Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
#Part 163.


__ADS_3

Melihat Resa dan Raisa yang tersenyum secara bersamaan, membuat Lisa merasa tegang seketika.


“Ah, Aku memiliki feeling  bahwa mereka telah sukses membuat rencana gila.” Batin Lisa dengan keringat dingin dan meluncur dari dahi hingga dagu nya.


***


Lima menit kemudian...


Selama lima menit ini, Resa dan Raisa memberitahukan kepada Lisa tentang rencana mereka, yang sengaja mengambil hp dari anak buah Resa tadi.


Dan setelah mendengar semua penjelasan itu, Lisa pun langsung masuk ke dalam kediaman. Dia sudah tak sanggup lagi jika berdiri bersama sama dengan dua orang sahabat nya itu.


“Eh, Lisa ? Kamu mau kemana ? Bukah kah seharus nya Kamu itu mengatakan sesuatu tentang rencana Kami ? Mungkin Kamu ada saran atau lebih ke arah pujian gitu ?” Tanya Raisa yang merasa tak puas jika tak mendapatkan alasan dari Lisa, padahal diri nya bersama Resa sudah menjelaskan secara lengkap dan penuh semangat.


“Tak ada yang bisa Ku puji dari rencana Kalian berdua. Jadi tak usah berharap lebih pada Ku.” Jawab Lisa yang sudah mulai menjauh ke arah dalam.


“ Yakin Lis?” Tanya Resa dan Raisa bersamaan.


“ Tentu saja yakin. Dan tak usah merasa ragu jika Aku tidak memberi pujian pada rencana Kalian. Aku hanya merasa syok saja, karena rencana Kalian seperti nya mengikuti pola orang yang sedang bermain di belakang layar kan ?”


“Kamu menyadari nya ? Memang IQ seorang Dokter tak bisa di ragukan lagi.” Puji Resa yang merasa kagum pada pangamatan Lisa dalam waktu lima menit itu.


“Bukan kah sudah jelas ? Jika Kita tidak menggunakan pola yang sama, mana mungkin pelaku ynag bermain di belakang layar ini mendapatkan ganjalan yang setimpal ? Aku saj sedang memikirkan balasan yang lebih parah loh dari ini. Karena yang berani Dia ganggu adalah Adik Ku, maka seharusnya Dia tak akan merasa keberatan kan ? Jika Aku memberinya pelajaran, saat Kita ynag memenangkan pertempuran ini ?”


Jawaban dari Raisa memuat Lisa berhenti di tempat nya, dan membuat Resa tak berkedip sedikitpun kala menatap netra hitam pekat milik Raisa.

__ADS_1


“Tak usah memandang Ku seperti itu. Karena memang sifat Ku yang seperti ini, adalah yang di butuhkan oleh Skenario dunia. Jadi, mari kita kembali ke ruang perpustakaan. Om Risa dan Tante Selvi gak tau apa apa tentang rencana Kita, jadi mereka pasti memiliki beban pemikiran tersendiri.”


Kata Raisa sambil melangkahkan kaki nya, agar bisa berjalan sejajar dengan Lisa.


Namun sayang nya, Resa menghentikan langkah kaki Raisa dengan memegang lengan nya. Dari tatapan Resa, seperti nya Dia ingin menyampaikan sesuatu.


“Sudah ada Om Surya di dalam. Kita tak perlu lagi kembali ke dalam perpustakaan.” Kata Resa, setelah di tatap dengan penuh tanda tanya oleh Raisa.


“Apakah sekedar pamit pun tak boleh ?” Jawab Raisa yang sedang melakukan tawar menawar dengan Resa.


Karena sejujur nya, Raisa juga sedang tidak enak dengan orang yang akan menjadi Mertua nya nanti.


“Ya tak boleh.” Tegas Resa yang tak mau melakukan tawar menawar dengan Raisa.


“Bukankah jawaban nya sudah jelas Sa? Saat orang tua sedang dalam masa masa seperti saat ini, mereka akan merasa sangat menyedihkan, jika ketahuan sedang menangis atau pun melakukan curhat kepada Om Surya.”


Kali ini, Lisa yang masuk ke dalam percakapan Resa dan Raisa. Dia tau betul bahwa saat Raisa sudah bertekad, maka akan tetap menerobos. Sehingga pemikiran ynag masuk akal seperti ini lah, yang dapat membuat Raisa berpikir dua kali.


Dan jika pada saat saat seperti ini Resa hanya memberikan larangan tanpa memberikan pengertian, takut nya skenario yang tak di rencanakan akan muncul di antara mereka berdua.


“Iyakah ? Jika seperti itu, mari kita pulang bersama sama. Ada hal lain yang harus kita kerjakan, meskipun saat ini Kita sedang di landa situasi yang bertabrakan dengan kesibukan reallife kan ?”


Ucapan Raisa kali ini mengatakan dengan jelas bahwa mereka harus segera menyelesaikan masalah kali ini. Semakin cepat maka kan semakin baik, karena saat masalah ini selesai, mereka dapat kembali ke pekerjaan mereka yang sudah menumpuk ini.


Resa dengan jabatan CEO nya, Resa dengan pekerjaan sebagai pelukis yang hasil lukisan nya sudah di nantikan oleh Galery pameran seni, dan Lisa dengan jabatan sebagai Dokter. Yang sudah pasti memiliki banyak pasien bukan ?

__ADS_1


***


Saat yang sama, saat Resa tengah memergoki pelayan wanita ynag bertugas sebagai mata mata, di tempat lain ada dua orang yang sedang duduk bersamaan.


Mereka sama sama memandang ke air laut, dengan raga yang terlanjur jujur sedang menikmati nuansa pantai yang menenangkan.


Hanya ada satu perbedaan dari antara dua orang ini, perbedaan nya adalah satu nya sedang dalam kondisi mata yang bengkak dan wajah yang sembab, sedangkan satu nya terlihat biasa biasa saja. Kehadiran nya di pantai kali ini, seperti nya hanya untuk merileks kan otak nya.


“Laut nya indah yah ?!” Ucap wanita itu, yang umur nya terlihat beberapa tahun lebih tua di banding kan Silvia.


Jika di lihat baik baik, kisaran umur nya sama dengan Resa dan juga Raisa.


“Bukan kah laut memang selalu indah ?’ Jawab Silvia yang berusaha mengimbangi bicara lawan.


“Selalu ? Aku rasa tidak. Bahkan saat mendung, laut ini akan terlihat menyeramkan. Dan nuansa yang di berikan laut ini saat mendung, adalah pemikiran untuk memunculkan Tsunami.” Jawab wanita yang tadi membuka percakapan terlebih dahulu.


“Benarkan ? Aku rasa laut ini selalu indah. Karena sama seperti manusia, bukan kah laut juga harus memiliki sisi yang menakut kan ? Jika di pikirkan baik baik, Laut juga butuh melepaskan topeng keindahan nya, dan menikmati nuansa sedih. Bukan kah berpura pura baik baik saja sangat melelahkan ?” Sambung Silvia lagi, yang entah sejak kapan pemikiran nya sudah seluas ini.


 Entah karena beberapa nasehat Surya, atau karena pemikiran nya baru saja terbuka. Semua itu hanya bisa Silvia terima apa ada nya, karena pemikiran seperti itu keluar begitu saja.


“Jika Kamu sudah mengakui bahwa laut ini memiliki sisi yang menakut kan, kenapa Kamu masih sempat sempat nya berpikir bahwa laut ini indah ?”Tanya wanita itu yang merasa kurang puas jika pemikiran nya di tepis oleh anak muda. Yang jelas jelas umur nya berasa di bawah nya.


“Bukan kah jawaban nya sudah jelas ? Karena apapun sisi yang di miliki laut ini, laut akan tetap menjadi laut kan ?” Jawab Silvia sambil membenamkan mata nya.


“Maksud Mu ?!” Tanya wanita itu, yang kini sudah melihat kearah Silvia. Karena benar benar menanti jawaban apa yang akan di berikan oleh anak gadis ini.

__ADS_1


__ADS_2