Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
Part 154.


__ADS_3

Noa yang mendengar pernyataan Raisa barusan langsung terdiam. Dan diam nya Noa cukup lama, sekitar dua menit lama nya, sehingga membuat Raisa menghembuskan nafas panjang dan ambil alih dalam angkat suara.


“Aku anggap dia Mu itu bahwa Kamu sudah mengerti maksud Ku, dan arah tujuan pembicaraan Kita. Jadi Ku harap, tak ada yang menyudutkan satu sama lain di sini.”


Ketiga lelaki itu pun terdiam dan menganggukkan kepala nya secara bersamaan. Hal itu membuat Raisa lega, karena setidaknya dengan mereka yang duduk dan sama sama memberi masukan, hanya untuk menyelesaikan masalah saja. Bukan nya menciptakan masalah baru.


“Baiklah, karena Putri Ku sudah menenangkan situasi yang sempat beda pendapat tadi. Maka Kita kembali pada orang yang sudah mengeluarkan pendapat nya barusan."


Setelah mengatakan nya, Surya, Raisa dan Noa langsung menolehkan wajah mereka ke arah Resa. Karena objek yang di maksud Surya tak lain dan tak bukan adalah Resa.


“Ah, Aku sempat bingung karena di tatap secara berjamaah seperti ini.” Kata Resa dengan wajah nya yang seolah baru tersadar dari lamunan nya.


“Kamu sudah menemukan titik terang nya Resa ? Jika sudah, dan sekalipun belum, Om memaksa Kamu untuk mengatakan apa saja yang Kamu ketahui saat ini tentang Silvia. Apapun itu, selagi menurut Kamu penting, maka pasti itu berguna sat ini.”


“Em... Sejauh ini Aku merasa bahwa ada jarak antara diri Ku dan Adik Ku. Namun ada beberapa hal yang Aku ketahui, entah itu dari Silvia sendiri, atau mata mata yang Aku kirim khusus untuk menjaga Adik Ku di mana pun Dia berada.Lalu-“


“Tunggu dulu.” Raisa pun langsung menyela perkataan Resa. Dan tentu sajsa hal itu membuat diri nya menjadi pusat perhatian saat ini.


“Ada apa Sa ?” Tanya Resa yang tidka keberatan sama sekali jika Raisa yang menyela perkataan nya. Beda lagi jika ynag menyela barusan adalah Noa ataupun Surya.


“Res, Kamu mengirim mata mata untuk Silvia ?” Dengan mata yang membola sempurna, Raisa menanyakan ini dengan perasaan gelisah.


“Iya Sa. Emang kenapa ? Memang benatr hal ini melanggar privasi adik Ku, tetapi ini juga de,mi keselamatan nya sendiri, dan demi-“


“Tidak... Bukan tentang melanggar privasi yang Aku maksud saat ini, Res. Lalu, sejak kapan Kamu meletakkan mata mata di samping Silvia ? Apakah Silvia mengetahui hal ini ? Atau, apa mungkin Silvia mencurigai keberadaan mata mata ini, sehingga bergerak dengan tipu daya nya ?”


Lagi, dengan mata yang masih membola Raisa memberikan pertanyaan yang beruntun kepada Resa. Seakan tak


sabaran dalam hasrat keinngintahuan nya.


“Pelan pelan Sa. Aku tak bisa mengikuti ritme pertanyaan Mu jika di katakan dengan kecepatan turbo seperti ini.” Jawab Resa yang saat ini tengah memikirkan jawaban yang di tanyakan oleh Raisa.


“Bukan saat nya untuk mengeluh Res. Cukup jawab saja pertanyaan Ku barusan.” Desak Raisa, yang tidak ingin membiarkan hal yang tengah Dia pikirkan saat ini, hilang begitu saja saat membahas hal lain.


“Baiklah. Kalau soal mata mata, Aku sudah meletakkan nya sejak Adik Ku duduk di bangku SMP. Dan untuk pertanyaan kedua, Adik Ku tak tau bahwa Aku meletakkan mata mata di sisi nya. Lalu jika Silvia mengetahui nya, dan menjaga jarak atau melakukan hal yang


tak lain adlah menge;labui, Ku rasa tak munbgkin, Karena jika Dia tau, maka Dia


sudah protes saat Kami membahas masalah ini seblum dan sesudah berdamai. Aku tau watak Adik Ku. Walaupun Dia terkesan memasang topeng polos di hadapan orang orang yang mengetahui nyta, sebenarnya memnag itulah sifat nya. Aku sungguh yakin akan hal-“


*BRAAAKK!!*


Raisa lah yang menciptakan bunyi barusan. Saat ini, kedua tangan Raisa sudah menyentuh meja, karena tadi memukul nya berbarengan dengan diri nya yang berdiri.

__ADS_1


“Raisa ?!”


“Sa?!”


Surya, Resa, dan Noa tak bisa menyembunyikan rasa kaget mereka akan tindakan Raisa yang satu ini.


“Dasar bodoh ! Jika Kamu sudah menempatkan mata mata di sisi  Silvia sejak SMP, lalu mengapa masalah kali ini baru Kita ketahui dari mulut Silvia sendiri ? Dan itupun, setelah lewat bertahun tahun lama nya. Apakah mata mata yang Kamu kirim tidak mengikuti saat Silvia pergi ke luar Negri dengan alasan pertukaran pelajar ? “


“Ah, benar juga. Aku mengutus satu mata mata yang memiliki kemampuan paling bagus, menurut informasih yang Aku terima dari asisten sekaligus sekretaris Ku. Dan setiap bulan, Aku selalu membayar nya kok... OH IYA, KAN ADA DIA. KENAPA SELAMA BERTAHUN TAHUN TAK PERNAH MENDENGAR SUARA NYA, UNTUK MELAPORKAN HAL TENTANG SILVIA ? BODOH. Tunggu sebentar, Aku akan menghubungi nya saat ini juga. Aku yakin bahwa hal yang akan Dia sampaikan adalah sesuatu yang sangat penting.”


Usai mengatakan hal itu, Resa pun mengambil telepon nya dan menghubungi mata mata yang Dia pekerjakan selama ini.


Segera, Resa mengaktifkan Speaker pada telepon nya, agar semua nya dapat mendengar suara dan informasih dari si mata mata.


“Maaf... Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan, Periksa kembali nomor tujan Anda.Your calling...”


Empat pasang Netra yang sedang duduk berhadapan itu langsung membola secara


sempurna, kala mendengat suara dari operator yang selalu terdengar kala nomor


yang di tuju sedang berada di panggilan lain, ataupun pada nomor tujuan yang


sudah tidak berfungsi.


“Tunggu.. Pelan pelan sedikit. Aku memang pernah tiingggal di indonesia, tapi Aku juga sudah tinggal lama di Belanda, sehingga bahasa indonesia Ku menjadi buruk. Aku tak akan paham


jika Kamu mengatakan sesuatu dengan kesepatan tiurbo seperti itu Sa.” Noa pun


bersuara, kala dia merasa bahwa saat ini hanya Diri nya yang tidak mengetahui


fakta yang membuat Raisa, Res, dan Om Surya memancarkan aura kesal dan putus


asa.


Mendenfar perkataan Noa, langsung di respon oleh Resa.


“.....” Resa hanya diam dan memberikan tatapan menghina pada Noa. Dari tatapan Resa, seolah tersirat kata Oh, jadi Kamu sudah tidak bisa berbicara seperti saat Kita SMA dulu ?Cih, payah. Jika demikian, jangan harap Aku akan memberikan kemudahan saat Kamu ingin menjadikan Adik Ku sebagai Istri nanti.


“Ber... Berhentilah memberikan tatapan itu. A.. Apapun tantangan yang akan Kamu berikan nanti, tak akan Aku permasalahkan. Karena Aku sudah benar bnear tulus pada Silia sat ini.” Cetus Noa kala merasa tak terima, jika Resa memberikan makna tersirat dari tatapan mata nya yang amat menyayat perasaan Noa.


Surya menatap Raisa dengan tatapan bingung, kala melihat tindakan Resa dan Noa. Raisa yang merasa Ayah nya sedang membutuhkan penjelasan pun, hanya bisa menyindikkan bahu nya karena Dia juga tak pengerti dengan persahabatan dari pihak Noa danResa.


***

__ADS_1


“Kalian berdua berhentilah meremehkan satu sama lain.” Tegur Raisa akhir nya, kala mendapat kode dari sang Ayah, bahwa perdebatan nya cukup sampai di sini.


“DIA YANG DULUAN.” Cetus Noa tak terima, kala tatapan Raisa hanya tertuju pada Diri nya.


“ Lalu apa yang Kamu inginkan Noa ? Kamu ingin agar Raisa memandangi Ku dengan tatapan mata nya yang tajam, padahal sejak tadi hanya diri Mu yang berbicara. Dan jelas sekali, bahwa


sedari tadi Aku hanya diam dan memandang Mu dengan tatapan datar. Sedatar emot batu.”


Resa yang merasa bahwa Noa sedang protes pada diri nya pun mengeluarkan alibi yang benar benar dapat menyelamatkan nya.


“BANGS-“


“Ok, kalian berdua hentikan. Karena saat ini Kita sudah di buat pusing dengan masalah Silvia, jadi jangan membuat Aku dan Ayah Ku pusing dengan masalah kalian berdua.”


Noa dan Resa yang sudah mengenal Raisa pun langsung terdiam seketika, karena Raisa sudah menegur untuk yang kedua kali nya. Jika sampai ketiga kali nya, maka bukan kalimat lagi yang keluar. Melainkan, Raisa dapat mengendalikan beberapa benda mati yang ada di sekitar nya. (Melempar barang dengan tangan nya sendiri, bukan seperti di flem


anak anak yang terdapat kekuatan super).


 “Memang anjing yang penurut pada Tuan nya,” kata Raisa, ketika puas saat Resa dan Noa seketiak menurut.


Noa merasa tak terima lagi, saat Raisa mengatakan bahwa Diri nya adalah anjing. Maka untuk itu, Noa pun menatap Resa, untuk melihat raut kesal dari wajah Resa. Namun, yang di dapati nya adalah...


“Tak masalah Raisa ingin mengangap Ku apa. Intinya, Akulah cinta sejati nya, dan Dialah cinta sejati Ku. Kami berdua di lahir kan untuk bersama, dan Kami pun akan hidup dalam waktu yang lama ke depan nya.”


Begitulah suara kecil yang keluar dari mulut Resa, kala Noa memfokuskan pendengaran nya , pada perkataan Resa yang mendekati kata berbisik.


“Aku menyerah. Dia sudah masuk dalam fase BUCIN TAK TERTOLONG.” Batin Noa menatap iba, dengan pikiran yang tak sadar bagaiman perilaku nya saat di hadapkan pada wanita bernama Silvia.


“Kalian bertiga. Hahh, dasar anak muda. Tak masalah jika kalian ingin membuat masalah baru. Tapi kali ini, Biarkan Aku yang sudah tua dan berumur ini yang membantu kalian berpikir, dan biarkan Aku untuk memimpiin percakapan untuk kedepan nya. Dilarang berbicara, jiika belum di beri kesempatan. Paham ?”


Mendengar Surya yang sudah membuat keputusan, membuat tiga anak muda yang ada di hadapan nya menurut dan menyetujui keinginan nya.


“Ya, Kami paham Ayah.”


“Ya, Kami paham Om


Surya.”


[Maaf telat up. Tadi Otor


berubah pikiran dan revisi ulang. Maaf yah, padahal udah janji bakal up sore


hari nya]

__ADS_1


__ADS_2