
“SUNGGUH KAU SANGAT MUNAFIK !”
*PLAK*
Teriak Raisa dan di susul dengan mendaratkan telapak tangan nya di pipi Lisa. Benar benar hal yang tidak pernah Lisa bayangkan sebelum nya.
Tamparan dan teriakan dari Raisa berhasil membekukan setiap pergerakan yang ada di dalam ruangan yang sedang dipenuhi dengan suasana yang tidak mengenakkan itu.
“Apa yang Kamu lakukan Raisa ?” Tanya Risa yang masih mengaga dengan hal yang di lihat nya saat ini.
Entah mendapat keberanian dari mana, Raisa melayangkan tangan nya untuk Lisa. Risa selaku Ayah dari Resa, bersama Selvi
selaku Ibu dari Silvia juga ikutan tercengang dengan yang di lakukan oleh Raisa.
Dibalik itu semua, ada seseorang yang lebih tercengang. Yah, orang itu tak lain dan tak bukan adalah Lisa.
“Kamu....Berani menampar Ku?” Tanya Lisa dengan Netra yang membola sempurna, sambil satu tangan nya memegang pipi yang di tampar oleh Raisa.
“Yah Aku berani menampar Mu. Kenapa ? Ada masalah ?” Tak gentar atau merasa bersalah sedikit pun, Raisa mulai sedikit lepas kontrol, dan mengatakan apa saja yang terlintas di benak nya saat ini.
“Kamu tanya mengapa ? Hah !” Lisa menghentikan perkataannya. Sambil mengembangkan Smirk, Lisa lanjut bersuara “Kesalahan apapun
yang Aku perbuat, Kamu tak bisa menampar Aku seperti ini Raisa.”
“Maksud Mu ?” Tanya Raisa sambil memunculkan perempatan di kening nya, karena merasa ada sesuatu yang tak beres pada perkataan Lisa barusan.
“Okelah jika Kamu tak mau menganggap persahabatan Kita saat ini. Tapi Aku adalah orang yang membuat nyawa Mu dapat bertahan, hingga Resa mendapatkan pertolongan dari sahabat nya. Apakah Kamu sudah melupakan perjuangan Ku Sa ?”
Lisa pun berteriak di depan wajah Raisa, tampak kali ini Lisa sudah tak mau melanjutkan Akting lemah dan tertindas. Karena emosi nya sudah di sulut dengan satu tamparan berkekuatan besar dari telapak tangan Raisa.
“Aku tidak melupakan semua jasa Mu Lisa. Bahkan setiap pengorbanan Mu tercatat sempurna di benak ku. Tapi kali ini, konteks nya sudah berubah. Ini tentang Adik Ku. Kamu sudah melewati batas yang ada, sehingga jangan menjadikan jasa Mu sebagai alasan agar dapat melindungi Mu dari tindakan yang salah.”
Raisa tak kalah saat menaikkan intonasi suara nya di hadapan Lisa. Lisa masih mematung mendengar perkataan Raisa yang tidak terdapat tanda tanda menyesal sedikit pun, telah mengatakan hal yang menyakiti perasaan nya barusan.
“Hikss..” Lisa pun mulai menangis.
Entah karena perasaan sedih karena sahabatnya tak kunjung memberikan jawaban yang diinginkan, atau karena ingin melanjutkan akting menyedihkan nya.
"Jika Kamu ingin membela Silvia, oke fine. Tapi gak usah sampai tampar segala Sa. Kamu kira gak sakit apa ? Selain pipi Aku yang sakit, perasaan Aku juga ikur terluka karena ulah Kamu. Hiks..”
“...” Raisa terdiam kala mendengar perkataan Lisa.
__ADS_1
Ah, sungguh insting nya yang sudah terbiasa karena hidup bersama dengan Fitri, dan menyadarkan Raisa bahwa saat ini Lisa tengah menarik simpatik dari Ayah dan Ibu nya Resa.
*PLAK!*
Lagi, tangan Raisa mendarat sempurna di pipi Lisa. Dan hal itu membuat Lisa tercengang untuk yang ke dua kali nya.
“Lis, Lo amnesia atau apa sih ? Capek capek Gue keluar dari situasi menjijikan yang selalu di ciptakan oleh Fitri setiap saat, tapi bisa bisa nya Lo dengan seenak jidat malah mengulagi hal yang sama ?
Maksud Lo apa Lis ? Lo gak mungkin gak ingat kan ?”
Kali ini, Raisa sudah berbicara dengan intonasi suara yang naik turun dan tak terkontrol lagi. Netra nya mulai bergetar, dan tampak sedang menahan tangis karena rasa sakit yang Dia rasakan kala mengingat momen saat diri nya hidup bersama Fitri kala itu.
“Lo gak mungkin gak ingat Lis. Karena di antara Dika, Erna dan Lisa, Lo adalah orang pertama yang tau tentang masalah yang Gue hadapi. Bahkan Resa sering Gue nomor dua kan saat memberitahukan masalah yang tengah Gue hadapi. DENGAN DEMIKIAN, LO GAK MUNGKIN GAK TAU TENTANG RASA SAKIT
YANG GUE RASAIN.”
“LO NANGIS BARENG GUE, SETIAP KALI GUE CURHAT LIS. HIKSS...DAN ENTAH DI HASUT DARI PIHAK MANA, LO SEAKAN DENGAN TAMPANG POLOS DATANG DAN MEMPRAKTEKKAN HAL YANG PERNAH FITRI BUAT, BAHKAN LEBIH PROFESIONAL DARI NYA. MAKSUD LO APA LIS ? MAKSUD LO APAA ??”
Lisa terdiam. Air mata yang sedari tadi membanjiri wajah, kini seakan langsung terhenti dan tak mau mengalir lagi.
Ayah dan Ibu Resa dan Silvia sudah mulai berpikir dengan logika mereka, dan kini di buat bingung dengan situasi yang tampak
sedang tidak beres.
mimik wajah yang memohon.
Yah, Lisa ingin agar Raisa membela perbuatan nya saat ini,dan meninggalkan Silvia yang saat ini sudah berada di dalam pelukan Noa, dan berada di bawah perlindungan Resa.
Lisa juga tak mau sendirian, Dia
membutuhkan seseorang yang mendukung nya, agar diri nya dapat yakin bahwa tindakan nya kali ini tidak berada di luar batas, dan agar diri nya tidak
tampak sedang berlawanan dengan jumlah musuh yang berat sebelah.
“LO GILA APA GIMANA SIH, LIS ?GAK SEMUA TINDAKAN YANG DI LAKUKAN TANPA PIKIR PANJANG ITU DI BENARKAN LOH. SADAR LIS, MASIH
BELUM TERLAMBAT. LO TINGGAL JELASIN KE ORANG TUA RESA KALAU KALI INI PIHAK LO YANG BERMASALAH. UDAH, ITU AJA DAN MASALAH GAK BAKAL JADI RUYAM KAYA GINI.”
Lisa menggelengkan kepala dengan wajah yang tak percaya, bahwa sahabat terbaik nya malah tidak mau berada di pihak nya, yang sudah sangat lama mengorbankan waktu dan hal lain kala Raisa membutuhkan.
“JANGAN MUNAFIK SA. MASALAH INI GAK BISA DI BIARKAN SEPERTI INI TERUS. ORANG TUA SILVIA JUGA PERLU TUA BAHWA ANAK MEREKA SUDAH MELAKUKAN TINDAKAN YANG TIDAK PERNAH DI AJARKAN OLEH MEREKA.”
__ADS_1
Lisa tak bisa di ajak bicara baik baik. Walaupun hati nurani nya terkikis, Dia tetap akan melanjutkan sesuatu yang sudah Dia jalankan sejak tadi.
“Lo benar benar udah gak waras Lis.” Ucap Raisa dengan netra nya yang seakan enggan untuk berkedip.
Melihat situasi ini, Ke dua orang tua Resa merasa bahwa letak masalah ini memang bermuara dari Silvia.
Setelah itu, Selvi sebagai orang tua dari Resa dan Silvia yang sudah tak tahan lagi, kini melangkah untuk mendekati Silvia. Namun sesuatu menghadang nya sehingga Selvi hanya punya pilihan untuk tidak melanjut kan langkah kaki nya.
“Kenapa... Kalian berlutut di hadapan Mama ? Apakah kalian berdua punya salah pada Mama ?”
“......”
Tak ada jawaban. Saat ini Selvi seperti sedang berbicara dengan batu.
“Kenapa Kalian berdua tidak menjawab Mama ? Bukan kah kebiasaan kalian berdua adalah membuat Mama selalu risih dengan perkataan Kalian yang tak ada habis nya ? JANGAN HANYA DIAM SAJA, DAN JAWAB MAMA SEKARANG. MAMA SEDANG MENAYAI ANAK YANG BERNAMA RESA DAN RAISA. BUKAN PADA BENDA MATI YANG TIDAK TERDAPAT NYAWA NYA.”
Teriakan kekesalan dari Mama Selvi kini memenuhi ruang tamu itu. Mungkin karena Resa dan Raisa hanya berpikir untuk tidak membuat Silvia di pukul oleh Selvi, sehingga cara inilah yang terpikirkan oleh mereka berdua.
Tak ada waktu untuk memberi kode, saat sadar Resa dan Raisa sudah sama sama berlutut di hadapan Mama mereka. Mereka berdua dapat berani mengambil langkah ini, karena mereka tau bahwa Sang Mama tak mungkin tega dan melewati Resa dan Raisa begitu saja.
***
Karena masih tak ada jawaban dari pihak Resa maupun Raisa, Selvi pun angkat suara lagi.
“KENAPA KALIAN BERDUA MASIH MEMBISU ? APAKAH JAWABAN NYA MEMANG SESULIT ITU ?”
“Maaf Ma.. Untuk kali ini aja, Resa gak bisa Cuma jadi penonton. Seperti yang tadi udah Resa katakan. Bahwa Resa akan melindungi Silvia apapun yang terjadi.” Jawab Resa akhir nya.
“Maaf Tante. Tapi, jika tangan tante sudah
segementar itu, maka pukul Raisa saja. Raisa lumayan tahan banting kok. Asal
jangan Tante layangkan pukulan itu pada Silvia.” Mohon Raisa dengan suara yang
di rendahkan serendah mungkin, agar Selvi tidak berpikir bahwa saat ini, orang yang Dia anggap sebagai anak yang baik,
sedang membangkang di hadapan nya.
“Jangan melewati batas, karena kesabaran Mama juga sudah mencapai batas maksimal.”
*PLAK!*
__ADS_1
Usai mengatakan itu, terdengar dua suara tamparan di Ruang tamu. Seperti nya, akan terjadi drama yang panjang untuk kedepan nya.