Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
Part 138.


__ADS_3

Lalu karena lusi dan nando merasa khawatir padaku, mereka menyuruhku untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Dan ternayata, saat hasil nya keluar.. Aku kembali tertohok oleh kenyataan lain."


...* ...


...*...


...*...


...*...


...*...


"Padahal saat mendengar celoteh dari mereka berdua, aku merasa bahwa mereka terlalu mengkhawatirkan aku. Padahal sejak awal mereka sudah sepakat akan memperlakukan aku seperti sahabat, kenapa terlihat sebagai adik? Tapi pemikiran itu lagi lagi aku singkirkan, Karena Aku adalah anak yang penurut. Demi mencari tahu jawaban yang pasti juga, aku pergi ke rumah sakit dan memberitahu semua hal yang terjadi satu bulan terakhir ini. Aku pikir akan ada penyakit Diare atau TBC, tapi nyatanya dokter yang aku temui mengatakan *Nona, sebaiknya anda pergi ke dokter kandungan. Karena saya bukan dokter yang punya skill bagian ini, silahkan pergi ke ruang yang ada di lantai 3, maka kamu akan mendapatkan pelayanan yang lebih lengkap dan lebih cocok untuk situasi mu saat ini.* Begitulah kata nya. "

__ADS_1


"Saat mendengarkan perkataan itu dari dokter, Aku mulai merasa gelisah dan sudah mulai merasa takut. Dokter kandungan? Jika dia berkata dokter kandungan, bukankah ada sesuatu di dalam rahim aku? Paling tidak apakah aku mengidap suatu penyakit yang menempel di rahim? Tapi respon dari dokter tadi seakan bahwa ini adalah hal yang normal! Lalu benar saja, telah melakukan pemeriksaan, aku dinyatakan hamil 1 bulan. Betapa bodohnya aku, aku tidak tahu sama sekali tentang hal-hal yang berhubungan dengan biologi. "


"Aku pikir aetelah melakukan nya tidak akan ada yang terjadi. Dan juga pada malam itu seharusnya menggunakan pengaman, coba saja setelah melakukan ya aku juga langsung minum obat kontrasepsi atau pil untuk mencegah kehamilan. Bukannya aku tak mau melakukan hal itu, tapi aku juga tidak tahu juga hal itu akan terjadi. "


"Aku terlalu fokus dan terlalu berharap untuk mendapatkan telepon dari Kak Noa, sampai lupa apa yang telah terjadi, bahkan lupa untuk memprotes diriku sendiri. Setelah mengetahui hal itu, aku mulai bimbang dan risau, harus mulai dari mana aku menjelaskan ini pada Kak Resa dan pada Kak Raisa ? Atau jangan jauh jauh, apakah aku berani melaporkan hal ini pada Papa dan Mama ? pikiran-pikiran yang macam-macam ada saja dalam kepalaku, dan aku langsung ingin menggugurkan kandungan itu. Tapi aku tidak tega, tidak berani, aku tidak sanggup membunuh darah daging ku sendiri. "


"Bukan salah dia, kan dia tidak tahu apa-apa. Masa dia yang tidak tahu apa-apa harus dia yang dikorbankan ? Masa dia yang harus aku gugurkan demi kebaikan aku ? Dan apakah setelah menggugurkan kandungan itu, aku akan baik baik saja dan tidak akan merasa menyesal ? Apakah aku setegar dan setega itu? Dan aku pun sampai kepada jalan buntu dan pikiran yang berhenti berputar.. Aku menghubungi Nando dan Lusi yang kebetulan ada masalah dalam mengurus pernikahan antara keduanya, maka kami bertiga sepakat untuk keluar negeri dengan mereka dua sebagai alibi kawin lari, dan aku dengan alibi bahwa pertukaran pelajar selama satu tahun."


"Lalu saat aku selesai bersalin, aku menamai bayi to Brayen. Dan sesuai kesepakatan, Brayen akan dinyatakan sebagai anak dari Lusi dan Nando, bukan anak ku. Dan aku mulai berpikir bahwa, menantikan sesuatu yang tidak pasti kapan datangnya itu membosankan dan melelahkan. Jadi aku memutuskan untuk tak mau lagi berharap pada manusia bernama Noa. Aku merasa bahwa, mungkin ini sudah takdirku karena aku yang terlalu bodoh. Sejak saat itu aku mulai melupakan Noa, dan mengabdikan hidupku pada Brayen dan mendesain baju. Sifat tertutup dan anak polos di hadapan kalian semua, tapi sifatku sangat dewasa di hadapan Lusi, Nando dan juga Brayen. "


"Dua tahun setengah pun berlalu dengan banyak hal yang terjadi. Dua tahun belakangan ini, hidupku benar-benar berwarna dengan kehadiran Brayen. betapa bersyukur nya aku karena aku tidak menggugurkan dia waktu itu, karena dia selalu menjadi penyemangat disaat aku bener-bener lelah, dan saat Aku fokus pada pikiran burukku. Namun semuanya hancur saat beberapa hari yang lalu, Brayen muntah darah, mimisan, dan di diagnosis mengidap penyakit kanker darah. Aku benar-benar tidak suka akan hal itu, cara pengobatannya yang paling ampuh adalah mendapat donor susun tulang belakang dari ayah kandung. "


"Tapi mengingat pertemuan ku yang sangat amat buruk bersama Noa di belanda, aku urung niat itu dalam-dalam untuk meminta bantuan nya. Karena tak mungkin kan aku meminta tolong pada seseorang yang sudah aku caci maki, yang sudah aku berikan perubahan sifat yang drastis, dan yang sudah aku berikan ultimatum bahwa tidak usah mendekati ku. Nandodan Lusi sudah benar-benar panik dan ikut khawatir, kami bertiga sama-sama tenggelam dalam perasaan panik setiap detiknya, saat mendapat perubahan suhu dari Baby Brayen, dan juga beberapa reaksi lainnya."

__ADS_1


"Jadi bayi itu bernama Brayanc?" Tanya Raisa yang ingin memberikan beberapa detik atau beberapa menit pada Silvia untuk menarik nafas dan menenangkan pikiran yang tampak kalut.


"Em... Dia nampak sangat tampan dan ceria seperti aku! Kak Raisa pasti akan menyukainya." Jawab silvia yang memberikan senyumannya, dan liquis bening yang seketika tumpah dari bola mata nya. Entah kenapa dia merasa seperti sangat amat sedih dan mellow saat ini. Dia merasa bahwa dengan menangis di hadapan para kakak-kakaknya, maka dia akan mendapatkan penghiburan.


Raisa yang selalu peka langsung memeluk Silvia. Tubuh kecil Silvia yang bergetar di elus pelan-pelan, dan beberapa waktu kemudian tubuh silvia sudah tidak bergetar lagi, Silvia merasa aman dan nyaman di dalam pelukan Raisa. Mungkin karena sesama wanita, jadi ada rasa senasip di relung hati terdalam.


Sedangkan Resa ? Di wajahnya tidak terpasang reaksi marah, Kecewa, dan sejenisnya. Lebih tepatnya Resa ikut merasakan bernagai perasaan itu. Alis kata nya berkerut ke bawah, wajahnya benar-benar suram.


Tak dapat disangka, adik jangan selama ini selalu ceria dan tampil dengan kebodohan dan kepolosan yang hakiki, menangis karena menahan rasa sakit begitu lama, memikul beban yang berat seorang diri selama bertahun-tahun lamanya.


Ini membuat Resa berat untuk angkat suara, seakan lidahnya sangat berat untuk berbicara. Maka nya Resa tak tau harus berkata dari apa duluan. Apakah kata penghiburan ? Apakah dengan kata-kata *apa kamu baik-baik saja?* Atau apa kamu butuh sesuatu ? Apakah ada yang dapat membuat Mu yang merasa baikan ? Namun Resa juga kembali berpikir, apakah perkataan yang akan dilontarkan dapat membuat silvia merasa tenang ? Atau justru perkataan apapun yang dikatakan oleh Resa, malah akan membuat Silvia semakin down. Terlalu banyak pertanyaan dan keraguan, sehingga membuat Resa terdiam dalam kesadaran nya seorang diri.


See you next day guys🥺, sorry up nya belum bisa tiap hari 😭💔

__ADS_1


__ADS_2