
Setelah mendapatkan dorongan dari tiga orang yang spesial di dalam hidup nya, akhir nya Silvia pun menganggukan kepala nya, dan berbicara.
"Maaf Silvia sempat ego. Iyah, Silvia akan menjalani ini semua bersama Kalian bertiga."
finally, perkataan yang dinantikan sedari tadi akhirn ya terucap juga. karena butuh kesabaran ekstra, dalam menantikan jawaban yang satu ini dari mulut Silvia.
"Oke, kalau gitu kita berangkat serang ke rumah Papa sama Mama," kata Raisa yang langsung berdiri.
"Eh ? Secepat ini ?" Tanya Silvia yang tampak sedikit terperangah.
"LEBIH CEPAT LEBIH BAIK BUKAN ?" Jawab Resa, Raisa bersama Noa secara bersamaan. Setelah itu mereka menghabiskan cemilan yang ada di meja, dan saat memakan cake yang cukup empuk, benda pipih milik Raisa pun mengeluarkan bunyi yang menyita perhatian.
Raisa meletakkan garpu yang dia pakai untuk makan, dan mengambil benda pipih yang berada di atas meja.
"Hallo Dika.." Sapa Raisa sambil merasakan tekstur cake yang langsung lumer di mulut nya.
"Halo Sa. Kamu lagi ngapain ? Udah di indo kan ? Main sama Kita kita yuk, di tempat biasa. Erna sama Lisa juga udah ada ini." Ajak Dika yang selalu lupa bahwa dia sudah bukan anak muda lagi, yang memiliki tempat nongkrong dan waktu untuk dihabiskan bersama sama seperti waktu SMA dan kuliah dulu.
"Em ? Maaf Dika, gak bisa. Masalah yang Aku ceritain kemarin ke Kamu, mau diselesaikan hari ini juga. Jadi maaf ya.. Lain kali aja baru Aku gabung. sebagai permintaan maaf Aku, makanan kalian aku yang bayar deh." Tawar Raisa sebagai permohonan maaf, karena sadar betul bahwa selama ini saat Raisa sakit dan dalam kesulitan, hanya ketika sahabat nya itu yang selalu ada.
"Iyakah ? kalau gitu Good luck ya. Semoga aja masalah nya cepat habis. BTW, Makasih ya udah traktir kita kita. Widih, mentang mentang dikit lagi udah jadi istri dari seorang CEO yang punya banyak duit, dikit dikit main traktir aja, " Cetus Dika yang entah itu tergolong dalam memuji atau meledek.
"Idih.. Jan iri ******." Celetuk Raisa Raisa yang nampak sedikit tertawa, lalu menutup telepon.
Percakapan via telepon berakhir, cemilan yang di atas meja juga sudah habis. Jadi Resa, Raisa, Noa dan Silvia pun meninggalkan Cafe setelah membayar Bill tentu saja.
...----------------...
__ADS_1
Di sisi lain... Di tempat nongrong Dika dan lain nya.
"Gimana ? Raisa datang kaga ?" Tanya Erna yang sedang ber- hah kepedesan.
Sebuah gelengan kepala menjawab pernyataan yang dilontarkan oleh Erna. satu alis yang dinaikkan pun terjadi di wajah Lisa.
"Emang kenapa ? Si Raisa masih di Paris sama Resa ? Et dah, udah kaya perangko aja mereka berdua." Cetus Lisa yang tengah fokus menyusun daging di selembaran sayur hijau.
"No." Jawab Dika sambil menguk air putih.
"Lah terus ?"
"Raisa lagi urus masalah loh we." Ujar Dika setengah setengah.
"Masalah apa njir ?? Astajim, hidup ni orang kek gak ada bahagia bahagia nya sama sekali." Ujar Lisa dengan tatapan Iba yang sangat kental.
"Raisa belum cerita kah ? Hah, jadi gini..."
Dika Pun langsung menceritakan kejadian yang terjadi antara Noa dan Silvia. semua nya tanpa direkayasa dan ditutup sedikitpun. Berhubung persahabatan antara Raisa dan ketiga nya sudah berjalan selama bertahun-tahun, membuat Raisa terbiasa untuk menceritakan segala sesuatu yang terjadi kepada Dika, Erna atau Lisa terlebih dahulu.
Semenjak beberapa kejadian yang pernah terjadi dalam hidup Raisa, memberikan satu ajaran yang penting bagi Dia. bahwa menutupi masalah dan mengemban nya seorang diri, padahal memiliki banyak orang di sekeliling nya, sangat amat tak boleh dilakukan. karena itu akan merugikan pihak Raisa maupun pihak yang lain nya.
***
Selang beberapa menit kemudian, Dika sudah selesai menceritakan semua nya kepada Lisa dan Erna. setelah menjelaskan semua nya, Dika lanjut menyantap makanan nya. Begitu pun dengan Erna. mereka tidak berniat untuk menjadikan masalah yang dialami oleh Noa dan Silvia sebagai bahan pergibahan.
Berhubung Silvia adalah gadis yang sudah mereka anggap sebagai adik, dan berhubung masalah kali ini merupakan masalah yang cukup serius, membuat Erna dan Dika hanya bisa mendengar dan memberitahukan nya dalam ruang lingkup mereka bertiga. tak ada niatan sedikitpun untuk membebaskan yang keluar, karena masalah ini juga akan diselesaikan oleh Resa dan Raisa kan ?
__ADS_1
Jadi Dika bersama Erna tidak terlalu khawatir, lantaran Resa dan Raisa Sudah melalui banyak masalah bersama selama bertahun tahun. Sehingga Bukan kah masalah kali ini akan terselesaikan dengan segera ?
Namun sayang nya, pemikiran itu hanya dimiliki oleh Erna dan Dika saja. Ada seseorang yang lain sendiri, yang langsung memanas saat mendengar penjelasan dari Dika tadi.
Makanan nya sudah tidak Dia sentuh lagi, padahal Erna dan Dika sedang fokus mencecar habis habisan makanan yang ada di depan mata, berhubung kali ini bayaran nya ditanggung oleh Raisa. Tapi sangat amat berbeda dengan Respon yang ditampilkan oleh Lisa.
Lisa terperangah, antara percaya atau tidak setelah mendengarkan penjelasan Dika, Lisa yang bisa membantu di tempat duduk nya. Bukan karena apa apa, tetapi masalah kali ini berhubungan dengan Noa dan Silvia. Memang Silvia dapat keluar dari sudut pandang fokus nya, tetapi Noa.. Noa sudah masuk ke dalam jajaran yang penting pada bidang fokus Lisa, sehingga mendengar masalah ini, seakan menjadi satu pukulan besar bagi Lisa.
"TIDAK..TIDAK..TIDAK..BOHONG KAN ? NOA ? DAN WANITA YANG AKAN BERSAMA DENGAN DIA ADALAH SILVIA ? SI BOCIL YANG TAK ADA SIFAT DEWASA NYA SEDIKIT PUN ? HAAH.. GAK.. GAK MUNGKIN.. PASTI NOA DI PAKSA, ATAU KALAU ENGGAK DI JEBAK."
Batin Lisa yang terkesan memaksa, agar apa yang dia inginkan terjadi di dalam kehidupan nyata. Padahal Dia tahu benar, bahwa bukan seperti itu cara kerja dunia bersama skenario nya.
"OI..LISA ??!!" Teriakan dari Dika dan Erna berhasil membuyarkan lamunan Lisa.
"..YA.!! Kenapa ??" Reflek tanya Lisa karena kaget.
"Kamu kenapa Lis ? Lagi sakit perut ?" Tanya Dika khawatir.
"Atau makanan nya ada lalat yaah ? Atau rambut ? Ah, jangan bilang itu daging babi." Sambung Erna yang bicara nya sudah tidak be-hah kepedesan lagi, karena tengah memakan ayam crispy.
"Hahaha... Bukan apa apa kok." Jawab Lisa yang membuat Erna dan Dika melanjutkan hal yang tengah mereka lakukan sedari tadi, apalagi kalau Bukan makan kan ?
"YAH.. BENAR.. BUKAN APA APA. KARENA SAMPAI KAPAN PUN, NOA LEBIH PANTAS SAMA GUE YANG DEWASA, DAN TERKESAN LEBIH RASIONAL SIH. BUKAN SAMA BOCIL YANG SELALU MERENGEK PADA RESA DAN RAISA. YAAH.. NOA LEBIH BAIK SAMA GUE."
Batin percaya diri Lisa, sambil tersenyum senang karena tiba tiba muncul rencana bagus di dalam otak nya.
Finally, untuk kasus yang kesekian kali nya, cinta telah menghasilkan banyak penjahat seperti saat ini. Tak ada yang salah, semua nya tergantung pada sudut pandang. Tapi benar kata ada yang salah ?
__ADS_1