
Setelah melewati pagi hari yang di sibukkan dengan berbagai pekerjaan, yang lebih tepat nya telah di kerjakan oleh Surya dan Raisa.
“Sarapan pagi nya di pesan aja ya, Ayah... Kalau mau kepasar, makan waktu. “ Ucap Raisa memeberikan masukan.
Surga terdiam sejenak. Dia mrasa memang masukkan putri nya tak ada yang salah, tetapi Surya merasa jika tidak sopan jika hanya menyajikan makanan pesanan pasa Resa dan juga Noa.
Dan Raisa seperti nya mengetahui apa yang sedang berputar di dalam benak ayah nya, sehingga akhir nya Raisa pun angkat bicara...
“Mereka gak bakal masalah dengan masakan yang di pesan Ayah... Kalau Ayah mikirin Noa, gak usah yang ribet ribet. Soalnya Noa itu sebelas dua belas sama Resa.”
“Kamu pikir Ayah sedang memikirkan hal itu ? Ayah sedang berpikir mau ke kantor apa enggak hari ini, soalnya Ben udah mulai di sibukkan pada urusan kantor. Ayah gak enak sama Dia.”
“Dih, Ayah pasti masih kesal kan, waktu Raisa jawab *Kamu Nayea* tadi pagi. Maka nya sekarang Ayah berusaha buat gak membenarkan hal yang udah pasti benar.”
Raisa sedikit memanyunkan bibirnya, karena Dia juga bisa merasa kesal jika di kerjai oleh Ayah nya. Tapi hal itu merupakan suatu hiburan bagi Surya, karena sudah lama Surya tidak mengerjai Anak nya ini.
Lalu, saat Surya tengah berusaha menahan keinginannya untuk tertawa, datanglah dua orang dengan penampilan yang tak terayangkan.
“Gak usah mikirin soal sarapan pagi Om Surya. Soalnya ada yang udah menyediakan sarapan buat Kita.”
“Kamu udah bangun Res ?” Bukan nya menanyakan tentang perkataan Resa barusan, Raisa justru menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawaban nya.
“Belum Sa. Itu Cuma hologram nya Resa kok. “ Lagi, Surya membuat Raisa kesal dengan jawaban nya.
Siapa suruh tadi pagi memberikan jawaban yang tidak di harapkan. Alhasil, sang Ayah membalasnya berkali kali lipat bukan ?
Ternyata benar kata Silvia, bahwa buah jatuh tak jauh dari pohon nya.
“Au ah. Bete banget sama Ayah yang kaya gini. Btw, siapa yang buatin sarapan Res ? Kamu nyewa pembantu semalam ?” Tanya Raisa sambil memperhatikan baju dan celana yang Resa gunakan. Karena mau di buat seperti apapun, saat ini Resa tengah memakai baju dan celana Om Surya.
“Gak usah ngeliatin kaya gitu juga kali. Memangbenar kalau ini baju Ayah Kamu kok. Tatapan nya udah mengalahkan kejudesan mak mak gosip dah.”
“Dih.. Kenapa pagi ini banyak ynag menyebal kan sih ? Minta di tabok apa ?” Seru Raisa ynag seperti nya tak suka jika di kerjai seperti ini. Tapi berbeda cerita jika Riasa yang menjahili orang. Emang rada
gak waras ni cewek.
“Setuju banget sama Raisa. Pagi ini Resa sangat menyebalkan.” Sambung Noa ynag merasa senasib dengan Raisa.
“Lo gak usah ikut nimbrung juga kali. Jatoh nya kaya kita tuh pasukan kena Bully tau gak ?”
__ADS_1
Karena sedang sensitif, bukan nya senang karena mendapat sekutu, Raisa malah melampiaskan kekesalan nya pada Noa.
“Dasar Cewek...” Batin Noa penuh kedataran, yang menyesal ingin membantu Raisa memperkuat posisi saat tengah melawan Ayah dan calon suami nya itu.
“Sudahlah. Kita dengarkan jawaban Resa dulu. Karena menurut Ku, yang menyiapkan sarapan pagi untuk Kita bukan orang biasa.” Ucap Surya menyela tingkah laku anak nya yang entah kenapa, terasa sudah resmi memiliki anak berjumlah tiga orang.
“Benar kata Om Surya. Yang ajakin Kita semua sarapan itu Papa sama Mama Aku.”
“Eh ? Om Risa sama Tante Selvi yang ajakin kita sarpan ? Gak salah Res ?” Tanya Raisa memperjelas.
Bukan nya tidak menginginkan hal ini, tetapi Raisa tau betuk bagaimana yang terjadi kemarin. Seperti sebuah medan perang, yang memiliki sedikit peluang untuk kemenangan.
“Ya... Dan seperti nya, mereka tergerak karena Silvia ynag angkat bicara kemarin.”
Lagi, Resa memebrikan jawaban yang entah kenapa membuat Raisa dan Noa mengkhawatrkan hal yang sama. Yah, yang dikhawatirkan oleh mereka adalah Silvia. Siapa lagi kalau bukan Silvia bukan ?
Bagi mereka berdua, tak apalah jika yang di serang adalah mereka, tapi jika Silvia yang sudah memiliki luka mental di mana mana.. Hal itu terasa suatu tindak kejahatan.
Berpikir demikian, memang Raisa bukanlah orang yang bersih dari luka mental, karena telah melewati hidup yang tak pernah mudah beberapa tahun belakangan, tetapi setidak nya Raisa sudah kuat jika mendapatkan serangan lagi.
Berbeda dengan Silvia yang secara keseluruhan rasa sakit yang Dia alami selama ini, yang belum di ceritakan secara langsung dari mulut nya.
Dan yah, ternyata bukan Cuma Raisa dan Noa yang memikirkan hal ynag sama. Surya dan juga Resa ikut mengkhawatirkan Silvia.
yang sngat suka makan bukan ?”
Tak mau sesuatu yang lebih buruk terjadi pada Silvia, Surya memberikan masukan yang di terima oleh Resa, Raisa, dan juga Noa.
“Kalau begitu, bagaimana jika Kita berangkat sekarang ?” Ajak Noa yang sudah memegang kunci mobil. Tampak bahwa Noa ingin menyetir untuk yang lain nya.
Semua nya tak ada yang keberatan, dan mereka berempat pun menuju Kediaman Aditya.
“.....”
***
Beberapa saat kemudian.
Surya dan yang lain nya sudah tiba di kediaman Aditya. Dengan Noa sebagai pengemudi, tentu saja dapat tiba dengan cepat karena jalana belum ramai kendaraan, dan karena Noa juga melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Dia tak mau membuat Silvia terbangundan menunggu kepulangan mereka yang terbilang lama.
“Tuan Resa, Tuan Besar dan Nyonya sudah menunggu di meja makan.” Kata pelayan wanita ynag menyambut kedatangan Resa ddan yang lain nya, saat memasuki gerbang rumah Aditya.
“Em..”
Resa hanya berdehem dan mengangguk, kemjudian berjalan kearah pintu masuk. Tentu saja dengan Raisa yang mengandeng nya, dan Surya yang memantau dari belakang Putri nya. Kalau kalau Raisa terjatuh ke belakang atau sebagai nya (Kekhawatitran yang berlebihan). Sedangkan Noa hanya
dapat menyimak saja, karena entah Surya ataupun Resa, sama sama memiliki
tingkat bucin tersendiri pada wanita bernama Raisa ini.
***
Beberapa saat kemudian, Resa dan yang lain nmya sudah duduk di meja yang sama dengan Risa dan juga Selvi. Tak ada percakapan sedikit pun. Bahkan tak ada yang berani untuk memberikan lelucon terlebih dahulu.
Karena itulah, suasana yang tercipta sangat amatt tak mengenakkan. Para pelayan yang mondar mandir meletakkan makanan tak tau harus berbuat seperti apa. Satu hal yang pasti, mereka tak boleh melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan masalah di situasi saat ini. Karena njika tidak, di pecat adalah satu satu nya hal ynag jelas akan terjadi.
***
Makaan sudah tersaji di ats meja. Belum ada yang mengambil inisiatif untuk makan terlebih dahulu. Mereka hanya saling diam, seakan memberikan gambaran bahwa masing masing dari mereka memiliki rasa gengsi yang amat tinggi.
Ditengah situasi itu, tentu saja ada yang harus mencairkan suasana bukan ? Dan sayang nya, orang yang biasa nya selalu mencairkan suasana tak hadir saat ini, lantara sudah tertidur di rumah Surya.
“Jika Kalian semua hanya menatapa makanan itu, Aku jamin makanan itu akan merasa malu dan minder, dan makanan pun akan terasa tak enak.”
Perkataan yang di lontarkan oleh suara vyang sangat familiar itu, berhasil menyita seluruh perhatian yang ada i meja makan.
“SILVIA ??!!” Teriak Surya, Resa, Riasa, dan juga Noa secara bersamaan.
Mereka berempat layak untuk merasa terkejut bukan ? Karena mereka jelas jelas sudah menutup pintu, dan sudah meyakini bahwa Silvia sedang tidur nyenyak.
“Kenapa menatap Ku seperti inbi ? Ah, apa karena baju tidur ini ? Abaikan saja, karena Aku hanya menggunkaan baju tidur yang
ukuran nya sama dengan Ku. Ku rasa, ini baju tidur milik Kak Raisa saat masih
SMA dulu deh. Maka nya rasa nya pas banget.”
Silvia pun mengira yang membuat semua orang kaget adalah baju tidur nya yang terbilang tipis, dan dengan perpaduan celana Hello Kitty yang hanya setengah paha nya saja.
__ADS_1
“Bu... Bukan pakaian tidur yang jadi permasalahan nya Sil...” Batiin keempat orang itu, sambil terus melihat Silvia yang sudah duduk dan juga melipat kaki nya di atas kursi.
Silvia mulai menyendok nasi ke dalam piring nya dengan wajah yang sangat bersinar. Entah ini di sengja atau tidak, tetapi kembali lagi pada satu kenyataan yang pasti, bahwa Silvia adalah orang yang sangat suka makan.