
...(Pagi hari pukul lima subuh)...
Karena bangun pagi sudah menjadi kebiasaan raisa, jadi mau di apakan juga raisa akan bangun paling cepat pukul tiga, dan paling lambat pukul lima pagi.
"Eeemmmmm...... " Gumam raisa sambil menarik ke dua tangan nya ke atas, untuk merenggangkan badan nya yang terasa kaku.
"Haaaahhh.... " Raisa terus menarik dan menghembuskan nafas panjang dari hidung dan mulut nya. Seperti sedang mengumpulkan kekuatan.
Lalu, di tengah rasa damai yang menyelimuti suasana raisa hari ini... Tiba tiba kepala raisa pusing tak karuan, seperti sedang di pukul dengan palu besar.
Raisa sampai memegang kepala nya, dan wajah nya yang tadi cerah kini menampakkan pucat pasih yang sempurna. Satu tangan nya meremas selimut putih yang ada, rasa sakit ini benar benar baru di rasakan oleh raisa pertama kali, dan ini benar benar sangat menyakitkan.
Lalu raisa merasa seperti ada cairan yang keluar dari dua lubang hidung nya, saat raisa mencoba menyeka, karena berpikir itu hanya ingus... Raisa di kaget kan dengan warna merah dan bau darah segar yang saat ini raisa hirup.
Kondisi raisa di perparah lagi karena bagian ginjal nya terasa sangat nyeri, dan seakan sedang berdenyut dengan tempo yang tak normal.
Lalu, karena tubuh raisa yang sudah lemah karena tak memiliki dua ginjal lagi, akhirnya raisa pun pingsan dan kehilangan kesadaran.
.......
.......
.......
.......
...(20 menit kemudian)...
Setelah memakan waktu bermenit menit lamanya, akhirnya kesadaran raisa telah kembali dan sakit di kepalanya sudah tak di rasakan. Walaupun masih pusing, tapi masih bisa di tahan.
Karena tak mau menganggap remeh penyakit yang semisalnya ada, raisa langsung membersihkan diri dan pada pukul enam lewat tiga puluh pagi, raisa memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.
Raisa tak memberitahu orang rumah, karena memang belum ada tanda tanda manusia yang sudah bangun. Hal ini lebih di syukuri oleh raisa, karena pasti jika meminta ijin akan ke rumah sakit, mereka tak akan memberi kan izin. Itu seperti telah menjadi hukum mutlak di rumah andre purnama.
__ADS_1
Raisa memesan taxi, karena dengan kondisi nya saat ini, sulit bagi nya untuk mengemudi. Raisa juga tak mau memberitahu ayah, sahabat, dan beberapa teman dekat nya. Karena tak mau merepotkan, dan tak mau membuat khawatir. Sifat raisa yang satu ini memang sulit di ubah.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...(50 menit kemudian)...
Karena jarak dari rumah raisa ke rumah sakit memakan jarak yang cukup jauh, jadi di perlukan waktu perjalanan selama kurang lebih 50 menit.
Raisa berjalan sempoyongan dengan wajah yang kini mulai memucat. Dan saat sampai di pintu rumah sakit, Sen asisten dari Dokter Lisa yang kebetulan sedang lewat untuk menyimpan ranjang pasien yang tadi di pakai, langsung mengenali bahwa wanita pucat yang saat ini sedang berdiri di depan pintu sambil bersender di tembok adalah Raisa, sahabat dari Dokter Lisa yang sudah Sen layani lima tahun terakhir.
Sen langsung mendorong ranjang pasien ke arah raisa, dan menyuruh beberapa suster untuk membantu nya mendorong ranjang pasien ke ruang UGD.
Lisa pun tanpa menunggu lama langsung mengambil jubah dokter nya, dan langsung berlari ke ruangan UGD yang sen katakan tadi.
Saat sen baru membuka pintu ruang UGD, dari arah lorong di depan sana, lisa sedang berlari dengan kecepatan penuh. Bahkan peluh sampai mengalir di wajah dan seluruh tubuh nya.
"Masukan dia ke dalam, aku akan melakukan pemeriksaan menyeluruh. " Kata lisa dengan serius.
Karena saat ini Raisa sudah kehilangan kesadaran di atas ranjang pasien, lisa tak bisa menanyakan keluhan yang di rasakan raisa akhir akhir ini. Jadi lisa langsung melakukan pemeriksaan saraf, saat lisa sedang mengambil dari dari lengan raisa, karena memang akan di lakukan tes darah, sen telah memasang infus tanpa di suruh lisa.
Karena sen tau, kalau lisa sedang sibuk dan ikut panik melihat keadaan raisa, lisa akan lupa memerintahkan melakukan hal hal kecil.
Setelah selesai pengambilan darah, lisa ingin mengisap peluh di kening nya menggunakan lengan baju nya, tapi tak jadi karena sen sudah melakukan hal itu.
"Bawa Raisa ke ruang CT Scan, aku sendiri yang akan melakukan nya. "
"Baik." Jawab sen dan dua orang suster magang.
__ADS_1
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
Setelah selesai melakukan CT Scan, lisa langsung memerintahkan sen untuk segera mengumpulkan seluruh hasil kesehatan yang sudah keluar, untuk lisa baca.
Setelah sen memberikan beberapa hasil diagnosis, Lisa tak percaya dengan hasil diagnosis yang dia terima. Sehingga melakukan tes Biopsi (pengambilan sampel jaringan) otak, untuk menentukan jenis dan stadium kanker, serta metode pengobatannya. Karena menurut hasil diagnosis yang dia baca tadi, raisa mengidap penyakit kangker.
Lisa tak percaya, dan tak mau percaya dengan hal itu, sehingga dengan keras kepala tetap kekeh melakukan pemeriksaan lanjut. Para dokter yang sudah mengenal lisa dari lima tahun terakhir ini, hanya bisa membiarkan lisa mengecek sendiri. Karena lisa berwatak keras kepala.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...(30 menit kemudian)...
Raisa terbangun di atas ranjang pasien dengan selimut yang menutupi nya, karena cairan infusnya sudah habis, raisa mencabut selang infus yang tertancap di tangan nya, dan beranjak berdiri.
Raisa berjalan tanpa tenaga yang stabil, dan langsung duduk di kursi dekat meja. Karena sudah sering ke rumah sakit ini, raisa mengetahui bahwa saat ini raisa sedang berada di ruang kerja Lisa, salah satu sahabatnya.
Raisa mengirimkan pesan pada lisa, untuk segera datang, Karena raisa penasaran dengan kondisi kesehatan nya.
Lisa yang sedang berdebat dengan beberapa rekan dokter yang bergelar prof. seperti diri nya, karena tak terima jika seluruh hasil kesehatan raisa adalah positif kangker otak, sehingga tak mendengar deringan pesan masuk di handphone nya.
"Bagaimana bisa ? Raisa adalah sahabat saya, dia memiliki kondisi tubuh yang sangat fit. Bagaimana mungkin dia mengidap kangker ?! Apalagi ini kangker otak, kangker otak loh.! Pasti ada yang bermasalah dengan semua alat untuk pemeriksaan hari ini. " Seru lisa penuh emosi yang menggebu.
"Cukup lisa. Aku tau bahwa kamu yang paling tau tentang penyakit ini lebih dari apapun, jangan membohongi diri mu dengan pura pura bodoh dan mengalahkan alat medis. Kamu tau kan bahwa kamu dan kita semua di tempatkan di rumah sakit ini, karena kemampuan kita sangat amat bagus, dan cocok untuk seluruh alat medis terbaru dan yang paling lengkap. Terimalah kenyataan lisa, karena lari dari kenyataan tidak membantu mu dan tidak memberikan efek yang baik sama sekali. " Kata prof. Doni yang bertanggung jawab membimbing lisa selama ini, umur nya sudah masuk kata lansia. Namun karena kemampuan nya di butuhkan di bidang medis, dan karena Prof. Donis mencintai pekerjaan nya, dia belum mau pensiun.
__ADS_1
Karena kalah debat, lisa pun akhirnya keluar dari ruang kerja prof doni, dan menyeka air mata nya yang mulai berjatuhan. Benar kata prof doni, Karena lisa juga tau bahwa hasil pemeriksaan nya tak mungkin salah. Apalagi lisa sendiri yang melakukan semua nya sendirian.
Saat lisa sedang berusaha agar tak menangis lagi, dia mencoba mengambil hp untuk melihat hiburan lucu atau sebagainya. Dan karena mendapat pesan dari raisa, lisa pun tanpa pikir panjang langsung berlari ke ruang kerja nya dengan lima kertas hasil diagnosis di tangan nya.