Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
#Part 162.


__ADS_3

Jawab Raisa dengan penuh keyakinan, dan kembali merangkul Lisa. Sekilas, Lisa pun tersenyum bahagia, karena mendapatkan Sahabat seperti Raisa.


Belum tentu jika sahabat yang Lisa percaya adalah orang yang bukan bernama Raisa, pasti saat ini Lisa akan sukses mendapatkan akhir dari hidup nya. Dan akan terus di cap sebagai pengkhianatdi sisa hidup nya.


Pembantu yang sejak kehadiran Raisa semakin membatu, kini mulai tenggelam dalam pemikiran nya. Dia ingin keluar dari masalah ini tanpa harus mengorbankan diri nya sedikit pun.


Namun sayang nya, masalah kali ini sudah berhasil membawanya ke dalam situasi yang tersudut kan. Bukan karena Resa dan Raisa yang ada di hadapan nya, melainkan karena Bos Besar yang Dia akui tadi adalah Lisa, sehingga membuat Diri nya nampak jelas sedang berbohong.


“Hiks.. Saya.. Saya sebenarnya tak mau melakukan hal ini. Saya hanya di paksa. Ya benar, saya hanya di paksa. Karena... (Blabla bla bla)... “


Pelayan itu terus saja memberikan alasan, yang membuat diri nya terlihat tidak bersalah. Namun apa daya, semakin banyak Dia bersuara, akan semakin membenarkan bahwa saat ini Dia adalah seseorang yang munafik.


“Terlalu banyak bicara. Apa lagi yang Kalian tunggu ? Langsung seret dan introgasi diri nya. Ambil handphone nya lalu serahkan pada Andro sekretaris Ku. Dia akan melakukan tugas nya dengan sangat baik.”


Ucapan Resa berhasil membuat Pelayan itu bingung, karena berpikir Resa sedang berbicara dengan Siapa. Apakah dengan Raisa dan Lisa ? Tapi nada nya terdengar seperti seorang atasan, dan itu bukan lah nada yang selama ini Resa gunakan dalam berkomunikasih bersama Lisa apalagi Raisa.


Selang beberapa detik kemudian, jawaban pun menghampiri si pelayan wanita itu.


Lima orang Pria berbaju rapi (Jas berwarna hitam), dengan otot tubuh yang nampak jelas sangat terlatih, walaupun sedang di tutupi oleh baju, kini sudah mengunci tubuh pelayan itu, dan membekap mulut nya.


Mau berteriak pun tak akan terdengar. Sekalipun terdengar, tak akan ada warga yang datang. Karena kediaman Aditya lumayan besar, dan jarak dari perumahan yang di bangun adalah jarak 500 meter dari posisi rumah Kediaman Aditya saat ini.


Saat dua orang sudah mengunci tubuh pelayan wanita itu, seorang pria lain nya mengambil hp yang terjatuh dari tangan pelayan wanita itu.

__ADS_1


Mata si pelayan itu berair, Dia merasa seolah tak terima dengan situasi saat ini yang tidak adil sama sekali.


Tidak adil ? Entah Dia mengingat atau tidak, bahwa dengan adanya diri nya yang mengambil pekerjaan tambahan sebagai mata mata, sehingga membuat Silvia yang tak bersalah harus melewati alur kehidupan yang terasa seperti rolercoster.


“Tunggu.” Ucap Raisa menghentikan pergerakan ke lima orang pria berbadan kekar itu.


“Syukurlah...” Batin pelayan itu yang merasa Raisa akan memberikan peringanan kepada diri nya. Sungguh harapan yang akan membuat Diri nya tersakiti, karena mengharapkan sesuatu yang tak akan mungkin terjadi saat ini.


“Bukan masalah besar kok. Tetapi bisakah Kamu memberikan hp itu pada Ku ? Biarkan Aku yangmemberikan nya kepada Andro. Apakah Kamu keberatan ?” Tanya Raisa pada Pria yang sudah memasukkan hp itu ke dalam plastik. Karena benar benar menjaga agar sidik jari nya tidak terbaca, lantaran terlalu profesional dalam melakukan pekerjaan nya.


“Tentu saja tidak Nyonya Aditya.” Ucap nya sambil memberikan hp itu pada Raisa.


Wajah Raisa sempat merona, saat pria tadi menyebut nya dengan sebutan Aditya. Padahal Diri nya belum resmi menjadi istri Resa, tetapi perlakuan yang di dapat nya saat memasuki kediaman ini, benar benar bernuansa Anak mantu yang sedang berkunjung ke rumah mertua, walaupun belum RESMI.


Setelah itu, pelayan wanita tadi di giring ke dalam mobil. Karena terlalu merontak, maka Dia pun di pukul di bagian leher belakang, agar pingsan sejenak.


Terlalu bergerak secara berlebihan juga menyusahkan pria berotot itu, karena tak ingin bersentuhan dengan organ organ penting si pelayan.


***


Saat pelayan wanita itu sudah di angkut ke tempat lain, tentu saja belakang kediaman Aditya yang dekat degan pepohonan besar menjadi tempat Resa, Raisa dan Lisa berdiri. Mereka bertiga belum ada gelagat untuk pergi dari tempat itu.


“Haahhh.. Aku pikir Aku tak bisa melakukan hal ini Res. Aku merasa berpura pura dalam melakukan sandiwara sangat melelahkan. Karena Aku terlalu memikirkan perasaan Silvia yang berlari dengan air mata. Walaupuun itu hanya akting, Aku tau betul bahwa itu adalah air mata nya yang keluar karena benar benar merasa sedih.”

__ADS_1


Ucap Resa dengan guratan kecemasan di wajah nya.


Wajah Lisa pun kembali muram saat Raisa mengatakan hal barusan. Bagaimana tidak ? Karena Lisa masih merasa bersalah, lantaran diri nya juga ikut ambil bagian dalam membuat rencana seseorang berjalan lancar.


“Sekali lagi maaf kan Aku. Aku tak punya kesempatan untuk mencari tahu siapa dalang di balik kejadian ini. Karena Aku berada di posisi serba salah.” Ucap nya penuh penyesalan. Bahkan Lisa masih enggan untuk melakukan kontak mata dengan Resa apalagi Raisa.


“Tak apa Lis. Bukan kah saat ini kita sudah melakukan penyerangan balik ? Memang terbilang tidak masuk akal, tetapi kita harus mencari tahu siapa dalang di balik semua ini kan ?” Kata Raisa sambil menengadahkan kepala Lisa ke atas, agar mereka berdua dapat melakukan kontak mata.


Mata Lisa tampak berair, namun Lisa cepat cepat mengatur nafas nya, agar air mata tidak tumbang begitu saja dari kelopak mata nya.


Dia tentu merasa malu, karena Silvia saja berusaha agar tampil kuat, masa Lisa harus kalah kuat dari adik Resa ?  Akan terdengar tidak masuk akal, jika Lisa merasa seperti itu. Begitulah pemikiran Lisa.


“Ya... Ya... Ya... Sekarang berdirilah di samping Ku. Posisi Mu saat ini seperti hendak ingin mencium Lisa. Dan Aku  benci akan pikiran Ku, yang membayangkan kejadian itu.” Kata Resa tiba tiba, yang menengahi suasana tentram antara dua sahabat itu.


Bicara nya Resa bukanlah omong kosong, karena Resa langsung menarik lengan Raisa, dan membuat Raisa berdiri tepat di sebelah nya.


“Ih, apaan sih ? Ancurin suasana banget tau gak ?”Cetus Raisa yang merasa Resa sangat kekanak kanakan.


Resa hanya tersenyum puas, karena sekalipun tak suka, Raisa tidak mengubah posisi berdiri nya. Dan hal itu membuat Lisa bersyukur, lantaran Resa masih bisa membuat suasana tidak canggung dan terkesan berat, saat situasi nya tidak mendukung sama sekali.


“Oiya Sa, Lo ngapain ambil hp pelayan wanita yang tadi ? Padahal tinggal di antar aja sama Andro, kenapa harus Kamu yang ngelakuin nya sih ?” Tanya Lisa yang merasa penasaran sejak tadi.


Resa dan Raisa pun tersenyum di timing yang sama, karena mereka belum memberitahu Lisa tentang rencana untuk step berikut nya.

__ADS_1


__ADS_2