
“Maksud Mu ?!” Tanya wanita itu, yang kini sudah melihat kearah Silvia. Karena benar benar menanti jawaban apa yang akan di berikan oleh anak gadis ini.
“Logika nya akan sama saja kan ?! Pengertian paling gampang nya, meyakini laut tetaplah laut. Mau apapun sisi yang di tunjukkan nya, seharusnya Kita hanya perlu berterima kasih dan menikmati nya bukan ? Kau suka saat laut dalam kondisi baik ? Itu hak Mu. Kau suka saat laut memiliki perasaan yang tidak baik baik saja dengan Mu, entah itu mendung dan sebagainya, itu hak Mu. Tugas kita hanya perlu menerima bahwa laut adalah laut. Menikmati pemandangan yang di sajikan nya, tanpa harus protes dan sebagai nya.”
Jelas Silvia yang beberapa detik kemudian, rambut nya yang di gerai di terpa angin pantai.
Daun kelapa melambai lambai, seakan memberikan kode bahwa perkataan Silvia barusan adalah benar ada nya. Selang beberapa detik kemudian, deburan ombak pun tak mau kalah dan menghiasi panca Indra Silvia dan wanita yang duduk di sebelah nya.
“Wooww.. Berapakah umur Mu ? Jika di lihat, Kamu lebih muda dari Ku. Namun pemikiran Mu sudah terlihat matang. Kamu pasti berasal dari keluarga yang harmonis.”
“Tidak selama nya orang orang yang berpikiran dewasa, karena berasal dari keluarga yang harmonis. Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa ada beberapa anak yang dewasa karena lingkungan yang harmonis. Tapi realita nya, dan fakta yang mendominasi hampir 80% di dunia, orang orang yang berpikiran dewasa adalah mereka yang di paksa oleh keadaan. Asli nya mereka juga ingin menikmati masa kecil seperti anak anak lain, namun apa daya... Mereka sudah harus memikirkan masalah ekonomi yang di alami keluarga. Memikirkan kemungkinan yang dapat mereka ciptakan untuk menghasilkan uang dan mengurangi beban orang tua dan sebagai nya...”
Silvia pun menggantung perkataan nya, karena saat ini Dia sedang melakukan kontak mata dengan wanita yang duduk dalam jarak yang memungkinkan mereka untuk mendengar suara masing masing.
Netra nya menatap dalam dalam sang Netra lawan, sehingga jika saja lawan tatapan nya adalah Laki laki, pasti sudah beda pengertian.
“... Jadi maksud Ku, semua yang ada di dunia ini tidak harus di ubah. Yang harus di ubah itu justru adalah pola pikir kita, yang tidak memedulikan apa yang akan terjadi jika kita bertindak danml berbicara
lebih jauh. Kadang, kita merasa bahwa
kita sudah paliing menderita dan tersakiti. Tanpa kita sadari, bahwa Kita juga luka bagi orang lain. “
“Jadi... Maksud Mu itu, semua nya tergantung sudut pandang ?” Tanya wanita itu.
“Tentu saja. Jika Kamu berpikir ini benar, maka ini pasti benar. Tapi jika kamu berpikir ini salah, maka pasti hal ini salah. Sudut pandang Mu tak akan di permasalah kan, karena itu adalah hak Mu. Namun,
perbaikilah sudut pandang Mu, agar tidak terkesan norak dan dapat menikmati
setiap nafas yang di hirup dan di hembuskan.”
__ADS_1
Bunyi deburan ombak semakin besar. Dan hal itu terdengar dengan sangat jelas di berbagai pendengaran.
Burung yang berkicau, suara angin yang numpang lewat, dedaunan kelapa yang bergesekan satu sama lain, dan langit yang semakin cerah... Alam seakan mengabari pada dunia, bahwa hari ini mereka sedang baik baik saja. Dan seakan memberi restu pada perkataan Silvia.
Karena sudah berbicara terlalu lama dengan orang asing, Silvia memutuskan untuk beranjak dari sana. Mata nya sudah lelah, lantaran belum di istirahatkan dari semalam.
Di tambah dengan diri nya yang sempat menangis tadi, benar benar membuat diri nya ingin tepar saat ini juga, dan menikmati deburan ombak sebagai musik untuk menghantar nya dalam tidur yang nyenyak.
Saat Silvia sudah bangun, Wanita yang berbicara sedari tadi dengan Silvia tau betul bahwa Silvia ingin pulang. Dan juga, tak terbesit niatan untuk menahan Silvia atau sebagai nya.
Hanya satu ynag ingin Dia lakukan, sehingga membiarkan mulut nya terbuka dan mengucapkan sesuatu...
“Fatia...”
Silvia menoleh ke arah nya dengan satu alis yang di naikan. Dia merasa bingung, karena nama nya bukan Fatia. Lalu saat ini siapa yang wanita ini panggil ?!
“Jadi nama Mu Fatia yah... Jika seperti itu... Silvia Aditya, itu nama Ku.” Ucap Silvia yang merasa jika diri nya harus balik
memperkenalkan diri, karena Fatia terlihat seumuran dengan Resa, Raisa dan yang
lain nya. Sekedar rasa menghormati lah yah...
Usai memperkenalkan diri nya, Silvia sudah berjalan ke arah gerbang yang menjadi tempat masuk keluar pantai ini. Sebelum Silvia beranjak, Dia juga sudah mengirimkan lokasi nya kepada Noa, sehingga sudah pasti saat ini Noa sedang menunggu di depan gerbang.
Silvia berjalan semakin jauh dari batu karang yang Dia gunakan untuk duduk tadi. Silvia sama sekali tidak sadar akan perubahan wajah Fatia saat Silvia memberitahukan nama nya tadi.
Bahkan wajah yang awal nya sangat bersahabat, seakan langsung berubah menjadi tidak mengenakkan.
***
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian....
Punggung Silvia sudah tidak terlihat lagi. Hal ini menandakan Silvia benar benar sudah keluar dari lingkungan pantai, dan sudah pasti telah menaiki kendaraan nya.
“Jadi Kamu yang bernama Silvia ? Tidak Ku sangka lawan Ku adalah bocah yang sangat tegar dan juga berpikiran luas. Apakah Diri mu akan memberikan sesuatu yang lebih mengejutkan lagi ke depan nya ? Haahh.... Sangat menyenang kan... “ Monolog Fatia dengan seringai yang tidak bersahabat sama sekali.
Diri nya terlihat sangat menikmati setiap situasi yang terjadi saat ini.
Drrtttt... Drrrttt....
Ditengah suasana yang di buat menyeramkan oleh Fatia, ponselnya pun berdering dan langsung membuat senyum khas nya tadi luntur. Mood nya langsung hancur sepenuh nya, saat melihat nama orang yang menelfon nya.
“Tch...” Fatia pun mendecakkan lidah, sebelum akhir nya mengangkat telepon itu juga.
“Kenapa ?” Tanya Fatia tidak bersemangat sama sekali.
Sang penelpon pun memberitahukan tujuan dan maksud nya bertelepon. Dan hal itu membuat Fatia semakin merasa jengkel, karena situasi saat ini seakan memaksa Fatia untuk memenuhi keinginan sang penelepon.
“Heh!! Dengar yah KAKAK. Saat ini Kamu tidak ada di dalam situasi yang bisa membuat Mu memaksa Ku, dan memperlakukan Aku sebagai pesuruh mu. Ingat yah, kamu itu memiliki karakteristik ginjal yang unik, sehingga susah cari pendonor ginjal yang cocok. Paham gak ?!”
Setelah berkata seperti itu pada Sang Kakak, Fatia pun mematikan telepon nya dan berusa agar emosi nya tidak meluap kemana mana.
“Dia yang terlalu bodoh dan membuat lubang untuk diri Mu sendiri, tapi untuk mengatasi masalah ini malah ajak ajak. Dikira Gue mau apa ? Dasar... Seharus nya yang menjadi Kakak itu Aku, bukan Kamu Fitri.” Monolog Fatia dengan tatapan yang enggan untuk berkedip.
Bersambung....
Gimana ?? Gimana ?? Udah ada sedikit cahaya ilahi kan ??? Rasa penasaran nya udah ke obatin dikit kan ? Hehehe, bagus lah. Sekarang Otor mau tidur dulu. Semoga aja besok Otor bisa up lebih dari 1 episode yah😌.
Have a nice Day, Guys❤❤
__ADS_1