
Di saat Resa dan Raisa sedang beradu mulut (?) di dalam mobil, di sisi lain dan di saat yang sama, Noa dan Silvia sedang berada di ruang istirahat, di mana Noa hanya boleh terbaring di atas ranjang pasien, karena baru menjalani proses pegangkatan sumsum tulang belakang.
"Apakah ada yang sakit ? Ah maaf. Aku malah menanyakan pertanyaan sepeleh seperti ini," kata Silvia canggung, karena diri nya sendiri yang membuka obrolan dengan perkataan yang jawaban nya sudah terpampang jelas.
Mana ada orang yang selesai operasi, tidak merasakan apa apa ? Pasti ada rasa tak nyaman dan beberapa ngilu kan ? Apalagi saat efek bius nya sudah hilang, semua nya menjadi sangat jelas.
"Tak apa.. Tanya kan apa saja yang ada di pikiran Mu. Karena sekalipun itu perkataan yang sepele, akan sangat berarti saat do ucapkan oleh Mu."
Luar biasa. Padahal Noa sedang dalam keadana lemah, suara nya saja tidak bervolume seperti biasa nya, tetapi bisa bisa nya Noa masih bisa berkata dalam satu argumen yang panjang.
"...." Silvia terdiam. Dia merasa tak tau harus berkata seperti apa, dan Noa pun angkat bicara, agar suasana tidak seperto di area kuburan umum saat malam hari.
"Apakah Raisa mengatakan sesuatu pada Mu?" Tanya Noa.
"Em.. Kak Raisa mengatakan kalau Kak Noa mencari Ku. Apakah ada sesuatu yang Kak Noa butuh kan ? Katakan saja, Aku akan mengadakan nya."
"Apakah Dia hanya mengatakan itu ? Tidak memberitahu bahwa Dia baru sana mengancam pasien yang masih dalam keadaan lemah ?"
"Eh ? Kak Raisa tidak mengatakan sesuatu semacam itu. Bahkan Kak Raisa memasang wajah tersenyum seperti biasa nya. Memang apa yang Kak Raisa katakan pada Mu ?"
"Mengerikan... Bisa bisa nya Dia berbicara kepada Mu seperti tidak terjadi apa apa sebelum nya ? Bahkan Aku masih merasa tertekan karena perkataan nya, tapi yang dia tampilkan pada Mu malah wajah malaikat ? Apakah Dia adalah pemenang piala oskar pada bakat akting ?"
"Iihh, memang nya apa yang Kak Raisa katakan sih ? Kalau mau di beritahu, jangan setengah setengah dong. Kepo ini." Ujar Silvia sambil mengguncangkan kursi nya.
Ingin rasa nya Silvia mengguncang badan Noa, tapi kewarasan Silvia masih tersisa, sehingga kursi pun yang menjadi pelampiasan.
"Sil.. Jadi tadi..." Jelas Noa.
__ADS_1
Beberapa saat yang lalu.
Raisa masuk ke dalam ruangan yang di tempati oleh Noa sambil mengunci pintu. Dia berjalan mendekati ranjang Noa dan menatap Noa dengan tatapan sedatar datar nya. Karena belum bisa bergerak, Noa hanya bisa melihat nya saja. Lalu, Raisa pun mulai bersuara.
"Ah, jadi Kamu orang nya ?" Ujar nya sambil melipat ke dua tangan di dada.
"Mak.. Maksud Mu ?" Tanya Noa dengan suara yang cukup lemas. Dia belum sekuat biasa nya, sehingga perkataan nya pun masih patah patah.
"Tentu saja orang yang menghancurkan hidup Adik Ku. Jangan kamu kira, dengan Kamu yang sudah mendonorkan sumsum tulang belakang kepada Brayen, maka semua kesalahanmu akan dihapuskan. Terserah dengan alasan atau kenyataan di mana itu semua terjadi di luar sepengetahuan Mu, karena sedang dalam pengaruh alkohol. Tapi Noa, apakah kamu tidak merasakan perbedaan setelah melakukan adengan yang panas itu ?"
"A.. Aku sungguh-"
"Ayolah Noa.." Ujar Raisa menyela perkataan Noa. "Kamu adalah seorang dokter yang jenius bukan ? Jangan membuat pandangan Ku yang selama ini menilai Mu seperti itu, langsung sirna karena kenyataan ini. Sekarang katakan pada ku, apakah benar malam itu kamu tidak sadar sama sekali ?"
"...."
Mungkin hanya beberapa adegan saja yang dapat di ingat. Tentang Noa yang mencium Silvia dengan ganas, dan adegan saat dia sampai pada tahap di mana dia mengeluarkan cairan kental nya. Namun Noa beranggapan bahwa itu hanya mimpi, sehinga tidak terlalu memikirkan apa yang dia mimpikan itu. Karena yang Noa ketahui, mimpi adalah sesuatu yang tidak harus di percaya.
"Maaf..."
Hanya kata itu yang dapat di ucap kan oleh Noa. Karena yang bersalah di sini bukan hanya Silvia yang terlarut dalam hasrat nya, tetapi Noa juga di sini termasuk dalam pihak yang salah.
Jika Noa menganggap itu mimpi, setidak nya cari tahu bukan ? Bertanya langsung kepada Silvia, melihat respon Silvia seperti apa, dan banyak hal yang dapat dilakukan oleh Noa beberapa tahun yang lalu.
Jika Noa melakukan itu, saat ini dia dan silvia sudah menjadi keluarga, dengan lebih dari satu anak bukan ? Itulah yang ada di pemikiran Raisa. Sehingga Raisa ngotot menyudut kan Noa, dan membuat Noa sadar bahwa bukan cuman Silvia yang salah di sini.
"......"
__ADS_1
Suasana hening kembali terjadi... Raisa yang sedari tadi hanya berderi di tempat nya, berjalan mendekati tiang besi yang menjadi tempat kantung infus di letakkan.
"Karena sumsum tulang belakang Mu sudah di ambil, bukan kah sekarang Kamu sudah tak berguna ? Apakah jika Kamu mati, semua keadaan dapat kembali seperti sedia kala ?" Ujar Raisa dengan tatapan tajam ke arah Noa.
Lirikan mata nya, sungguh membuat Noa tak berkutik. Entah lagi dengan Resa, tapi penampilan Raisa yang seperti ini baru di lihat oleh Noa pertama kali dalam hidup nya.
"....." Noa hanya diam seribu bahasa, sambil mengatupkan mulut nya dengan wajah yang pucat pasih.
Lalu Raisa pun mengulurkan tangan nya ke arah wajah Noa, Noa hanya bisa memejam kan mata nya kuat kuat, dan ikhlas menerima takdir nya yang akan mati di tangan Raisa.
"Jangan menangis. Tak ada guna nya Noa," kata Raisa sambil menyeka bulir air mata, yang tanpa sadar Noa keluarkan. "Jadi, jika Kamu sungguh sunguh mencintai Silvia, berusahalah agar mulai saat ini, Silvia tidak akan mendapatkan perlakuan yang membuat nya sakit hati. Sudah cukup dengan diri Mu yang menghancurkan kepolosan nya, Aku tak mau Kamu menghancurkan hal lain nya lagi." Cetus Raisa dengan wajah serius.
*Tak.. Tak... Tak..* Langkah Kaki Raisa yang berjalan ke arah pintu.
"Oia, semoga keadaan Mu cepat baikan yaah. Maaf tak membawakan buah tangan, karena berkat seseorang, Aku dan Resa hanya di penuhi oleh rasa khawatir saat berada di paris."
*BRAK* Pintu yang di tutup dengan sangat halus (?).
Kembali ke saat ini...
"Ja.. Jadi Kak Raisa sungguh melakukan hal yang Kamu ceritakan ?" Tanya Silvia, yang masih merasa sedikit syok.
"Benarkan ? Kamu saja merasa syok seperti ini, apalagi Aku yang berhadapan langsung tadi ? Seperti nya lebih menyeramkan berhadapan dengan Raisa dalam mode seperti tadi, dari pada berhadapan sama iblis pencabut nyawa."
Kata Noa yang entah kenapa terdengar seperti sedang memuji kehebatan Raisa yang lebih menyeram kan dari Iblis.
Mereka berdua pun lanjut berbincang, dan akhir nya Silvia tidur di bibir ranjang pasien, bersama Noa yang juga ikut tertidur, dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain.
__ADS_1