.
Resa yang menatap Andre seperti akan membunuh nya itu, sedikit mengarahkan pandangan nya ke arah fitri. Awalnya Resa hanya ingin melihat fitri beberapa detik saja, namun hal itu tak dapat terjadi, karena kondisi fitri saat ini sangat amat naas.
"Ini pasti ulah Raisa kan ? Pasti.. Seperti saat kita SMA kelas dua dulu. Lalu apa ? Hal apa yang membuat Raisa seperti ini ? Pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan Tante -" Batin Resa langsung terhenti, saat melihat Gitar yang hancur di lantai, sambil mengerutkan alis nya.
"Kita pergi yuk Res, aku udah cerai sama Andre... Hehehe, seneng bangett ! " Perkataan Raisa itu langsung membuyarkan lamunan Resa, dan Resa pun memilih untuk mengurus masalah saat ini dulu.
"Ya udah, kamu mau ke apartemen kamu atau -"
"Ke rumah kamu lah res, masa di apartemen aku. Kamu gak mau yaah ? "
__ADS_1
"Mau kok, kalo gitu ayo-"
Lagi lagi perkataan Resa terhenti karena Raisa sudah jatuh pingsan di samping nya, beruntungnya tangan Resa langsung memegang tubuh Raisa, jika tidak... Pasti saat ini tubuh Raisa sudah terletak di lantai.
"Sa...? Saa.??? Kamu kenapa ? " Resa berusaha agar tak panik, namun apapun hal yang berhubungan dengan Raisa, akan langsung membuat Resa kalang kabut.
Resa langsung menggendong Raisa ala Bridal Style, dan di bawa lah Raisa ke rumah sakit. Dan tentu nya dengan surat cerai yang sudah berada di tangan Resa.
Resa langsung membawa Raisa ke rumah sakit, di mana Lisa bekerja. Karena kebetulan, silvia juga di rawat di sana. Raisa langsung mendapatkan penanganan dari Lisa sendiri dengan sangat cekatan, Resa yang hanya bisa melihat dari kaca transparan di luar pun ikut panik dan cemas.
"Kenapa tangan Lisa gemetaran ? Bukan kah dia dokter profesional ? Apakah ada sesuatu yang tidak aku tahu ? " Batin Resa dengan isi kepala nya yang sudah tak beraturan lagi.
...(30 menit kemudian )...
Lisa keluar dari ruang UGD dengan wajah yang di penuhi peluh, Resa yang ingin langsung bertanya menahan keinginan nya, dan memberikan sapu tangan pada Lisa. Lalu membiarkan Lisa mengumpulkan tenaga dulu, karena sekalipun Lisa sudah akrap dengan Resa, Capek yah tetap capek.!
"Aku udah mendingan, jadi gak usah masang muka asem itu lagi res, gak enak banget di pandang ! " Lisa pun berkata sambil menampakkan senyum kecut di wajah nya, dan berjalan ke arah kursi panjang yang di siapkan dari rumah sakit.
__ADS_1
"Ada apa Lis ? Wajah kamu... Perkiraan aku gak bener kan ? Raisa pasti hanya kelelahan aja kan ? " Resa pun langsung to the point, karena lisa tak pernah memasang senyum seperti itu.
"Res... Aku minta maaf karena sudah merahasiakan ini bertahun tahun, tapi... Raisa itu hanya hidup dengan satu ginjal. " Lisa pun menatap Resa dengan tatapan bersalah, garis alis nya pun melengkung sempurna ke bawah tanda dia sangat merasa bersalah. " Apa ? " Dengan wajah tak percaya, dan masih berharap salah dengar, Resa pun mulai merasakan perasaan gelisah yang entah datang dari mana.
"Maaf... Raisa yang menyuruh aku untuk merahasiakan hal ini, dan yaah. Satu ginjal Raisa adalah yang berada di raga Andre saat ini. " Lisa menjelaskan dengan mata dengan terbakar, ingin rasa nya dia menangis. Tapi lisa mau nya menangis saat sudah selesai menjelaskan semua nya pada Resa.
"Bukan kah fitri yang mendonorkan ginjal nya ? Bagaimana bisa Raisa yang mendonorkan ginjal, dan aku tak pernah tahu selama sembilan tahun belakang ini ? " Resa mengepalkan tangan nya, seluruh urat di tangan nya terlihat jelas ! Saat ini Resa sedang berusaha menahan emosi nya, dan berbicara dengan kepala dingin dan terkontrol.
"Maaf... Lo lebih tau pintar nya Raisa dalam menyembunyikan sesuatu kan ? " Kali ini tatapan lisa berubah lagi, seakan menandakan ada kabar yang lebih buruk lagi.
"Katakan lisa...!! Apapun itu, jangan di simpan sendiri lagi ! Gue juga berhak tau keadaan Raisa saat ini ! " Suara Resa mulai sedikit membesar, wajah nya memerah karena menahan emosi yang dia sendiri juga sulit untuk mengendalikan nya.
"Raisa... Raisa mengidap kanker otak stadium empat Res ! Dan saat ini, sel jaringan kanker nya sudah berubah seperti jaring laba laba di otak nya. Gue juga... Hiksss... Hikss.. " Lisa tak dapat melanjutkan perkataan nya lagi, dia hanya bisa menunduk ke bawah lantai, dan mulai menitihkan air mata nya. Lisa memang sangat sensitif jika ini berhubungan dengan Raisa, apalagi dia tak bisa melakukan apa apa. Padahal dia mendapat julukan Dokter jenius di umur nya yang masih mudah, hal ini lebih membebani nya.
".......... " Resa terdiam seribu bahasa, melihat keadaan Raisa dari kaca transparan yang terbaring lemah, lalu Resa pun berjalan keluar dari rumah sakit.. Entah dia pergi ke mana, yang jelas... Pasti dia ingin meluapkan rasa kesal nya di luar sana.
Lisa pun masih menangis, dan asisten nya membantu untuk menguatkan lisa.
__ADS_1
Raisa yang saat ini terbaring di ranjang pasien, dengan kondisi kehilangan kesadaran yang Lisa sendiri juga tak bisa menduga kapan dia bangun.! Seakan tidur nyenyak yang tak mau di bangun kan oleh siapapun ! Apakah ini karena sel kanker yang hampir menguasai seluruh isi kepala Raisa ? Atau Raisa sendiri yang tak mau sadar lagi ? Apakah Raisa masih berjuang untuk sadar ? Atau kah... Raisa juga sudah lelah ?
[Note : Dikit aja kah ? Maaf.. Maaf.. Tapi Tenang, besok Author bakal Crazy up ! Author belakangan ini lagi sibuk pake Banget ! Jadi, tolong di maklumi yaah☺]